
Alya mulai menata hidupnya yang sempat terkoyak dan penuh air mata. Meskipun tetap menjalani kesendirian, namun hatinya terasa jauh lebih tenang dan nyaman.
Ditambah lagi sekarang, kedua orangtua memutuskan untuk tinggal bersamanya sekaligus membantu melewati masa pemulihan yang panjang untuk beberapa bulan ke depan.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu, Al?" tanya Papa sambil memperhatikan kedua kaki putrinya yang tertutup rok panjang yang dikenakannya.
Kedua kaki Alya masih terbalut gips di pergelangan kaki kiri dan pertengahan paha kanannya. Setelah gips dibuka nantinya, Alya masih harus menjalani serangkaian terapi untuk mempercepat pemulihan kakinya agar bisa berjalan normal kembali.
"Sebelum pulang dari rumah sakit dulu, Dokter Hanan yang menjabat sebagai direktur di sana dan juga pemilik klinik yang aku kelola, sudah menemuiku, Pa."
"Lalu?" Papa membantu putri kesayangannya berpindah duduk dari kursi roda.
"Beliau memberikan dispensasi kepadaku agar aku bisa tetap bekerja sesuai kemampuanku dulu. Aku masih bisa melakukan praktek seperti biasa dengan dibantu oleh para perawat."
Alya menyamankan posisi duduknya yang tengah beristirahat di sofa ruang tengah. Kaki kanannya ditopangkan lurus pada kursi yang diletakkan tepat di hadapannya.
"Aku hanya belum bisa melakukan tindakan lainnya yang membutuhkan pergerakan cepat kedua kakiku. Jadi, untuk sementara waktu aku hanya bisa melakukan pemeriksaan umum dan tidak bisa melakukan tindakan operasi pada pasienku."
"Setidaknya aku masih bisa tetap bekerja dan mengabdi, walaupun hanya terbatas di atas kursi roda."
Alya tersenyum menenangkan dirinya sendiri. Dia bersyukur karena selama ini dikelilingi oleh orang-orang baik sehingga saat dirinya ditimpa musibah seperti ini pun, segalanya dipermudah jalannya oleh Yang Maha Kuasa.
"Kapan kamu akan mulai bekerja kembali?"
Ibu datang dari dapur membawa minuman hangat untuk kami bertiga dan sepiring pisang goreng yang disiapkan oleh Mbak Mia.
Mbak Mia adalah asisten rumah tangga yang dipekerjakan oleh Alya, agar orangtuanya tetap nyaman dan tidak perlu banyak berkegiatan selama tinggal bersamanya.
"InsyaAllah minggu depan aku sudah mulai bekerja, Ma. Sudah satu bulan lebih aku meninggalkan pekerjaan, tidak enak rasanya jika harus meminta ijin lebih lama lagi."
Untuk membantu kelancaran kerja Alya selama masa pemulihan, Dokter Hanan dan istrinya secara pribadi memberikan bantuan dengan menyediakan mobil berikut sopir untuk menjemput dan mengantar pulang Alya setiap tiba waktu bertugasnya di rumah sakit dan klinik.
Setelah cukup lama berbincang-bincang dengan kedua orangtuanya, Alya masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Dia mulai membiasakan diri untuk tetap mandiri meskipun masih harus menggunakan kursi roda.
Setibanya di samping tempat tidur, pelan-pelan Alya mengangkat tubuhnya untuk berpindah ke atas kasur, dengan bertopang pada kekuatan kedua tangannya.
"Huuftt ..., alhamdulillah!" Alya merebahkan diri sambil mengatur nafasnya setelah mengerahkan banyak energi untuk melakukan perpindahan seorang diri.
Setelah merasa nyaman, Alya mengambil ponsel yang ada di atas meja di samping tempat tidurnya. Selama dirawat di rumah sakit dan dilanjutkan di rumah, dia menjadi lebih banyak memegang ponselnya sebagai hiburan, selain laptop dan televisi.
Wanita itu lebih sering berkomunikasi dengan teman-temannya baik secara personal maupun di dalam grup perpesanan yang diikutinya.
"Ternyata menyenangkan juga jika sering berbaur dalam percakapan dengan teman-teman lama yang sudah jarang bertemu. Rasanya seperti mengulang masa-masa ceria dan tanpa beban di masa lalu."
Alya yang belum mengantuk masih asyik membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Beberapa pesan personal sudah dibalasnya dan dia pun berpindah untuk menyimak percakapan di dalam grup.
__ADS_1
Saat dia membaca satu per satu pesan yang terus bergulir masuk, ada beberapa pesan yang menyebut namanya dan menanyakan kabar keadaannya sekarang.
Beberapa teman dekat yang beberapa waktu lalu menyempatkan berkumpul dan membesuknya, sudah lebih dulu memberikan jawaban.
Ada pula yang tanpa ijin darinya mengunggah foto kebersamaan mereka saat bertemu terakhir kali, membuat hatinya mendadak was-was dan mencemaskan sesuatu.
Belum juga hilang kecemasan yang menerpa perasaannya, satu pesan baru telah bergulir masuk bersamaan dengan beberapa pesan yang lainnya.
