CINTA NARA

CINTA NARA
2.115. MERASA TIDAK RELA


__ADS_3

"Ada apa, Al?"


Tanpa Alya sadari kedatangannya, Rendy sudah masuk ke ruangannya dan menyerahkan selembar tisu untuknya.


Mengangkat wajahnya yang semula tertekuk dan masih terisak pelan, pandangan Alya beradu dengan tatapan mata teduh Rendy yang penuh kekhawatiran.


"Terima kasih." Alya menerima tisu yang masih diulurkan oleh dokter tulang teman baiknya tersebut.


Rendy terus memperhatikan Alya yang berusaha untuk menghentikan isakannya sembari membersihkan wajahnya yang masih basah oleh tangisan.


"Boleh aku tahu ada apa denganmu?"


Rendy masih menunggu dan membiarkan wanita yang dicintainya itu menenangkan diri dalam diam dan sama sekali belum menjawab pertanyaannya.


Rendy melihat ke sekeliling ruangan yang biasanya disediakan beberapa minuman kemasan oleh pihak rumah sakit. Dan dia pun menemukannya di meja belakang tepat di sudut ruangan.


Dengan sigap diambilnya satu kemasan air mineral yang ada di sana dan segera diberikannya kepada Alya setelah dia buka segel penutupnya.


"Minumlah, Al."


Lagi-lagi Alya menerima minuman pemberian lelaki bersahaja itu dan meneguknya sedikit demi sedikit.


"Maafkan aku yang terlambat keluar dari ruangan. Kamu pasti terlalu lama menungguku."


Setelah perasaannya tenang dan lebih lega, barulah Alya mulai berucap dan menjawab pertanyaan Rendy.


"Besok aku harus pergi ke luar kota. Ada keperluan pribadi yang harus aku penuhi di sana sesuai dengan janjiku."


"Ke mana kamu akan pergi?" tanya Rendy kemudian.


Wajah lelaki itu tampak terkejut saat Alya menyebutkan nama kota di mana dulu dia menyelesaikan perkuliahannya hingga berhasil meraih gelar dokter spesialis.


"Keperluan pribadi?" Rendy merasa ada yang coba disembunyikan oleh Alya dari jawabannya tersebut.


Sebenarnya Alya enggan untuk menceritakannya. Tapi entah mengapa, setiap kali Rendy menatapnya dengan lembut dan lama seperti itu, dia merasa bersalah jika tidak mengatakan yang sebenarnya kepada lelaki itu.


"Ada permintaan dari seseorang yang harus aku penuhi karena dia sedang sakit."


Alya menceritakan garis besar isi percakapannya dengan Ardi di telepon, yang tadi membuatnya tak bisa menahan kesedihan hingga air matanya pun tumpah tak terbendung lagi.


Rendy merasakan ada seiris perih yang menganga di relung hatinya, saat mendengar Alya menyebutkan nama lelaki yang telah terpatri kuat dengan cinta yang tulus di lubuk sanubarinya.


"Sekuat itukah ikatan perasaan di antara kalian, hingga dirimu dengan mudahnya turut merasakan pilu saat mengetahui bahwa orang yang kamu cintai tengah dirundung kesedihan yang mendalam? Kamu bahkan seperti ikut merasakan hal yang sama dengan apa yang tengah dirasakan oleh lelaki itu."


"Kapan kamu akan berangkat ke sana?" tanya Rendy yang berniat ingin turut serta dan mendampingi wanita tercintanya tersebut.

__ADS_1


"Besok siang, setelah aku menyelesaikan tugas pagiku di sini."


Rendy mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi pemesanan tiket pesawat secara daring. Setelah menemukan jam keberangkatan yang tepat sesuai dengan rencana Alya, dia segera memesan tiket untuk dua orang.


"Aku sudah mendapatkan tiketnya, Al. Besok siang kita berangkat bersama dari sini."


"Kita? Maksudmu ...?!" Tanpa sadar Alya menatap Rendy cukup lama, menbuat lelaki itu memuaskan diri untuk menikmati tatapan mata indah milik Alya.


Alya yang menyadarinya buru-buru menurunkan panďangan dan menghindari tatapan Rendy yang masih tertuju kepadanya.


"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian, Al. Lebih-lebih di sana kamu akan menghadapi situasi yang menyedihkan dan sulit diprediksi."


"Tapi, Ren ...."


"Aku hanya ingin menemanimu saja. Aku tidak akan melakukan apa pun yang mengganggumu."


Alya menghela napas pasrah, tak ingin berdebat dengan lelaki itu dan memilih untuk segera bersiap pulang.


Rendy tersenyum melihat sikap Alya yang akhirnya membiarkan dirinya untuk menemani pergi ke kota yang penuh dengan kenangan tentang cinta terindahnya.


"Kita pulang sekarang?"


Alya mengangguk dan berdiri. Terlebih dahulu dia membersihkan mejanya lalu mengikuti langkah Rendy keluar dari ruangan.


