CINTA NARA

CINTA NARA
102 LEMBARAN CERITA BARU


__ADS_3

Satu bulan berlalu, pagi ini Yoga dan Nara sibuk bersiap untuk mengiringi Ardi yang akan menikahi Bunga. Tak lupa Raga pun didandani oleh Ibunya dengan penampilan luar biasa. Setelan jas bayi berwarna hitam lengkap dengan tuxedo seperti yang dikenakan oleh Yoga, seolah menunjukkan bahwa dialah sang penerus ayahnya kelak.


Namun karena tingkahnya yang sangat aktif akhirnya Yoga melepaskan jas Raga dan membawanya saja untuk keperluan foto keluarga nanti. Yoga tersenyum melihat sang bayi yang sangat bersemangat untuk belajar berjalan tanpa kenal lelah.


"Mas, ayo berangkat sekarang!" ajak Nara yang baru saja selesai dirias oleh penata rias pilihan Yoga yang akhirnya menjadi langganannya.


Yoga menoleh dan berdiri seketika begitu melihat penampilan sang istri yang sangat anggun dan mempesona. Kain seragam yamg diberikan oleh keluarga Ardi dibuat menjadi sebuah gaun yang indah.


Meskipun berpotongan sederhana dan tanpa pernik apa pun, namun saat dikenakan oleh Nara, gaun merah muda berbahan broklat tile dengan paduan kain sutra polos tersebut menjadi terkesan mewah dan elegan.


"Kamu cantik sekali, Sayang. Iya kan, Nak? Ibu cantik?"


Yoga mencium kening Nara sementara Raga yang masih berdiri dan berpegangan tangan dengan ayahnya, melihat ke atas dan memgeluarkan suara celotehan.


"Bubu ... bubuu ... bubuu ..., yaya ... yayaa ... yayaa ...."


Walaupun belum terdengar jelas, tapi mereka mengerti jika bayi menggemaskan itu tengah memanggil ibu dan ayahnya.


Yoga segera menggendong Raga dan memberinya ciuman di pipi bersamaan dengan Nara yang juga mencium di pipi yang satunya. Bayi gembul itu tertawa riang di antara ciuman kedua orangtuanya.


Kemudian Yoga menggandeng tangan Nara menuju ke halaman depan di mana Pak Budi sudah siap untuk mengantarkan mereka bertiga.


Membukakan pintu belakang untuk istrinya, dengan satu tangan Yoga tetap setia membantu Nara masuk ke mobil dan merapikan bagian bawah gaunnya. Setelah itu, lelaki itu menyusul masuk bersama si tampan kecil dalam gendongannya.


Mobil pun mulai melaju menuju ke gedung di mana acara ijab qobul dan resepsi akan digelar berurutan waktu. Sesuai rencana, mereka akan langsung bertemu di sana karena jarak dari kediaman Yoga lebih dekat dengan gedung, daripada harus lebih dulu ke rumah orangtua Ardi yang merupakan sahabat karib sekaligus rekan bisnis papanya Yoga.


Yoga meletakkan Raga duduk di antara dirinya dan Nara, tapi dengan lincahnya bayi tampan itu langsung berbalik dan berdiri menghadap ke belakang, lalu melompat-lompat gembira karena bisa melihat ke sekelilingnya dengan bebas.


Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di gedung yang dituju, bersamaan dengan mobil Alan dan Sasha yang juga masuk ke halaman parkir.


Pertemuan di antara mereka tak bisa dihindari karena bagaimanapun juga Yoga dan Alan adalah sahabat Ardi dan dulu mereka bertiga sangat dekat satu sama lain.


Meskipun saat ini mereka sudah mempunyai keluarga masing-masing, Yoga tetap menjaga jarak dengan Alan apalagi jika ada Nara bersamanya. Dia hanya ingin menjaga kenyamanan istrinya dan menghindari pembicaraan ynag menyangkut masa lalu mereka.


Sudah banyak keluarga Bunga yang hadir sementara baru mereka saja yang datang dari pihak keluarga Ardi. Dan mereka pun menunggu di ruangan yang sudah disediakan oleh panitia acara untuk keluarga Ardi.


Dengan sigap Yoga membawa Raga untuk berbincang dengan Alan di teras ruangan, sementara Nara duduk di dalam bersama Sasha. Mereka membuka obrolan seputar kehamilan dan persiapan persalinan Sasha yang bulan depan akan segera tiba waktunya.


Tak lama kemudian, rombongan keluarga Ardi tiba dan mereka berempat bersama Raga dan Pak Budi pun segera bergabung untuk langsung masuk ke dalam gedung dan memulai seluruh rangkaian acara.


Acara demi acara mulai dari ijab qobul dan dilanjutkan dengan resepsi pun berlangsung dengan lancar dan penuh kebahagiaan.


Ardi dan Bunga yang telah resmi menjadi sepasang suami-istri duduk bersanding di pelaminan untuk menerima ucapan selamat dari seluruh undangan yang memenuhi tempat acara.


Di akhir acara, Yoga dan Nara bersama Raga yang telah berpakaian lengkap dengan jas kecilnya, naik ke atas pelaminan dan saling berpelukan bahagia dengan Ardi dan Bunga.


"Sekali lagi selamat, Di. Akhirnya Pak Dokter sudah mempersunting perawat kesayangannya. Semoga kalian bahagia selamanya!"


Yoga mengakhiri pelukannya dengan Ardi dan menyalami Bunga diikuti Raga yang sudah mereka ajari untuk mencium tangan Ardi dan Bunga dengan wajah polos dan cerianya.

