CINTA NARA

CINTA NARA
2.2. BERJUANG BERSAMA


__ADS_3

Dua bulan sudah keluarga Yoga pindah ke kota yang baru. Setelah melakukan persiapan hampir enam bulan lamanya hingga akhirnya rumah mereka siap dan perusahaan baru mereka mulai berjalan, barulah lelaki itu memboyong keluarga kecilnya ke sana.


Yoga dan Nara memutuskan untuk pindah tepat di hari perayaan dua tahun pernikahan mereka sekaligus peresmian pembukaan anak perusahaan yang mereka namai Raga Properland.


Sementara Yoga mengembangkan anak perusahaan yang baru dirintisnya, tanggung jawab atas Mahend Land dia serahkan pada Beno dan tim utamanya. Indra, adik Nara akhirnya benar-benar ditarik oleh Yoga untuk bergabung di perusahaan dan bersama Beno memegang kendali perusahaan selama Yoga berkonsentrasi di Raga Properland.


"Mas, bagaimana perkembangan di kantor? Semua baik-baik saja, kan?" Nara menyerahkan secangkir kopi pada Yoga yang masih duduk menatap layar kerjanya di atas meja.


"Semua berjalan dengan lancar, Sayang. Bahkan setelah diresmikan dua bulan yang lalu, perusahaan kita semakin banyak dikenal oleh para pelaku bisnis serupa di kota ini. Dan kabar baiknya, banyak dari mereka yang mulai mengajukan kerjasama dengan Raga Properland."


Yoga menerima kopi buatan sang istri dan menyesapnya pelan-pelan. Nara yang berdiri di sampingnya, memperhatikan layar yang menampilkan beberapa desain perumahan yang tengah mereka bangun dan sebagian di antaranya sudah hampir selesai didirikan.


"Mas, apakah kita perlu menambah karyawan baru untuk membantumu di kantor?" tanya Nara setelah membuka-buka agenda kerja di kantor mereka yang ternyata sangat padat akhir-akhir ini.


"Sebenarnya tidak. Hanya saja karena aku belum mempunyai orang kepercayaan seperti Beno di sini, jadi untuk hal-hal penting yang menyangkut kerjasama dengan pihak luar, aku masih harus mengurus semuanya sendiri."


Nara duduk menyamping di pangkuan suaminya dan meletakkan cangkir kopi yang dipegang Yoga di atas meja. Tangannya melingkar di leher suaminya sambil memainkan jemarinya. Dia menatap mata Yoga dan memberanikan diri untuk menyampaikan sesuatu.


"Kalau aku ingin membantu pekerjaanmu di kantor, apa kamu mengijinkan, Mas?"


Seketika Yoga menajamkan pandangannya ke wajah istrinya yang terlihat serius dengan ucapannya. Dan sebelum dia mengatakan apa pun, Nara sudah kembali berbicara.


"Dulu aku juga bekerja kan, Mas. Dan pekerjaanku pun tidak jauh berbeda dengan bidang usaha kita saat ini. Jadi, apa salahnya jika aku ikut membantumu di sini?"


Yoga kembali mengingat tentang masa lalu mereka. Dulu sebelum dia menikahi Nara, wanita itu bekerja sebagai sekretaris di salah satu perusahaan asing ternama di kota mereka.


Diam-diam dia sering mencari informasi tentang Nara termasuk pekerjaannya dan kemampuannya dalam bidang yang dia geluti saat itu.


"Tapi sekarang kamu sudah menikah dan menjadi istriku, Sayang. Aku ingin kamu hanya fokus mengurus aku dan Raga saja."


Lelaki itu membelai wajah Nara, menepikan helaian rambut yang menutupi paras cantiknya dan menyelipkan di belakang telinga. Lalu diciumnya pipi ranum sang istri dengan penuh kasih sayang.


"Hanya untuk sementara, Mas. Kita harus berjuang berdua untuk memajukan perusahaan kecil kita ini, agar suatu saat nanti bisa menjadi sebesar milikmu di sana."

__ADS_1


Raga masih enggan menanggapi permintaan istrinya. Baginya Nara adalah tanggung jawabnya dan dia tidak perlu melakukan apa pun kecuali mengurus keluarga kecil mereka.


