CINTA NARA

CINTA NARA
2.12. HANYA MILIK SUAMIKU


__ADS_3

"Lepaskan aku, Marcell ...!! Jangan bersikap kurang ajar padaku ...!!!"


Nara terus meronta saat tubuhnya dibopong oleh Marcell dari dalam mobil dan dibawanya masuk ke sebuah rumah yang berada jauh dari keramaian kota. Seperti di dalam kompleks perumahan yang tidak banyak penghuninya.


Nara memukuli tubuh lelaki itu sekuat tenaga meskipun tetap tak bisa menandingi kekuatan lelaki bertubuh tinggi besar khas perawakan blasteran tersebut.


"Berteriaklah sepuasmu, maka aku akan tertawa semakin puas melihatnya!"


Marcell melebarkan tawanya sembari menghempaskan tubuh Nara di atas tempat tidur di kamar yang selama hampir sebulan ini dipakainya sebagai kamar pribadi.


"Kamu gila, Marcell. Kamu gilaaa ...!!!"


"Ya, Nara. Ya! Aku memang sudah gila karena aku sangat tergila-gila padamu sejak dulu!"


Nara bangun dan turun dari tempat tidur, tapi lagi-lagi Marcell menahan dengan tubuh besarnya dan membawa wanita itu kembali terbaring di bawah kungkungannya.


"Ap-Apaa yang kamu lakukan? Jangan sentuh aku ...!!" Nara semakin ketakutan menyadari posisi tubuh mereka saat ini.


Bayangan akan terjadinya hal tak senonoh padanya melintas dalam pikirannya dan membuatnya menjerit histeris dengan sisa tenaganya.


"Mas, semoga kamu tidak kenapa-kenapa. Cepatlah sadar dan selamatkan aku segera. Aku takut, Mas! Tolong aku ...."


Nara tak bisa berhenti memikirkan suaminya. Dalam hatinya dia terus memanggil nama Yoga, berharap ikatan suci cinta mereka akan mampu mempertemukannya kembali dengan lelaki tercintanya itu.


"Menangislah sepuasmu, Nara. Menangislah sampai kamu lelah. Maka akan lebih mudah bagiku untuk menyentuhmu nanti."


Lelaki itu mendekatkan wajahnya dan berusaha untuk menaklukkan wanita yang membuatnya kehilangan kewarasannya. Tapi dengan cepat Nara mengelaknya.


Plaakkk ...!


Satu tamparan keras mendarat kasar di pipi Marcell hingga membuat wajahnya terpaling ke samping. Diusapinya pipi yang membekas merah itu dengan senyum menyeringai dan semakin tertantang untuk segera menuntaskan hasrat yang telah dipendamnya sekian lama.


Nara merapikan pakaiannya yang tersingkap meskipun tidak sampai memperlihatkan bagian terlarangnya karena dia masih mengenakan celana sepanjang lutut sebagai rangkapannya.


"Keberanianmu membuatku semakin penasaran. Tapi tenanglah, aku tidak akan buru-buru melakukannya sekarang. Waktu kita masih panjang, dan kita akan memulainya sebentar lagi Nara. Jadi persiapan dirimu untuk menjadi milikku."


Seluruh tubuh Nara menegang mendengar perkataan Marcell yang membuatnya semakin ketakutan. Keadaannya saat ini jauh lebih buruk dan menakutkan dari saat dulu dirinya sadar usai ternoda oleh Yoga.


"Itu tidak akan pernah terjadi! Kamu tidak akan bisa menyentuhku. Aku hanya milik suamiku. Hanya dia yang berhak atas diriku dan hanya dia yang berhak untuk menyentuhku. Bukan kamu ...!!!"


"Ya Allah, hamba mohon lindungi hamba, selamatkan hamba. Bantu hamba untuk menjaga dan mempertahankan kehormatan hamba hanya untuk suami hamba. Berilah hamba kekuatan dan keberanian untuk melawan lelaki itu...."


.


.


.

__ADS_1


"Nara ...! Aku harus menyelamatkan istriku secepatnya!"


Tak peduli rasa sakit yang masih terasa di kepalanya, Yoga bangun dan hendak berdiri untuk keluar dari ruangan bernuansa putih yang tak lain adalah ruang penanganan di klinik terdekat dari tempat di mana Nara dibawa kabur oleh dua orang yang diyakininya adalah suruhan dari Marcell.


"Tenang, Mas Yoga. Beberapa anak buah kita sudah mengejar mobil itu dan melacak keberadaan Mbak Nara."


Alam menahan Yoga agar tetap duduk dan menenangkan diri, tapi usahanya tidak berhasil. Yoga tetap bersikeras untuk pergi dan menyelamatkan Nara yang masih berada dalam bahaya.


Lelaki itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Beno. Kemudian dia juga menghubungi salah seorang anak buahnya guna mencari tahu posisi mereka sekarang dan memastikan keadaan istri tercintanya.


