CINTA NARA

CINTA NARA
Meninggalnya Dina


__ADS_3

Baru empat hari Nara dan ibu berada di Bengkulu. Begitu nyamam dan tentram berada di bumi raflesia. Tak ada hiruk pikuk bis bis seperti di perkotaan besar pada umumnya. Tak ada kemacetan yang terjadi seperti di Jakarta. Semua terasa dekat disini. Gedung - gedung tinggi bisa di hitung dengan jari di sini.


Banyak orang yang tidak tahu akan keindahan alam kota ini. Indahnya kota kecil di pulau sumatra ini, indahnya tanah kelahiran Nara.


Kota kecil penuh cerita, cerita hidup Nara.


Kota Bengkulu seakan tenggelam dibanding dua provinsi yang mengapitnya. Provinsi Lampung dan Sumatra Selatan yang lebih duluan maju di banding bumi raflesia ini.


Andai kalian tahu !! kota Bengkulu ini terkenal akan keindahan panorama pantai panjangnya yang memesona. Makanya Nara setiap pulang dari bepergian keluar kota selalu saja meluangkan waktu untuk sekedar singgah menikmati suara deburan ombak pantai panjang. Semua masalah yang dihadapi Nara seakan lebur bersama ombak yang datang silih berganti.


Baru hari keempat Nara bisa menyempatkan dirinya pergi ke pantai panjang. Pukul 6. 30 pagi, dengan naik motor pemberian ayahnya, Nara menikmati udara pagi yang sejuk di kawasan ini. Beruntung bagi Nara dan warga kota Bengkulu. Wisata pantai panjang ini memerlukan waktu lima belas menit dari pusat kota Bengkulu. Begitu juga jika Nara berangkat dari rumahnya menuju pantai. Waktu tempuhnya hanya lima belas menit dari rumahnya.


Selama satu jam Nara menyendiri main ke pantai. Hanya seorang diri, biasanya dulu ia selalu bersama almarhumah Adeline datang kesini. Dan Adeline dengan setia menemaninya main bersama deburan ombak.


Sepulang dari pantai pukul delapan pagi. Matahari bersinar amat terang. Cuaca sepagi ini sudah membuat Nara kegerahan dibuatnya. Akhir - akhir memang cuaca amat extrem.


Tiba di rumah, Nara melihat pintu rumah terbuka. Nara mendapatkan ibunya tengah duduk di kursi panjang sofa sambil memangku memegang ponselnya di tangan kanannya. Sepertinya ia baru saja mendapat kabar telepon dari seseorang.


Ibu tampak sedih teramat dalam. Wajahnya basah dengan tetesan air mata.Tatapan matanya menyiratkan luka. Hanya suara isakan tangis yang masih terdengar. Nara lalu menghampiri ibunya persis didepannya.


"Ibu kenapa? mengapa ibu menangis, " tanya Nara sambil menyapu sisa air mata di wajah ibunya.


Ibu lalu jatuh limbung di depan Nara yang berdiri. Hampir saja Nara ikut terhuyung menahan bobot tubuh ibu. Nara lalu mendekap ibu dalam pelukannya. Dan Nara ikut menangis karenanya.


Nara lalu merebahkan tubuh ibunya pelan - pelan di atas sofa panjang yang ia duduki. Lalu Nara mencoba membangunkan ibunya yang terkulai lemas.


"Ibu ... bangun. Bangun bu, " tanya Nara sambil mengguncang tubuh ibunya.

__ADS_1


Karena mendapatkan guncangan beberapa kali dari Nara. Mata ibu sedikit perlahan mulai terbuka. Ia kemudian terisak kembali mengingat berita yang ia terima.


" Ibu, katakan sesuatu agar aku tahu apa yang membuat ibu sedih, " tanya Nara sambil mengusap bulir air mata yang kembali menetes di kedua sudut mata ibu.


"Nara ... siang ini kita harus ke Jakarta. Kamu harus telepon Arif, antar kita ke bandara sekarang juga, " perintah ibu pelan.


" Iya ibu, ada apa ? Kenapa kita harus ke Jakarta, " tanya Nara pelan pada ibunya.


