CINTA NARA

CINTA NARA
3.46. KETAKUTAN YOGA


__ADS_3

Masih terbayang jelas dalam ingatan Nara, saat-saat di mana Yoga berulang kali hampir meninggalkan dirinya yang mulai merasa takut kehilangan sosok lelaki dingin dan datar yang pernah sangat dibencinya itu.


Saat itu, bahkan Nara yang mulai membuka hati untuk lelaki itu sama sekali tidak mengetahui penderitaan Yoga yang tidak pernah mau berterus terang kepadanya.


Dan Dokter Danu adalah salah satu dari banyak orang yang telah membantu Yoga bangkit dan menemukan kembali kepercayaan dirinya untuk sembuh dan tidak berputus asa demi keluarganya.


Beliau adalah seorang dokter yang sangat mengutamakan Yoga dan selalu hadir di mana pun lelaki itu membutuhkan pertolongannya.


Beliau adalah salah satu dari sedikit dokter ahli jantung yang berpengalaman dan yang terbaik di bidangnya. Setiap keputusannya selalu tepat waktu dan tepat langkah, dengan perkiraan tindakan yang tidak pernah salah menaksir hasil.


Dokter Danu merupakan sahabat baik dari Surya Mahendra, papa Yoga dan sekaligus menjadi salah satu dokter pribadi keluarga Mahendra sejak puluhan tahun yang lalu, jauh sebelum Yoga dan saudara kembarnya dilahirkan oleh mama mereka.


Pertemuan pertama Nara dengan Dokter Danu bermula saat mereka mengalami ķecelakaan di pagi kelabu yang hampir saja memisahkan keduanya.


Ketika itu, Nara yang baru saja melewati masa kritis usai melahirkan Raga dengan bantuan Ardi, bertemu dengan Dokter Danu yang sering berkunjung ke ruangan Yoga untuk memantau perkembangan kesehatannya.


Pertemuan berikutnya antara Nara dan dokter senior tersebut terjadi saat lagi-lagi Yoga kritis dan nyaris meninggal dunia di dalam mobil, sepulang dari acara lamaran Ardi di rumah Bunga.


Datang terburu-buru dan bergegas hendak masuk ke dalam ruangan penanganan Yoga, langkah Dokter Danu terhenti sesaat begitu melihat keberadaan Nara dengan kondisi yang tak berdaya dan diselimuti kesedihan di ruang tunggu bersama Ardi dan keluarga mereka.


Dengan suara lirih, kala itu Nara yang baru saja mengetahui tentang rahasia penyakit Yoga dari cerita panjang Ardi, memohon kepada Dokter Danu untuk membantu suaminya agar bisa melewati masa kritisnya.


Dokter Danu hanya bisa mengangguk dengan hati remuk, bukan hanya karena beratnya permintaan Nara tersebut, namun juga karena beliau sendiri tidak yakin bisa menyelamatkan Yoga dengan kondisi lelaki itu yang kala itu sudah sangat menurun drastis.


Namun demi sumpah jabatan dan pelayanan sekuat kemampuannya, Dokter Danu tetap berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Yoga dengan tangan dinginnya yang telah teruji dan juga seluruh kemampuan yang dimilikinya.


.


.

__ADS_1


.


Pagi harinya, Yoga ditemani oleh Nara berangkat menuju rumah Dokter Danu. Segala keperluan Raga dan Gana termasuk ASI perah yang tersimpan di dalam kulkas, sudah disiapkan semua oleh Nara di pagi buta tadi. Sarapan untuk keduanya pun telah dibuat oleh wanita yang sangat terampil dan cekatan dalam urusan rumah tangga tersebut.


"Mas, jaga konsentrasimu. Jangan sampai kamu melamun dan terus memikirkan Dokter Danu sehingga lupa jika sedang mengemudikan mobil."


Nara terus mengingatkan suaminya dan memegang lengan kiri Yoga untuk menenangkannya. Lelaki itu pun luluh dan mulai bersikap rileks, dibantu sang istri dengan terus mengajaknya berbincang-bincang.


Setelah melalui perjalanan panjang satu jam lamanya, mereka tiba di sebuah rumah berhalaman luas dan sangat asri dengan pemandangan hijau yang menyegarkan mata di sekitarnya.


