CINTA NARA

CINTA NARA
2.36. SALAM PERPISAHAN


__ADS_3

"Jam berapa pesawatmu akan terbang, Al?"


Suara Ardi memecah keheningan di dalam mobil yang dilajukannya. Sejak mereka keluar dari kediaman Yoga, hanya diam yang mereka lakukan, tanpa sepatah kata pun.


"Jam lima." Alya menjawab singkat dengan wajah yang dipalingkan ke luar jendela.


Ardi melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Masih tersisa waktu cukup lama sebelum Alya masuk ke ruang tunggu keberangkatannya nanti.


Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di bandara. Setelah memarkirkan mobilnya, Ardi menemani Alya melakukan check-in lebih dulu, baru kemudian mengajaknya berbicara di salah satu kafe di dalam bandara.


Sambil menarik koper kecil milik Alya, Ardi mengajaknya masuk ke salah satu kafe yang dekat dengan terminal keberangkatan pesawat domestik.


Mau tak mau, Alya mengikuti langkah lelaki itu hingga mereka duduk berhadapan di salah satu sudut yang dipilih oleh Ardi.


"Mengapa kamu tidak mengatakannya kepadaku, Al?" tanya Ardi mengenai kepergian Alya dari kliniknya dan memilih untuk menerima tawaran Yoga dan beristirahat di kediaman sahabat kecil Ardi tersebut.


Ardi mengetahui semua itu saat berada di gedung siang tadi dan tanpa sengaja mendengar pembicaraan Nara dan Alya di sana.


"Apakah kamu merasa tidak nyaman jika terus berada di dekatku, sehingga kamu memilih untuk memulihkan kesehatannmu di kediaman Yoga?"


Alya menggeleng pelan dan tetap menunduk.


"Aku tidak bisa menolak permintaannya." Hanya itu yang terucap dari bibir manis Alya.


Ardi tidak ingin memojokkan Alya. Dia tidak ingin membuat wanita itu semakin merasa tidak nyaman bersamanya.


"Bagaimana kondisimu sekarang?"


"Aku baik-baik saja."


Ardi tak habis pikir mengapa selama beberapa hari ini, tetap tidak ada keluarga Alya yang datang untuk menjemput dan menemaninya.


"Apakah pekerjaan suamimu jauh lebih penting dari pada kesehatan istrinya sendiri?"


Alya beraksi dengan pertanyaan lelaki yang duduk di hadapannya saat ini.


"Maaf, aku rasa kamu tidak berhak untuk mengomentari hal yang sudah menjadi ranah pribadi keluarga kami!"


Wanita itu berusaha untuk menghentikan pikiran buruk Ardi tentang keluarganya.


Dia masih mencoba memakluminya karena lelaki itu memang tidak mengetahui kenyataan yang sebenarnya tentang pernikahan dan kehidupannya selama ini.


Dan Alya akan tetap menyembunyikannya dari lelaki yang sangat dia cintai, yang sekarang sudah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.


"Maafkan aku, Alya."


Ardi terlihat menyesali ucapannya yang telah membuat Alya merasa terganggu karenanya.


Keduanya terdiam dan menikmati minuman yang telah diantarkan ke meja mereka. Alya terus menghindari tatapan mata Ardi yang terus tertuju kepadanya.

__ADS_1


Meskipun jauh di dalam hatinya merasa bahagia dengan kebersamaan yang singkat ini, akan tetapi Alya tetap menjaga kewarasan pikirannya dan terus membatasi diri dari Ardi.


"Ingat, Al. Dia sudah berkeluarga dan baru saja dikarunia buah hati yang cantik, yang pastinya akan semakin menambah kebahagiaan keluarga kecil mereka."


"Alya ...."


Lagi-lagi hatinya bergetar indah setiap kali mendengar Ardi memanggilnya demikian. Rasanya masih sebahagia dulu, meskipun kenyataan tak lagi seperti dulu.


Dia hanya menatap Ardi sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu?"


Entah mengapa sejak pertama kali bertemu kembali dengan Alya beberapa bulan yang lalu, Ardi merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Alya dari dirinya.


Dia tidak tahu apakah perasaan dan kecurigaannya tersebut benar atau salah, tapi sampai saat ini dia masih terus memikirkan hal yang sama.


"Tentu saja aku bahagia, sama seperti dirimu."


