CINTA NARA

CINTA NARA
3.62. SEKARANG DAN SELAMANYA


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Yoga, Nara menyiapkan satu kamar untuk dipakai Alya menginap selama berada di kota tersebut.


Kamar yang akan ditempati Alya adalah kamar yang terletak di sebelah kamar utama. Dulu Nara pernah menempatinya selama beberapa bulan, sebelum dia dan Yoga tinggal bersama di kamar pribadi suaminya.


Raga yang saat di bandara tadi merengek karena berpisah dengan Aura, akhirnya lebih dulu diantarkan ke rumah orangtua Nara. Mereka meninggalkan bocah tampan itu bersama Mbak Indah, untuk melepas rindu dengan kakek dan neneknya.


"Kamu mau ke kantor sekarang, Mas?" tanya Nara saat melihat suaminya mengambil kemeja dan celana kerja dari lemari lamanya.


"Hanya sebentar saja, Sayang. Kebetulan hari ini ada penandatanganan kontrak baru dengan perusahaan yang sudah lama bekerja sama dengan Mahen Land. Aku ingin menemui mereka selagi ada di sini."


Nara tersenyum dan mengangguk lalu membaringkan Gana yang baru usai menyusu padanya. Setelah memastikan putra keduanya aman di atas tempat tidur, Nara segera menghampiri Yoga yang tengah bersiap sendiri.


"Sini, Mas. Biar aku bantu." Nara mengambil alih tangan suaminya yang sedang membuka kancing kemeja yang baru saja diambilnya.


Setelah semua kancing terbuka Yoga segera melepas kaos yang dikenakan lalu memakai kemejanya. Nara dengan cekatan mengaitkan satu per satu kancing yang ada, setelah sebelumnya menciumi dengan lembut dua bekas luka bersejarah yang ada di dada dan perut suaminya.


"Jaga dirimu dan jaga kesehatanmu, Mas. Aku dan anak-anak selalu mendoakanmu dan menunggumu di rumah."


Sepasang mata bening Nara berkaca-kaca menatap wajah suaminya lekat-lekat. Yoga membalas tatapan itu hingga keduanya beradu pandang dan saling mengulas senyuman.


"Aku akan selalu mengingatnya, Sayang. Kalianlah yang terutama bagiku. Semua yang aku lakukan hanya untuk membahagiakan kalian."


Memupus jarak di antara wajah mereka, kedua tangan Yoga menangkup wajah menawan istrinya. Dengan hati yang selalu bergetar, dia melabuhkan ciuman hangat di kening Nara. Wanita itu memejamkan mata begitu merasakan sentuhan bibir sang suami yang penuh kelembutan.


Lantunan doa sama-sama dipanjatkan dalam hati, memohon segala kebaikan, kebahagiaan dan keberkahan untuk keluarga mereka. Tak lupa Nara memanjatkan doa khusus untuk kesehatan dan keselamatan suaminya dalam setiap langkahnya menunaikan tugas dan pekerjaan.


"Sepulang dari kantor kita pergi ke rumah Bapak. Kita akan makan siang bersama di sana. Selagi Dokter Alya masih bersama Ardi, kita bisa menghabiskan waktu bersama keluarga besar kita."


Nara mengangguk dengan bahagia. Yoga selalu tahu isi hatinya dan apa yang dia inginkan, meski dia tidak mengungkapkannya. Itulah yang membuatnya semakin menyayangi dan mencintai lelaki itu dari waktu ke waktu.


"Kita juga akan menginap di rumah Bapak setelah Dokter Alya pulang. Namun sebelumnya, selama tiga hari ke depan, kita harus menjamunya dulu dengan baik. Walaupun aku yakin, Ardi pasti akan lebih sering mengajak Dokter Alya pergi bersamanya."


Nara mencium pipi suaminya tiba-tiba, membuat Yoga tersenyum senang. Lelaki itu memindahkan kedua tangannya ke pinggang sang istri dan merapatkan pelukan.


"Jangan terus merindukanku saat aku pergi. Aku bisa kehilangan konsentrasi kerja di sana karena terus memikirkan istri tercintaku," bisik Yoga di telinga wanita pemilik utuh hatinya.


Seketika Nara menghangat. Bukan hanya wajahnya, tetapi juga seluruh tubuhnya. Dalam hati dia merasa tersanjung, sebab sang suami selalu mengingatnya meski di saat jauh dan sibuk sekalipun.


"Nyatanya aku memang selalu rindu padamu, Mas. Jadi biasakanlah dirimu untuk terus dibayangi olehku." Nara menarik wajahnya dan memandang wajah Yoga dengan penuh cinta.


"Aku tidak pernah keberatan untuk itu." Lelaki itu tersenyum lalu mencium bibir sang istri yang selalu diinginkannya. Tidak lama, hanya sesaat namun mampu membuat keduanya berdebar penuh gelora. Mereka harus menahan diri karena tidak bisa melanjutkan keintiman yang lebih dari itu.

__ADS_1


"Aku harus pergi sekarang, Sayang. Maaf aku langsung meninggalkanmu di saat kita baru saja sampai." Yoga merapikan kembali pakaiannya setelah mereka saling melepaskan pelukan.


"Aku mengerti, Mas. Selamat bekerja, Imamku."


Nara mencium punggung tangan suaminya dengan takdzim. Yoga pun tersenyum lalu menutup ritual mereka dengan sekali lagi mencium kening istrinya penuh kasih.


