CINTA NARA

CINTA NARA
3.55. HINGGA UJUNG NAPAS


__ADS_3

Yoga dan Nara memutuskan untuk berlibur sekeluarga ke kota kelahiran Yoga dan Raga, bersamaan dengan kepulàngan Ardi dan putrinya beberapa hari lagi. Sejak hamil besar hingga Gana sekarang berusia empat bulan, mereka belum pernah meluangkan waktu untuk mengunjungi keluarga Nara dan Tante Arum.


"Mas, bagaimana menurutmu tentang langkah Dokter Ardi hari ini? Apakah mereka akan segera menikah?" Nara selalu merasa penasaran dengan kisah dua dokter kandungannya tersebut.


"Wajar saja menurutku, Sayang. Lagipula mereka bukan baru-baru ini saling mengenal, melainkan sudah sangat lama. Bahkan mereka sama-sama sudah pernah menjalani pernikahan sebelumnya."


Usai membaringkan Gana di dalam boks bayi, Yoga kembali ke atas tempat tidur di mana istrinya sudah menunggu. Dia duduk bersandar dengan kedua kaki diluruskan ke depan. Nara yang baru saja menyusui putra kecilnya itu segera membaringkan tubuhnya untuk melepas penat, dengan paha sang suami sebagai bantalan untuk bermanja.


Bersantai di dalam kamar di pagi hari saat akhir pekan, adalah kebiasaan Yoga. Lelaki itu selalu ingin berada dekat dengan istrinya sepanjang hari.


Apalagi di saat kedua putra kesayangan mereka tengah tertidur setelah kelelahan bermain seoerti saat ini. Pasangan yang selalu penuh kemesraan itu bisa menikmati waktu hanya berdua tanpa ada gangguan. Keduanya memanfaatkan waktu untuk berbagi banyak hal, sekaligus saling memanjakan satu sama lain.


"Tidak akan mudah bagi Ardi untuk membuat Dokter Alya sepenuhnya menerima dia. Bukan karena tidak mencintainya, tetapi karena trauma itu masih membuat Dokter Alya takut berdekatan secara fisik dengan lawan jenis. Selain psikisnya yang juga masih belum sembuh secara sempurna."


"Dari mana kamu tahu semua itu, Mas?" tanya Nara yang sebenarnya membenarkan ucapan sang suami. Ditatapnya Yoga dari bawah sembari mengusapi bulu-bulu halus yang tumbuh di tepian wajah. Wajah tampan lelaki yang selalu mengagumkan di matanya.


"Aku sempat berbicara dengan psikolog yang akhirnya dipilih oleh Dokter Alya untuk melakukan konseling, setelah kecelakaan yang dialaminya waktu itu."


Karena saat itu hanya Yoga yang bertanggung jawab penuh atas nama Alya, maka segala hal yang berhubungan dengan pemulihan kesehatannya, bisa lebih mudah dipantau oleh lelaki itu.


Yoga terus mengusapi kepala Nara dan membelai wajahnya dengan tatapan yang tak lepas memandang sang istri. Dia mulai bercerita tentang kondisi Alya yang dia ketahui dari psikolog yang menanganinya.


Secara garis besar, Alya mengalami tekanan mental akibat kekerasan selama menjalani kehidupan rumah tangga bersama Riko. Mimpi buruk yang terus menghantui pikirannya hampir setiap saat adalah satu dampak utama dari pelecehan seksual yang pernah dialaminya.


Sebagaimana yang disampaikan oleh psikolog tersebut, Alya merupakan salah satu dari banyak kasus tentang seorang istri yang mengalami pemerkosaan dalam pernikahannya. Dampaknya, sang istri merasa bahwa Ia tidak layak untuk dicintai dan akan mulai menolak segala bentuk rasa sayang dari orang lain.

__ADS_1


"Aku rasa, Dokter Alya mengalami hal yang demikian ini, Sayang. Dan itu tidak akan mudah hilang dan dilupakan begitu saja dari pikirannya. Ardi harus bisa membuatnya nyaman dan jangan sampai sekali pun menyinggung atau menyakiti perasaan pasangannya."


Nara mulai memahami penjelasan dari suaminya yang didapatnya dari psikolog yang menangani Alya. Tidak dipungkiri, dia pun pernah merasakannya.


