
Yoga sengaja menitipkan Raga di rumah Bapak dan Ibu bersama Mbak Indah. Dia ingin menguatkan Nara terlebih dahulu karena setelah mengetahui kebenarannya nanti, sang istri pasti akan merasa sangat terpukul seperti dulu dan membutuhkan dukungan penuh darinya.
Dia juga mengalihkan sementara kendali Raga
Properland kepada Beno yang akan tinggal bersama Pak Budi di rumah mereka yang ada di sana.
"Mas, aku kenapa? Mengapa tiba-tiba saja aku pingsan?"
Nara mulai tak sabar untuk mendengar cerita dari sang suami perihal kondisi kesehatannya. Dia ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Yoga mulai menyiapkan dirinya karena dia tidak akan pernah sanggup melihat kesedihan yang mendalam di wajah wanita kesayangannya, apalagi jika sampai menyakiti hingga ke dalam hati Nara yang ingin selalu dia jaga dan dia bahagiakan.
Lelaki itu memeluk erat tubuh sang istri yang duduk merapat padanya di atas tempat tidur. Dia selalu mengingat pesan Ardi, jika Nara harus terus beristirahat dan tidak boleh banyak bergerak.
"Apakah akhir-akhir ini kamu merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dalam tubuhmu?"
Nara menggeleng pelan. Selama ini dia merasa baik-baik saja dan tidak ada keluhan sama sekali.
"Bulan ini kamu sudah mendapatkan haidmu?"
"Belum, Mas. Tapi beberapa hari ini mulai keluar flek sedikit, seperti biasanya jika akan datang haid."
Yoga mengatur nafasnya setenang mungkin untuk meredam sesak yang mulai dirasakannya. Dipejamkan matanya sebelum mulai mengatakan yang sebenarnya.
"Kata Ardi, itu bukan karena kamu akan haid, tapi ...."
"Hah? Tapi apa, Mas?" Nara menoleh ke arah suaminya dan mulai berdebar meskipun belum tahu apa yang akan dikatakan oleh Yoga.
"Jika kamu mengalaminya, itu tandanya kandunganmu bermasalah, Sayang."
"Kandungan? Maksudmu ... aku hamil, Mas?" Nara melebarkan penglihatannya dengan wajah yang mulai memucat lagi.
Yoga mengangguk pelan dengan tatapan sendu.
"Tapi kehamilanmu tidak akan bisa berlanjut, karena di dalam rahimmu hanya ada kantong kehamilan tanpa ada janin di dalamnya."
"Mas ...?!" Wajah Nara semakin pias dan sepasang matanya mulai berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Sayang. Tapi kita harus mengikhlaskan lagi kehamilanmu kali ini ...."
Nara menggeleng berulang kali, belum bisa menerima kenyataan yang disampaikan oleh suaminya.
__ADS_1
"Kamu berbohong kan, Mas? Kamu hanya bercanda. Iya kan, Mas?"
Nara masih belum percaya dengan semua yang diucapkan Yoga hingga membuat lelaki itu semakin sedih melihat wajah sendu istrinya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Sekali lagi maafkan aku, Sayang."
Yoga menarik Nara kembali ke dalam pelukannya dan terus menciumi puncak kepalanya tanpa henti. Dia baru menyudahi setelah mendengarkan isak-tangis istrinya.
Hatinya begitu teriris mendengar isakan Nara di atas dadanya. Dibiarkannya tangan sang istri terus memukuli bagian tubuhnya itu untuk melampiaskan kesedihan yang teramat sangat.
Kehilangan lagi. Mereka kehilangan lagi untuk yang kedua kalinya. Kehilangan calon buah hati yang mereka idamkan dan mereka nantikan agar bisa memberikan adik pada Raga.
Nara terus menangis hingga tubuhnya semakin melemah dan tak berdaya. Tak ada lagi pukulan tangannya, tak ada lagi isakannya, pun tak ada lagi tangisan yang semula menderu kencang.
Tubuh itu bersandar lemas dengan kedua tangan Yoga sebagai penahannya. Lelaki itu terus mendekapnya seerat mungkin, memberikan kehangatan untuk menenangkannya, dengan sentuhan penuh kasih untuk menguatkan hati wanita kesayangannya.