"Ren!" panggil Alya saat lelaki itu mulai menjauh lebih dulu.


"Ya?" Saat Rendy menoleh ke belakang dengan tubuh tegapnya, Alya menampakkan senyuman kecil untuk dokter tulang teman baiknya.


"Terima kasih."


Hari berikutnya yang bertepatan dengan libur tugasnya di akhir pekan, Alya dan Rendy sudah tiba di kota kelahiran Yoga dan Ardi. Mereka langsung menuju ke salah satu rumah sakit yang sudah diberitahukan oleh Ardi sebelumnya.


Sejak awal keberangkatannya, Alya sama sekali tidak memikirkan Ardi. Sepenuhnya dia benar-benar datang untuk memenuhi permintaan Bunga yang sudah dianggapnya sebagai seorang adik.


"Al, kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Rendy saat mereka berjalan bersama menyusuri koridor untuk menuju ke ruang perawatan Bunga.


Alya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya yang tetap menatap lurus ke arah depan.


"Aku datang kemari khusus untuk Bunga. Bukan untuk memikirkan hal yang lainnya."


"Cintaku mungkin akan selamanya ada di hati dan tiada pengganti. Tapi kenyataan yang ada tetap harus aku jalani sesuai ketetapan yang sudah digariskan untuk takdirku. InsyaAllah aku ikhlas dari dulu dan akan selamanya demikian."


Alya merasa jauh lebih tenang setelah menerapkan pandangan tersebut di hatinya. Mungkin terkadang kenangan itu muncul ke permukaan dan membuatnya terbuai untuk kembali mengingat indahnya masa kebersamaan mereka dulu.


Tapi sekali pun, tidak pernah terbersit di hatinya untuk berharap akan hal yang sama seperti dulu. Karena baginya, cukup dia menjalani dan menikmati kebahagiaannya sendiri, tanpa harus menyakiti atau melukai hati orang-orang di masa sekarangnya, pun dengan masa lalunya.

__ADS_1


Sesuai petunjuk dari Ardi, akhirnya mereka sampai di depan ruang perawatan Bunga. Ardi yang sudah menunggu di luar tampak terkejut melihat kedatangan Alya bersama Rendy.


Dalam pikirannya, jika Alya datang bersama seseorang, pasti suaminya yang akan menemani. Akan tetapi dia justru melihat dokter tulang itu yang mendampingi kedatangan Alya untuk menemui Bunga.


Merasa tidak perlu untuk membahas apalagi memikirkan hal tersebut, Ardi segera menyambut kedua tamunya dan menyalami Rendy dengan sapaan hangat.


Untuk sesaat Alya merasa tersentuh hatinya melihat kondisi Ardi yang jauh dari kata rapi dan berwibawa seperti biasanya.


Saat ini dokter kharismatik itu tampil kusut dan terlihat tidak terawat, membuat Alya merasa iba dan turut merasakan kesedihan yang dialami oleh Ardi.


"Semoga Bunga lekas sembuh dan semuanya membaik seperti semula, Di. Tidak tega rasanya melihat dirimu yang seperti ini ...."


Bersama dirinya yang mendahului, Ardi mempersilakan Alya dan Rendy masuk untuk menemui istrinya. Rendy mendampingi di sisi Alya, berjaga seandainya wanita itu merasakan sesuatu yang mempengaruhi kondisinya.


"Dokter Alya ...."


Bunga tersenyum pasi melihat kedatangan Alya yang segera mendekat dan memberikan pelukan hangat kepadanya.


"Mengapa tidak pernah mengabariku sebelumnya? Kamu membuatku begitu khawatir."


Berusaha sekuat hati untuk tidak menangis di hadapan Bunga, nyatanya Alya tak sanggup melakukannya. Tangisannya luruh sesaat setelah dia menyapa wanita lemah lembut itu.


"Saya baik-baik saja, Dokter Alya. Sungguh, jangan menangis seperti ini."


Bunga bisa merasakan ketulusan hati Alya. Lewat tangisannya yang penuh kesedihan, dia meyakini bahwa Alya adalah wanita yang sangat baik.


Dengan tangan kecil nan lemahnya, Bunga menghapus air mata yang membasahi wajah Alya.


"Maaf jika saya merepotkan Dokter dengan permintaan saya ini."


Alya menggeleng dan tersenyum kembali, setelah menenangkan hati dan menguasai keadaan dirinya.


"Sama sekali tidak. Aku justru merasa senang bisa datang untuk mengunjungimu dan melihat keadaanmu."


Bunga mengalihkan pandangannya ke arah Rendy yang berdiri di ujung pembaringan bersama suaminya. Berbeda dengan Ardi yang terkejut saat melihat kebersamaan Alya bersama Rendy, Bunga tidak merasa kaget dan bersikap biasa saja.


"Apakah sekarang hubungan kalian sudah lebih dari sekedar teman baik? Mengapa aku merasa sedih dan tidak rela jika itu kenyataannya ...."


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜

__ADS_1


__ADS_2