CINTA NARA

CINTA NARA
101 BERTEMU DALAM BAHAGIA


__ADS_3

Pagi baru datang, disambut oleh kicauan burung yang bersahutan membangunkan semesta yang masih berselimut embun nan sejuk dan segar di bawah sinar sang mentari yang mulai menyapa dengan kehangatannya.


Di dalam kamarnya, dua anak manusia yang telah terbangun sejak subuh tadi, kembali berbagi kehangatan dengan saling berpelukan dan bercerita untuk mengawali hari.


Mereka baru saja memulai babak baru kehidupan rumah tangga mereka yang sebenarnya, dengan kenangan malam panjang pertama yang akan selalu terpatri dalam ingatan dan tersimpan di relung sanubari yang terdalam.


"Mas ...."


Suara lirih Nara membuat Yoga tersadar dari lamunannya tentang kenangan semalam. Dia membuka mata lalu mencium kepala istrinya seraya melantunkan doa-doa terbaik untuk keluarga mereka.


"Ya, Sayang? Ada apa?"


Nara masih bermanja di dalam pelukan suaminya, sambil memainkan ujung jemarinya di atas tubuh Yoga. Lelaki itu membalas dengan merapatkan pelukannya untuk lebih menghangatkan tubuh mereka.


"Aku merindukan Raga."


Naluri seorang ibu tak pernah bisa ditahan dan disembunyikan. Mereka akan selalu terikat dan teringat dengan anaknya, di mana pun mereka berada.


"Aku juga, Sayang. Semoga dia tidak rewel selama bersama nenek dan kakeknya."


Yoga meraih ponselnya yang ada di atas meja lalu mencari foto bayi Raga yang tersimpan banyak di dalam galerinya. Dipilihnya satu foto yang terbaru, lalu ditunjukkan pada Nara.


"Bayi tampan kita, Sayang."


Nara menatap ke atas, melihat ke arah yang ditunjukkan Yoga, di layar ponselnya. Bayi berpipi gembul itu tengah berdiri berpegangan pada tepian tempat tidur, dengan satu tangannya melambai dan tertawa lepas ke arah kamera.


"Dia sangat mirip denganmu, Mas."


Nara menatap suaminya bergantian dengan foto Raga. Mereka memang serupa pinang dibelah dua. Bahkan saat disandingkan dengan foto Yoga saat bayi pun, mereka seperti bayi kembar.


Hanya pada bagian mata saja mereka sedikit berbeda. Yoga dengan mata yang lebih kecil namun tajam, sedangkan Raga bermata bulat dan bening seperti milik Nara.


"Tapi matanya seindah matamu, Sayang."


Yoga menatap wajah Nara yang masih terangkat ke atas menatapnya, lalu dia berikan ciuman lembut pada kedua kelopak mata istrinya yang menutup seketika.


"Dia adalah perpaduan kita berdua. Dan aku sangat menyayangi kalian berdua." Yoga tersenyum seraya memegang dagu sang istri untuk melabuhkan ciuman hangat di bibir manisnya.


Nara tersipu malu setelah Yoga melepaskan ciumannya. Dia menyembunyikan wajahnya lagi di dada bidang Yoga yang selalu dirindukannya.

__ADS_1


"Matahari mulai bersinar. Ayo, kita jalan-jalan pagi. Aku sangat rindu suasana pagi di sini."


Yoga bangun dan membuka selimut. Mereka masih mengenakan pakaian tidur yang semalam sudah ada di dalam lemari. Begitu pun pakaian ganti untuk hari ini, semua sudah tersedia.


Setelah Nara mengiyakan ajakannya kemarin sore, Yoga langsung meminta Beno menyiapkan semuanya di villa. Lelaki itu mempersiapkan segala sesuatunya dengan rinci dan lengkap, sementara Beno dengan patuh melaksanakan seluruh titah atasannya sebaik mungkin.


Setelah berganti pakaian santai, mereka keluar dari kamar dan menuju ruang makan untuk mengganjal perut mereka dengan roti tawar dan minuman hangat yang sudah disiapkan oleh Bibi Siti.


Meskipun pintu depan terkunci rapat, Bibi Siti dan Pak Hasan suaminya, memiliki kunci pintu belakang yang bisa mereka gunakan untuk masuk ke bangunan utama, sekedar untuk memasak atau menyiapkan makanan dan minuman, setiap kali ada yang menginap di villa.


Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi, saat Yoga dan Nara mulai melangkahkan kaki menyusuri jalanan di sekitar villa keluarga mereka.


Keduanya terus berjalan bergandengan tangan dan mengedarkan pandangan ke area persawahan di sekitar mereka. Di kejauhan, tampak barisan bukit kecil yang mengitari wilayah tersebut, dengan kabut yang masih menyelimuti.


