CINTA NARA

CINTA NARA
3.40. JAWABAN TERAKHIR


__ADS_3

Dari bandara, Alya berangkat ke rumah sakit dengan menumpang taksi daring pesanannya. Sebenarnya dia sudah memundurkan jadwal pemeriksaannya pagi ini, namun ternyata ada satu operasi mendadak yang tetap harus dia lakukan demi memenuhi tanggung jawab kepada pasiennya.


"Al, kamu baru datang juga?" Tiba-tiba Rendy sudah menjajari langkahnya saat menaiki anak tangga menuju lantai atas di mana ruang operasi berada.


"Iya. Ada jadwal operasi sebentar lagi." Alya dan Rendy terus menaiki tangga hingga mereka sampai di lantai dua dan berhenti di persimpangan untuk menuju arah yang berbeda.


"Apakah kita bisa makan siang bersama nanti? Atau ... kamu sudah ada janji dengan dia?" Rendy berdiri menghadap Alya yang terus menghindari tatapannya. Wanita itu menggeleng pelan tanpa ingin menjelaskan apa pun pada Rendy.


"Baiklah. Kalau begitu sampai jumpa lagi nanti. Selamat bertugas, Al." Rendy tersenyum senang karena bisa mengajak Alya makan bersama walau tanpa jawaban pasti, apakah dia menolak atau mengiyakannya.


Alya lebih dulu berlalu meninggalkan Rendy dan melanjutkan langkahnya menuju ruang operasi yang berlawanan arah dengan ruang pemeriksaan dokter.


Dia berusaha menepikan dulu seluruh perasaannya yang masih berkecamuk karena kejadian di bandara sebelumnya. Mencoba berkonsentrasi pada tugas utamanya di meja operasi sebentar lagi, Alya tersenyum untuk menenangkan diri sendiri.


Maafkan aku, Di. Tapi aku mulai merasa takut kehilanganmu lagi sehingga aku memberanikan diri untuk mengatakannya kepadamu.


.


.


.


Rendy terus memperhatikan Alya yang terlihat lebih ceria dari biasanya. Dia ingin bertanya tapi takut jika jawaban Alya justru akan membuatnya kecewa dan menahan pedih lagi.


Apakah semua ini karena dia, Al? Diakah yang telah membuatmu terlihat semakin menawan dengan senyum bahagia yang menghiasi wajahmu itu?


"Ada apa, Ren?" tanya Alya yang merasa risih karena Rendy menatapnya tanpa henti di tengah keramaian kantin rumah sakit.


"Tidak apa-apa. Maaf ...." Rendy memilih untuk menyimpan gelisahnya sendiri. Tak ingin membuat Alya mengetahui apa yang di dalam pikirannya.


Mengapa jadi sekaku ini di antara kita? Apakah ini jawaban terakhir yang telah pasti kudapatkan tanpa harus kamu mengatakannya secara langsung? Sekarangkah saatnya aku harus benar-bebar berhenti dan tidak lagi mengharapkanmu, Al?


"Bagaimana dengan kondisi kesehatan putri Dokter Ardi? Apakah dia sudah sembuh?"

__ADS_1


Alya menatap Rendy yang duduk di hadapannya dengan wajah serius dan tanpa senyuman sedikit pun. Masih terlihat kesedihan dalam tatapannya yang kosong meskipun coba ditutupi.


"Sudah. Hanya saja dia harus menjalani transfusi darah setiap bulan atau bisa lebih cepat saat kondisinya menurun dari biasanya, seperti yang terjadi kemarin."


"Apakah kondisinya parah?" tanya Rendy yang akhirnya ikut mengkhawatirkan kondisi bayi mungil yang pernah ditemuinya waktu itu.


Alya memberikan jawaban yang tidak pasti dengan gelengan kepalanya. Dia teringat saat Aura menjalani transfusi darah dengan ditemani olehnya yang juga menyumbangkan darah untuk bayi kesayangannya.


"Untuk kondisinya saat ini, dokter hanya menawarkan pilihan transfusi darah untuk mengatasinya. Sedangkan untuk pengobatan lainnya yang lebih khusus, akan dilakukan pemeriksaan ulang dan lanjutan sembari menunggu perkembangannya nanti."


Rendy sudah bisa merasakan kedekatan Alya dengan Aura sejak dia melihat Alya bersama bayi itu saat Bunga sakit dan akhirnya meninggal dunia. Aura sangat mudah ditenangkan oleh Alya ketika yang lainnya kesulitan untuk mengatasi kerewelannya.


