
"Dokter Ardi menanyakan tentang Dokter Alya, Mas?"
Nara sudah menunggu suaminya di atas tempat tidur sambil membuka media sosial, sementara Yoga baru saja menutup layar kerjanya setelah menerima panggilan telepon dari Ardi.
Setelah sebelumnya berbaring dan berbincang berdua dengan Nara di atas tempat tidur, Yoga kembali bangun karena mendapatkan laporan dari Pram yang harus segera diperiksanya.
"Iya, Sayang. Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa memberitahu Ardi yang sebenarnya. Alya sudah memintaku lebih dulu untuk merahasiakannya."
Yoga bersiap merebahkan diri lagi di samping Nara. Dia mencium keningnya dan mengecup bibirnya baru kemudian membaringkan tubuhnya.
Lelaki itu merentangkan tangannya, meminta sang istri mendekat lalu dipeluknya dengan hangat dan rapat. Nara tersenyum menatap suaminya, lalu mencium kedua pipinya sebelum kembali menyamankan diri di atas dada Yoga.
"Sepertinya perasaan di antara mereka masih begitu dalam, meskipun takdir telah memisahkan keduanya dan masing-masing akhirnya menikah dengan orang lain."
Nara bisa merasakan kesedihan hati Alya, karena dia pun pernah merasakan hal yang sama, saat dulu takdir memisahkannya dari Alan dan dia harus menikah tanpa cinta dengan Yoga.
"Kamu mengingat masa lalu kita?" Yoga bisa merasakan apa yang tengah melintasi pikiran istrinya, karena dia juga merasakan hal yang sama.
"Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud untuk mengingatnya."
Nara menengadahkan kepalanya dan menatap sendu ke dalam netra berpancaran teduh milik suaminya.
Yoga tersenyum dan terus mengusapi kepala istrinya tanpa sedikit pun kemarahan.
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku juga baru saja mengingatnya."
Lelaki itu kembali mencium puncak kepala Nara lalu menempelkan pipinya di sana.
"Masa lalu kita mungkin penuh kesedihan dan air mata. Tapi masa depan kita, aku pastikan akan selalu dipenuhi senyuman dan tawa bahagia kita."
Nara mengangguk untuk membenarkan dan meyakini semua ucapan suaminya. Sekarang mereka telah hidup bahagia dalam lingkaran cinta yang tidak akan pernah putus dan rapuh untuk selamanya.
"Jodoh adalah sepenuhnya rahasia Allah. Sekuat apa pun kita berjuang, jika Allah tidak menghendakinya maka semuanya akan berakhir juga."
"Sebaliknya, jika Allah sudah menetapkan sesuatu untuk menjadi milik kita, maka tidak ada seorang pun yang bisa menghindari dan menyangkalnya. Semua jalan akan terbuka dengan penuh kemudahan untuk menuju kebahagiaan sejati kita."
Keduanya sama-sama mengingat masa lalu yang penuh liku, yang akhirnya menuntun langkah mereka menuju masa sekarang di mana cinta dan kebahagiaan telah menjadi milik mereka seutuhnya.
"Semoga Dokter Alya segera menemukan jodoh dan kebahagiaan sejatinya, dengan siapa pun itu. Aku percaya, wanita sebaik dia nantinya pasti akan mendapatkan kebahagiaan sejati seperti kita, Mas."
__ADS_1
Mengingat masa lalu bukan berarti kita masih terbelenggu dalam ikatan yang sebelumnya pernah ada di masa lalu. Mengingat masa lalu bukan berarti kita tidak mencintai apa yang telah kita miliki saat ini.
Mengingat seseorang yang pernah kita cintai di masa lalu juga bukan berarti kita masih memiliki rasa yang sama seperti dulu. Hanya mengingatnya, bukan berarti kita masih menginginkannya seperti dulu.
Nara dan Yoga sama-sama telah memahami semua itu. Yang ada di antara mereka saat ini hanyalah cinta sejati yang seutuhnya dan satu-satunya untuk selamanya menjadi milik mereka berdua.
.
.
.
Pagi harinya, Alya terbangun dengan tubuh yang lebih segar dari sebelumnya. Kendati fisiknya masih lemah dan rasa pusing masih sesekali menderanya, tapi dia telah bertekad untuk pulang hari ini.
