
Seperti semalam, Ardi masih berdiri terpaku menatap Alya yang tidak lagi menatapnya. Posisinya yang berada tepat di hadapan Alya yang duduk di tepi pembaringan, membuat wanita itu terkunci di sana tanpa bisa merubah posisinya.
Tatapan Ardi semakin dalam. Ada sesuatu dari dalam hatinya yang memaksa pandangannya untuk tetap lekat memperhatikan Alya semakin dalam dan penuh getaran.
Tanpa peduli Alya yang semakin berdebar dan salah tingkah karenanya, Ardi terus menelusuri pandangannya pada kedua tangan Alya yang memeluk erat putri kesayangannya.
Tangan kirinya erat mendekap tubuh Aura yang berdiri memeluknya, sementara tangan kanannya terus mengelus-elus kepala bayi mungil yang betah bermanja di bahunya.
Ada yang mulai menarik perhatian Ardi dan membuat hatinya kemudian bertanya-tanya.
"Mengapa dia tidak mengenakannya? Apa mungkin dia melupakan sesuatu sepenting itu? Atau ...."
Ardi tak melanjutkan dugaannya. Dia takut salah terka dan salah paham hanya karena hal yang mungkin sebatas kebetulan yang biasa saja.
"Maaf, bisakah kamu bergeser sedikit? Dan tolong temani Aura di atas sini. Aku akan menyiapkan air hangat untuk membersihkan tubuhnya."
Suara lembut Alya mengalihkan pandangannya dari sesuatu yang dicarinya dan telah membuatnya penasaran.
"Oh ... iya, maaf. Aku tak bermaksud menghalangimu, Al."
Ardi menggeser tubuhnya ke samping lalu Alya pun segera menurunkan tubuhnya dan berdiri di samping lelaki itu.
"Terima kasih," ucapnya tanpa melihat ke arah lawan bicara.
Aura menoleh ke depan saat Alya bergerak turun lalu mendudukkannya di atas pembaringan.
"Aura tunggu sebentar, ya. Tante siapkan air hangatnya dulu."
Tapi saat tangannya mulai terlepas dari tubuh bayi cantik itu, Aura merajuk dan mulai merengek tak ingin ditinggalkan, sehingga Alya urung menjauh dan memegangnya lagi.
"Biar aku saja yang menyiapkan dan membawanya kemari, Al. Kamu di sini saja menemani Aura."
Tanpa menunggu balasan dari Alya, Ardi berjalan menuju kamar mandi dan mengambil baskom yang sudah disiapkan untuk menampung air hangat dan membersihkan tubuh di atas pembaringan.
Beberapa menit kemudian baskom sudah terisi dengan air hangat berikut kain waslap untuk membersihkan tubuh Aura. Ardi membawanya ke ujung pembaringan, sedangkan Aura sudah siap di atas handuk yang dibentangkan Alya setelah melepaskan pakaian tidur bayi lucu yang sudah riang dan gembira lagi.
Berdua saling bantu-membantu, Alya dan Ardi membersihkan tubuh Aura yang duduk dengan tawa ceria, menghadap ke arah kedua orang yang dipanggilnya yaya dan bubu tersebut.
Potret bahagia keluarga kecil nan bahagia terekam dari momen yang penuh kedekatan dan keceriaan di antara ketiganya.
.
__ADS_1
.
.
Usai menyuapi Aura yang sudah lahap dengan makanan yang disiapkan oleh perawat, Alya bersiap untuk menjalankan tugasnya di ruang pemeriksaan yang terletak satu lantai di bawah ruang perawatan Aura.
Sambil menjaga bayi lucu yang masih harus dipasangi jarum infus itu, Alya menunggu Ardi yang sedang membersihkan diri di kamar mandi.
Aura mulai terlelap di atas pangkuan Alya, setelah tangan wanita itu dengan lembut terus mngusapi kepalanya dengan sayang.
Tak lama kemudian, Ardi keluar dengan penampilan yang lebih segar dan rapi. Mengenakan celana panjang jeans dan kaos polo berlengan pendek, Alya hampir saja lupa diri saat tak sengaja melihat lelaki itu melangkah mendekati mereka.
"Astaghfirullah ..., maafkan mataku yang telah lancang menatap lama dan mengaguminya, Ya Allah."