"Di-na ... Dina ... ia meninggal Nara. Sakitnya kambuh lagi nak. Jam tujuh pagi papamu menemukannya sudah tak bernyawa lagi di kamarnya. Papamu telah berusaha membawanya ke rumah sakit, tapi nyawanya tidak tertolong lagi, " terang ibu dengan air mata berkaca - kaca di wajahnya.


Sontak saja Nara ikut menangis dibuatnya. Bagaimana tidak, ia baru beberapa bulan saja merasakan kehadiran seorang saudara kandung. Dan ... kini ia sendiri lagi. Menjadi anak tunggal kembali.


"Ibu .. ini tidak mungkin. Pasti mbak Dina gak kenapa - kenapa kan, " isak tangis Nara meratapi kepergian kakak perempuannya.


Ibu perlahan - lahan mulai bangun, ia kemudian memeluk Nara yang belum rela melepaskan kepergian Dina. Sosok kakak kandung yang mulai ia sayangi. Namun Allah berkehendak lain. Rela tidak rela, Nara harus kuat menghadapi ini. Terlebih lagi Nara harus bisa menguatkan ibunya. Ini cobaan terberat ibu, setelah 25 tahun lebih untuk bisa bertemu kembali dengan anaknya yang hilang. Namun baru beberapa bulan dalam dekapan. Kini ia telah berpulang. Pergi tak kan pernah kembali ....


Hampir satu jam Ibu dan Nara masih saja menangisi kepergian Dina untuk selama - lamanya. Tiba - tiba Ayah Nara pulang. Ayah terlihat amat lelah, maklum saja pekerjaannya sebagai seorang supir bis antar provinsi begitu melelahkan.


Ayah ikut menitikan air mata. Saat Nara terbata - bata memberitahu perihal meninggalnya Dina. Ia baru menyayangi anak tirinya itu baru satu setengah bulan ini. Sejak Dina memutuskan untuk tinggal di Bengkulu.


Tidak berapa lama kemudian, ponsel Nara berdering. Seseorang menelponnya, ternyata Arif. Tak biasanya jam sepuluhan begini Arif menelpon Nara.


" Assalamualaikum Nara. "


"Waalaikum salam kak Arif. "


"Nara kamu baik - baik saja bukan ! " tanya Arif khawatir. Sedari pagi Arif mengirim pesan WA, tapi tidak ada jawaban dari Nara.

__ADS_1


"Kak Arif ... hiks ... hiks , " balas Nara sambil terus menangis.


"Iya, ada apa Nara, " jawab Arif khawatir.


"Kak ... hiks ... hiks, Dina meninggal."


"Apa ? inalilahi wainalilahi roziun. Sakit atau kenapa ya, " tanya Arif dengan suara pelan.


Kak Arif bisa antarin kita ke bandara sekarang, " pinta Nara sesenggukan.


"Mbak ... Di-na ditemukan pagi tadi sudah tidak bernyawa lagi, " jawab Nara dengan terbata - bata.


"Kapan kamu mau berangkat ke Jakartanya Nara ? Kalau mau aku akan antar kamu sekarang, " tawar Arif.


"Ini mau siap - siap kak, " balas Nara.


"Ya udah, kamu tunggu di rumah ya. Aku akan ke rumahmu sekarang ? " jawab Arif sambil mematikan ponselnya.


Saat Arif mau beranjak dari kursi kerjanya. Angga langsung mencegahnya.


" Rif, siapa yang meninggal ? " tanya Angga masih terlihat tenang.


"Kamu tidak tahu ya !! Nara baru mengabari kalau Dina ... meninggal, " jawab Arif.


" Apa ?? Inalilahi wainalilahi roziun, " jawab Angga shock dan terduduk kembali ke tempat kursi kerjanya yang berada di belakang kursi Arif.


Angga begitu shock mendengar kabar mengejutkan itu. Meninggalnya Dina membuatnya bersedih. Kesedihan seorang kekasih yang di tinggal kekasih selama - lamanya. Separuh hatinya remuk ... cinta itu pergi lagi. Pergi untuk selama - lamanya ....

__ADS_1


__ADS_2