CINTA NARA

CINTA NARA
Pasrah


__ADS_3

Dina menangis. Vonis dokter itu membuat dirinya shock. Tak terima dirinya menderita leukimia akut. Bayangan tentang penyakit ini membuat dirinya larut dalam kesedihan mendalam. Bayang - bayang kematian ada didepan matanya.


Sudah hampir satu bulan lamanya Dina dirawat di RS Dharmais di Jakarta. Selama satu bulan itu Dina menyembunyikan penyakitnya dari Angga. Dina tak mau melihat Angga iba padanya.


Sudah berkali - kali Angga menelponnya. Hanya pesan WA saja yang dijawab Dina. Angga berusaha untuk bertemu Dina. Namun ada saja alasan Dina supaya Angga tak menemuinya.


Disuatu sore di hari sabtu. Drett ... drett ....


Pesan Wa itu datang kembali.


Angga : Sore sayang , lagi ngapain ? kok kamu lama banget istirahatnya. Sudah hampir 2 mingggu lamanya.


Dina : Aku lagi santai di rumah. Menikmati membaca novel. Aku belum diizinkan papa untuk masuk kuliah πŸ˜“ . Di kantor juga ada sedikit masalah. Sekarang pun sedang Audit keuangan perusahaan perenam bulan sekali.


Angga : Ya udah deh. Kalau begitu kamu harus jaga kesehatan. Jangan lupa minum vitamin.


Dina : Iya, jangan khawatirkan aku ya 😍


Angga : Hari minggu besok aku boleh gak datang ke rumahmu ? apa kamu tidak kangen aku β™₯️ !!


Dina : Gak usah ke rumah. Di rumah lagi ada acara arisan keluarganya mama. Mending lain kali aja ya sayang.


Angga : Ya udah, gak apa - apa deh😭 . Uda dulu ya sayang. Bye ... bye ....


"''''’'''''''''


Dina merasa bersalah pada Angga.


Sudah satu bulan lamanya Dina masih saja menyembunyikan sakit yang dideritanya. Dina khawatir akan menyita waktu Angga kalau ia tahu kalau dirinya sedang sakit. Sakit leukimia, kangker darah.


Papa Dina telah menghubungi pihak kampus 2 hari setelah kejadian Dina pingsan di kampus UI itu. Meminta izin anaknya tidak bisa masuk kuliah dalam waktu yang tak bisa ditentukan. Padahal rencananya seminggu setelah ia pingsan ia akan maju untuk menghadapi sidang tesisnya.

__ADS_1


Awalnya pihak kampus menutupi penyakit yang diderita Dina atas permintaan ayah Dina. Tapi setelah hampir satu bulan Dina tidak masuk kampus dan didesak oleh Angga. Pihak kampus mencoba menghubungi papa Dina kembali.


Dengan berbagai alasan pihak kampus akhirnya mendapat izin dari papa Dina untuk memberitahu Angga dan teman - temannya kalau Dina sedang sakit, sakit leukimia.


Dina gadis cantik anak Jendral polisi yang baik hati. Terlalu baik dan sederhana. Dia tak pernah menyombongkan diri sebagai anak sang jendral polisi. Semua orang sangat menyayanginya.


Sakitnya Dina membuat Angga dan Arif berdua sangat mengkhawatirkan Dina.


Mereka berdua dan beberapa orang teman kampus akan datang ke RS tempat Dina dirawat.


Tiba pada hari yang telah ditentukan


Angga, Arif dan teman - teman sekampus pergi untuk membesuk teman kesayangan mereka, Dina.


Mereka tiba di RS lima menit sebelum jam besuk. Dina dirawat di RS Dharmais, RS pusat kangker Nasional di Indonesia. Dari pihak ruang perawatan menganjurkan setiap orang yang mau menjenguk Dina untuk menggunakan masker. Hal ini dikarenakan Dina baru kemaren dilakukan kemotherapi.


Angga masuk terlebih dahulu ke dalam kamar VVIP itu. Dia disambut ramah oleh papa dan mama Dina. Angga kemudian mencium punggung tangan kedua orang tua Dina sebagai tanda hormatnya pada mereka. Lalu papa Dina memberikan masker penutup mulut yang sengaja dibeli olehnya buat setiap orang yang masuk menjenguk Dina.


"Angga ... !! kau rupanya, " lirih suara Dina.


"Iya, " Angga tersenyum sambil memegang jemari tangan Dina.


Hehem ... hehem ... suara papa Dina membuat Angga melepaskan pegangan tangannya dari Dina. Angga dan Dina kemudian tersenyum malu pada papa dan mama.


