CINTA NARA

CINTA NARA
2.67. MEMULAI KEMBALI


__ADS_3

"Mas, apakah aku sudah boleh hamil lagi?"


Yoga menatap istrinya dengan bimbang. Tak tahu harus mengatakan bagaimana lagi kepada istrinya. Tak tega tapi tak ingin mengecewakan.


Duduk berdua di atas sofa yang beberapa waktu terakhir telah mereka tempatkan menghadap ke arah jendela kamar, sepasang suami-istri romantis itu berbincang sore dari hati ke hati.


"Apa kamu yakin dan benar-benar menginginkannya?" tanya Yoga dengan sangat hati-hati.


Bukannya tak menginginkan hal yang sama dengan Nara, akan tetapi lelaki itu masih memikirkan dua kali kejadian sebelumnya, yang dialami oleh istrinya secara berturut-turut.


"Mas, apa kamu masih mengkhawatirkan aku?"


Yoga mengangguk pelan seraya menatap wajah murung istrinya yang membuat hatinya lemah.


"Sejujurnya iya, Sayang. Aku masih merasa takut dan itulah yang membuatku terus mengkhawatirkan dirimu."


Yoga merasa bersalah karena telah membuat wanita terkasihnya kehilangan senyuman di wajahnya.


"Maafkan aku, bukan maksudku untuk melarang, Sayang. Tapi aku masih takut ..., aku takut akan ...."


Ucapan Yoga terpotong tak sampai pada akhirnya.


"Ssttt ..., jangan pernah katakan itu, Mas! Jangan pernah berpikiran buruk tentang hal yang belum tentu akan terjadi."


Yoga tahu itu. Tapi ketakutannya selalu hadir begitu saja setiap kali membayangkan kejadian yang telah lalu, yang membuat istrinya bersedih karena kehilangan dan didera keterpurukan.


Lelaki itu hanya takut semua itu akan terulang lagi. Dia takut akan melihat kesedihan yang sama di wajah Nara yang sangat tidak diinginkannya tersebut.


Yoga tak bisa berkata-kata lagi. Hanya gerak tubuhnya yang berbicara mewakili rasa takut dan khawatir yang melanda hatinya.


Dipeluknya tubuh Nara erat-erat hingga wanita itu pun membalasnya dengan pelukan yang sama yang membuatnya merasa sedikit lebih tenang.


"Kamu tahu jika kesedihan dan air matamu adalah kelemahanku. Karenanya aku selalu dihantui ketakutan akan kejadian yang sama yang akan membuatmu kembali bersedih dan menangis."


Nara bisa merasakan ketakutan suaminya. Degup jantung lelaki itu berdetak kencang dan terdengar sangat jelas di telinganya yang menempel di atas dada Yoga.


Perlahan dielus-elus dan diciuminya bagian yang menorehkan luka bersejarah di balik pakaian yang dikenakan suaminya tersebut, membuat Yoga semakin merasakan sesuatu yang penuh kegelisahan di dalam hatinya.


Semakin mempererat pelukannya, Yoga membuat Nara pun semakin tak ingin melepaskan pelukan dan ciumannya.


Dia bisa merasakan ketakutan Yoga akan dirinya, sama seperti saat dulu dia diliputi ketakutan setiap kali sang suami jatuh sakit dan terbaring lemah tak berdaya di pembaringan rumah sakit.

__ADS_1


"Percayalah, aku akan baik-baik saja, Mas. Aku hanya butuh dukungan penuh darimu. Tentang hasil dari ikhtiar kita, pasrah dan serahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. Apa pun itu, pasti adalah yang terbaik bagi kita."


Yoga masih belum bisa melegakan kegelisahan di hatinya.


"Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan lagi?" Akhirnya kalimat itu terucap juga dari bibir Yoga seiring debar ketakutan di dalam dadanya.


"Jika itu benar-benar terjadi, berarti Allah memang belum mengijinkan kita untuk mendapatkan kepercayaan dari-Nya saat ini. Itu artinya, kita harus kembali bersabar dalam ikhtiat berikutnya, bukan malah berputus asa dan menyudahi segala usaha."


Yoga sungguh tak habis pikir, terbuat dari apakah hati istrinya yang begitu tulus dan penuh keikhlasan itu. Sedangkan dirinya sendiri yang bahkan tidak mengalaminya sendiri kejadian itu, justru terus saja dirundung ketakutan yang tak ada habisnya setiap kali memikirkan hal yang sama.


