CINTA NARA

CINTA NARA
2.62. KETULUSAN CINTA


__ADS_3

"Mas, jangan lupa hari ini kita akan menjamu makan siang Pak Yoga dan Mbak Nara. Jadi usahakan untuk pulang lebih awal"


Bunga menidurkan Aura di boks bayi dengan hiasan kain berenda dan kelambu berwarna merah muda. Lalu dia menghampiri dan membantu suaminya merapikan kemeja yang baru saja dipakainya.


"Iya, Sayang. Akau akan pulang secepatnya setelah semua jadwal operasi pagi ini selesai."


Ardi mencium kening istrinya yang sudah berdiri di hadapannya dan mulai mengaitkan kancing kemeja yang masih terbuka dan menampakkan tubuh bugar lelaki tercintanya.


"Aku akan memasak makanan kesukaanmu dan hidangan istimewa lainnya untuk tamu kita." Bunga tampak bersemangat unyuk menyiapkan semuanya.


"Jangan terlalu lelah, Sayang. Jika kamu kecapekan beristirahatlah dulu dan biarkan Bibi yang membantu menyelesaikan persiapannya."


Ardi merapikan anak rambut yang terlepas dari ikatan di belakang kepala Bunga dan menyimpannya di balik telinga. Dalam hati dikaguminya ketulusan sang istri dalam melayaninya.


Bunga adalah tipikal wanita yg cenderung pendiam dan tidak mudah dekat dengan banyak orang. Pribadinya sangat santun dan ramah dalam batasannya. Dia juga pekerja keras dan tidak mudah menyerah untuk mencapai kemauannya dengan usaha sendiri.


Dulu saat pertama kali bertemu di klinik sebagai perawat baru di sana, wanita muda itu masih membagi waktunya untuk melanjutkan pendidikan tingginya demi mencapai gelar sarjana yang diimpikannya.


Ketika kemudian mereka telah menjalin hubungan kasih, Ardi selalu menawarkan diri untuk membiayai semua kebutuhan pendidikannya, akan tetapi berulang kali pula ditolak oleh Bunga karena merasa masih mampu mencukupinya sendiri.


"Mas? Ada apa?"


Suara Bunga membuyarkan lamunan Ardi tentang kepribadian sang istri yang berhasil menyentuh hatinya dan membuatnya jatuh cinta dan tak ingin melepaskannya.


"Tidak ada apa-apa. Hanya sedang mengagumi istriku ini," jawab Ardi jujur. Dibelainya pipi yang mulai merona itu dengan lembut.


"Dia wanita yang tulus dan tangguh. Karena itu aku mencintainya dengan sepenuh hati. Aku jatuh cinta padanya dan aku tidak akan pernah menyia-nyiakan cinta dan kepercayaannya padaku!"


Tanpa menunggu lagi Ardi memeluk tubuh Bunga dan mendekapnya dengan erat. Rasa bahagia bercampur haru menyeruak menyelimuti hati dan jiwanya.


"Mas ...?"


Bunga menghentikan kegiatan tangannya seketika saat Ardi mengunci tubuhnya dan memberinya kehangatan yang membuncahkan hatinya.


Ardi diam tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya yang tengah menyunggingkan senyuman di balik bahu sang istri. Dipejamkannya kedua mata hingga terasa basah dan menghangat.


Semakin mengeratkan pelukannya, Ardi melupakan waktu dan hanya ingin menikmati ketenangan yang dirasakannya saat ini.


"Mas, nanti kamu terlambat, lho."


Bunga mengayunkan tangan dan melingkarkannya di pinggang sang suami yang tak mengindahkan ucapannya. Ditepuki punggung lebar suaminya pelan-pelan agar suaminya sadar waktu.


"Biarkan aku seperti ini dulu, Sayang."

__ADS_1


Ardi hanya ingin terus mendekap erat tubuh istrinya tanpa henti. Kenyamanan dirasakannya saat mengingat perjuangannya untuk meluluhkan hati Bunga hingga akhirnya wanita itu mau membuka hati dan menerima perasaannya.


"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku dan mengisinya dengan banyak sekali kebahagiaan."


Ardi berucap dalam pelukannya. Getaran cinta kembali dirasakannya seiring debaran yang bertalu di dadanya.


Bunga tersenyum dan merapatkan pelukannya. Akhirnya dia pun turut larut dalam kehangatan yang diciptakan oleh sikap manis suaminya pagi ini.