Ardi berharap dirinya akan merasa lega dan tenang dengan jawaban tegas dan pasti yang diucapkan oleh Alya. Itu berarti perasaannya selama inilah yang salah.


Namun kenyataannya, hatinya masih terus meragu dan tidak bisa percaya begitu saja dengan jawaban dari mantan kekasihnya itu.


"Benarkah apa yang kamu katakan itu, Al? Mengapa aku tidak bisa mempercayai ucapanmu kali ini? Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku, Alya ...?"


"Tidak seharusnya kamu mengantarku dan meninggalkan istri dan anakmu yang masih sangat membutuhkan kehadiranmu selalu bersama mereka."


Sebagai sesama perempuan, dia terus memikirkan perasaan Bunga jika sampai mengetahui kebersamaan mereka di belakangnya.


"Anggap saja semua ini sebagai ucapan terima kasihku atas bantuan dan pengorbananmu demi keselamatan istriku dan putri kecil kami."


"Aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikanmu ini, Al." Ardi memperhatikan wajah wanita masa lalunya tersebut.


Dalam hati dia mengucap syukur karena melihat Alya telah sehat dan segar kembali, setelah kondisinya melemah selama beberapa hari usai mendonorkan darahnya untuk Bunga.


"Berbahagialah selalu, Di. Berbahagialah bersama keluarga kecilmu. Berbahagialah bersama istri dan putri kesayangan kalian. Hanya itu yang aku harapkan darimu."


Perasaan Ardi bergejolak ketika mendengar permintaan Alya yang ditujukan kepadanya.


Sedemikian tulusnya perasaan Alya, hingga dia hanya meminta kebahagiaannya saja sebagai balasan atas semua yang telah dilakukan oleh wanita yang pernah dicintainya begitu dalam di masa lalu.


Untuk beberapa saat pandangan mereka bertemu dan terkunci tanpa ada yang ingin mengakhirinya.


"Biarkan semuanya tetap seperti ini, Di. Kamu dengan seluruh kebahagiaanmu dan aku dengan kehidupan dan kesendirianku."


Alya tersenyum tulus dan melantunkan doa kebahagiaan untuk lelaki yang sangat dicintainya tersebut.


"Mengapa aku seperti melihat luka dan kesedihan di dalam mata indahmu itu, Al? Mengapa aku selalu merasa jika ada kebohongan di balik pancaran sinar matamu itu?"


Sejak dulu, Ardi memang selalu peka dengan segala hal yang berhubungan dengan Alya.

__ADS_1


Dan ternyata, hal itu masih dirasakannya hingga sekarang, saat mereka dipertemukan kembali dalam keadaan yang tidak lagi sama seperti dulu.


"Jika itu yang kamu minta, maka aku akan melakukannya, Al. Tapi berjanjilah bahwa kamu pun akan berbahagia dengan keluarga dan kehidupanmu di sana. Berbahagialah selalu."


Alya tak ingin menanggapi permintaan Ardi yang baru saja diucapkannya. Hanya senyuman yang bisa dia berikan kepada lelaki tercintanya itu.


Tak lama kemudian mereka keluar dari kafe dan menuju ke ruang keberangkatan.


"Terima kasih sudah mengantarku kemari, Di. Aku pergi dulu."


Alya memegang koper miliknya yang telah dilepaskan oleh Ardi untuk diberikan kepadanya.


"Hati-hati, Al."


Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Ardi sembari menatap lekat-lekat mantan kekasihnya tersebut.


Sepasang netra teduhnya terus mengikuti langkah anggun Alya yang hendak melewati pintu pembatas.


"Alya ...!"


Tanpa sadar Ardi memanggil nama wanita yang telah memberi kenangan cinta terindah di hatinya.


Alya menghentikan langkahnya tepat sebelum dirinya melewati pintu. Dia menoleh ke belakang dengan hati yang terus berdesir halus.


Untuk terakhir kalinya pandangan mereka bertemu lagi dan kali ini kedua netra mereka sama-sama berkaca-kaca dan menyimpan kesenduan yang sama.


"Selamat jalan ...."


Hanya itu yang terucap dari bibir Ardi yang masih menampakkan senyuman tipisnya.


Alya mengangguk dan membalas senyuman itu dengan getaran di hatinya yang mulai melagukan kesedihan.


"Selamat tinggal, Ardi ...."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2