CINTA NARA

CINTA NARA
2.102. AKU PERGI SEKARANG


__ADS_3

Beno terus mondar-mandir di depan ruang operasi. Sesekali matanya melihat ke arah lampu di atas pintu, yang lagi-lagi masih tetap menyala sejak dua jam yang lalu.


Darahnya sudah diambil pertama kali tadi, untuk menolong sang atasan yang mengalami perdarahan cukup parah menjelang dilakukannya operasi. Selain dirinya, Pak Budi juga sedang diambil darahnya di ruang pengambilan darah.


"Beno, bagaimana keadaan Mas Yoga sekarang?"


Alam datang bersama Embun istrinya setelah dihubungi oleh Beno. Yoga pernah berpesan padanya, jika suatu saat terjadi sesuatu padanya, dia harus menghubungi Ardi dan Alam.


Karena situasi yang genting dan di luar dugaan, Beno memutuskan untuk menghubungi Alam lebih dulu, sebelum akhirnya Ardi juga dia hubungi karena dokter tersebut baru beberapa hari yang lalu datang kemari untuk membesuk Nara.


"Operasinya masih berlangsung, Pak. Dan sejak tadi belum ada dokter maupun perawat yang keluar untuk mengabarkan kondisi Pak Yoga."


Pak Budi terlihat berjalan mendekati mereka, usai mendonorkan darahnya untuk tuan mudanya yang sudah seperti anak sendiri.


Menyapa dengan hormat kepada kedua tamunya, lelaki paruh baya itu meminta ijin untuk duduk beristirahat guna meredakan rasa pusing dan lemah yang dirasakannya.


"Di mana Mbak Nara? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Embun yang mengkhawatirkan kondisi sahabatnya yang tengah mengandung.


""Emm ... sebenarnya sudah beberapa hari ini Ibu Nara juga dirawat di sini. Ada seseorang yang mengirimi kue yang sudah dicampuri racun, sehingga Ibu dan kandungannya sempat mengalami kritis."


Alam dan Embun saling berpandangan lantaran keduanya sama sekali tidak mengetahui kabar tersebut sebelumnya.


Yoga memang sengaja menyembunyikannya dari orang lain karena Nara pun tidak diberitahu tentang peristiwa yang sebenarnya dia alami.


"Apakah dia baik-baik saja sekarang?" Embun ingin segera menemui Nara.


"Ibu Nara sudah membaik dan tinggal memulihkan kesehatannya secara umum. Tapi Pak Yoga menyembunyikan cerita yang sebenarnya dari Ibu."


Beno akhirnya membuka semuanya. Mulai dari hari di mana Nara dikirimi kue beracun, sampai pada kejadian hari ini yang membuat keadaan Yoga masih belum bisa dipastikan, antara hidup dan mati di atas meja operasi.


Tak lama kemudian, bertepatan dengan kedatangan Alya dari klinik, Embun dan dokter sahabatnya itu segera membesuk Nara bersama-sama.


Sesuai arahan dari Alam dan Beno, mereka tidak mengatakan hal apa pun pada Nara sampai kondisi kesehatan wanita hamil itu pulih sepenuhnya lebih dulu.


"Bagaimana keadaanmu, Mbak?" Embun mendekat dan memeluk sahabatnya yang sudah duduk bersandar di atas pembaringan.


"Aku baik-baik saja, Mbak Embun. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang kemari."


Nara sedikit terhibur dan sejenak melupakan ketakutannya, dengan kehadiran kedua wanita anggun sahabatnya tersebut.

__ADS_1


"Aku minta maaf karena baru diberitahu tentang sakitmu ini. Tapi syukurlah sekarang kondisimu sudah pulih dan sehat kembali." Embun terus melanjutkan obrolan dengan Nara.


Alya sendiri lebih banyak diam karena dia harus siaga dan memastikan bahwa kondisi kandungan Nara tetap kuat dan tidak akan terpengaruh saat nanti wanita itu mengetahui kondisi Yoga yang sebenarnya.


Apa pun yang terjadi nanti, jangan menjadi lemah lagi, Ra. Kamu harus kuat demi calon bayi di dalam kandunganmu, juga demi Raga putra sulung kalian.


.


.


.


Di ruangannya, Nara sekarang sudah ditemani oleh Ibu dan Bapak, yang segera mencari penerbangan terawal agar bisa secepatnya mendampingi putri mereka yang tengah dirundung kemalangan yang dia sendiri tidak mengetahuinya.


