CINTA NARA

CINTA NARA
88 SIMPAN DIRIKU DI HATIMU


__ADS_3

Sore harinya, setelah memandikan Raga dan memberinya ASI hingga bayi gembul itu tertidur nyenyak, Nara menidurkannya di tempat tidur sang bayi.


Setelah dirasanya aman seperti biasa, Nara meninggalkan Raga lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Lima belas menit kemudian, Nara selesai mandi dan keluar dengan mengenakan daster rumahan, pakaian yang sehari-hari melekat di tubuhnya dengan nyaman, senyaman perasaannya setiap kali berada dalam pelukan suaminya.


"Yoga ...." Nara menyebut nama itu dengan lirih seraya menyisir rambutnya yang masih setengah basah. Sudut bibirnya melengkungkan seulas senyuman manis, semanis perhatian yang selalu dirasakannya dari sang suami.


Semua tentang Yoga kini selalu membayangi langkahnya, mengisi hari-harinya, membuatnya tak pernah sedikit pun bisa menjauh dari bayang-bayang lelaki itu.


Lelaki yang telah membuka pintu hatinya dan masuk ke dalamnya dengan cara yang tak biasa. Cara yang menyakitkan hati, membuatnya membenci, hingga akhirnya mulai merindu dan sekarang dia merasakan takut akan kehilangan dirinya.


"Ada apa dengan diriku sekarang? Mengapa setiap waktu selalu ada dirinya di dalam pikiranku? Benarkah aku telah mulai menyimpan rasa untuknya?"


Nara meletakkan sisirnya, mengusap wajahnya yang bersih bersinar meski tanpa dipoles riasan apa pun. Menatap bayangannya sendiri di cermin, dia kembali teringat pada Yoga.


Dia meninggalkannya setelah beberapa saat sebelumnya memberikan kecupan lembut di bibir Yoga dan membuat lelaki itu tak rela dia pergi.


Nara melihat wajahnya sendiri bersemu merah saat mengingat kejadian tersebut. Apalagi setelah itu, Yoga tak sedikit pun melepaskan tubuh sang istri dari pelukan hangatnya.


"Mengapa sebahagia ini hatiku hanya dengan mengingatmu dan membayangkanmu?"


Nara meraih ponselnya lalu membuka menu galeri. Dia menggerakkan jari telunjuknya di atas layar, mencari sebuah foto yang pernah didapatnya dari sebuah berita bisnis online yang membahas tentang profil seorang Yoga Mahendra, suaminya.


Diam-diam Nara menyimpan foto itu. Foto Yoga yang berdiri dengan pakaian rapi lengkap dengan jas casualnya, tengah memberikan pidato pada sebuah acara penghargaan bagi pengusaha muda berprestasi.


Tersenyum bangga menatap foto menawan itu, Nara berkata lirih sambil menatap wajah tampan yang terpampang jelas di layar ponselnya.


"Aku dan Raga bersyukur memilikimu. Terima kasih atas seluruh cinta dan kasih sayangmu untuk kami. Aku berdoa, semoga waktu akan terus berpihak pada kebersamaan dan kebahagiaan kita."


Tok ... tokk ... tokkk ...!!!


Nara berdiri dan meletakkan ponselnya di atas meja lalu berjalan ke arah pintu. Dia membuka pintu tapi tidak ada siapa pun di sana.


Namun kemudian, sebuah tangan terulur dari samping dengan memegang rangkaian bunga mawar putih dengan setangkai mawar merah di tengahnya, seperti yang biasanya dia terima dari ....


"Untuk istri tercintaku." Nara terkejut mendengar suara berat sesuai dugaannya.


Yoga menampakkan dirinya setelah bersembunyi di samping pintu hingga Nara tak bisa melihatnya. Bunga itu diserahkan kepada sang istri yang masih tertegun menatapnya tak percaya.


"Ga, kamu ....?!"

__ADS_1


"Sudah kukatakan tadi, aku tidak mau tidur sendiri di rumah sakit. Aku ingin tidur bersama istri dan anakku."


Wajah polos Nara yang masih segar sehabis mandi, berubah merona mendengar ucapan Yoga yang masih mengulurkan bunga untuknya.


Masih dengan pipi memerah Nara menerima bunga pemberian suaminya dan mencium ujung rangkaiannya.


"Terima kasih."


Teringat kondisi Yoga yang baru saja pulih dan tiba dari rumah sakit, Nara segera memegang lengan suaminya lalu mengajaknya masuk dan duduk di sofa.


Nara meletakkan bunga pemberian Yoga di atas meja.


"Pak Budi yang menjemputmu?" tanya Nara sembari mengambil segelas air putih yang selalu tersedia di atas meja kerja dan memberikannya pada Yoga untuk diminum.