"Selamatkan istriku bahkan jika aku belum sampai sekalipun! Aku hanya ingin istriku selamat dan jangan biarkan lelaki itu menyentuhnya!!"


Yoga menutup panggilan dan membuka pesan yang menampilkan lokasi terakhir para anak buah mereka mengikuti mobil yang membawa pergi Nara.


"Kita ke sana sekarang, Mas Alam!" Yoga yang sudah merasa benar-benar kuat segera mengajak Alam pergi ke tempat di mana Marcell menculik Nara.


Alam mengikuti kemauan Yoga. Dia meminta sang istri untuk kembali ke galerinya bersama sopir, sementara dirinya akan menemani Yoga menyelamatkan Nara.


Mereka sengaja belum menghubungi pihak kepolisian karena sudah mengetahui keberadaan Marcell dan Nara. Selain itu, anak buah mereka juga sudah berada di sana untuk melumpuhkan penjagaan.


Mengendarai mobil Yoga dengan dikemudikan oleh Alam, mereka menuju lokasi yang dikirimkan oleh anak buah Yoga.


Sepanjang perjalanan, Yoga menceritakan tentang Marcel dan masa lalunya, termasuk obsesinya terhadap Nara yang membuatnya berlaku nekat dan di luar akal sehat.


Tak sampai satu jam kemudian, mereka sudah tiba di lokasi. Empat anak buah Yoga dan Alam telah berhasil melumpuhkan dua orang yang tadi menculik Nara. Sementara dua orang lainnya juga sudah diamankan dari dalam rumah secara diam-diam.


Braakkk ...!!!


Sekuat tenaga Yoga menendang pintu yang terkunci itu hingga berhasil terbuka lebar.


Wajahnya semakin memerah dengan kilatan kemarahan yang memuncak mana kala melihat Nara berada di atas tempat tidur dengan Marcell yang masih menindih tubuh istrinya yang mulai kehabisan tenaga untuk melawan.


"Marcell ..., kurang ajar kamu!!"


Yoga menghampiri lelaki itu dan menariknya dari atas tubuh istrinya. Didorong dan dihempaskannya tubuh besar itu dengan kedua tangannya hingga lelaki blasteran tersebut jatuh telentang di lantai.


"Berani-beraninya kamu menyentuh istriku! Dasar pria gila, kamu!"


Yoga berlutut dan mengunci tubuh lelaki itu, lalu menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi hingga darah segar keluar dari hidung dan mulutnya.


Dengan wajah yang sudah babak-belur dan berdarah-darah, Marcell masih saja berani memancing emosi Yoga hingga semakin memuncak tak terkendali.


"Haahh ..., dia sangat memuaskan. Pipinya begitu halus ... bibirnya pun terasa sangat manis."


Buugh ... buugghh ...!!!


Yoga kembali mendaratkan pukulan di wajah Marcell. Namun ternyata lelaki itu masih berani melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Aku suka dengan tubuhnya yang wangi, membuatku semakin bergairah."


Plakk ... plaakk ... plaakkk ...!!!


"Tutup mulutmu atau akan kuhabisi kamu sekarang juga!"


Tingkah lelaki itu benar-benar membuat Yoga naik pitam hingga dia melayangkan tamparan keras berulang kali untuk membungkam mulut Marcell.


"Mas ..., dia berbohong!" Teriakan Nara menyadarkan Yoga saat itu juga.


Wanita itu sudah duduk dengan sisa tenaganya yang mulai melemah dan hampir membuatnya kehilangan kesadaran.


Yoga bangkit meninggalkan Marcell yang sudah tak berdaya, lalu berdiri dan menghampiri Nara yang masih tersedu dengan penampilan yang sangat berantakan.


Beberapa kancing teratasnya terbuka dengan bagian bawah yang sudah tersingkap lagi. Rambutnya acak-acakan karena terus meronta dan bergerak menghindari sentuhan Marcell.


"Sayang, maafkan aku. Maaf aku terlambat datang." Yoga menarik tubuh Nara dan mendekapnya dengan erat.


Nara membalasnya, memeluk suaminya sangat erat dan melepaskan tangisannya di atas dada Yoga dengan isakan dan sedu-sedan yang mengiris-iris perasaan lelaki itu.


Yoga terus menciumi puncak kepala istrinya berkali-kali untuk menenangkan dan meyakinkan Nara bahwa semuanya sudah berakhir.


"Dia belum menyentuhku. Dia tidak berhasil menyentuhku sedikit pun, Mas. Aku masih milikmu seutuhnya dan selamanya ...."


Yoga mengangguk dan membelai kepala Nara.


"Aku percaya, Sayang. Aku percaya padamu."


Pelukan Nara mulai merenggang seiring tubuhnya yang melunglai dalam pelukan sang suami.


"Sayang ...? Kamu kenapa, Sayang?"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2