
"Urusan kantormu di sini sudah selesai, Mas?"
Nara menyerahkan kaos yang sudah disiapkannya pada Yoga. Lelaki itu menggelengkan kepala, tanda enggan memakainya sendiri.
Akhirnya Nara lebih mendekat dan mulai memakaikannya melalui atas kepala dikuti kedua tangan suaminya.
"Iya, sudah selesai semuanya." Yoga mengecup kening istrinya saat Nara merapikan bagian bawah kaos yang sudah dikenakannya.
"Terima kasih, Sayang," lanjut lelaki itu setelah sang istri selesai melakukan permintaannya.
Nara tersenyum membalas ucapan suaminya. Dia mengambil sisir di meja rias dan meminta Yoga duduk di kursi. Lalu dengan telaten dia merapikan rambut yang masih setengah basah itu hingga terlihat lebih tertata namum tidak serapi saat pergi ke kantor.
Wanita itu lebih suka dengan penampilan rumahan Yoga yang sederhana dan apa-adanya. Terlihat rapi namun terkesan santai. Pun dengan tatanan rambutnya, Nara lebih menyukai gaya Yoga yang sedikit teracak alami namun sama sekali tak mengurangi pesona paras menawannya.
"Kalau aku ingin mengajakmu berkencan malam nanti, apakah kamu bersedia?" tanya Yoga seraya menahan tangan Nara yang sudah meletakkan kembali sisirnya dan berbalik hendak pergi.
"Kencan?"
Nara serasa asing dengan satu kata itu sekarangnya. Pasalnya, sepanjang usia pernikahan mereka, Yoga baru beberapa kali mengajaknya berkencan. Itu pun masih sebatas makan siang atau makan malam bersama yang masih biasa-biasa saja.
Sekali yang diingatnya sebagai kencan yang sesungguhnya, adalah saat mereka menghabiskan waktu seharian di sebuah pusat perbelanjaan, namun kala itu perasaan Nara masih setengah hati.
Dia belum meyakini perasaannya pada Yoga. Masih sebatas merasa nyaman saat bersamanya dan tidak tenang saat tahu akan ditinggal pergi untuk sementara waktu.
Sekarang, dia juga ingin merasakan kembali kencan seperti yang ditawarkan Yoga kepadanya. Dulu, hubungan nereka masih belum jelas sehingga memikirkan kencan pun tak terbersit dalam hatinya.
Apalagi ketika itu Yoga pun masih sakit dan menyembunyikannya. Lelaki itu tidak bisa berpikir hal-hal yang tidak pernah terlintas sekali pun dalam angannya, lantaran kesibukannya mengurus perusahaan dan fokus pada proses penyembuhan penyakitnya.
"Iya, kencan berdua. Bagaimana, huumm ...?" Yoga berdiri lalu segera mendekap sang istri yang berusaha menjauh dan mencoba merayunya.
Dicuminya bahu Nara yang sedikit terbuka karena pakaian longgarnya, lalu merambat ke atas hingga bermain di leher dan telinganya.
"Maas ..., geli," seru Nara tertahan karena tubuhnya mulai beraksi atas sentuhan-sentuhan kecil suaminya.
"Jawab dulu ajakanku, Sayang. Ayo kita berkencan. Cuppp ...!!!"
Yoga memajukan wajahnya hingga berhasil mencuri ciuman di sudut bibir Nara yang membuat wanita itu terkejut dan menoleh membuat Yoga dengan segera menciumnya lagi.
"Iya, Mas. Iya, aku mau. Nanti malam kitaaa ... aaa, Mas!!"
__ADS_1
Nara semakin terkejut saat tiba-tiba Yoga mengangkat tubuhnya dan membawanya ke atas tempat tidur.
"Nanti malam kita akan berkencan. Tapi sekarang ...." Nara mulai gugup saat tubuh Yoga sudah mengungkung tubuhnya dari atas.
"Maaass ...?!?"
Seluruh tubuh wanita kesayangan Yoga itu telah meremang seiring tatapan sayu yang mulai terlihat di kedua mata suaminya yang sudah memandang teduh Nara dengan hasrat yang mulai hadir menggoda.
"Sekarang kita akan bermain-main sebentar ...."
Yoga melanjutkan ucapannya dan mulai mencumbu Nara secara pelan dan menyeluruh namun pasti menuju ke puncak tujuannya.
