CINTA NARA

CINTA NARA
2.88. RASA BERSALAH


__ADS_3

"Al, bolehkah aku mengantarmu pulang?"


Selama ini, Rendy hanya menemani Alya pulang dan pergi dari rumah sakit ke klinik dan sebaliknya. Itu pun sudah membuatnya sangat bahagia dan merasa lebih dekat dengan wanita yang dicintainya.


Setelah hampir tiga bulan menjalani kedekatan tersebut, Rendy memberanikan diri untuk menyampaikan keinginannya pada Alya. Dia hanya merasa khawatir jika Alya pulang sendiri menggunakan taksi daring di malam hari.


Bahkan seringkali dia mengikuti taksi yang ditumpangi Alya sekedar untuk memastikan jika wanita itu baik-baik saja selama dalam perjalanan.


"Aku ...." Dalam keterkejutannya Alya tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku baik-baik saja selama ini, Ren. Lagipula aku tidak ingin lebih merepotkanmu lagi."


Alya tahu Rendy tidak akan merasa direpotkan. Akan tetapi dia tidak ingin menyita waktu lelaki itu dan membuatnya mengabaikan waktu istirahat hanya demi menemaninya sepanjang hari.


"Sudah selalu kukatakan padamu bahwa aku senang dan bahagia melakukannya. Sungguh aku tidak mengharapkan apa pun dari kedekatan dan ķebersamaan kita, Al."


"Aku hanya ingin terus menemani dan menjagamu, sampai suatu saat nanti kamu menemukan lelaki yang benar-benar kamu percaya untuk menjagamu seutuhnya dan selamanya."


"Sejujurnya aku masih berharap jika lelaki itu adalah aku, Al ...."


Alya terdiam mendengar ucapan Rendy yang menggugah perasaannya. Kali ini, ada rasa haru yang terselip di hatinya saat dirinya menyadari betapa tulusnya lelaki itu.


Lelaki yang sekarang masih duduk berhadapan dengannya di ruang pemeriksaan karena waktu prakteknya belum dimulai, sehingga masih ada kesempatan bagi mereka untuk berbicara sejenak sebelum Alya mengawali tugasnya di sore hari.


"Mengapa hatiku berdebar-debar saat mendengar ucapannya? Setiap kalimat yang disampaikannya selalu penuh makna dan terasa begitu tulus."


Alya menepis perasaannya yang mulai terasa berbeda. Ada bahagia setiap kali merasakan perhatian dari lelaki itu, namun ada rasa bersalah pula karena tidak bisa membalasnya.


"Apa yang sebenarnya aku rasakan sekarang? Aku tahu ini bukan seperti yang aku rasakan pada lelaki masa laluku, tapi aku mulai merasa nyaman dengan kebersamaan kami akhir-akhir ini."


"Bagaimana jika lelaki itu bukan kamu, Ren? Aku akan merasa sangat bersalah padamu ...." Alya menjawab permintaan lelaki itu dengan sebuah pertanyaan balik.


Rendy menghela napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang mendadak gelisah setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Alya, yang dirasakannya sebagai sebuah kemungkinan terbesar yang kelak akan terjadi.


"Dengarkan aku sekali lagi, Al. Apa yang aku rasakan padamu selama ini tulus. Jadi apa pun yang aku lakukan atas dasar perasaan itu, juga tulus tanpa ingin memaksamu untuk membalas perasaanku."

__ADS_1


Alya mencoba mencerna kata per kata dalam setiap kalimat yang diucapkan oleh Rendy. Dia tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan, pun tak ingin salah dalam memberikan jawabannya.


"Aku tahu kamu tulus dan tidak akan pernah memaksaku untuk menerima perasaanmu. Tapi bagaimana dengan harapanmu? Apakah kamu tidak pernah berharap apa pun atas perasaanmu padaku?"


Lagi-lagi pertanyaan Alya membuat Yoga semakin merasa tersudutkan. Alya terlalu cerdas untuk tidak mengetahui hal-hal semacam itu.


Setiap orang yang memiliki perasaan pasti juga menyimpan harapan baik atas perasaannya tersebut. Sama halnya dengan dirinya, dia tidak akan mengingkari adanya harapan tersebut di dalam hatinya.


"Tidak semua harapan harus terwujud sesuai keinginan kita. Ada kalanya Allah akan menggantinya dengan kebahagiaan yang lain, yang sama maknanya dengan harapan kita."


Sekilas pandang kedua dokter itu saling bertatapan, untuk memastikan perasaan masing-masing. Alya lebih dulu mengakhiri pandangannya dan menatap ke arah lain.


