
Yoga terus tersenyum melihat ke layar ponsel Nara, di mana terlihat Raga mulai tertidur di pangkuan neneknya. Sebelum menutup panggilannya, Nara memberi waktu pada Yoga yang ingin berbicara dengan Bapak dan Ibu.
"Saya minta maaf atas semua kesalahan saya dan saya titip Nara dan Raga pada Bapak dan Ibu. Maafkan saya karena tidak bisa lebih lama lagi menjaga dan membahagiakan mereka berdua."
Seketika suasana haru tercipta di ruang perawatan Yoga dan di kamar pribadi di rumah mereka. Sambil terus memegang ponselnya, wajah Nara telah basah oleh air mata yang mengalir deras menganak-sungai di kedua pipinya.
Tak banyak yang Bapak sampaikan dari seberang sambungan. Hanya untaian doa dan semangat yang beliau tujukan untuk sang menantu.
Setelah itu, Nara pamit dan menutup panggilan. Dia meletakkan ponselnya kembali di atas meja lalu duduk di kursi tepat di samping pembaringan Yoga.
Tangan mereka sudah kembali saling menggenggam erat dengan suasana hati yang kian dirundung pilu.
Entah berapa lama lagi waktu mereka untuk bersama, karena Yoga sudah mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dadanya, tapi dia terus menahan dan menyembunyikannya dari Nara.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan masuklah Dokter Danu didampingi seorang perawat yang membawa nampan kecil berisi beberapa jenis obat-obatan dan peralatan medis, yang sepertinya hendak disuntikkan ke dalam tubuh Yoga.
Tanpa mereka berdua ketahui, Dokter Danu sudah diberitahu oleh perawat yang ditugaskan berjaga di luar ruangan jika Yoga sadar dan tengah berbicara dengan istrinya.
Akhirnya sang dokter memilih untuk memantau kondisi Yoga dari lingkaran kaca kecil yang ada di tengah pintu, tanpa ingin mengganggu waktu kebersamaan mereka berdua.
Namun saat baru saja dilihatnya perubahan di wajah Yoga yang mulai menahan sesuatu, Dokter Danu segera masuk untuk memeriksa pasien istimewanya, setelah sebelumnya meminta perawat menyiapkan beberapa obat yang diperlukan.
"Maaf mengganggu kalian, tapi saya harus memeriksa kondisi Yoga lebih dulu. Nara, kamu bisa menunggu sebentar di luar." Ucapan Dokter Danu terdengar tegas dan tak ingin dibantah.
Dengan berat hati Nara segera berdiri lalu melepaskan genggaman tangan mereka. Mata beningnya menatap wajah Yoga yang mencoba tetap menampakkan senyumannya dan mengangguk kepada sang istri.
"Aku keluar dulu ...."
Nara mengambil ponselnya dari atas meja lalu melangkah keluar meninggalkan Yoga yang masih terus menatap kepergiannya.
.
.
.
Nara duduk dengan gelisah di depan ruangan Yoga. Entah mengapa perasaannya sangat tidak nyaman seolah sedang ikut merasakan kesakitan Yoga di dalam sana.
Dari ujung lorong terlihat dua orang berjalan ke arah Nara, tepatnya ke ruang perawatan Yoga, setelah sebelumnya berbicara dengan seorang pengawal keluarga Yoga yang berjaga di sana.
"Ra ...." Panggil mereka bersamaan yang membuat Nara segera mengangkat wajah untuk melihat siapa yang datang menghampirinya.
Alan dan Sasha sudah berdiri tak jauh dari Nara yang tampak terkejut dengan kedatangan mereka berdua.
"Bagaimana keadaan Yoga sekarang? Maaf kami baru sempat datang untuk menjenguknya." Alan sengaja tidak mengulurkan tangannya, hanya menyapa Nara dan tetap menggenggam tangan kiri calon istrinya.
Sasha mengulurkan tangan kanannya dan disambut Nara dengan senyuman tipis di wajahnya yang masih terlihat gelisah.
"Dia baik-baik saja. Hanya kelelahan." Nara menutupi keadaan yang sebenarnya dari mereka.
__ADS_1
"Silakan duduk. Dokter sedang memeriksa suamiku di dalam sana."
Nara menunjuk bangku panjang yang masih kosong di sebelahnya. Terlihat sedikit canggung di antara ketiganya, akan tetapi Nara yang hanya memikirkan suaminya berusaha tetap bersikap normal di hadapan sepasang calon pengantin yang akan segera menikah itu.
"Oya, selamat atas rencana pernikahan kalian. Semoga Allah memudahkan dan melancarkan semua niat baik kalian hingga hari pernikahan tiba."
Dengan senyuman tulus di bibirnya, Nara menatap Sasha tanpa ingin melihat ke arah Alan yang duduk di samping calon istrinya.
Bukan karena ada rasa yang masih tertinggal di hatinya untuk Alan, tapi Nara berusaha bersikap biasa demi menjaga perasaan Sasha.
Cintanya pada Alan sudah dia tepikan dari hati dan jiwanya. Sudah tidak ada lagi getaran indah itu di hatinya. Tidak ada pula kesedihan atas perpisahan di antara mereka dulu.
Segala hal tentang Alan dan perasaan masa lalunya sudah dia kubur dalam-dalam dan hanya akan menjadi sebuah kenangan di hatinya.
Bukan untuk diratapi dengan kesedihan, namun hanya untuk dikenang sebagai bagian dari perjalanan hidup yang harus dia lalui menuju kebahagiaan sejatinya kini, yaitu bersama Yoga dan Raga, meskipun kenyataannya Yoga akan segera pergi meninggalkan dirinya.