Buru-buru Alya menundukkan pandangannya saat tiba-tiba sepasang netra teduh Ardi membalas tatapannya dengan lekat.
Alya membaringkan Aura pelan-pelan dan menyelimutinya dengan penuh kasih. Setelah memastikan bayi itu beristirahat dalam posisi yang nyaman, Alya mencium keningnya seraya memejamkan mata dan melantunkan doa kesembuhan dan kesehatan untuk Aura.
Tak jauh darinya, Ardi memperhatikan setiap perlakuan Alya kepada buah hatinya yang penuh perhatian dan kasih sayang. Entah mengapa, tiba-tiba saja dia teringat pesan terakhir Bunga yang selalu coba dia lupakan dan diabaikannya.
"Dokter Alya adalah wanita yang paling tepat untukmu, Mas. Bukan hanya untukmu, tetapi juga untuk Aura putri kecil kita. Percayalah padaku, kalian berdua akan selalu bahagia selama bersama Dokter Alya. Ingatlah ucapanku ini baik-baik."
Sampai saat ini pun, Ardi masih belum bisa memahami maksud dari pesan terakhir istrinya tersebut. Bagaimana bisa Bunga menyebut nama wanita yang sudah dimiliki oleh lelaki lain, dan dia pilih menjadi pendamping hidup untuk dirinya?
Alya menegakkan tubuhnya usai meninggalkan ciuman lama di kening Aura. Pandangan mereka kembali bertemu, namun kali ini Alya segera memalingkannya ke arah lain.
Meninggalkan Ardi yang masih berdiri tanpa merubah posisinya, Alya menuju sofa dan mengambil tasnya di atas meja.
"Di, aku ke ruanganku dulu. Sudah waktunya aku bertugas." Suara lirih Alya serta-merta membuat Ardi berbalik badan dan kembali melihat ke arah dokter berhijab anggun yang sudah siap berlalu.
Melihat ayah satu putri itu menganggukkan kepala, Alya pun mulaj mengayunkan langkahnya menuju pintu dan membukanya.
"Alya ...." Ardi memanggil namanya seperti yang biasa disebutnya saat mereka sedang bersama dan berdua dulu.
Alya menoleh dengan perasaan yang bergejolak sebab mendengar panggilan yang sudah lama sekali tidak dia dengar, dengan nada suara yang khas dari lelaki masa lalunya.
"Selamat bekerja."
Alya tersenyum begitu saja untuk membalasnya, kemudian segera berlalu dan menghilang di balik pintu.
"Semoga harimu senantiasa dipenuhi dengan kebaikan dan keberkahan, Al ...."
__ADS_1
.
.
.
"Mas, sudah hampir jam delapan. Ayo, segeralah bersiap untuk pergi ke kantor. Bukankah ada pertemuan penting jam sembilan nanti?"
Nara berusaha melepaskan diri dari pelukan erat sang suami yang masih mengungkungnya dengan mesra di atas tempat tidur.
Si mungil Gana sudah kembali terlelap setelah dimandikan dan menikmati minumannya cukup lama.
"Ssttt ..., sebentar lagi, Sayang. Diamlah saja bersamaku di sini." Yoga masih terus mendekap sang istri dan bermanja bersama.
Sepulang dari rumah sakit pagi-pagi tadi, lelaki itu kembali beristirahat dan meminta ditemani oleh Nara yang menuruti kemauan suaminya.
"Apa semalam Aura sangat rewel, sehingga kalian berdua tidak bisa beristirahat?" tanya Nara sambil merubah posisinya menghadap Yoga dan mengusapi wajah tampan sang suami yang masih memejamkan matanya rapat-rapat.
"Tidak juga. Hanya beberapa kali terbangun saja, tapi masih bisa kami atasi bersama," jawab Yoga tanpa ingin membuka mata. Dia justru semakin menikmati belaian lembut sang istri yang selalu menenangkan hati dan jiwanya.
"Kalian memang para ayah luar biasa dan selalu bisa diandalkan."
Nara mencium sekilas bibir suaminya yang langsung disambut oleh Yoga dan mereka lanjutkan cukup lama dengan sentuhan yang lebih dalam dan basah.
Yoga mengakhiri dengan ciuman lembut di kening wanita kesayangannya disertai untaian doa terbaik untuk keluarga mereka.
"Kamu juga istri yang sangat luar biasa, Sayang. Aku mencintaimu selamanya."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.