"Apa Bapak dan Ibu sudah bertemu dengan Mas Yoga?"


Pertanyaan Nara membuat kedua orangtua itu kesulitan untuk menjawabnya karena semua hal masih harus mereka sembunyikan dari wanita tersebut.


Bapak hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Beliau berharap putrinya tidak lagi melontarkan pertanyaan lain seputar Yoga yang terus dicarinya karena tak kunjung kembali dan menemuinya.


Apa mungkin saat aku tertidur tadi, Mas Yoga sudah datang dan menemaniku di sini, tapi sekarang dia sudah pergi lagi karena masih ada pekerjaan lain yang harus segera diselesaikannya?


"Aku masih ada beberapa urusan di luar. Istirahatlah dan jangan pikirkan apa pun lagi. Kamu harus cepat sehat dan pulang ke rumah. Ada Raga yang sudah menunggu kepulanganmu. Dia sangat merindukan ibunya."


Lelaki yang dirindukannya itu mencium keningnya sangat lama. Sentuhan bibir yang penuh kelembutan itu, dirasakan Nara dengan mata terpejam sembari meresapi ciuman yang tiba-tiba telah berpindah ke bibir manisnya yang menyambut dengan penuh kehangatan.


Setelah beberapa saat beradu kehangatan dan kelembutan dalam ciuman yang terasa berbeda itu, Yoga pamit untuk menyelesaikan tugasnya.


"Aku harus pergi sekarang. Jangan menungguku jika kamu sudah lelah dan ingin beristirahat. Jaga dan utamakan kesehatan calon anak kita di dalam kandunganmu."


Nara mengangguk dan mendengarkan semua pesan yang terucap dari bibir Yoga yang baru saja memberinya ciuman terakhir yang terasa begitu istimewa tersebut.


"Sayang, aku pergi sekarang ...."


Setelah berpelukan sangat erat, Nara melepaskan kepergian Yoga dengan berat hati.


Dipandanginya tubuh tegap sang suami yang berjalan menjauh darinya dan akhirnya menghilang di balik pintu yang kembali tertutup rapat.


Nara mengerjap dan kembali tersadar dalam kenyataan. Dia masih meyakini bahwa semua itu benar-benar terjadi dan baru saja dialaminya, meskipun dirinya tidak begitu jelas mengingatnya.

__ADS_1


Sementara itu di luar ruangan Nara, petugas kepolisian telah berjaga di depan ruang operasi. Lampu di atas pintu pun masih tetap menyala seperti sebelumnya.


Semua yang ada di tempat itu hanya bisa menunggu sampai ada kabar dari dalam ruangan di hadapan mereka.


Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam ruang operasi. Tapi yang pasti seluruh petugas medis tengah berjuang mempertahankan nyawa yang harus diselamatkan demi tugas mulia berazaskan kemanusiaan.


Peluru telah berhasil dikeluarkan dari tubuh pasien yang mereka tangani. Luka yang menganga di luar dan di dalamnya telah dijahit dan ditutup kembali untuk menghindari perdarahan yang lebih parah.


Tapi tubuh pasien tersebut tetap diam tanpa menunjukkan reaksi apa pun atas tindakan yang dilakukan oleh seluruh petugas medis yang berusaha sekuat kemampuan.


Tak ingin menyerah begitu saja, para dokter dan perawat kembali bergerak lebih cepat untuk mengupayakan munculnya reaksi spontan dari pasien khusus tersebut.


Hingga akhirnya setelah lebih dari tiga jam berjuang dengan kondisi pasien yang tidak stabil sejak awal, seorang dokter keluar dari ruang operasi dan berdiri di depan pintu di mana lampu di atasnya telah dipadamkan, menandakan operasi pun telah selesai dilakukan.


"Bagaimana kondisinya?" tanya salah seorang petugas yang berjaga.


Dokter melepaskan penutup kepala yang digunakan selama proses operasi, lalu menyeka peluh yang membasahi wajah lelahnya yang baru saja berjuang dalam tugas mulia.


"Kami sudah berusaha secara maksimal dan telah melakukan segala upaya penyelamatan yang terbaik, tapi maaf ...."


Semua orang memaku tatapan mereka ke arah dokter yang terlihat semakin tertekan tersebut.


"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya. Pasien sudah dinyatakan meninggal dunia."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2