
"Katakan padaku, Sha. Dengan cara apa aku harus membuktikan ucapanku? Agar kamu percaya sepenuhnya dengan diriku dan perasaanku padamu?"
Sasha terdiam mendengar pertanyaan Alan untuknya. Lelaki itu menyeka air matanya dan membersihkan wajahnya dari sisa tangisan.
"Aku sudah pernah kehilangan dirimu, Sha. Dan aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi lagi. Aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya."
Sasha mulai luluh. Tapi hatinya masih meragu. Lima tahun bersama Nara, apakah Alan bisa secepat ini berpaling dan mencintainya kini?
Sedangkan dirinya sendiri saja, berpisah sepuluh tahun lamanya dengan Alan, tetap tidak bisa melupakannya walau hanya sebentar.
"Katakan saja apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak meragukanku lagi, Sha."
Terkadang cinta memang harus egois. Tidak peduli dengan perasaan orang lain, tidak menghiraukan keberadaan orang lain. Karena cinta juga butuh dimengerti dan dipahami.
Sasha menghela nafas panjang dan meredam tangisannya. Dia memantapkan hati atas keputusan yang akan disampaiķannya pada Alan.
"Aku hanya ingin tidak ada wanita lain lagi yang kamu pikirkan selain aku, apalagi saat kamu ada bersamaku. Aku mau hanya aku yang menjadi prioritasmu dan hanya aku yang berhak atas dirimu."
Sasha menunjukkan ķetegasannya. Dia tidak ingin mengalah lagi, dia harus bisa menjadi satu-satunya bagi Alan.
Selama ini dia sudah cukup bersabar dengan terus meredam gejolak di hatinya, yang merasa belum sepenuhnya dicintai oleh sang kekasih.
"Kali ini aku memang egois. Aku tak ingin lagi berbagi dengan yang lain, meskipun hanya sebentuk kecil perhatianmu."
"Aku ingin kamu menjadikan aku milikmu satu-satunya dan seutuhnya, tanpa kenangan masa lalu apalagi bayang-bayang wanita lain yang masih kamu lihat di belakangku."
Alan tertegun mendengar permintaan Sasha. Permintaan yang sangat mudah dipenuhi, seandainya dia benar-benar sudah bisa melupakan Nara dan menepikannya dari hati.
Namun kenyataannya, Nara masih saja menguasai hati dan pikirannya, kendati dia sudah memilih Sasha dan mengikatnya untuk dimiliki selamanya.
Jadi, siapa sebenarnya yang ingin egois di sini? Sasha yang telah seutuhnya mencintainya ataukah dirinya sendiri yang masih saja membelah hati?
Sasha tahu, diamnya Alan tanpa menjawab langsung permintaannya, sudah menjadi jawaban yang jelas baginya. Lelaki itu belum bisa memenuhi permintaannya, yang artinya masih ada nama Nara di hatinya dan masih ada wanita itu di dalam pikirannya.
Sasha tersenyum menutupi pilu hatinya. Alan tidak bisa mengutamakan dirinya. Setidaknya untuk saat ini dan entah sampai kapan akan tetap demikian adanya.
Perlahan Sasha menurunkan tangan Alan yang menangkup wajahnya. Menepiskan ke bawah lalu melepaskannya. Masih mencoba tersenyum, ditatapnya sepasang mata Alan dengan sendu.
"Diammu sudah menjadi jawaban untukku. Aku belum menjadi satu-satunya untukmu. Masih ada masa lalu yang belum bisa kamu lepaskan demi aku."
Buru-buru Alan kembali memegang kedua tangan Sasha dan mendekapnya.
"Bukan seperti itu, Sha. Aku ...."
Sasha menarik satu tangannya dan meletakkan jari telunjuknya tepat di tengah bibir lelaki tercintanya seraya menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Tak perlu membela dirimu dan tak perlu menjelaskan apa pun lagi."
Alan terdiam dengan perasaan yang berkecamuk tak menentu.
"Aku tidak akan memaksakan keinginanku untuk kamu penuhi saat ini juga. Aku sadar, aku hanyalah orang luar yang baru saja hadir kembali dan ingin masuk ke dalam hidupmu."
"Mana mungkin aku bisa mengalahkan bahkan meniadakan keberadaannya yang sudah bersamamu lebih lama dan dalam hubungan yang sangat erat selama ini."