__ADS_1


"Semoga Dokter Ardi dan Bunga segera dikaruniai momongan agar nanti Raga mempunyai sahabat baik sedari kecil seperti para ayah mereka."


Nara melepaskan pelukannya dengan Bunga dan menyalami Ardi yang menyambutnya dengan senyum bahagia.


"Terima kasih atas semua doa dari kalian. Semoga kita semua bahagia meskipun harus terpisah jarak dan waktu nantinya."


Tanpa membuang waktu lagi, mereka mengabadikan kebersamaan mereka hari ini dengan berfoto bahagia. Tak lupa Yoga dan Nara pun ikut membuat foto keluarga bersama Raga sebagai kenangan untuk mereka bertiga.


.


.


.


"Sayang, apakah kamu mau jika kita pindah ke sana?"


Malam harinya, setelah Raga tidur nyenyak, Yoga dan Nara masih membicarakan satu hal yang serius untuk masa depan mereka.


"Apa pun keputusanmu pasti aku akan mendukungnya dan akan selalu mendampingimu di mana pun kita berada. Kita bertiga harus selalu bersama, Mas."


Nara dan Yoga duduk berdua di sofa membahas rencana kepindahan mereka ke kota kelahiran papanya Yoga yang juga merupakan kampung halaman kakeknya.


Seorang sahabat lama papanya, menawari lahan dengan posisi strategis untuk Yoga membuka anak perusahaan di sana dan mengembangkan potensi usaha properti Mahen Land di tempat yang baru.


"Selain karena alasan pekerjaan, aku juga ingin kita memulai hidup baru dengan lembaran cerita baru yang lebih baik dan lebih indah di sana, Sayang."


Nara menatap suaminya dan mendengarkan semua ucapan Yoga dengan terus menampakkan senyumannya. Mereka terus berpegangan tangan dengan erat dan saling berbagi kekuatan.


Nara membawa kedua tangan Yoga ke bibirnya dan menciumnya dengan penuh perasaan. Lama dia melakukannya seraya mengucapkan banyak doa dalam hati untuk kebaikan dan kebahagiaan keluarga mereka.


"Aku percaya kamu pasti bisa, Mas!"


Senyuman Nara adalah semangat istimewa bagi Yoga untuk memantapkan hati pada pilihan yang telah diambilnya tersebut.


Dia percaya doa dan dukungan dari istri tercintanya merupakan jalan pembuka rejeki dan sumber kebahagiaan bagi keluarga mereka.


"Kita akan selalu menjadi keluarga yang bahagia di mana pun kita tinggal dan apa pun keadaan kita nantinya. Karena kita mempunyai cinta yang kuat dan keyakinan yang besar untuk menjalani kehidupan kita dengan bahagia. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja, Mas."


Yoga semakin mantap dengan pilihan dan keputusan yang telah ditetapkannya. Baginya, kebahagiaan Nara dan Raga adalah prioritas utamanya saat ini dan selamanya.


"Terima kasih, Sayang. Kamu adalah istri terbaik untukku. Kamu selalu bisa menenangkan hatiku dan membuang kegelisahanku. Kamu selalu menguatkan aku dan menyingkirkan keraguanku. Kamu istri yang luar biasa dan aku bangga memlikimu!"


"Aku mencintaimu dengan segenap hati dan jiwaku!"


Yoga merapatkan tubuh mereka hingga tiada jarak lagi yang memisahkan. Diciumnya lagi kening Nara dengan penuh ucap syukur dalam hatinya, atas banyaknya anugerah Allah yang dilimpahkan kepadanya.


Kesempatan hidup yang baru dengan seorang istri yang sangat dia cintai, ditambah lagi dengan kehadiran putra penerus keturunan yang sangat mereka sayangi, lengkap sudah kebahagiaannya kini.


Nara tersenyum bahagia dengan genangan air mata yang telah memenuhi kedua pelupuknya. Dipandanginya wajah rupawan Yoga yang telah melepaskan ciumannya dan membalas tatapannya.

__ADS_1


"Kamu memang bukan cinta pertamaku, Mas. Tapi kamulah cintaku yang sebenarnya. Cinta yang membuatku mengerti artinya bersyukur dan menerima takdir dengan ikhlas."


Yoga menyeka butiran bening yang akhirnya luruh di kedua pipi istrinya, membuat Nara semakin terharu dalam rasa bahagianya.


"Ketulusan cintamu telah membukakan mata hatiku bahwa pilihan Allah adalah terbaik untuk kita. Meskipun sedih dan sakit pada awalnya, namun akan selalu ada bahagia abadi pada akhirnya. Kamulah cinta sejatiku, Mas. Dan aku bahagia bisa melabuhkan hatiku padamu."


"Aku sangat mencintaimu dan akan selamanya mencintaimu."


Tak ada lagi jarak di antara mereka. Tubuh mereka telah menyatu dalam pelukan hangat yang saling menenangkan dan membahagiakan satu sama lain. Ciuman lembut di bibir yang saling merindu, mengawali perjalanan malam panjang Yoga dan Nara yang penuh keindahan.


Hanya ada cinta selamanya di antara mereka.


.


.


.


-----S E L E S A I-----


.


.


.


MULAI EPISODE BERIKUTNYA, KISAH MUSIM KEDUA AKAN DIAWALI


.


.


.


FB : Aisha Bella


IG : @aishabella02


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2