"Aku juga berterima kasih padamu, Mas. Sama halnya dengan yang kamu rasakan, kehadiranmu juga telah membuat hidupku dipenuhi cinta dan kebahagiaan."


Setelah memuaskan diri saling berpelukan, Ardi memberi jarak antara wajah mereka dan menatap wajah wanita yang telah memberinya seorang putri mungil yang cantik, sama seperti mamanya.


"Aku mencintaimu, sungguh sangat mencintaimu."


Bunga tersenyum penuh sipu, mendengarkan ungkapan hati suaminya.


Aku juga mencintaimu, Mas. Selamanya sampai maut memisahkan kita."


.


.


.


Berempat mereka duduk berpasangan saling berhadapan. Bunga dan Nara melayani suami mereka dengan sabar baru kemudian ikut menikmati makan siang hasil olahan tangan Bunga.


"Mungkin tiga hari lagi atau bisa lebih lama lagi jika Nara masih menginginkan tinggal di sini." Yoga menatap Nara dengan pandangan sayang.


"Aku sendiri masih ada beberapa urusan pekerjaan selama dua hari ke depan."


Nara menambahkan sayur dan lauk yang berbeda di piring suaminya untuk dicicipi. Merka berdua adalah pecinta masakan rumahan sehingga selalu lahap jika dihidangi menu-menu sederhana ala rumahan.


"Mbak Nara masih ikut membantu Pak Yoga di kantor?"


Bunga melihat ke arah Nara yang duduk.di hadapannya. Dilihatnya wanita anggun itu menganggukkan kepala sebagai jawab atas pertanyaannya.


"Aku hanya membantu sebisaku saja. Untuk hal-hal yang lainnya sudah ada asisten yang bertugas sangat baik seperti halnya Mas Beno di sini."


Nara membersihkan sudut bibir Yoga dengan selembar tisu, ketika dilihatnya ada sisa makanan yang tercecer dan menempel di sana.


Yoga tersenyum sebagai tanda terima kasih, sembari menyentuh dan mengusap lembut tangan istrinya yang sudah kembali ke atas meja.


Ardi dan Bunga yang melihat kemesraan sarat perhatian itu hanya saling menatap dan tersenyum karenanya.

__ADS_1


Mereka memang tidak seromantis pasangan di hadapan mereka, namun cinta mereka tak kalah indah dan mesranya dari Yoga dan Nara.


"Bagaimana kabar Dokter Alya, Mbak? Mbak Nara masih sering bertemu dan berkonsultasi dengannya, kan?"


Untuk sesaat situasi ruang makan itu menjadi hening, setelah Bunga bertanya dengan wajah tenang tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya.


Nara menatap Yoga dan Ardi sebelum dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Bunga.


"Dokter Alya baik-baik saja. Dia sibuk dengan pekerjaannya yang sangat padat akhir-akhir ini."


Ardi menyelesaikan makan siangnya dan menatap istrinya dengan rasa tidak nyaman di dalam hati.


"Maafkan aku yang telah membuatmu harus bertemu dengan masa laluku. Maaf jika tanpa sengaja aku telah melukai hatimu, Sayang."


Seolah merasakan apa yang sedang dirisaukan suaminya, tiba-tiba Bunga menoleh ke samping sehingga pandangan mereka bertemu dalam diam.


Bunga tersenyum tanpa beban apa pun di hatinya. Berbeda halnya dengan Ardi yang membalas senyuman itu dengan rasa bersalah, meskipun tidak ada niatan untuk menyakiti hati wanita yang dicintainya tersebut.


"Sampaikan salam terbaikku untuk Dokter Alya, saat kalian bertemu lagi nanti, Mbak."


Dengan cepat Nara menjawab dan mengiyakan permintaan Bunga agar bisa segera mengalihkan topik perbincangan mereka berempat.


"Pasti akan aku sampaikan saat kami bertemu nanti," ucap Nara disertai senyuman yang tampak menghiasi wajah rupawannya.


Bunga pun menampakkan senyuman manisnya lalu melanjutkan kembali makan siangnya yang belum diselesaikan.


Ardi diam memperhatikan istri tercintanya. Ada haru yang menyeruak begitu saja, saat melihat betapa tulusnya wanita di sampingnya, yang telah dipilihnya menjadi pendamping hidup.


"Kamu adalah bentuk ketulusan cinta kasih yang sebenarnya. Aku merasa bangga dan bahagia karena telah dicintai olehmu dan juga mencintaimu, Sayang."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2