Yoga merasakan tubuh Nara semakin berat dalam dekapannya. Pelan-pelan diangkatnya wajah yang semula menunduk dalam pelukannya. Alangkah terkejutnya lelaki itu begitu mendapati istrinya sudah tak sadarkan diri lagi.
"Sayang! Nara sayang ..., bangun, Sayang!" Dicobanya dengan menepuk-nepuk pelan pipi Nara untuk membangunkannya, namun wanita itu masih belum tersadar juga.
Dengan sigap Yoga membaringkan tubuh istrinya dengan tumpukan bantal yang tinggi, lalu mengambil minyak aroma terapi dan dioleskannya di seputar hidung Nara.
Karena tak ingin meninggalkan sang istri, Yoga menghubungi Bibi Asih melalui ponsel dan memintanya untuk segera mengantarkan teh manis hangat untuk Nara.
Tak lama kemudian wanita paruh baya itu sudah datang dengan membawa secangkir teh manis hangat sesuai permintaan Yoga.
"Mbak Nara belum siuman, Mas?"
Yoga hanya menggeleng sambil terus memandangi istri yang sangat dicintainya. Dielus-elus keningnya dan sesekali diberikannya ciuman sayang dengan rasa hati yang terdalam.
Bibi Asih meletakkan cangkir yang dibawanya di atas meja lalu mendekati Yoga yang duduk di tepi tempat tidur dengan wajah sedihnya.
"Bibi turut prihatin, Mas. Tapi kalian tidak boleh berlarut-larut memikirkannya. Mungkin memang belum waktunya Allah memberikan kepercayaan lagi. Ikhlaskan saja, InsyaAllah kalian akan segera dianugerahi penggantinya."
Yoga hanya bisa mengangguk dan terus memaku perhatiannya pada Nara. Hanya wanita itu yang menjadi pusat perhatiannya saat ini. Dia ingin Nara segera sadar dan bisa menerima kenyataan pahit ini.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara lirih Nara yang merintih pilu memanggil suaminya.
"Mas ...." Yoga mendekat dan terus menatap istrinya yang sudah membuka mata.
"Aku di sini, Sayang. Aku bersamamu." Dilabuhkannya satu lagi ciuman di kening Nara yang mulai terisak kembali.
__ADS_1
Dengan cepat wanita itu bangun dan menghambur ke pelukan Yoga yang segera mendekapnya dengan erat.
"Ssttt ..., tenangkan dirimu, Sayang. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Kita bersama-sama melalui ini dan kita pasti bisa."
Yoag merengangkan pelukan mereka lalu menangkup wajah Nara yang dibasahi air mata. Tanpa sadar, sepasang netra miliknya pun telah digenangi butiran bening yang dengan satu kali kedipan saja sudah luruh dan mengalir ke permukaan wajah.
"Apa pun yang terjadi, itu merupakan kehendak Allah. Tidak bisa kita sangķal dan tidak bisa kita hindari. Ikhlas, Sayang. Kita hanya harus ikhlas dan merelakan semua ini."
Keďua ibu jari Yoga membersihkan sisa air mata di wajah cantik bidadari kesayangannya. Satu senyuman tersungging di bibirnya, membuat Nara pun mulai menarik sudut bibirnya ke atas dan menampakkan senyuman samar-samar.
Tak terhitung lagi berapa kali Yoga mencium kening istrinya untuk menunjukkan cinta dan kasih sayangnya pada satu-satunya wanita yang dicintai dengan tulus dan telah dimilikinya sebagai pendamping hidup.
Setelah Nara mulai terlihat tenang dan tangisannya pun mereda, diambilnya cangkir dari atas meja dan dibantunya Nara untuk meminumnya.
"Minumlah teh manis hangat ini untuk memulihkan kondisimu."
Nara patuh dan segera meneguknya sedikit demi sedikit hingga cangkir itu tak berisi lagi.
"Terima kasih, Mas."
Yoga mengembalikan cangkir kosong yang dipegangnya ke atas meja, lalu kedua tangannya menggenggam tangan Nara dan menciumnya.
"Aku yang harusnya berterima kasih kepadamu, Sayang. Terima kasih atas semua pengorbananmu selama hidup bersamaku."
"Terima kasih atas perjuanganmu untuk memberiku keturunan, seorang putra yang sangat aku dambakan dan kini telah kita miliki. Bagiku, Raga pun sudah cukup jika memang Allah menghendakinya demikian."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
💜Author💜
.
__ADS_1