CINTA NARA

CINTA NARA
2.3. TUGAS PENTING


__ADS_3

"Mas, hari ini Beno akan datang ke kantor. Ada beberapa dokumen harus segera kamu tanda tangani."


Nara menyodorkan jus jeruk yang baru saja dibuatnya pada Yoga. Lelaki itu masih sibuk memeriksa beberapa laporan yang semalam dikirimkan oleh Pram, asisten di kantor barunya.


Begitu Nara mendekat, lelaki itu langsung menghentikan pekerjaannya untuk menerima gelas dari istrinya dan segera meminumnya sampai habis.


"Terima kasih, Sayang. Ada berapa agendaku hari ini?"


"Hari ini sengaja aku kosongkan untuk kamu dan Beno saja. Sementara besok ada dua pertemuan di kantor dan satu pertemuan sekaligus makan siang di restoran."


Yoga menutup layar kerjanya untuk bersiap pergi ke kantor. Seperti biasa Nara sudah menyiapkan semua keperluannya.


"Karena hari ini hanya di kantor saja, kita bisa mengajak Raga tanpa Mbak Indah, Sayang."


Nara mengangguk sambil memakaikan kemeja suaminya dengan pandangan yang selalu tertuju pada bagian dada Yoga.


Bekas luka operasi itu selalu menarik perhatiannya dan setiap pagi seperti ini dia pasti akan memberikan ciuman hangat di sana sebelum menutup rapi kemeja suaminya.


Setelah melabuhkan ciuman hangat di sana, Nara menempelkan telinganya sebentar untuk mendengarkan detak jantung Yoga yang selalu membuat hatinya tenang. Yoga yang sudah terbiasa dengan hal itu pun tersenyum dan mencium puncak kepala istrinya dengan bahagia.


Setelah puas dengan rutinitas paginya tersebut, Nara segera mengancingkan kemeja suaminya lalu merapikannya. Tak lupa dia juga menyisir rapi rambut hitam lebat Yoga dengan senyuman yang mengembang di bibir keduanya.


"Sudah siap, Mas. Kita sarapan dulu, Raga sudah menunggu di ruang makan." Nara tersenyum dan hendak melangkah menuju pintu.


"Terima kasih, Sayang."


Yoga menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya dan mencuri ciuman panjang di bibir Nara, sebelum wanita itu sempat menjauh. Dengan senyum yang tertahan Nara pun membalas suaminya dan membiarkan mereka larut dalam kemesraan untuk beberapa saat.


Setelah itu, sepasang suami-istri tersebut keluar dari kamar dan segera bergabung dengan putra mereka yang sudah lebih dulu menyelesaikan sarapannya bersama Mbak Indah.


"Mbak, hari ini tidak perlu menemani Raga di kantor. Biar kami saja yang menjaganya karena Mas Yoga sedang tidak banyak kegiatan."


Mbak Indah mengangguk patuh dan tetap menunggui Raga yang masih duduk di kursi makan miliknya, sambil menemani kedua orangtuanya yang baru akan sarapan.


"Gagaa ... mamam. Bubuu ... Yayaah ... mamam."


Tangannya yang masih bermain dengan sendok kecilnya terus bergerak dengan tubuh terangkat-angkat seolah hendak ikut mengambil makanan lagi seperti Ibu dan Ayahnya.

__ADS_1


"Raga sudah makan? Anak pintar! Sekarang Ibu dan Ayah makan dulu ya ...." Nara yang duduk di samping anaknya mengusap dan mencium kepala Raga yang berambut tebal dan lurus seperti Ayahnya.


Semakin besar wajah mereka benar-benar semakin mirip. Apalagi dengan mata bening Raga yang terus berbinar ceria, menambah ketampanannya yang sepertinya kelak akan melebihi sang Ayah.


Usai sarapan, mereka bertiga berangkat ke kantor Yoga yang berjarak tak lebih dari tiga puluh menit perjalanan mobil.


Yoga turun dan membukakan pintu sebelah kiri. Dengan sigap dia mengambil Raga dari pangkuan Nara dan menggendongnya lalu membantu istrinya keluar dari mobil sambil membawakan tas bermotif kartun animasi milik Raga yang berisi pakaian ganti dan beberapa mainan kesayangannya.


Karena baru beroperasi secara resmi selama tiga bulan ini, perusahaan Yoga masih belum merekrut ratusan karyawan. Meski begitu, dengan keyakinannya bahwa kelak Raga Properland akan menjadi perusahaan yang besar, Yoga sengaja langsung memilih bangunan yang luas berlantai dua sebagai cikal bakal anak perusahaannya.


