CINTA NARA

CINTA NARA
2.22. PEMBICARAAN KAKAK-BERADIK


__ADS_3

Pagi berikutnya Nara ikut menemani Yoga pergi ke kantor pusat Mahen Land. Tidak hanya dirinya yang ikut, si kecil Raga pun turut serta ke kantor sang Ayah.


"Om Bee ...."


Raga berteriak dengan suaranya yang belum jelas, saat melihat Beno berdiri di tengah lobi dan menyambut kedatangan atasan dan keluarganya.


Beno terlebih dahulu mengangguk dan memberi hormat pada Yoga dan Nara, baru kemudian berjongkok dan menyambut bos kecil yang berjalan cepat ke arahnya.


Tanpa diminta bocah lucu itu mengulurkan tangannya, menyalami Beno dan mencium tangan sang asisten. Beno tersenyum dan mengusap kepala Raga, lalu seperti biasanya mereka melakukan tos dengan kedua tangan mereka.


Beno menggendong bocah menggemaskan itu dan mengikuti langkah Yoga dan Nara yang sudah kembali berjalan menuju lift untuk naik menuju ruang kerjanya.


Sesampainya di lantai tiga, mereka melewati ruangan Indra yang berhadapan dengan ruangan Beno, yang sama-sama berada di depan ruangan Yoga yang paling besar dan luas.


Karena sebelumnya belum pernah melihat adiknya bekerja di kantor sang suami, Nara meminta ijin pada Yoga untuk menemui Indra di ruangannya.


Setelah mendapatkan ijin dari suaminya, Nara segera masuk ke ruangan sang adik dan mendapati lelaki muda itu tengah serius dengan tumpukan dokumen di atas meja kerjanya.


"Sibuk, Ndra?" tanya Nara dan langsung duduk di hadapan adiknya.


"Memang seperti inilah pekerjaanku, Mbak. Tapi aku sangat menikmatinya." Indra menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas yang diperiksanya.


Nara tersenyum dan bersyukur dalam hati karena keputusan suaminya tidak salah dengan menarik Indra untuk bergabung dalam perusahaan besar miliknya.


.


"Jangan mengecewakan Mas Yoga. Dia sangat percaya padamu dan pada kemampuanmu."


Kali ini Indra menjeda pekerjaannya dan menatap sang kakak. Dia mengangguk dan tersenyum pada sang kakak.


"Pasti, Mbak. Siapa yang tidak mau bekerja di perusahaan besar dan ternama seperti ini. Aku beruntung bisa berada di sini dengan mudah."


Lelaki muda itu lantas melanjutkan perkerjaan dengan Nara yang masih terus menatapnya, seolah masih ada hal lain yang ingin dibicarakannya dengan Indra.


"Ndra ...."


"Hmm?" jawab sang adik tanpa mengangkat wajahnya.


"Sejauh mana hubunganmu dengan Rizka?"


Indra meninggalkan dokumen yang baru diperiksanya lalu memindahkan perhatiannya kepada Nara.


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak terhadapku, Mbak."


"Aku tidak berpikiran demikian. Tapi baru kali ini aku melihatmu dekat dengan seorang gadis, dan kamu langsung mengikat hubungan dengannya."

__ADS_1


Wajah Indra mulai memerah saat ingin mengakui sesuatu pada kakaknya.


"Aku jatuh cinta pada Rizka sejak pertama kali melihatnya di kediaman Mas Yoga."


Nara terperangah tak percaya. Dua orang lelaki terdekatnya sama-sama mengakui bahwa mereka jatuh cinta pada pandangan pertama.


Dulu Yoga yang jatuh cinta padanya sejak pertama kali mereka bertemu. Dan sekarang Indra pun sama, mulai mencintai Rizka sejak pertama kali melihatnya.


"Kenapa, Mbak? Ada yang salah?" tanya Indra dan Nara menggeleng dengan cepat.


"Tidak ada. Hanya saja ... kalian terpaut usia 5 tahun. Rizka baru memasuki tahun kedua perkuliahannya. Kalau kamu serius dengannya, kalian masih harus menunggu beberapa tahun lagi untuk melangkah ke jenjang berikutnya."


"Jika Bapak dan Ibu mengijinkan, kami ingin menikah secepatnya, Mbak."


Lagi-lagi Nara dibuat terkejut dengan pernyataan adiknya.