"Turut senang melihat kebersamaan kalian di sana."
Di akhir pesan tersebut tertulis nama teman-temannya yang terlihat di dalam foto, termasuk yang terakhir ditulis adalah namanya sendiri, Alya Annisa.
Seketka hatinya terasa campur-aduk. Bahagia, senang, terharu, sedih dan takut, semua dirasakannya hingga menyesakkan dada dan membuatnya meneteskan air mata begitu saja.
Dia tidak mengharapkannya. Dia tidak menginginkannya. Karena dia tahu, hal itu akan membuat mereka berdua sama-sama merasa tidak nyaman dan tidak akan merasa tenang.
"Aku mohon jangan seperti ini lagi. Jangan membuat semua yang semula sudah baik-baik saja menjadi penuh ketidaknyamanan lagi seperti saat ini ...."
.
.
.
Usai menghadiri resepsi pernikahan dan menemani Raga bermain sepuasnya, malam harinya Yoga mengajak Nara dan Raga berkunjung ke rumah Ardi.
Raga yang beberapa minggu terakhir sudah mulai disapih, tampak iri pada Aura dan menginginkan hal yang sama. Dengan sabar Nara menenangkan putra tampannya hingga akhirnya bocah penurut itu mau meminum susu dari botol miliknya.
Sementara itu di teras, Ardi dan Yoga mulai terlibat percakapan yang sebenarnya ingin dihindari oleh Yoga.
"Bagaimana kabar perusahaanmu di sana?" tanya Ardi sambil menyesap kopi panas yang baru saja dibuatnya sendiri untuk mereka berdua.
"Baik dan lancar. Banyak perusahaan lokal yang menawarkan kerjasama untuk mengembangkan usaha mereka."
Terdiam sejenak, Ardi kembali melemparkan pertanyaan dengan ragu.
"Apakah ada kabar lain di sana? Emm ... yang mungkin sedang hangat dibicarakan?"
"Apa maksudmu? Kabar apa? Tentang apa? Atau siapa?" cecar Yoga tanpa jeda, membuat Ardi merasa serba salah.
"Tidak ada. Ah, sudahlah. Lupakan pertanyaanku tadi." Ardi kembali meneguk kopinya untuk menenangkan diri.
Yoga yang duduk berseberangan meja di sampingnya, menoleh dan memperhatikan sikap sahabatnya yang tidak tenang tersebut.
"Ada apa denganmu? Apa yang ingin kamu ketahui?" Nada bicara Yoga mulai berubah dingin dan ketus.
__ADS_1
Ardi menggelengkan kepala. Dia ingin menahan diri dan tidak terbawa perasaan, tapi nyatanya sangat sulit baginya untuk mengenyahkan rasa penasarannya.
Yoga menghela nafas panjang dan merasa tidak nyaman dengan sikap Ardi. Sejujurnya dia sendiri juga mulai jengah dengan situasi ini.
"Dia baik-baik saja."
Ardi menatap Yoga seketika, tak menyangka jika lelaki itu mengetahui apa yang ada di dalam hatinya.
"Hanya tinggal menjalani masa pemulihan yang mungkin akan berlangsung cukup lama."
Yoga melanjutkan ucapannya tanpa sedikit pun menoleh ke arah Ardi.
Akhirnya tanpa diminta, dokter penuh kharisma itu bercerita sendiri tentang semuanya.
"Aku mengetahui tentang kecelakaan yang dialaminya dari grup perpesanan yang sama-sama kami ikuti."
Ardi menunduk dan membuka layar ponsel yang sedari tadi terus digenggamnya. Tampak olehnya layar percakapan dalam grup yang tadi dibukanya dan masih terus disimaknya.
"Jangan berani bermain api, Di! Ingat istri dan anakmu." Yoga mulai memperingatkan dengan tegas.
"Aku tahu. Lagipula dia juga sudah berkeluarga dan hidup bahagia sama sepertiku."
"Apa maksud ucapanmu? Apakah jika dia belum berkeluarga lantas kamu akan mengganggunya dan mengabaikan keluargamu sendiri??"
Yoga menatap tajam ke arah Ardi membuat lelaki itu merasa semakin terintimidasi. Cepat-cepat dia menggeleng untuk menepis pikiran buruk sahabat kecilnya.
"Bukan seperti itu. Apa pun keadaan kami sekarang, kenyataannya takdir telah memisahkan dan membentangkan jarak di antara kami."
"Sekalipun masing-masing dari kami masih sendiri, bukan berarti kami akan bersama lagi seperti dulu. Entahlah, sulit aku menjelaskannya padamu. Anggap saja memang cinta kami tidak berjodoh."
Dalam hati Yoga merasa bersalah karena telah membohongi Ardi dan menyembunyikan semua kebenaran tentang Alya.
"Maafkan aku, Di. Aku tidak bermaksud menutupinya darimu. Aku hanya ingin menjaga semuanya. Aku tidak ingin perasaan di antara kalian berdampak satu sama lain dan bisa melukai hati orang-orang tersayang di sekeliling kalian."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.