"Dulu aku pernah mengutarakan harapanku padamu dan kamu sudah menjawabnya. Jadi apa lagi yang bisa aku harapkan, kecuali ingin tetap menjadi teman baikmu dan selalu menjadi pelindungmu, jika kamu mengijinkannya ...."


Terbersit rasa bersalah di hati Alya saat Rendy mengungkit tentang dua kali penolakannya dulu. Tapi hati kecilnya tak bisa ingkar bahwa dia tidak memiliki perasaan lebih pada lelaki yang penuh perhatian itu, meskipun mereka sudah berteman baik cukup lama.


"Aku sudah pernah mengecewakanmu dan aku tidak ingin membuatmu lebih kecewa lagi ke depannya. Kamu berhak bahagia dan kamu bisa mencari kebahagiaanmu di luar sana, Ren. Jangan habiskan waktumu hanya untuk tetap bersamaku yang tidak bisa membahagiakan dirimu."


"Siapa bilang aku tidak bahagia bersamamu? Jika aku tidak bahagia, maka aku sudah menjauhimu dari dulu, Al. Tapi aku tidak melakukannya, karena aku merasa bahagia bersamamu, walaupun hanya sebatas menjadi teman baikmu."


Hati Rendy melemah melihat tangisan wanita yang dikagumi sekaligus dicintainya. Ada rasa bersalah yang menghampiri sebab pastilah karena ucapannya Alya menjadi seperti itu.


Dengan segera dia mengambil tisu yang tersedia di atas meja lalu diarahkannya ke wajah Alya yang sudah basah oleh air mata.


Ujung tisu itu menyentuh wajah Alya yang masih menunduk, sehingga tidak menyadari apa yang tengah dilakukan Rendy saat ini.


Wanita itu mengangkat kepalanya dan mendapati tangan Rendy yang terulur dengan ujung tisu yang telah menyentuh pipinya yang memerah karena tangisan.


Dengan cepat Alya memegang tisu itu dan lelaki itu segera melepaskan tangannya. Dia memperhatikan dengan sedih saat Alya mulai menghapus air mata dengan tisu pemberiannya.


"Mengapa menangis?" tanya Rendy dengan suara lirih dan lembut, membuat Alya semakin terisak.


"Jangan seperti ini, Al. Aku minta maaf, sungguh aku tidak bermaksud membuatmu menangis karena ucapanku. Maafkan aku ...."


Alya hanya bisa menggelengkan kepala untuk menyampaikan bahwa lelaki itu tidak melakukan kesalahan apa pun kepadanya.

__ADS_1


Untuk sesaat dia mencoba menenangkan diri. Memejamkan mata dan menghela nafas panjang, Alya berusaha untuk menghentikan tangisan dan menggantinya dengan senyuman samar yang coba ditampakkan.


"Maaf, aku terbawa perasaan karena rasa bersalahku padamu. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu, Ren."


"Untuk apa? Kamu tidak mempunyai kesalahan padaku, Al."


Rendy menyahut cepat ucapan wanita yang masih memegang tisu pemberiannya yang baru dan sesekali membersihkan kedua matanya yang masih berlinangan.


"Aku bersalah karena telah mengecewakanmu. Aku tidak peduli pada perasaanmu dan menyakiti hatimu begitu dalam. Tapi mengapa kamu masih ingin bersamaku, Ren? Mengapa kamu masih bersedia menjadi temanku? Aku tidak pantas menerima semua kebaikan sikapmu ini."


Rendy tidak tahu lagi harus menjelaskan bagaimana kepada Alya, agar wanita itu mengerti bahwa dia sudah tidak memikirkan lagi perasaannya dan penolakan wanita itu. Sekarang dia hanya ingin menjalani waktunya bersama Alya dalam hubungan apa pun.


"Lupakan saja semua tentang permintaanku waktu itu dan juga jawabanmu untukku. Ingatlah saja bahwa saat ini dan seterusnya kita adalah teman dan akan selalu menjadi teman baik seperti ini selamanya!"


Dengan berat hati akhirnya Alya mengiyakan dan menuruti ucapan Rendy tentang hubungan mereka. Entah apa yang terjadi ke depannya, biarlah waktu dan takdir Allah yang akan menunjukkan pada saatnya nanti.


"Jadi, bolehkah aku mengantarkan temanku pulang?"


Rendy mengulangi pertanyaan awalnya yang kali ini dijawab oleh Alya dengan anggukan kepala dan senyuman terindahnya.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜


.

__ADS_1


__ADS_2