Mandi sore yang baru saja dilakukannya tak berarti lagi karena satu jam kemudian, tubuhnya telah berpeluh penuh tanpa ada lagi pakaian yang melekat di tubuhnya, juga tubuh istrinya.
Yoga rebah di samping istrinya dengan kepala yang masih bersandar nyaman di tubuh atas Nara yang bergerak naik-turun dengan cepat karena nafasnya yang belum teratur usai memadu kasih dengan suaminya yang selalu membuatnya takluk dan pasrah.
"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu."
Dengan sisa tenaga yang masih ada, Nara menarik tangannya ke atas dan mengusapi kepala Yoga yang rambutnya kembali teracak berantakan karena ulah tangannya yang di luar kendali saat dirinya diserang mesra oleh sang suami.
"Sama-sama, Mas. Aku juga mencintaimu."
.
.
.
Malam harinya Yoga dan Nara sudah berada berdua di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang menuju pusat perbelanjaan yang akan mereka datangi.
Tujuan utama mereka adalah bioskop di lantai atas yang dulu pernah mereka datangi berdua saat Yoga dan Nara menghabiskan waktu bersama sebelum lelaki itu pergi ke luar kota untuk melakukan pengobatan bersama Dokter Danu, tanpa sepengetahuan Nara atau siapa pun kala itu.
Sepanjang perjalanan mata bening Nara tak lepas memandangi wajah suaminya yang masih fokus dengan kemudinya.
"Apa ada, Sayang? Masih ingin lagi seperti tadi?"
Yoga menggoda istrinya sambil menoleh sekilas ke samping dan mengusapi kepala Nara yang sudah tersipu dengan ucapan suaminya.
"Aku senang melihat sikapmu yang tak lagi sekaku dulu waktu awal-awal kebersamaan kita, Mas. Terima kasih sudah berubah lebih baik demi hubungan kita."
__ADS_1
Tangan kanan Nara terulur ke samping dan membelai lembut pipi suaminya dengan punggung tangannya, membuat Yoga memejamkan mata untuk sesaat meresapi sentuhan mesra istrinya.
Tangan kirinya lepas dari kemudi dan menyatukannya dengan tangan Nara yang masih menyentuh wajahnya, lalu menariknya dan menciumnya berkali-kali. Setelah puas melakukannya, Yoga mendekap genggaman tangan mereka di atas dadanya yang berdebar-debar.
"Terima kasih sudah membuatku belajar bagaimana seharusnya memperlakukan wanita dengan penuh cinta dan kasih sayang."
Nara tersenyum dengan pandangan yang sedari tadi telah terkunci ke arah suaminya. Tatapannya semakin dalam dan penuh kekaguman terhadap lelaki yang kini telah dicintainya sepenuh hati.
"Kamu adalah lelaki baik, Mas. Lelaki yang baik akan tahu bagaimana caranya memperlakukan wanitanya dengan baik, tanpa harus ada yang mengajari. Dan kamu sudah berhasil melakukannya."
"Kamu sanggup menunjukkan sikap dan perhatian itu dari dalam dirimu, yang sebelumnya tersembunyi jauh di dasar hatimu, karena tekanan keadaan yang membuatmu tak sempat memikirkan masalah hati dan perasaan sehingga membuatmu menjadi sosok lelaki yang dingin dan kaku, apalagi terhadap wanita."
Nara menggeser duduknya lebih mendekat lalu menyandarkan kepalanya di bahu Yoga yang melebarkan senyumannya begitu saja saat melihat Nara bermanja padanya.
"Aku sangat bahagia saat ini. Baru sekali ini aku merasakan suasana sehangat ini di dalam mobil ketika berdua denganmu, Sayang. Dan ternyata aku sangat menyukai dan menikmatinya."
Yoga mencium kepala Nara yang terjangkau oleh sentuhan bibirnya. Berkali-kali dilakukannya seraya mempererat genggaman tangan mereka yang masih setia didekapnya dengan erat.
"Aku juga bahagia, Mas. Tetaplah bersikap sehangat ini dan selalu penuh kemesraan, sehingga aku akan selalu merasa dicintai olehmu dengan sepenuh hati."
Nara mendekap lengan kiri Yoga dengan tangan kirinya dan semakin bermanja di samping suaminya yang terus tersenyum bahagia dengan hati berbunga penuh cinta.
"Kamu adalah keajaiban dalam hidupku, Sayang. Terima kasih sudah membuat hidupku menjadi sebahagia ini dan selalu dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang setulus hati."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1