"Aku tidak pernah bisa menolak apa pun keinginanmu, Sayang." Yoga pasrah dan berusaha menerapkan kata-kata Nara di dalam hatinya.


"Jadi ...??"


Nara mengangkat kepalanya hingga wajahnya berhadapan dengan wajah pasrah suami tercintanya. Dilihatnya Yoga mengangguk dan menampakkan seulas senyumannya.


"Kita akan menemui Dokter Alya dan berkonsultasi dengannya tentang keinginanmu untuk hamil kembali."


Tangan Yoga berpindah dari punggung Nara ke atas kepalanya. Diusapinya dengan sayang lalu diciumnya kening Nara sebagai tanda keikhlasan darinya atas apa yang sudah menjadi tekad bulat wanita kesayangannya tersebut.


"Terima kasih, Mas. Kita akan berusaha bersama-sama dan saling menguatkan satu sama lain. Sekali lagi terima kasih!"


Nara menghujani wajah suaminya dengan ciuman di seluruh bagiannya tanpa kecuali. Termasuk pada bibir yang masih melengkungkan senyumannya.


"Demi kamu dan senyuman di wajah bahagiamu, aku akan berusaha untuk membuang jauh ketakutanku di hatiku ini, Sayang. Aku tidak mungkin mengecewakanmu dengan menghalangi keinginanmu."


.


.


.


Hari berikutnya, Nara ditemani Yoga sudah berada di dalam ruang pemeriksaan Alya di klinik yang dikelolanya.


"Bagaimana kabar Dokter? Sepertinya sudah semakin membaik, Dok?" sapa Nara dengan ramah, sementara sang suami hanya tersenyum tipis ke arah dokter berhijab anggun tersebut.


"Alhamdulillah, seperti yang kamu dan Pak Yoga lihat. Aku sudah mulai belajar berjalan lagi dan sudah mengganti kursi rodaku dengan tongkat penyangga saja, Ra."


Nara turut senang melihat perkembangan proses pemulihan kedua kaki Alya setelah menjalani serangkaian proses pemulihan selama empat bulan ini.


Setelah berbincang hangat seputar kondisinya, Alya segera melaksanakan tugasnya untuk mengetahui keadaan rahim Nara melalui pemeriksaan ultrasonografi, sembari menunggu hasil tes darah dari laboratorium klinik diantarkan kepadanya.

__ADS_1


"Sama seperti sebelumnya, rahimmu bersih dan sehat, Ra."


Alya menyudahi pemeriksaannya dan kembali ke kursinya. Dia duduk berhadapan dengan Yoga dan disusul oleh Nara yang telah merapikan penampilannya dan duduk di samping sang suami.


"Kita tunggu hasil cek darahmu dulu. Jika semuanya baik, kalian bisa memulai program kehamilan secara alami."


Mata bening Nara sudah mulai berbinar indah menatap wajah suaminya yang masih sedikit tegang dan tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


Namun saat Nara menoleh ke arahnya, dengan cepat Yoga menampakkan wajahnya yang penuh senyuman dan menggenggam tangan sang istri untuk menambah kekuatannya.


Tak lama kemudian seorang perawat lain masuk dan menyerahkan hasil pemeriksaan darah milik Nara.


Alya segera membuka dan membacanya dengan seksama secara menyeluruh.


"Bagaimana, Dok?"


Tak sabar menunggu lebih lama lagi, Nara mendahului dan bertanya kepada Alya yang masih memegang dan membaca dengan teliti laporan dari laboratorium setempat.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Semuanya tetap normal dan negatif sama seperti hasil cek darah sebelumnya."


Alya melipat kertas laporan tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam amplop yang menyampulinya tadi.


"Jadi kami bisa segera memulainya, Dok?" Dan Alya pun mengangguk serta tersenyum ke arah Nara.


"Jalani saja dengan pikiran yang rileks dan tanpa banyak harapan. Jika memang sudah waktunya, pasti hasilnya akan positif sebagaimana harapanmu dan Pak Yoga."


"Bagaimana dengan kemungkinan resikonya, Dok?" Yoga tak bisa menahan rasa ingin tahu yang selama ini mengganjal di hatinya."


Alya terdiam mendengar pertanyaan Yoga dan tidak segera menjawabnya, membuat Yoga semakin gelisah dan tidak tenang.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2