"Jangan sembarangan kamu, Ndra! Jangan merusak masa depan Rizka. Biarkan dia menyelesaikan kuliahnya dulu."


"Justru aku ingin menjaganya, bukan merusaknya. Karena itulah aku ingin kami menikah secepatnya agar kami tidak terjerumus dalam hubungan yang salah dan melewati batas."


Nara tidak mempermasalahkan keinginan adiknya karena Indra sudah cukup umur untuk menikah. Sebaliknya, dia justru memikirkan Rizka dan Tante Arum.


"Bagaimana dengan kuliahnya jika kalian segera menikah? Dan apakah Tante Arum akan mengijinkannya?"


Di luar dugaan lagi, Indra ternyata sungguh-sungguh dengan ucapannya dan sudah berani menyampaikan niat sucinya untuk memperistri Rizka, langsung pada calon mertuanya tersebut.


"Tentang kuliahnya, Rizka akan tetap melanjutkannya sampai selesai."


"Bagaimana jika tiba-tiba dia hamil?" cecar Nara yang mau tak mau mulai memikirkan tentang segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.


"Kami akan menunda sampai Riska merampungkan studinya."


Nara memperhatikan sikap Indra yang tetap tenang dan ternyata sudah memikirkan segala kemungkinan yang akan dihadapinya nanti.


"Aku pulang kemari untuk berlibur dan menenangkan pikiran. Tetapi kamu malah memberiku kejutan sebesar ini tanpa aku tahu sama sekali sebelumnya."


Indra tertawa kecil melihat Nara mengusap wajahnya dengan kedua tangan dan menghela nafas panjang.


"Aku tidak akan merepotkanmu, Mbak. Aku hanya butuh dukunganmu."


"Aku tidak pernah membayangkan akan memikirkan tentang pernikahan adikku secepat ini ...."


Ada rasa haru yang kental terasa dalam kata-kata yang diucapkan Nara, membuat Indra pun merasakan hatinya tersentuh dan menjadikan matanya berkaca-kaca.


Lelaki muda itu berdiri dan menghampiri Nara yang juga sudah berdiri menyambutnya.

__ADS_1


"Ternyata waktu berlalu begitu cepat. Dan sepertinya aku telah kehilangan adik kecilku yang nakal dan sangat usil mengangguku setiap hari...."


"Ternyata kakak kecilku yang dulu cengeng dan sering mengadukan aku pada Bapak dan Ibu, sudah berubah menjadi seorang Ibu dan mempunyai anak laki-laki yang sepertinya akan menuruni kenakalan dan keusilanku ...."


Kakak-beradik itu berpelukan hangat, dengan air mata yang mulai menggenangi pelupuknya. Sesuatu yang sudah sangat jarang mereka lakukan lagi semenjak keduanya beranjak remaja.


"Aku pikir adikku masih anak ingusan yang belum tertarik pada lawan jenisnya. Tak kusangka, sekarang dia sudah berani mengambil keputusan untuk menikahi seorang gadis yang sudah dicintainya dengan yakin dan mantap."


Nara menepuki punggung Indra dan memeluknya semakin erat. Sang adik pun membalas pelukan kakaknya dengan dekapan yang lebih erat.


"Aku menyayangimu, Mbak."


Di saat suasana di antara mereka begitu dekat dan hangat tiba-tiba pintu diketuk dan langsung dibuka tanpa menunggu ijin dari Indra.


"Bubuu ... Om Daa ...."


Pangera kecil keluarga Mahendra berlari kecil mendekatI Nara yang berdiri berhadapan dengan Indra. Bocah kecil itu menarik-narik ujung dress yang dikenakan Ibunya.


Di belakang Raga, Yoga terus melangkah mendekati Nara yang dilihatnya sedikit sembab dan tampak murung.


"Ada apa, Sayang?" Pandangannya bergantian menatap Nara dan Indra yang sudah mengangkat Raga ke dalam gendongannya.


"Tidak apa-apa, Mas. Kami sedang membicarakan hubungan Indra dan Rizka. Nanti akan aku ceritakan semuanya."


Nara tersenyum lalu mengambil sang putra dari gendongan adiknya dan mengajak bocah itu kembali ke ruangan Ayahnya.


"Nanti kita bicarakan lagi di rumah bersama Bapak dan Ibu."


Indra mengangguk sebelum sang kakak bersama suami dan anaknya meninggalkan ruang kerjanya.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2