"Lagipula, di sini kamu belum mempunyai sekretaris. Semua agenda kerja kamu susun sendiri, sementara kamu juga harus menangani banyak hal lainnya di kantor."


Nara mengunci tatapan Yoga padanya dan meyakinkan lelaki itu.


"Kalau kamu keberatan, aku tidak akan ikut kegiatan di luar kantor. Aku hanya akan bekerja di kantor saja sembari mengurus suamiku selama di sana."


Nara mencium lama pipi suaminya lalu berpindah ke bibirnya. Dia bermanja dan mencoba merayu agar diijinkan untuk membantu Yoga di kantor.


Yoga meladeni tingkah istrinya hingga Nara sendiri yang mengakhiri ciuman mereka. Dia tersenyum senang melihat Nara yang semakin terbuka dan berani mengungkapkan perasaannya tanpa disembunyikan lagi.


"Bagaimana dengan, Raga? Kasihan dia kalau kita berdua bekerja." Lelaki itu membersihkan bibir Nara dengan jemari tangannya, begitu pula Nara melakukan hal yang sama.


"Kita bisa membawanya ke kantor bersama Mbak Indah. Raga anak yang mandiri dan pengertian, percayalah dia tidak akan merepotkan kita."


Yoga mulai berpikir ulang tentang tawaran sang istri untuk membantunya di kantor. Dia memang membutuhkan seseorang yang bisa membantunya untuk mengatur agenda harian.


"Baiklah, Sayang. Aku mengijinkan kamu membantuku di kantor. Tapi ingat, kamu harus selalu bersamaku dan tidak boleh jauh dariku!"


Masih di atas pangkuan Yoga, Nara melebarkan senyumannya dan mencium sekilas bibir suaminya.


"Terima kasih, Mas. Kita akan berjuang bersama-sama demi Raga. Raga Properland."


Yoga merapatkan pelukannya pada tubuh Nara. Diciumnya pipi kemerahan Nara yang semakin membuat wanita cantik itu terlihat menggemaskan di matanya.


"Jadilah sekretaris yang baik dan jangan pernah membantah atasanmu. Setuju, Sayang?!"


Nara mengangguk lalu berdiri di hadapan sang suami dan mengulurkan tangannya seolah sedang membuat sebuah kesepakatan.


"Aku tidak akan pernah mengecewakanmu, Mas. Kerja keras kita saat ini adalah demi masa depan Raga nantinya."


Yoga berdiri mengikuti Nara. Tidak ingin membalas uluran tangan istrinya, lelaki itu langsung memeluk erat tubuh wanita kesayangannya.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang. Kamu selalu mengerti dan memahami apa yang aku butuhkan, bahkan di saat aku tidak ingin mengatakannya kepadamu."


Merenggangkan pelukan tapi tetap dalam posisi yang berdekatan, lelaki itu menatap Nara tanpa kata, hingga kedua matanya berkaca-kaca.


"Kamu adalah bidadari penuh kasih yang Allah kirimkan untuk melengkapi hidupku. Kamu selalu bisa menenangkan hatiku dengan kelembutan sikapmu. Kamu selalu bisa membahagiakan diriku hanya dengan senyuman terindah di bibirmu. Dan kamu selalu bisa membuat semangatku bangkit kembali dengan binar mata beningmu."


Dengan hati yang diselimuti rasa haru, Yoga mencium kening Nara disertai ucap syukur yang tak pernah berhenti diucapkannya di dalam relung kalbu.


"Aku menyayangi dan mencintaimu, Bidadariku."


Netra bening Nara mulai memunculkan butiran jernih yang memburamkan pandangannya. Ada haru yang sama yang dirasakannya dalam hati.


"Aku pun bersyukur memiliki dirimu, Mas. Kasih sayang dan tanggung jawabmu pada keluarga begitu besar, sangat tulus dan selalu mengalir tanpa batas. Kamu idaman semua wanita. Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu sampai kapan pun."


Nara menggenggam kedua tangan suaminya lalu menciumnya dengan penuh rasa cinta.


"Sepenuhnya aku milikmu dan selamanya kamu adalah milikku, Mas."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2