Meskipun belum sampai pada tindakan pemerkosaan, tapi penculikan dan penyekapan serta percobaan pelecehan itu pernah sangat mengganggu pikirannya. Nara selalu merasakan ketidaknyamanan pikiran dan terus mengalami mimpi buruk sama seperti halnya Alya.


"Aku bisa merasakan bagaimana beratnya beban mental yang harus ditanggung oleh Dokter Alya, Mas. Apalagi dia sangat tertutup dan selalu memendam semuanya sendiri." Pandangan Nara menerawang membayangkan sosok Alya yang terlihat begitu kuat dan tegar selama ini.


"Dokter Alya menyembunyikan semuanya dengan senyuman yang seakan menunjukkan bahwa dia baik-baik saja. Padahal hatinya sangat rapuh dan telah terkoyak sedemikian parah."


Nara mengalihkan pandangan ke arah suaminya, lalu mengambil tangan Yoga dan menciumnya. Setelah itu dia menggengamnya di atas dada dengan mata yang terpejam sempurna.


Yoga menatap wajah menawan nan penuh kelembutan istrinya semakin dalam dan penuh makna. Dia teringat kejadian di awal kepindahan mereka ke kota ini. Saat di mana Nara hampir saja mengalami pelecehan saat dirinya diculik oleh Marcell.


Syukurlah kala itu dia datang tepat waktu sehingga Nara tidak sampai terjamah lebih jauh oleh lelaki obsesif yang setengah gila tersebut. Akhirnya Marcell meninggal dunia setelah terlibat perebutan senjata api dengan dirinya yang juga terluka tembak ketika itu.


Yoga mengingat lagi tindakan nekatnya untuk menodai Nara demi memilikinya dengan sebuah alasan pribadi. Akibat dari peristiwa kelam itu, kondisi fisik dan mental Nara sangat lemah dan buruk.


Di bulan-bulan pertama masa kehamilan Raga dulu, istrinya hanya terus berada di dalam kamar. Nara bukan hanya terkurung secara fisik, namun hati dan pikirannya pun juga terbelenggu.


Wanita itu terpaksa merelakan semua impian indahnya. Nara terpaksa harus menikah dan menerima kehadiran Yoga menjadi suaminya. Suami yang sangat dibencinya dan tidak ingin diakuinya sama sekali.


"Maafkan aku, Sayang. Dulu aku juga pernah membuatmu sangat terpuruk dengan perilaku burukku yang nekat dan sangat jahat kepadamu. Sekali lagi, tolong maafkan aku."


Sebelum Nara membuka mata, terlebih dahulu Yoga menurunkan wajahnya mendekati wajah sang istri. Dengan mata yang turut terpejam, Yoga mencium Nara dengan sendu dan penuh penyesalan.

__ADS_1


Merasakan sentuhan hangat dan lama pada keningnya, hati Nara bergetar hebat seketika. Sekilas dia turut membayangkan masa lalu yang kelam tersebut. Butiran air bening luruh di kedua sudut matanya dan mengalir hingga ke tepian telinga.


Kedua tangannya bergerak pelan mendekap kepala Yoga yang masih menunduk dan menyatu di atas wajahnya. Diusapi dan dibelainya rambut lebat sang suami dengan hati yang semakin bergemuruh. Mau tak mau, ingatannya tertuju pada kejadian buruk itu walau hanya sekelebat bayangan gelap.


Nara membuka cepat kedua matanya dan menarik pelan kepala Yoga. Dia terus menahannya sehingga tercipta jarak di antara wajah keduanya. Mereka saling menatap dengan mata yang sama-sama telah basah dan sembab.


"Aku mohon, jangan pernah mengingatnya lagi, Mas. Aku sudah memaafkanmu. Sekarang aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersamamu. Aku tidak ingin terganggu bayang-bayang gelap masa lalu kita lagi."


Permintaan Nara terdengar begitu tulus namun penuh lara. Yoga merasakan hatinya teramat sakit seolah tertikam sembilu hingga ke ulu. Dia akan terus menanggung rasa bersalah itu sepanjang hidup. Dosa itu akan terus melekat padanya dan terbawa sampai mati.


"Sungguh aku sangat mencintaimu, Sayang. Aku akan melakukan apa pun demi membuatmu tersenyum dan bahagia di sisiku selamanya. Aku akan mengabdikan hidupku untuk dirimu, hingga ujung napasku dan detak terakhir jantungku ini."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜

__ADS_1


.


__ADS_2