CINTA NARA

CINTA NARA
Retak


__ADS_3

Dina terdiam sesaat, saat mendapatkan penjelasan dari Angga. Mengapa Angga dengan mudah menerima dan tak menolak perintah ibunya Nara untuk menjauhi anaknya.


Dina tak habis pikir. Mengapa hubungan yang terbina selama 7 tahun harus kandas dengan jalan seperti ini. Keputusan sepihak. Dan pihak yang dilibatkan tak tahu menahu. Meninggalkan jejak luka dihati yang ditinggalkan.


"Aku memang salah. Salah meninggalkan Nara dalam keterpurukan seorang diri. Seorang kekasih yang pergi tanpa pesan. Meninggalkannya dengan tanda tanya besar dihatinya. Bodohnya aku tak meminta penjelasan atas semua yang terjadi pada ibunya Nara. Saat itu aku gamang. Dan ... , saat itu kau hadir disaat kegalauan melanda diriku, " Angga memberi pembelaan diri.


"Aku juga penasaran atas apa yang terjadi. Apa mungkin ibunya Nara hanya menggertak hubungan kalian saja? tapi tidak mungkin seorang ibu akan melukai hati putrinya sendiri, " ucap Dina dengan ketidak yakinannya.


Dina dan Angga terdiam di bangku kelas yang memang kosong. Jam ditangan Dina menunjuk pukul 2 siang. Seorang dosen tak bisa hadir untuk mata pelajaran terakhir. Jadi dikelas ini hanya tinggal Dina dan Angga saja.


"Apa kau tak marah padaku Dina. Aku sejak awal tak jujur padamu. Tapi aku juga tak bisa disalahkan dalam hal ini. Aku tak tahu kenapa Nara bisa tiba - tiba muncul di Jakarta. Seharusnya dia tetap di Bengkulu. Sehingga hal ini tak mungkin terjadi, " Angga menyesali dirinya.


"Aku seharusnya marah akan hal ini. Nara bersahabat baik denganku. Kau kekasihku dan aku bersahabat baik dengannya. Aku merasa seperti orang bodoh diantara kalian.


"Tapi saat ini Nara sudah menjadi kekasih Arif. Tapi masalah kau dan Nara seharusnya diselesaikan dulu. Agar cerita cintanya ada endingnya. Putus. Ungkap Dina pada Angga.


"Aku memang marah. Tapi aku sangat menyayangi Nara. Nara sudah kuanggap adik bagiku. Aku penasaran dengan rupa ibunya Nara. Apakah ia memiliki wajah serupa dengan ku, " ucap Dina pada Angga.


" Iya, wajahmu sekilas mirip denganmu. Mengapa hal ini harus kau tanyakan padaku, " ucap Angga.


"Aku tak tahu, " ucap Dina pada Angga pelan. Dalam hati ia juga heran mengapa hal bodoh ini yang terucap dimulutnya. Hanya penasaran kah ? mengapa seorang ibu tega memutuskan hubungan anak dengan kekasihnya tanpa penjelasan yang jelas.


"Ya , sudahlah. Untuk sementara aku ingin kita break dulu hubungan kita, " ucap Dina.


"Maksudmu kita putus Dina, " Angga mempertegas apa yang diucapkan Dina.


"Enggak lah. Emang aku bodoh. Nanti kamu balikan lagi sama Nara. Rehat dulu maksudku, " Dina menimpali Angga.


Setelah pengakuan Angga hari ini. Dina gak tahu bagaimana rasanya bertemu dengan Nara.Apakah akan baik - baik saja. Atau ... , malah terjadi keributan.


Tapi Dina ingin bertemu dengan Nara. Minggu - minggu ini Nara tampaknya lagi sibuk dengan jadwal padat seorang penulis muda yang berbakat. Nama Nara sudah wara wiri ada di stasiun TV dan berbagai situs sosmed.

__ADS_1


Tak ayal lagi gak ada kesempatan untuk bertemu dengan Nara.


Setelah 2 minggu menghubungi Nara. Akhirnya gadis cantik itu yang menghubungi Dina duluan. Mereka berjanji keesokan harinya.


""""''''""""


Hari yang ditentukan tiba. Pukul 4 sore di cafe didaerah Jl. Kenari. Tempat favorite Dina dan Nara. Tempat favorite anak - anak kuliah yang terdekat dengan kampus mereka.


Tempatnya cukup luas. Menu andalan


makanan sea food dan berbagai minuman ringan yang harganya cukup terjangkau buat anak kulihan. Hehe ....


