
Sudah hampir 3 bulan ini Nara tinggal di Jakarta. Berita baik pun datang menghampirinya. Novel pertama Nara ternyata sudah dicetak. Di luar perkiraan Nara sebelumnya.
Novel Nara yang berjudul Kelana dicetak awal 3 ribu eksemplar. Bukan main bahagianya. Nara. Pihak penerbit mengatakan dicetak di luar jadwal yang ditetapkan. Mengingat bulan ini adalah saat yang tepat sekaligus pihak penerbit mau mengadakan event book fair.
Pemilihan tempat book fair di rencanakkan di dalam balai mahasiswa kampus tempat Angga dan Arif kuliah. Book fair ini dilangsungkan selama 2 hari berturut - turut. Selain menyediakan buku - buku pelajaran baru dan novel. Event ini juga dihadiri oleh penulis ternama yang akan memberikan tips cara menjadi penulis hebat.
Penerbit memang pintar mencari waktu yang tepat untuk meluncurkan sebuah novel. Dengan menggaet penulis kenamaan akan menarik minat orang - orang untuk berduyun - duyun datang.
Kelana novel perdana Nara. Menceritakan seorang anak perempuan yang harus berjuang untuk mencapai cita - cita yang diinginkan oleh ibunya. Bagaimana lika liku perjalanannya sehingga ia begitu mencintai pekerjaannya. Semua dikupas tuntas dalam novel ini
Hari yang telah ditentukan tiba. Semua mahasiwa dan masyarakat umum datang dalam perhelatan book fair kali ini. Hari sabtu di akhir bulan April.
Hari pertama book fair dimulai dari jam 8 pagi. Selesai acaranya pukul 5 sore. Hari kedua dimulai juga dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang.
Memasuki hari pertama book fair. Pengunjung pertama pada pagi hari banyak dari kalangan masyarakat umum. Para pecinta buku ini berbondong bondong masuk ke dalam balai mahasiswa yang menjadi tempat book fair dilaksanakan.
Animo yang besar dari kalangan pecinta buku dan komunitas para penulis pemula hadir dalam acara ini. Diiringi alunan musik akustik menambah semarak acara book fair ini.
Satu persatu acara yang dikemas penerbit mampu menggugah minat para pecinta buku ini. Banyak dari mereka telah memboyong buku - buku yang menarik minat mereka.
Tak terasa hari menjelang siang. Jam di pergelangan tangan Nara menunjuk pukul 13. 30 Wib. Penulis kenamaan dijadwalkan hadir sekitar jam 3 sore. Waktu sebelum jam 3 digunakan oleh penerbit untuk memperkenalkan novel terbitan mereka yang berjudul Kelana.
"Assalamualaikum waramatulah hiwabarakatuh , selamat siang semuanya.
Sebelum penulis Tere Liye hadir di sini. Kami memperkenalkan penulis muda, wanita cantik dari Sumatra, dari Bengkulu. Inilah dia Ara Dilla, " ucap MC laki - laki yang bersuara renyah dan lantang melalui microfonnya.
Dari kerumunan orang tampak Angga , Dina dan Arif berdiri bersama di acara book fair. Mereka asyik memilih buku. Saat nama Bengkulu disebut, sontak membuat Angga dan Dina terkesima. Arif hanya diam memandang keterpanaan Angga dan Dina.
Saking penasaran Angga dan Dina mendekati panggung. Berdiri di belakang pengunjung yang mendapat tempat duduk. Kursi yang disediakan hanya 50 kursi. Terbatas dikarenakan pengunjung yang lain bisa mendengarkan sambil berbelanja buku yang ada pada kanan dan kiri tempat duduk tersebut.
Tampak Nara yang tadinya duduk. Kemudian berdiri sebentar saat namanya disebut. Nara tersenyum kepada semua orang yang hadir saat itu. Lalu ia duduk kembali.
Nara sang penulis hadir di panggung untuk mengenalkan novel perdananya. Nara menggunakan nama pena Ara Dilla. Nama ini memiliki arti tersendiri bagi Nara.
Saat Nara duduk kembali. Ia melihat Angga dan Dina diikuti Arif berdiri di depan tepat berhadapan dengan Nara. Saat bertatap muka dengan Angga. Tampak Angga sepertinya tak mampu menatap mata indah Nara. Ada
__ADS_1
rindu lewat tatapan mata itu.
Nara tampak Anggun dengan menggunakan celana panjang bahan berwarna coklat krem dipadukan dengan baju kemeja lengan pendek berwarna kuning muda bercorak batik besurek khas Bengkulu. Memakai sepatu flat shoes berwarna coklat muda. Dengan rambut hitam sebahu yang dibiarkan tergerai indah dipermanis dengan bandana tipis berwarna kuning keemasan yang menghiasi rambut hitamnya.
Semua mata memandang sang penulis muda itu. Begitu pula Arif. Tampak ia begitu bahagia
melihat Nara bisa duduk di depan panggung balai mahasiswa ini. Ada rasa bahagia menyelinap di lubuk hatinya saat melihat keberhasilan Nara sudah sampai pada tingkat ini.