Badan Dina kian hari makin kurus saja. Wajahnya terlihat pucat. Mata yang selalu berbinar itu kini tampak sayu. Rambutnya kian menipis dan rontok. Banyak memar di bagian tangan kanan dan kirinya. Terdapat selang tranfusi darah yang menancap di kulit punggung tangan kirinya.


Papa dan mama Dina beranjak ke luar dari kamar Dina dirawat. Alasannya papa dan mama hanya ingin makan di luar. Padahal itu hanyalah alasannya saja, supaya Angga dan Dina bisa leluasa untuk berbicara.


Hampir setengah jam Angga menemani Dina. Kemudian Arif beserta teman - teman kampusnya masuk menemui Dina. Bukan main kagetnya mereka. Melihat Dina tergolek lemah dengan selang tranfusi yang menancap di kulit punggung tangannya.


Dina sangat bahagia. Kekasih dan teman - temannya ada di depan matanya. Mereka semua mencoba menghibur dan menguatkan hati Dina.

__ADS_1


"Dina ... , semangat ya ! kamu kuat kok. kamu pasti sembuh. Tak ada kata yang tak mungkin. Kami semua mendoakanmu, " ucap Arif bersemangat seraya mengayunkan kepalan tangannya kedepan dan keatas.


"Iya Rif, makasih. Tapi mana mungkin aku bisa bertahan. Sakit leukimia yang kuderita sudah stadium 4 , " lirih suara Dina.


Suasana hening seketika. Semua merasa iba pada Dina. Tak ada satu orang pun berkata. Tiba - tiba papa dan mama Dina masuk. Mereka menghampiri Dina yang tergolek lemah.


Angga kemudian bertanya pada papa Dina.


"Om, bagaimana perkembangan pengobatan Dina selanjunya. "


"Sekarang Dina setiap minggu harus kemoterapi dulu, " ucapnya sambil membelai rambut Dina.


Dina pasrah dengan penyakitnya. Tapi tidak dengan papa Dina. Dia akan berbuat yang terbaik buat kesembuhan anak kesayangannya ini.


"Dina sudah 3 kali dilakukan kemoterapi. Rencana hari ini mau dilakukan Bone Marrow Puncture (BMP). Pengambilan sampel sel darah dari sumsum tulang belakang. Untuk mengetahui apakah ada sel kangker yang masih tersisa atau tidak. Dan hal ini sangat menyakitkan Dina. Jarumnya besar dan disuntik di punggung bagian bawah.


Namun tindakan BMP belum sempat dilakukan. Dina harus melakukan tranfusi darah dulu dikarenakan anemia. Mungkin besok tindakan yang menyakitkan itu akan dilaksanakan.


Angga dan teman - temannya pamit pulang. Angga sebenarnya tak mau pulang. Ia ingin menemani Dina di saat - saat seperti ini. Dina membutuhkan semangat dari orang yang dikasihnya. Harus hidup. Demi cinta mereka.


"Kamu pulang aja Ga. Aku gak kenapa - kenapa. Ada papa dan mama di sini, " lirih suara Dina.


"Aku pulang sekarang ya sayang. Besok aku akan kesini lagi untuk menemanimu. Urusan kuliah tidak usah dipikirkan. Semua sudah selesai, tinggal menunggu saat wisuda saja, " jawab Angga sambil menggenggam jemari tangan Dina.


Dina hanya mengangguk saja. Dengan berat hati Angga melepaskan jemari tangan Dina yang dingin. Lalu ia pamit pada kedua orang tua Dina. Diikuti oleh Arif dan teman - temannya yang lain.


Papa dan mama Dina sangat berterima kasih pada Angga dan teman - temannya. Sudah menyempatkan waktu untuk menjenguk Dina. Akhirnya hanya tinggal mereka bertiga di ruang VIP itu.


Dina sangat pasrah dengan penyakitnya. Ia amat sangat lelah. Semua kata - kata penyemangat dari Angga dan teman - temannya tetap saja tidak mengubah pandangan Dina tentang penyakit leukimia yang ia derita. Vonis dokter itu menyakitkan hatinya. Leukimia stadium 4. Tak ada orang yang bisa bertahan hidup dengan kangker darah yang menggerogoti tubuhnya.


Linangan air mata membasahi wajah pucatnya. Pasrah. Kata terakhir yang terhujam dibenak Dina. Bayang - bayang kematian sudah dipelupuk matanya. Lalu ia pun tertidur

__ADS_1


lelap.


__ADS_2