"Dokter Danu yang mengantarku, sekalian beliau juga akan berangkat ke bandara untuk kembali ke kotanya."


"Pasti kamu memaksa untuk diijinkan pulang." Nara menerima gelas yang sudah kosong dan meletakkannya kembali di atas meja.


"Karena aku tak bisa bila harus jauh darimu, Sayang." Yoga menggenggam tangan sang istri dan memberikan ciuman lembut di punggung tangannya.


"Aku ke dapur dulu. Kamu butuh sesuatu?" Nara berdiri dan menunggu jawaban Yoga, tapi lelaki itu menggelengkan kepala.


"Aku hanya butuh kamu selalu bersamaku."


Yoga tersenyum saat mendapati sekilas rona malu di wajah istrinya. Dia kemudian memilih untuk melihat Raga yang masih tidur pulas di atas tempat tidurnya yang berkelambu.


"Ayah pulang, Nak. Ayah rindu ingin menggendongmu dan bermain denganmu." Mata Yoga bersinar hangat dan teduh menatap buah hatinya yang terlelap.


Ada haru yang menyesak di dada, mengingat waktu yang dimilikinya tak akan lama lagi dan mungkin dia tidak akan pernah bisa melihat dan menyaksikan anaknya tumbuh besar dan beranjak dewasa kelak.


"Maafkan Ayah jika nantinya tidak bisa mendampingimu menapaki masa depan. Tolong jaga Ibu dengan baik dan jadilah anak sholeh yang akan selalu mendoakan Ayah juga Ibu, meskipun Ayah sudah tidak bersama kalian lagi nantinya."


Mata Yoga berkaca-kaca saat mencurahkan seluruh perasaan dan harapannya kepada sang buah hati kesayangan.


"Jangan pernah bersedih lagi atas alasan apa pun. Tersenyumlah selalu dan berbahagialah bersamaku dan bersama Raga."


Tanpa disadari Yoga, Nara sudah masuk ke kamar dan berdiri di sampingnya dengan senyuman lembut yang menghangatkan hati. Jemari tangannya mengusap wajah sang suami dan menghapus air mata yang menggenang di pelupuknya.


"Kita syukuri dan kita nikmati saja semua yang ada hari ini dan ke depannya. Karena tugas kita hanyalah menjalani, bukan mengatur waktu."


Yoga terdiam mendengarkan Nara.

__ADS_1


"Waktu adalah sepenuhnya milik Allah, bukan kita yang hanya sebagai pelaku. Yang kita miliki adalah kesempatan. Kesempatan untuk bersyukur, menikmati dan mempergunakan waktu yang masih dipercayakan kepada kita dengan sebaik-baiknya."


Yoga merenungi semua ucapan Nara dan mulai memahami maksud Nara mengatakannya. Hatinya merasa jauh lebih tenang setelah Nara sendiri yang menenangkannya.


"Terima kasih sudah memberi pencerahan dan semangat baru dalam hidupku. Terus temani aku, Sayang. Aku membutuhkanmu selalu."


Yoga merengkuh tubuh Nara dan mendekapnya dengan erat. Nara pun membalasnya dengan pelukan hangat yang lebih erat.


Setelah cukup lama berpelukan, Nara mengajak Yoga duduk kembali dan menikmati minuman hangat dan beberapa potong kue yang dibawanya dari dapur.


Saat akan mengambil kue, tak sengaja tangan Yoga menyentuh ponsel Nara yang tergeletak di samping piring. Seketika layarnya langsung menyala terang dan menampakkan foto dirinya yang tadi dilihat oleh Nara sebelum kedatangannya.


Nara lupa tidak menyalakan kunci otomatisnya, sehingga saat tersentuh layarnya kembali menyala terang dan foto tersebut bisa terlihat dengan jelas oleh sang pemilik wajah dan tubuh mempesona itu.


"Dari mana kau dapatkan foto ini, Sayang?"


Yoga memperhatikan foto itu dan langsung tahu kapan dan di mana foto itu diambil.


"Bukankah fotomu sudah menjadi konsumsi publik? Setiap ada acara yang kamu hadiri, setelah itu fotomu akan bertebaran di semua situs berita bisnis."


Malu-malu Nara menjelaskannya karena Yoga mengetahui jika diam-diam dia menyimpan foto lelaki itu.


"Apa aku tidak boleh menyimpan dan memiliki foto suamiku sendiri?" tanya Nara dengan pipi meronanya.


Yoga tersenyum dengan hati bahagia sebab sekarang dia mengetahui jika istrinya juga selalu mengingatnya dan merindukan dirinya.


"Simpanlah fotoku sebanyak yang kamu mau, Sayang. Tapi satu yang sangat aku harapkan dan aku pinta darimu ..., simpan selalu diriku di dalam hatimu."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2