"Ternyata ada banyak bangunan villa di sini." Nara melihat ke arah deretan villa yang berjejer di sisi kanan, sementara villa mereka tadi berada di sisi kiri dan berada paling ujung serta berukuran lebih besar dan lebih luas dari bangunan yang lainnya di sana.


"Ya. Ada beberapa pemilik villa di wilayah ini. Mereka menyewakannya untuk para pengunjung yang ingin menginap dan berwisata di sekitar sini."


Yoga memperhatikan sebuah villa yang berada tepat di depan mereka dengan posisi berseberangan jalan. Dia juga melihat dua orang yang merupakan pasangan suami-istri, keluar dari salah satu villa yang berderet di sana. Mereka tampak sangat bahagia dan terus merapatkan pelukan.


"Salah satu pemiliknya adalah mereka."


Yoga menggenggam erat tangan istrinya seraya menunjuk ke arah yang dimaksud dengan pandangan matanya. Nara mengikuti arah mata suaminya dan mendapati pemandangan yang sama seperti yang dilihat Yoga sebelumnya.


Yoga menganggukkan kepala. Terlihat oleh Nara, sedikit ketegangan di wajah lelaki itu. Dia tahu, pasti karena mereka harus bertemu dengan kedua orang itu.


Sama seperti Yoga dan Nara, kedua orang tersebut juga menghentikan langkah manakala melihat Yoga dan Nara yang berjalan kian mendekat ke arah mereka.


Dengan hati was-was, tangan Yoga berpindah merengkuh tubuh Nara dan mendekapnya, lalu mereka menyeberang menuju ke arah dua orang tersebut.


"Selamat pagi, Alan, Sasha." Yoga mendahului menyapa mereka. Nara dengan tenang mengikuti suaminya untuk menyapa keduanya.


Alan dan Sasha saling berpandangan lalu membalas sapaan mereka dan menyambut uluran tangannya. Yoga bersalaman dengan Alan, sementara Nara dengan Sasha.


"Kalian di sini juga? Menginap di mana?" Tanya Alan basa-basi.


"Villa yang di ujung atas itu adalah peninggalan dari orangtuaku." Yoga menoleh ke belakang dan menunjuk ke arah villa miliknya.


Nara yang sejak tadi diam, memperhatikan perut buncit Sasha, wanita itu ternyata sedang hamil besar.

__ADS_1


"Selamat atas kehamilannya, Sha. Sudah berapa bulan? Sepertinya sudah besar dan sangat aktif."


Nara mengelus perut Sasha dengan lembut. Dia merasakan gerakan halus dari calon bayi di dalam sana. Naluri keibuannya muncul begitu saja tanpa memandang siapa yang ada di hadapannya. Lagipula, dia sudah melupakan semuanya dan mengubur kenangan masa lalunya.


"Sudah tujuh bulan dan dia memamg sangat aktif." Sasha menjawab dengan senang hati karena Nara memperhatikan kandungannya.


"Semoga nanti persalinannya lancar. Ibu dan bayinya sehat tak kurang suatu apa pun." Nara mendoakan mereka dengan tulus.


"Aamiin ...!" Jawab Alan dan Sasha bersamaan.


"Terima kasih, Ra, Ga." Alan menambahi lagi.


Setelah berbincang sebentar, mereka berpisah untuk melanjutkan tujuan masing-masing. Yoga kembali menggenggam tangan Nara dan berjalan ke arah persawahan, sedangkan Alan menemani Sasha berjalan-jalan di sekitar villa mereka saja.


"Mengapa wajahmu tadi menjadi tegang, Mas? Kamu seperti sedang gelisah?" Nara melepaskan genggaman mereka lalu melingkarkan tangannya di pinggang Yoga.


Yoga membalasnya dengan mendekap erat bahu Nara dan mencium keningnya sambil terus melanjutkan langkah mereka.


"Aku hanya mengkhawatirkan dirimu, Sayang. Aku takut kamu menjadi sedih karena bertemu dengan mereka."


Nara menghentikan langkahnya diikuti Yoga. Wanita itu menatap suaminya sambil tersenyum manja dan meletakkan tangannya di atas dada Yoga.


"Untuk apa aku bersedih, jika kebahagiaanku sendiri sudah ada bersamaku dan selalu berada di sampingku." Jantung Yoga berdegup kencang mendengar ucapan istrinya, dan Nara pun merasakannya.


"Sejak aku menerimamu dan melabuhkan hatiku padamu, maka sejak saat itulah aku hanya akan menjadi milikmu seutuhnya, Mas. Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dan sempurna bagiku selain bersamamu dan bersama Raga, putra kita."


Ucapan Nara yang mengalir dengan tenang dan lancar dari bibirnya, membuat hati Yoga bergetar indah disertai desiran halus yang terus menyisiri rongga dadanya. Seketika haru menyeruak di kalbu, membuatnya tersenyum bahagia tanpa ragu lagi.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2