Dia sudah bisa pergi ke kamar mandi sendiri dan merasa telah benar-benar kuat, setidaknya untuk segera keluar dari klinik milik mantan kekasihnya ini.
"Aku harus kuat dan segera pergi dari sini. Aku tidak ingin keberadaanku di sini akan membuat kehidupan rumah tangga Ardi dan Bunga terganggu dan membuat perhatian Ardi terbelah lagi."
"Selamat pagi, Dokter Alya."
Nara masuk seorang diri dengan membawa kotak makanan dari rumah, yang berisi sarapan sehat untuk dokter kandungannya tersebut.
"Ibu Nara, selamat pagi." Alya merapikan kembali hijab sederhana yang dikenakannya.
Dia meletakkan kotak makanan di atas meja dan membukanya lalu menyiapkannya untuk Alya. Alya yang melihatnya hanya tersenyum dan merasa bahagia karena Nara begitu perhatian kepadanya.
"Ini, Dok. Sarapan ini saya yang masak, lho. Saya buat khusus untuk Dokter Alya."
Alya menerima kotak makanan yang disodorkan oleh Nara dan segera menikmatinya pelan-pelan.
Dia kagum dengan kesederhanaan Nara yang masih menyempatkan diri untuk memasak sendiri sedangkan dia mempunyai banyak asisten rumah tangga yang siap membantunya.
"Masakan Bu Nara sangat enak. Membuat saya merindukan masakàn Ibu saya." Alya mulai berkaca-kaca saat mengingat ibunya yang berada di kampung halaman bersama bapaknya.
"Mulai sekarang jangan panggil saya Ibu, Dok. Kita masih seumuran dan saya merasa lebih nyaman kalau dipanggil nama saja tanpa embel-embel yang lainnya."
Nara mengalihkan perhatian Alya agar tidak larut memikirkan orangtuanya. Alya pun kembali tersenyum dan mengangguk mengiyakan permintaan pasien barunya tersebut.
"Baiklah, Nara. Semoga Pak Yoga tidak marah karena saya lancang memanggil istri beliau dengan namanya saja."
__ADS_1
Nara tersenyum dan menggeleng pelan.
"Suami saya tidak pernah mempermasalahkan hal-hal seperti ini, Dok. Kami justru senang jika semua orang memperlakukan kami sama seperti yang lainnya, tanpa membedakan hanya karena siapa dia."
Obrolan demi obrolan terus berlanjut hingga Alya menyelesaikan sarapannya. Dibantu oleh Nara, dokter anggun itu meminum obat yang sudah disediakan perawat yang sebelumnya menjaga dirinya.
"Hari ini saya akan pulang, Ra. Dan saya akan datang lagi nanti di hari pernikahan adikmu."
Nara melihat koper di samping pembaringan yang sudah disiapkan oleh Alya sendiri.
"Dok, maaf kalau sebelumnya saya dan suami saya mendahului untuk memutuskan sesuatu. Mas Yoga tadi berpesan kepada saya untuk menyampaikan sesuatu kepada Dokter."
"Ya? Apakah ada yang bisa saya bantu?"
"Kami meminta Dokter untuk tetap tinggal dan menginap di kediaman kami hingga hari pernikahan Indra. Kondisi Dokter masih belum kuat dan pulih sepenuhnya. Tidak baik jika memaksakan diri untuk melakukan perjalanan jauh."
Alya tampak terkejut dengan permintaan yang disampaikan oleh Nara sebagai sebuah keharusan yang tidak boleh dibantah lagi.
"Tapi sungguh saya sudah sehat kembali, Ra. Tidak perlu dipikirkan lagi. Saya juga sudah memesan tiket untuk terbang jam sepuluh nanti."
"Tapi sayangnya Mas Yoga tidak suka bila keputusannya dibantah, Dok. Jadi Dokter akan tetap pulang bersama saya dan memulihkan kesehatan Dokter di sana."
Nara membereskan kotak makanan yang sudah kosong dan dimasukkan kembali ke kantong kain yang dibawanya.
Tepat bersamaan dengan Alya yang hendak turun dari pembaringan, pintu diketuk dari luar dan masuklah seseorang yang ingin menemui Alya.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
💜Author💜
__ADS_1
.
l