
"Bagiku, Raga pun sudah cukup jika memang Allah menghendakinya demikian."
Nara dengan cepat menggeleng dan menanggapi ucapan suaminya.
"Tidak, Mas. Aku masih ingin hamil lagi. Aku masih ingin memberimu anak lagi. Aku mau kita memberikan adik untuk Raga."
Yoga menghela nafas panjang mendengar kukuhnya tekad sang istri untuk hamil kembali di saat dia baru saja menerima kenyataan pahit harus kehilangan kehamilannya lagi.
Tak ingin berdebat dengan Nara, Yoga mengalah dan memilih untuk menyudahi pembicaraan tentang keinginan sang istri tersebut.
"Sebaiknya hal ini kita bicarakan lagi nanti, di waktu yang lebih tepat setelah keadaanmu membaik. Sekarang lebih baik kamu beristirahat dulu. Ingat pesan Ardi."
Nara tidak membantah. Perlahan dia kembali berbaring di samping Yoga yang juga bersiap untuk tidur di samping istrinya.
Setelah memakaikan selimut untuk mereka berdua, lelaki itu memberikan ciuman selamat malam di kening Nara lalu berbaring dan memeluk sang istri dengan erat.
Namun rupanya Nara tidak bisa memejamkan matanya begitu saja, setelah mengetahui tentang kehamilan kosong yang dialaminya.
"Mas ...." panggilnya ingin menanyakan sesuatu pada suaminya.
"Ya, Sayang?" Yoga membuka matanya kembali dan mengusapi punggung Nara pelan-pelan.
"Apakah aku akan dikuret lagi?"
Yoga menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, mencoba menghalau sesak di dadanya. Dia juga memikirkan hal yang sama dengan Nara.
"Aku juga belum tahu, Sayang. Kata Ardi, kita menunggu dulu satu minggu ke depan, barulah setelah itu dia bisa memutuskan langkah selanjutnya untukmu."
"Berapa usia kehamilanku sekarang ini, Mas? Kamu tahu kan, haidku masih belum teratur datangnya sejak keguguran yang pertama dulu."
"Delapan minggu, Sayang. Hampir dua bulan. Jika saja kehamilanmu normal, seharusmya janinnya sudah terlihat jelas, bahkan detak jantungnya pun sudah bisa didengarkan."
Nara menahan air mata yang sudah menggenang dan memburamkan pandangannya. Dia tidak ingin Yoga sampai mengetahuinya.
Yoga sendiri, pikirannya kembali menerawang dan mengingat satu per satu penjelasan Ardi tentang kondisi kesehatan istrinya.
Ada satu hal lagi yang belum diceritakannya pada Nara, yaitu tentang kista yang menyertai kehamilannya kali ini.
Meskipun Ardi sudah menjelaskan bahwa kista tersebut tidak berbahaya dan akan luruh dengan sendirinya, tapi Yoga tetap mengkhawatirkan istrinya.
Dia akan mengatakannya esok hari setelah kondisi Nara membaik dan dirasanya siap untuk menerima kabar tersebut.
.
.
__ADS_1
.
Di rumah orangtua Nara, Raga sedang bermain bersama Rizka dan Indra yang masih meliburkan diri dari kuliah dan pekerjaannya untuk beberapa hari ke depan.
Bocah yang kini sudah berusia dua tahun tersebut, semakin pintar dan semakin ceriwis ingin mengetahui banyak hal di sekitarnya.
"Kak, apa kita perlu menjenguk Mbak Nara?" tanya Rizka di sela permainannya bersama Raga di lantai ruang keluarga.
"Aku rasa tidak perlu, Sayang. Biarkan mereka berdua sama-sama menenangkan diri dulu. Lebih baik kita fokus membantu menjaga Raga yang dititipkan di sini untuk sementara waktu."
Rizka mengangguk dan tersenyum ke arah suaminya yang juga tengah mencuri pandang ke arahnya.
Dan di saat Raga sedang asyik dengan mainan di depannya, Indra yang duduk di belakang bocah tampan itu buru-buru mendekatkan wajahnya ke wajah Rizka di sampingnya, lalu dengan cepat mencuri ciuman di bibir manis istrinya.
Rizka tampak terkejut namun tidak menolak dan untuk sesaat mereka menikmati ciuman itu bersama-sama. Darah keduanya berdesir halus menciptakan rasa yang membuncah indah di hati pasangan pengantin baru tersebut.