Entah kebetulan atau apa pun itu, nyatanya kedekatan tersebut berlanjut dan mereka semakin erat bahkan Alya juga menjadi pendonor darah saat Aura harus segera menjalani transfusi darah karena kondisinya yang menurun beberapa waktu yang lalu.


Mungkin kalian memang ditakdirkan untuk berjodoh setelah melewati perpisahan sebelumnya. Kehadiran bayi kecil itu menjadi salah satu pengikat yang membuat hubungan di antara kamu dan dia menjadi semakin dekat, bahkan mungkin akan sedekat hubungan kalian yang dulu sempat terpisah karena keadaan.


Rendy semakin menyadari bahwa cinta tulusnya pada Alya tidak akan pernah cukup untuk menjadi alasan dirinya bisa memenangkan hati wanita anggun yang telah sekian lama memikat hatinya tersebut. Lagi-lagi dia harus menyerah pada takdir, ikhlas melepaskannya untuk menjadi milik lelaki lain yang dicintai oleh Alya.


Alya menatap Rendy, membuat hati lelaki itu berdesir lembut dan berdebar kencang setelahnya.


"Maksudku ... setelah kebersamaan kalian selama beberapa hari ini, apakah kamu merasa bahagia? Apakah dia benar-benar bisa membuatmu bahagia?"


Alya tidak ingin menutupi perasaannya lagi. Dia tidak ingin membuat Rendy semakin kecewa jika hatinya tidak jujur mulai sekarang. Biarlah dia menyakitinya sekarang agar Rendy berhenti mengharapkannya, daripada harus membuatnya semakin kecewa ke depannya nanti.


Dengan penuh keyakinan Alya menganggukkan kepala meski setengah hatinya merasa tidak tega untuk melakukannya. Bahkan dia tidak berani menatap wajah Rendy untuk mengetahui bagaimana reaksinya saat ini.


"Iya. Aku bahagia." Alya menegaskan jawabannya melalui sebuah kalimat singkat yang sangat lugas dan jelas.


Rendy menghela napas panjang demi menenangkan hatinya yang bergemuruh dan memanas seketika. Ada yang terasa sakit di dalamnya, meskipun dia sudah tahu sejak awal jika akan seperti ini akhir dari perasaan cintanya pada Alya.


Bersamaan dengan itu, ponsel di dalam tas Alya berdering menandakan adanya panggilan masuk yang menunggu untuk segera diterima. Alya segera mengambilnya dan melihat sebuah nama tertera di layar menyertai panggilan suara tersebut.


Alya tak bisa menyembunyikan rona bahagianya sampai-sampai dia lupa bahwa ada Rendy bersamanya. Lelaki itu melihat dan menyaksikan sendiri pijar kebahagiaan yang terpancar di wajah lembut Alya yang semakin bersemburat merah.

__ADS_1


"Ya, Di?" ucap Alya lirih setelah membalas salam dari seberang panggilan.


"Aku baru saja makan siang di kantin bersama Rendy." Alya jujur mengatakan pada Ardi bahwa dia tengah bersama dengan lelaki yang tadi pagi sempat menjadi bahan pembicaraan mereka di bandara.


"Bagaimana keadaan Aura? Apakah dia rewel selama di dalam pesawat?"


Mendengar pertanyaan Alya, Rendy baru tahu bahwa Ardi dan putrinya sudah kembalii pulang dan tidak lagi berada di kota ini.


"Aku akan segera berangkat ke klinik. Aku sudah memesan taksi daring barusan."


Rendy semakin menyadari posisinya saat mendengar lagi ucapan Alya yang diam-diam sudah memesan taksi untuk mengantarnya pergi ke klinik. Itu artinya, wanita itu memang sengaja menghindarinya dan tidak ingin ditemani olehnya.


"Segeralah makan dan beristirahat bersama Aura."


Rendy tersenyum getir mendengar ucapan terakhir Alya yang tenang namun terasa sangat tajam menembus dan mengoyak hatinya seketika.


Akhirnya, dialah pemenang yang sesungguhnya. Dialah yang sudah memenangkan hatimu. Dialah yang berhasil membuka hatimu dan membuatmu kembali menerimanya. Aku telah kalah sekarang. Benar-benar kalah.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2