Mereka turun dan disambut oleh Dani, putra sulung Dokter Danu yang juga mengikuti sang ayah menjadi seorang dokter jantung.


"Selamat pagi, Mas. Maaf jika kedatangan kami mengganggu." Yoga menyalami Dani dengan ramah diikuti Nara yang ikut mengulurkan tangannya.


"Tidak sama sekali, Ga. Aku yang minta maaf karena semalam mengganggumu dan membuat kalian repot-repot datang kemari. Kalau bukan karena permintaan Papa, aku tidak akan menghubungimu malam-malam."


Lelaki berusia hampir kepala empat itu lantas mempersilakan mereka masuk dan langsung dibawa menuju ruangan khusus yang didesain serupa ruang perawatan pasien.


"Saya tidak pernah mendengar beliau jatuh sakit, Mas. Dan terakhir kami berkunjung beberapa bulan yang lalu, Dokter Danu juga masih terlihat segar dan sehat."


Yoga duduk bersebelahan dengan Nara dalam satu kursi panjang, berhadapan dengan Dani yang duduk sendiri di seberang meja. Tak lama kemudian istri Dani muncul dan menyapa mereka, kemudian kembali pamit masuk ke dalam.


"Sebenarnya papa tidak sakit. Hanya beberapa waktu terakhir ini selalu kelelahan dan mulai sering merasa sesak napas." Dani mulai bercerita tentang kondisi papanya saat ini.


"Selama satu minggu ini pula, berturut-turut Papa selalu memimpikan Mama dan semakin merasa bahwa waktunya tidak akan lama lagi. Oleh karena itu beliau memintaku untuk menghubungi beberapa kerabatnya agar mereka bisa bertemu dan Papa bisa memberikan pesan-pesan yang ingin beliau sampaikan secara langsung."


Yoga merasa hatinya semakin berdebar. Dia teringat kepergian kedua orangtuanya yang mendadak dan tanpa terduga sama sekali, dalam kecelakaan pesawat terbang waktu itu.


Dan sekarang, Dokter Danu yang sudah sangat dekat dengannya dan dia anggap seperti layaknya orangtua, justru memanggilnya untuk diberikan pesan-pesan yang terkesan seperti pesan terakhir.

__ADS_1


Nara yang menangkap kegugupan dan kegelisahan suaminya segera menggenggam erat tangan Yoga dan mengusapinya dengan satu tangan yang lainnya.


"Mas, jangan panik. Tenangkan dirimu dulu, baru kita akan masuk ke dalam untuk menemui Dokter Danu."


Yoga menoleh ke arah samping dan menatap wajah lembut istrinya yang dipenuhi senyuman penenang jiwa. Lelaki itu mengangguk dan membalas senyuman Nara dengan pikiran yang masih merasa sedikit takut.


"Sebenarnya apa saja yang ingin disampaikan oleh Dokter Danu, Mas? Apakah hal yang sangat penting ataukah apa?" tanya Yoga untuk yang kesekian kalinya.


"Aku tidak tahu, Ga. Saat bersama dengan tamunya, Papa selalu meminta untuk berbicara secara tertutup. Tapi aku rasa, hanya seputar kedekatan di antara kalian saja atau mungkin kedekatan kedua orangtua kita."


Sejujurnya, Yoga masih merasa takut untuk menemui Dokter Danu dalam kondisi beliau seperti yang diceritakan oleh Dani.


Bayangan kematian tragis orangtuanya masih membekas di hatinya. Dan sekarang dia merasa takut jika akan menemui dokter jantungnya itu dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


"Ada aku bersamamu, Mas. Singkirkan dulu rasa takutmu. Kita harus menghormati undangan beliau dan segera menemuinya." Nara kembali menguatkan suaminya.


Ternyata bukan hanya dirinya yang mengalami trauma. Suaminya pun mengalami meski dengan situasi yang berbeda. Tapi bagaimana pun juga, keduanya sama-sama perlu untuk disembuhkan agar ketakutan itu tidak terus-menerus menghantui kehidupan mereka ke depannya.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


💜Author💜


.


__ADS_2