"Beristirahatlah bersama Gana. Aku mencintaimu."


Yoga mengusap lembut kepala Nara sebelum berlalu meninggalkannya.


"Iya, Mas. Aku juga mencintaimu."


.


.


.


"Ben, bagaimana dengan para pengembang baru yang mengajukan kerja sama dengan kita?"


Yoga baru saja selesai melakukan pertemuan dengan beberapa rekan bisnisnya yang datang untuk mengajukan kerja sama ulang. Di dalam ruangannya, lelaki pemilik dua perusahaan properti ternama itu melanjutkan pekerjaan yang sudah disiapkan di atas meja.


"Semuanya sudah diperiksa oleh Mas Indra, Pak. Mereka sudah memenuhi kriteria kita, termasuk menyetujui persyaratan yang kita ajukan." Beno menjawab dengan hormat seraya merapikan berkas yang sudah diperiksa oleh sang atasan.


"Baiklah. Lanjutkan semuanya dan tentukan waktu pertemuan dengan mereka. Aku ingin bertemu dengan pimpinan atau perwakilannya sebelum kita mengirimkan surat persetujuan kerja sama."


Yoga tidak pernah berubah. Dia selalu lebih dulu ingin mengenal secara pribadi para pengusaha yang akan bekerja sama dengan Mahen Land atau Raga Properland. Setelah merasa nyaman dengan mereka, barulah dia akan menentukan keputusannya untuk menerima atau menolak pengajuan tersebut.


Baginya, dalam sebuah bisnis atau usaha apa pun, kepribadian yang dimiliki seorang pemimpin adalah modal utama untuk bisa dipercaya oleh orang lain. Karena itu akan mempengaruhi sikap dan perilakunya terhadap orang-orang sekitar, terutama yang berhubungan dengan bisnis maupun usahanya.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, lelaki yang tetap terlihat dingin dan datar jika di luar rumah itu keluar dari ruangannya. Dia bergegas pulang untuk menepati ucapannya pada Nara beberapa jam yang lalu.


Sesampainya di rumah, cepat-cepat Yoga masuk dan menuju kamar. Saat pintu dibuka, dilihatnya sang istri sedang merapikan rambut di depan meja rias. Sedangkan Gana juga sudah diganti pakaiannya dan kembali terlelap layaknya bayi yang masih lebih banyak tidur daripada waktu bangunnya.


"Mas, bersihkan dirimu dulu. Aku sudah menyiapkan baju ganti untukmu." Nara melihat suaminya sekilas lalu kembali menatap cermin besar di hadapannya.


Yoga masuk dengan langkah pelan dan berhenti tepat di belakang sang istri. Tubuhnya sedikit membungkuk untuk menyamakan posisi wajah mereka. Nara merasakan pipinya hangat saat diterpa oleh hembusan napas sang suami yang baru saja menciumnya dengan lembut.


"Untuk wanita terbaik dan satu-satunya yang selalu aku cintai sepenuh hati dan jiwaku."


Nara terpaku dalam duduk ketika kemudian sepasang tangan Yoga telah memeluknya dari belakang. Bukan hanya itu, ayah dua putra tersebut menyerahkan rangkaian bunga mawar putih dengan setangkai mawar merah di bagian tengahnya. Bunga yang sama seperti yang biasa dia persembahkan hanya untuk wanita kesayangannya tersebut.

__ADS_1


Menahan haru yang telah membuat sepasang matanya basah dan memburam, Nara menerima dan memegang bunga itu dengan perasaan yang membuncah bahagia. Padahal ini bukan yang pertama kali Yoga melakukannya. Akan tetapi, perhatian lelaki itu selalu saja membuat hatinya penuh gejolak, seperti saat Yoga melamarnya dan tak kuasa untuk dia menolak.


"Terima kasih, Mas. Kamu selalu penuh kejutan."


Satu tangan Nara terulur membelai wajah di sampingnya, lalu dia juga melabuhkan satu ciuman di pipi sang suami tercinta.


"Aku akan selalu memberimu kejutan, selama itu bisa membuatmu selalu bahagia dan semakin mencintaiku, Sayang."


Yoga berpindah ke hadapan istrinya, setengah berdiri dengan tumpuan kedua lutut yang menyentuh lantai kamar. Sepasang tangannya telah melingkari pinggang Nara dengan kedua wajah mereka yang saling memandang penuh cinta.


"Aku akan selalu bahagia, selama kita tetap bersama dan saling mencintai seperti ini, Mas. Kamulah pusat duniaku sekarang dan selamanya. Surgaku ada padamu, pada ridhomu dan pada kebahagiaanmu atas diriku."


Ada yang lain terasa di hati Yoga. Bukan lagi sekadar rasa cinta yang semakin dalam dan kekal di dasar sanubari. Namun lebih dari itu, lelaki itu merasa semakin besar tanggung jawabnya untuk menjaga cintanya juga cinta orang yang dia cintai dan mencintainya.


"Berulang kali telah kukatakan padamu dan aku akan mengucapkannya sekali lagi. Apa pun yang membuatmu bahagia, aku pasti akan lebih bahagia dari kebahagiaanmu itu, Sayang. Kebahagiaanmu adalah yang paling utama bagiku. Kamu dan anak-anak kita adalah dunia terbaikku dan segala-galanya bagiku. Sekarang dan selamanya."


.


.


.


FB : Aisha Bella


IG : @aishabella02


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2