
Yoga dan Nara yang baru pulang ke tanah kelahiran sore harinya, dikejutkan dengan kabar tentang Bunga yang diketahui Nara setelah menerima telepon dari Alya. Alya menceritakan semuanya, mulai dari telepon Ardi hingga pesan dari Bunga untuk mereka.
Berdua dengan Nara, Yoga segra pergi ke rumah sakit, setelah menitipkan Raga di rumah orangtua Nara.
"Sakit apa dia? Mengapa tidak ada yang mengatakannya padaku?"
"Mereka sengaja menyembunyikannya, Mas. Kalau bukan karena permintaan Bunga untuk bertemu dengannya, Dokter Alya pun tidak akan tahu dan tidak akan dihubungi oleh Dokter Ardi."
Yoga mengepalkan tangannya yang masih menguasai kemudi. Bukan marah yang sesungguhnya, akan tetapi merasa kocolongan dan tidak berguna sebagai seorang sahabat yang serasa saudara.
"Sudahlah, Mas. Abaikan perasaan itu, kita juga harus memahami posisi dan kondisi Dokter Ardi. Dia pasti punya alasan sendiri mengapa memilih menghadapi situasi ini seorang diri."
Yoga mulai meredakan emosinya yang sempat melunjak sejak mendengar kabar tentang sakitnya Bunga. Namun ucapan Nara dan perhatiannya membuat lelaki itu luluh dan kembali bersikap tenang.
"Maafkan aku, Sayang." Yoga mengusap kepala istrinya dan sekilas menatapnya dengan senyuman tipis.
"Tidak seharusnya aku marah dan menyalahkan Ardi. Aku hanya menyesal karena terlambat mengetahuinya dan itu pun dari orang lain."
"Apa lagi yang dikatakan oleh Dokter Alya?" tanya Yoga sambil tetap melajukan mobilnya dengan hati-hati.
"Bunga memiliki riwayat penyakit maag sejak lama, namun tidak pernah dianggapnya serius, hingga akhirnya semakin parah dan kondisinya telanjur kritis."
Nara menyeka beberapa butir air mata yang menetes di pipinya dan mencoba menahan tangisan yang lebih besar. Yoga yang melihatnya hanya bisa menghela napas panjang dan terus mengusapi kepala dan bahu istrinya.
"Bunga sudah mengalami pendarahan hebat akibat pecah pembuluh darah dan berujung anemia yang sudah mengancam nyawanya."
Yoga yang biasanya bersikap dingin dan datar pun, kali ini terlihat cukup terguncang dengan kondisi terakhir Bunga seperti yang tadi diceritakan Alya kepada istrinya.
Dia membayangkan betapa kacaunya keadaan Ardi saat ini. Sama halnya dirinya saat mengetahui bahwa nyawa Nara hampir tak tertolong lagi. Namun berbeda dengan istrinya, kali ini nyawa Bunga benar-benar sudah berada di ujung tanduk.
"Dokter Alya juga mengatakan bahwa para dokter yang menanganinya sudah tidak bisa berbuat banyak lagi, karena saat datang satu bulan yang lalu, kondisi Bunga sudah telanjur parah tanpa diketahui sebelumnya."
Mobil telah terparkir di halaman rumah sakit. Yoga segera keluar dan menjemput istrinnya di pintu sebelah kiri.
__ADS_1
"Ayo, Sayang."
Dengan menggenggam erat tangan Nara, Yoga menuntun sang istri memasuki lobi utama dan langsung menuju ke lantai di mana Bunga dirawat secara intensif.
Semakin mendekati ruangan tersebut, langkah Nara terasa berat sebab perasaan sedihnya mulai mendominasi.
Saat sudah berbelok ke arah koridor yang sepi di mana ruangan Bunga berada, Yoga menahan langkah mereka dan berdiri berhadapan. Ditatapnya wajah Nara yang mulai memerah karena mencegah tangisannya keluar.
"Jika kamu ingin menangis, puaskan dulu tangisanmu di sini. Jika sudah di dalam nanti, kamu harus terlihat kuat di hadapan Bunga."
Selesai Yoga mengatakan semua itu, Nara menjatuhkan tubuhnya ke pelukan lelaki itu. Dia menangis tersedu-sedu di dalam dekapan sang suami.