Bertiga memasuki gedung dan menuju lantai dua, mereka disambut sapaan penjaga keamanan dan para karyawan yang telah datang lebih dulu.


Nara membalasnya dengan ramah dan penuh senyuman, sementara Yoga tetap memasang wajah datar dan dinginnya seperti biasa, dengan Raga yang riang gembira dalam gendongannya.


Sampai di lantai dua, mereka disambut oleh Pram yang mempunyai ruangan tepat di depan ruangan Yoga. Lelaki berusia dua puluh lima tahun itu seumuran dengan Beno.


"Selamat pagi, Pak Yoga dan Bu Nara." Sapaan dan sikap sopan diucapkan oleh asisten muda itu.


Yoga mengangguk dan tersenyum tipis lalu masuk ke dalam ruangannya diikuti Nara. Ruangan Nara sengaja dijadikan satu di ruangan Yoga yang luas, karena dia tidak ingin jauh dari istrinya.


Raga tertawa lepas saat sang Ayah menurunkannya di atas sofa dan membiarkan dia sibuk dengan mainan yang dibawanya dari rumah. Bocah kecil itu mulai asyik sendiri dan tidak mengganggu kedua orangtuanya.


Meskipun tidak ada agenda pertemuan tetapi banyak laporan yang harus dia periksa dan dikoreksi sebelum dikembalikan dan dikerjakan lagi oleh para karyawannya.


Tok ... tokk ... tokkk ....


Yoga mempersilakan masuk dan terlihatlah asisten andalannya berdiri di ambang pintu dan menyapa.


"Selamat Pagi, Pak Yoga."


Beno tersenyum ramah dengan tas dokumen yang dibawanya, yang merupakan tujuan pokoknya datang menemui sang atasan.


"Pagi, Ben. Duduklah dulu."


Yoga berdiri dan menuju sofa dibarengi oleh Beno yang kemudian menjabat tangan atasannya lalu menyapa Raga. Yoga menuntun putranya untuk menjawab salam dari Beno dan mencium tangannya.


"Selamat pagi, Bos Kecil."

__ADS_1


Beno berjongkok di depan Raga dan membiarkan Raga mencium tangannya lebih dulu lalu dia memasang tangannya untuk melakukan tos yang langsung dibalas bocah ceria itu dengan tangan mungilnya.


"Tos ... Om Bee ...." Suaranya yang belum jelas menyebut nama Beno dengan lucu membuat sang asisten selalu tertawa setiap kali mendengarnya.


Nara keluar dan ikut menyapa Beno yang segera berdiri dan membalas sapaan Nara serta menyalaminya diikuti tatapan tajam Yoga yang sebenarnya tidak suka bila Nara bersentuhan dengan lelaki lain.


Nara mengajak Raga turun dari sofa bersama mainan di tangannya, lalu membawanya masuk ke kamar agar tidak mengganggu Yoga dan Beno yang akan membahas urusan pekerjaan.


"Bagaimana perkembangan di sana?"


Yoga bertanya sambil mulai membaca satu per satu berkas yang dikeluarkan Beno dari dalam tasnya. Wajahnya mulai tekun dan serius dengan pekerjaannya.


"Semua berjalan lancar, Pak. Mas Indra sangat membantu saya di sana dan dia sangat cerdas dan cepat sekali belajar dan beradaptasi dengan pekerjaannya."


Nara yang keluar dari kamar turut mendengarkan cerita Beno tentang adiknya. Dalam hati dia bahagia karena suaminya memutuskan untuk menarik Indra bergabung dalam perusahaan yang mana itu sangat berpengaruh pada kemajuan karir adiknya.


"Terima kasih atas bimbingannya pada Indra, Mas Ben. Terus bantu dia agar semakin baik dalam pekerjaannya."


Beno mengangguk dan tersenyum lagi pada Nara tanpa peduli tatapan Yoga yang kembali tajam ke arahnya. Bertahun-tahun menjadi orang kepercayaan Yoga, lelaki itu sudah terbiasa dengan segala sikap dan sifat dari atasannya tersebut.


"Ben, aku mempunyai satu tugas penting untukmu."


Yoga mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan satu foto yang disimpannya pada sang asisten. Seketika raut wajah tegang terlihat di wajah Beno.


"Dia ...??"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2