"Terima kasih, Ra. Doa yang sama dari kami, semoga pernikahan kalian langgeng selamanya, hingga maut memisahkan."
Kalimat terakhir Sasha bagai sebuah pukulan palu yang menghamtam hati Nara sangat keras sehingga mampu meruntuhkan kayakinannya akan kesembuhan Yoga.
Hingga maut memisahkan ..., kendati Sasha mengucapkannya tanpa maksud apapun selain doa tulus pada umumnya, tapi tidak demikian halnya bagi Nara.
Kalimat itu bagai sebuah bom waktu yang akan segera meledak dan meluluh-lantakkan kehidupannya, sebab maut memang sudah mendekat dan bersiap untuk menjemput Yoga pergi darinya selama-lamanya.
"Apakah aku bisa menemui Yoga sebentar? Aku ingin menyampaikan undangan pernikahan kami secara langsung kepadanya." Alan meminta ijin Nara untuk menemui suaminya.
"Maaf, tapi Dokter melarang Yoga bertemu dengan siapa pun. Dia butuh banyak waktu untuk memulihkan kondisinya."
Alan menatap Sasha seakan sedang berkompromi. Akhirnya setelah Sasha mengangguk, Alan kembali berbicara.
"Kalau begitu, kami serahkan undangan ini kepadamu, Ra. Nanti tolong sampaikan kepada Yoga jika kami menunggu kehadiran kalian pada pernikahan kami."
Alan memberikan undangan yang dipegangnya pada Sasha untuk diberikan kepada Nara yang duduk di samping calon istrinya.
Nara menerimanya tanpa ingin membacanya karena dia sudah pernah mendengarnya dari pembicaraan Ardi dan Yoga tempo hari. Dia hanya mengangguk dan tersenyum pada Sasha.
Tak lama kemudian, mereka berdua berdiri dan berpamitan pada Nara. Nara mengikuti keduanya berdiri dan bersalaman dengan Sasha.
Sasha melangkah pergi mendahului calon suaminya. Dia memberi kesempatan untuk Alan apabila ingin berbicara dengan Nara.
Nyatanya, Alan segera berbalik dan menyusul Sasha yang sudah berlalu beberapa langkah di depannya.
"Lan ...."
Suara Nara yang sengaja memanggilnya dengan keras, menghentikan langkah Alan dan juga Sasha. Dia tidak ingin Sasha salah paham dengannya.
Dalam jarak langkah masing-masing, Alan dan Sasha menoleh ke arah Nara. Nara teesenyum pada Sasha sebelum menyampaikan hal yang ingin dikatakannya pada Alan demi melegakan hatinya.
"Ya, Ra?" Alan menatapnya dan menunggu.
__ADS_1
"Semoga kalian berdua bahagia selamanya. Dan jangan pernah ada kebohongan di antara kalian, seperti apa yang sudah kamu lakukan kepadaku dulu."
Nara berkata dengan pelan agar Sasha tidak sampai mendengarnya kali ini.
"Apa maksudmu, Ra?" Wajah Alan berubah. Dia terkejut Nara mengatakan kalimat seperti itu.
"Cintai Sasha dengan segenap hati dan jiwamu. Jaga dan bahagiakan dia selalu. Jangan pernah melepaskannya lagi."
"Dialah cinta pertama dan cinta terakhirmu, yang ditakdirkan Allah untuk menjadi milikmu. Bukan aku yang pernah menjadi persinggahan cintamu dan kamu akui sebagai cinta pertamamu."
Lega sudah hati Nara setelah mengatakannya langsung di hadapan Alan, yang dulu mengaku sangat mencintainya sama seperti dia mencintai lelaki itu.
Berbeda halnya dengan Alan yang semakin terkejut dengan ucapan Nara yang mengartikan bahwa wanita itu telah mengetahui masa lalu yang dulu disembunyikannya.
"Ra, aku ...."
"Tidak perlu menjelaskan apa pun lagi. Semuanya sudah berlalu. Pergilah. Calon istrimu sudah menunggu."
Nara menatap ke arah Sasha yang menunggu tak jauh dari Alan lalu melemparkan senyuman untuk wanita itu. Sasha melihatnya dan membalas senyumannya.
"Maafkan aku, Ra."
Selanjutnya Alan memilih diam dan segera pergi dengan rasa bersalah di hatinya.
Bukan maksudnya ingin membohongi Nara. Hanya baginya kala itu, Sasha adalah kenangan masa remaja dan mereka pun belum pernah saling mengungkapkan perasaan sebelumnya, sehingga Alan memilih untuk melupakan dan menganggapnya hanya cinta monyet belaka.
Nara masih terus menampakkan senyumannya hingga sepasang calon pengantin itu menghilang di ujung lorong. Dalam lirih, dia mengucapkan sesuatu yang membuatnya merasa lebih tenang di tengah ketakutan yang melanda hati dan jiwanya.
"Terima kasih sudah mengajariku satu hal lagi dari masa lalu kita. Bahwa sebuah hubungan yang diawali dengan kebohongan sekecil apa pun itu, tidak akan berakhir dengan kebahagiaan."
"Dan aku tidak akan melakukannya pada hubunganku bersama Yoga, karena aku ingin kami mengawali hubungan baru ini dengan kejujuran dan ketulusan satu sama lain, agar bahagia senantiasa menyertai perjalanan cinta kami."
"Meskipun mungkin hanya sebentar kami miliki, tapi aku ingin kami berdua merasakan kebahagiaan yang terindah, di sisa waktu yang masih Allah percayakan untuk kami lalui bersama, sebelum Dia mengambil Yoga dari sisiku ...!
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis...ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1