Yoga hanya bisa diam dan membiarkan istrinya menumpahkan seluruh air mata yang semula ditahannya sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit.
Terus diusapinya punggung Nara sambil sesekali menciumi ujung kepala wanita kesayangannya. Meskipun dia juga merasakan hal yang sama untuk Ardi, tapi dia masih bisa menahannya dan menutupinya dengan sikap dingin dan datarnya di hadapan orang lain.
"Sudah?" tanya Yoga dengan merendahkan suaranya, saat merasakan isakan Nara mulai tak terdengar dan napasnya kembali teratur.
Nara mengangguk seraya membersihkan seluruh wajahnya, dibantu oleh sang suami yang merapikan rambutnya sedikit berantakan ketika mereka berpelukan tadi.
Berdua berjalan dengan tetap bergandengan tangan, Nara dan Yoga telah ditunggu oleh Alya dan Rendy yang duduk di luar ruangan dan sedari tadi melihat kemesraan keduanya dari kejauhan.
Alya memeluk Nara dan tak lupa mengusapi perut besar pasien sekaligus sahabatnya tersebut. Sedangkan Rendy dengan ramah menyapa Yoga dan mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh suami Nara dengan erat dan hangat.
"Kalian masuklah, ada Ardi di dalam." Alya mempersilakan mereka untuk segera masuk.
Yoga membukakan pintu untuk mereka dan menutupnya kembali setelah melangkah masuk berdua.
Mereka disambut dengan tatapan mata Ardi yang penuh keterkejutan karena Yoga dan Nara tiba-tiba ada di sana dan mengunjungi istrinya. Lelaki itu berdiri dan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Bunga yang lunglai di atas pembaringan.
Nara mencoba tersenyum kecil sebagai salam sapaan untuk Ardi, sementara Yoga mendahului maju dan menghampiri sang dokter yang kini terlihat kusut dan penuh pilu.
Kedua sahabat kecil itu berpelukan erat tanpa suara dan tanpa kata-kata. Yoga menepuki punggung Ardi pelan-pelan mencoba memberikan kekuatan untuk sang sahabat.
__ADS_1
Ardi memejamkan mata di balik bahu Yoga. Tak terasa air matanya mengalir walaupun sudah ditahannya sekuat hati.
"Tidak apa-apa. Menangislah jika itu bisa mengurangi beban perasaanmu."
Begitu mendengar ucapan Yoga, seketika keluarlah isakan Ardi meskipun tetap ditahannya agar tak sampai terlalu keras dan mengeluarkan tangisan besar.
"Aku terlambat mengetahuinya. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku yang salah, aku yang kurang memperhatikannya."
Ardi melepaskan pelukannya dan menatap istrinya dengan sendu. Kemudian dia mengusap kasar wajahnya sembari membersihkan sisa lelehan tangisannya.
"Jangan bicara seperti itu. Bahkan Bunga sendiri pun tak ingin melihat kesedihanmu ini, karena itu dia tak mengatakannya padamu."
Ardi menghela napas panjang guna mengalihkan kesdihannya. Menatap Bunga lama dengan pandangan kasih sedih, dia mengulas satu senyuman untuk sang istri tercinta.
Di tepi pembaringan, Nara yang sudah berdiri di sana lebih dulu, sudah menggenggam tangan lunglai Bunga yang kecil dan pucat.
Seperti kebiasaan mereka setiap kali bertemu, Nara mencium kedua pipi Bunga bergantian lalu menatap nanar wajah pucat pasi wanita yang dulu setia merawatnya di awal kehamilan pertama yang penuh pertentangan batin kala itu.
Sosok lemah lembut yang cenderung pendiam dan tidak pernah mencampuri urusan pribadinya, selalu merawat dengan hati dan tidak pernah sekali pun mengeluh sepanjsng melaksanakan tugasnya.
"Baru satu bulan yang lalu kamu dan Dokter Ardi datang ke kantor menemuiku dan berbincang ringan, bahkan kalian memghiburku yang masih menanti kembalinya kesadaran Mas Yoga. Tapi sekarang, mengapa semua menjadi berbalik keadaan seperti ini?"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.