Nara datang lebih duluan dari Dina. Selang lima menit datang Dina seorang diri.


"Hei ... , udah lama ya datangnya, " ucap Dina sambil tersenyum.


"Baru lima menit kok, " Nara balas tersenyum.


berhadapan langsung dengan Dina saat ini.


Sebelum memulai percakapannya. Mereka berdua memesan makanan terlebih dahulu.


"Ada apa gerangan Din? kau ingin berjumpa denganku, " ucap Nara memulai obrolan.


"Apa hubunganmu dengan Angga sebelumnya, " ucap Dina pelan.


"Oh itu. Kau tanyakan langsung saja pada Angga. Aku tak tahu tiba - tiba pergi tanpa pesan meninggalkan jejak luka dihatiku, " ucapnya pelan.


"Ibumu yang tak menyetujui hubunganmu dengan Angga ... Nara, " ucap Dina menimpali.


"Ah ... , itu alasan Angga yang mengada - ngada. Kalau tak menyetujui mungkin sudah dari awal. Hubungan kita sudah hampir 7 tahun lamanya. Ibu juga tidak bilang apapun padaku, " hardik Nara kesal.

__ADS_1


"Jadi kau masih kesal pada Angga rupanya. Sebegitu kesalnya kau terhadap Angga Nara !."


"Iya, teramat kesal. Angga pernah menyematkan sebuah cincin ke jarimanisku. Usai 3 bulan kami berjanji akan mengikat janji suci. Angga raib. Saat itu aku begitu terpuruk, " ucap Nara sambil berkaca - kaca.


Dina mendengarkan penjelasan Nara pun ikut hanyut dalam suasana hati Nara. Terasa perih menyelusup dadanya. Seseorang yang menjadi kekasihnya begitu tega mencampakan wanita di depannya ini. Menimbulkan jejak luka yang belum terhapus.


"Tapi sekarang kau memiliki Arif disisimu Nara. Apakah kau mencintai Arif sama seperti kau mencintai Angga !."


"Ini lain hal Dina. Aku menyukai Arif. Baru sebatas itu. Sedangkan Angga sudah bertahun - tahun ada disampingku, " Nara menimpali.


"Jadi maumu apa Nara? kau ingin aku putus terus kau balikan lagi dengan Angga!!."


" Aku ingin Angga menangis didepanku. Meminta maaf atas apa yang terjadi. Aku hanya ingin itu saja, " ucap Nara berbohong.


Padahal Nara ingin sekali melihat Angga juga terluka sama seperti yang ia rasakan.


"Mengapa semua ini harus kau tanyakan padaku Dina. Seharusnya kau diam saja. Seperti tidak terjadi apa - apa diantara kita, " ucap Nara.


"Karena kau sahabatku. Sahabat yang ternyata mantan kekasihku ... Nara. Aku tak bisa berdiam diri. Kalau kita tak berteman. Aku juga tak akan mau bertemu denganmu. Biarlah masalah ini menjadi masa lalu Angga."


Lalu Dina dan Nara diam. Hening. Tak tahu akan bagaimana jadinya persahabatan mereka. Retak.


Hujan gerimis menyelimuti sore yang mendung. Rinai hujan ini seakan merasakan apa yang dirasakan 2 orang sahabat ini. Persahabatannya d iujung tanduk. Akibat seorang laki - laki bernama Angga.


Lama berdiam diri berdua akhirnya Dina dan Nara pulang kekosan masing - masing. Pulang dengan membawa berbagai polemik yang tersimpan didada masing - masing.


Hati Dina teramat perih. Punya sahabat untuk pertama kali dalam hidupnya. Mending tak punya sahabat kalau begini jadinya. Berlinang air mata saat ia mengenang indahnya persahabatan yang berakhir tragis seperti ini. Tak mengapa kehilangan sahabat dari pada harus kembali kehilangan Angga untuk yang kedua kalinya.


Lain hal yang dirasakan Nara. Ia senang melihat Dina yang sedang porak poranda hatinya. Ia ingin Dina dan Angga putus. Hal ini yang dirasakan Nara. Dia tak perduli dengan persahabatannya dengan Dina.


Tujuan Nara hanya satu. Ia ingin balas dendam terhadap Angga. Membalaskan rasa sakit di hatinya yang belum juga terobati. Bagaimana rasanya terpuruk dalam kehancuran seorang diri. Dan ini harus dirasakan oleh Angga ....

__ADS_1


__ADS_2