Indra menyudahi ciuman mereka sebelum Raga menengok ke belakang dan mengetahui perbuatan Om dan Tantenya.
Namun bukannya kembali bermain bersama keponakannya, Indra justru berdiri dan mencari Mbak Indah yang sedang berada di dapur bersama Ibu.
Lelaki itu meminta Mbak Indah untuk kembali menemani Raga dengan alasan dirinya hendak mandi sore. Akan tetapi saat Mbak Indah berjalan ke arah ruang keluarga, Indra yang berjalan menuju kamarnya memberi kode pada Rizka untuk segera menyusulnya.
Sepuluh menit kemudian, Rizka yang pamit untuk menyiapkan keperluan suaminya, sudah masuk ke kamar dan bermaksud untuk mengambil pakaian ganti Indra di lemari.
Tak disangka-sangka, Indra yang sudah bersembunyi di balik pintu segera memeluk tubuh istrinya dari belakang, membuat Rizka terkejut dan seketika meremang.
"Aku hanya ingin berduaan denganmu saja, Sayang."
Saat mereka berciuman tadi, Indra tidak bisa menahan hasrat untuk melakukannya lebih lama tanpa ada gangguan dari sang keponakan.
"Aku masih menginginkannya, Sayang."
Indra merapatkan pelukannya sehingga tubuh mereka menyatu kian dekat. Kepalanya sudah bermanja di bahu sang istri lalu mulai menciumi seluruh bagian yang terjangkau oleh bibirnya.
Rizka yang hanya bisa pasrah dengan keinginan suaminya, membiarkan Indra melakukan apa saja yang dikehendakinya. Dia mulai memejamkan mata dan menikmati sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh suaminya.
"Kak ...." Beberapa kali dia memanggil suaminya dengan lirih, saat tubuhnya merasakan gelenyar yang membuatnya mulai kehilangan kendali.
Indra membalikkan tubuhnya menjadi berdiri di hadapan istrinya. Pandangan yang telah sama-sama sayu itu beradu dan saling mengunci. Kilatan hasrat akan sesuatu yang lain pun mulai terlihat di dalam pijar mata lelaki itu.
Tubuh keduanya kian menyatu dengan pelukan yang semakin erat. Rizka mulai terbiasa dengan keintiman mereka, bahkan mulai merasakan keinginan yang sama untuk melakukan kontak fisik yang lebih dekat dan tanpa sekat.
Melihat sikap Rizka yang mulai tenang dan rileks bersamanya, Indra tak ragu lagi untuk melanjutkan hasratnya yang mulai menggebu.
Dia kembali bermanja dan memanjakan istrinya dengan sentuhan-sentuhan lembut nan hangat yang diterima oleh istrinya tanpa penolakan sedikit pun.
__ADS_1
Sesekali, Rizka mulai memberanikan diri untuk membalas, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh suaminya saat ini.
Indra begitu menikmati balasan perlakuan istrinya yang masih terlihat malu-malu. Dia pun mengimbanginya agar Rizka tidak canggung dan menuntun gerakan mereka bersama-sama.
Pasangan suami-istri yang belum genap satu minggu itu, semakin hanyut dan larut dalam aliran permainan cinta yang mereka ciptakan bersama.
Sesekali mereka berhenti dan saling menatap, lalu melanjutkannya lagi dengan hasrat yang sama-sama mulai memuncak.
Saling berbalas seiring seirama, mereka terus menikmati bersama semua sensasi cinta yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
"Sayang, apakah kamu sudah mengijinkannya?" Deru nafas Indra mulai terdengar cepat dan tak beraturan.
"Kak, aku ...."
Wajah Rizka semakin memerah dan menghangat mendengar pentanyaan suaminya. Ingin rasanya segera mengiyakan karena dirinya pun merasa telah siap lahir dan batin.
"Kamu mau?" Indra kembali menegaskan pertanyaannya, membuat Rizka mengangguk begitu saja.
"Tapi, Kak. Aku ...."
Indra sudah mulai mendekat dan bersiap untuk melanjutkan hasratnya yang telah tertunda selama beberapa hari ini.
"Kak, jangan sekarang!"
Kali ini Rizka mendorong pelan tubuh suaminya supaya menjauh dan menyudahi kegiatan mereka.
"Sayang, tadi kamu sudah mengiyakannya. Mengapa sekarang berhenti?"
"Maaf, Kak. Aku ...." Rizka menunduk malu dan diliputi perasaan bersalah karena harus menolak suaminya.
"Tadi siang aku baru saja datang bulan."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.