Sesi acara bedah Novel penulis muda itu dimulai. Banyak yang bertanya dari mana ide sang penulis. Membuat cerita memotivasi anak muda untuk menggapai cita - cita yang penuh liku.
Dina dengan antusias membaca novel Nara yang sudah ada digenggamnya. Dibacanya kata demi kata pada bab satu. Susunan kata yang memikat dengan alur yang tidak monoton membuat Dina larut dalam petualangan itu.
Dari pihak kampus juga memberikan tanggapan tentang konten isi novel Kelana.
Semangat anak muda jatuh bangun dalam menggapai cita - cita. Tak kenal lelah meski banyak hambatan untuk mencintai pekerjaan yang diawali dari tidak tahu dan tidak menyukai pekerjaannya. Lalu berusaha bangkit dan menerima pekerjaan itu sebagai anugerah sang ilahi.
Akhirnya sang penulis muda itu tersenyum bahagia. Dilihatnya Arif dan Dina masih berada diantara para pecinta buku yang lain.
"Tapi ... ke mana Angga? tiba - tiba ia hilang, " ucap Nara dalam hati.
Dari jangkauan mata Nara ia berusaha melihat ke sekeliling ruangan yang notabene penuh sesak manusia. Masih tak tampak sosok Angga dihadapannya.
Sambil menunggu sang penulis kenamaan datang. Pihak penyelenggara memunculkan penyanyi jebolan rising star untuk menunggu sang penulis yang telah dinanti para pengunjung.
Alunan lagu dari andmesh dengan lagu hitsnya Cinta Luar Biasa mampu membius para pengungjung untuk ikut bersenandung dalam iringan musik akustik.
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
__ADS_1
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Lagu ini mengalun indah. Membuat Arif ikut bersenandung mengikuti lagu ini. Nara kemudian menghampiri Arif dan Dina yang masih berdiri di depan panggung.
"Hei ... , ini keren banget Nara. Aku baru baca bab 1 saja sudah ikut tenggelam dalam perjalanan Kelana, " ucap Dina sambil menunjuk buku yang sudah ada dalam genggamannya.
"Terimakasih Dina, aku tersanjung dengan kata - katamu, " jawab Nara sambil tersenyum.
"Iya Nara ... , itu memang keren banget. Latarnya membuat kita seakan berada di Bengkulu," ucap Arif tak kalah bersemangat.
"Iya terimakasih semuanya, " ucap Nara.
"Tapi ... ngomong - ngomong Angga mana ya Rif ? " ucap Dina sambil matanya mencari Angga dalam kerumunan banyak orang.
"Baiklah ... hari ini aku traktir makan - makan ya, " ucap Nara mengalihkan pemhicaraan Dina.
"Baiklah ... kita makan - makan, " ucap Dina.
"Iya Din. Kita makan di cafe deka atrium ya. Tapi naik mobil kamu ya, " ucap Arif pada Dina.
"Ah ... siapp, " ucap Dina pelan.
Tak berapa lama sang penulis kenamaan yang ditunggu datang juga. Semua mata tertuju padanya. Nara , Dina dan Arif sangat antusias dengan kehadirannya.
Tips menjadi penulis hebat dan kreatif. Banyak ilmu yang diperoleh dari sang novelis ini. Menggugah minat Nara untuk terus berkiprah dibidang yang sama dengan penulis ini.
Tak jauh dari keberadaan Nara, Arif dan Dina. Tampak Angga berada dikerumunan orang yang hiruk pikuk berburu untuk membeli buku diskon. Sesekali ia curi pandang ke arah Nara. Ingin rasanya mengucapkan selamat atas keberhasilan Nara.
Diamatinya dari kejauhan. Nara , Arif dan Dina. Mereka tampak akrab satu sama lain. Angga tak sanggup berhadapan dengan Nara. Takut. Takut karena pernah menyakiti hati gadis cantik itu. "Andai ... aku bisa memutar waktu, " gumam Angga penuh penyesalan.
Tak tahu harus berbuat apa. Ya, menghindar. Menghindar adalah jalan terbaik buat Angga saat ini. Setidaknya dia tak harus menghadapi situasi canggung bila berhadapan dengan Nara.
Meninggalkan kerumunan orang yang berada dalam balai mahasiswa ini. Akhirnya Angga memutuskan untuk pulang kekosannya. Dibiarkannya suara dering handphonenya dan getar suara Wa dalam tas ranselnya berbunyi.
__ADS_1
Kakinya terus melangkah mengikuti kata hatinya. Menyusuri jalanan menuju pulang.
Di tempat lain Dina tampak gusar berada diantara Arif dan Nara. Dina sangat khawatir dengan menghilangnya Angga. Beberapa kali di telpon dan pesan Wa tak di jawab sama sekali. Di manakah Angga ? kenapa dia tiba - tiba menghilang? semua berkecamuk dalam benak Dina. "Ah, semoga tidak terjadi apa- apa, " gumam Dina sambil menampik pikiran buruk yang berkecamuk dalam pikirannya.