Alan menggeleng cepat dan tegas. Dia merasakan aura kehilangan seolah akan kembali menghampiri dirinya.
"Tapi aku mencintaimu, Sha. Sungguh, aku tidak membohongimu ...." Alan terus berusaha meyakinkan kekasihnya.
"Aku tahu dan aku percaya itu. Kamu mencintaiku. Tapi kamu juga mencintainya. Dan aku tidak mau berbagi hatimu dengan wanita lain. Aku mau hatimu hanya untukku, hanya milikku."
Meskipun hatinya tak rela, Sasha harus melakukannya. Dia harus tegas dengan pendiriannya, demi cintanya pada Alan yang ingin terus diperjuangkannya.
Karenanya, dia ingin Alan pun melakukan hal yang sama. Sasha ingin Alan memperjuangkan cinta yang dia miliki untuk dirinya.
"Aku akan pergi menjauh. Aku akan menepi untuk sementara waktu." Sasha menguatkan hatinya untuk mengatakan semua itu.
Berat di hatinya tak lagi dirasakan, demi apa yang ingin dimilikinya di akhir perjuangannya nanti.
Alan serta-merta memeluknya, mendekap tubuhnya begitu berat hingga dirinya kesulitan untuk bernafas.
"Jangan pergi, Sha. Aku mohon, tetaplah bersamaku ...," pinta Alan dengan suara mengiba penuh kesedihan.
Dipejamkan kedua matanya rapat-rapat, berusaha meresapi setiap detik pelukan mereka saat ini, sebelum dia nanti melepaskannya dan pergi meninggalkan sang kekasih.
Sama-sama bertahan dalam pelukan yang penuh rasa dilema bagi keduanya, Alan dan Sasha menyatukan nafas dan degup jantung mereka yang bersahutan cepat tak terkendali.
Pecah sudah tangis Sasha, dengan air mata yang berderai lebih deras dari sebelumnya. Alan pun mengikuti, sama-sama terisak penuh sesak dengan sang kekasih.
Cukup lama pelukan mereka tak terlepaskan, hingga Alan mulai mengatur nafasnya dan menarik kepalanya dari balik bahu Sasha. Pandangan mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat.
"Aku mencintaimu, Sha ...."
Sasha tak kuasa untuk tidak membalasnya.
"Aku juga mencintaimu, Lan ...."
Sama-sama menundukkan pandangan ke arah yang sama, mereka mulai menyatukan bibir dalam sebuah kecupan singkat.
Satu kali ..., dua kali ..., hingga yang ketiga kalinya kecupan itu berubah menjadi ciuman panjang yang penuh hasrat.
Alan terus menguasai ciuman mereka dengan penuh gejolak di hatinya. Ketakutan akan kehilangan Sasha membuatnya tak ingin sedikit pun melepaskan pagutan mereka.
__ADS_1
Sama halnya dengan Sasha. Dia tidak berusaha untuk menolak dan mengakhiri ciuman mereka. Dia membiarkan semuanya terjadi begitu saja, saat bibir mereka kian menyatu, semakin dalam dan semakin basah.
Hati yang menghangat dan tubuh yang memanas, membuat gairah mereka semakin memuncak, menginginkan hal yang lebih dari apa yang sudah mereka lakukan.
Alan mulai hilang kendali. Dipenuhi rasa takut dan tak ingin kehilangan sang kekasih, dia mulai menggerakkan kedua tangannya, hendak menyentuh tubuh Sasha lebih intim.
Sasha yang merasakannya mulai meredakan hasratnya sendiri. Perlahan dia menarik bibirnya dan menjauhkan tubuhnya dari sentuhan Alan. Wajahnya merah padam sisa gairah yang masih coba diredakannya.
Alan tak rela saat Sasha melepaskan diri darinya. Meski begitu, dia mencoba mengalah dan turut menepis hasrat yang mulai menguasai dirinya.
Inilah saatnya. Sasha merapikan penampilannya dan kembali bersikap setenang mungkin. Berbeda dengan Alan, yang masih terlihat gelisah dan tidak tenang.
"Aku akan pergi. Tolong jangan cari aku dan jangan temui aku saat di hatimu masih tersimpan namanya dan segala hal tentangnya."
Seketika tubuh Alan merosot turun ke lantai, bersimpuh di hadapan Sasha yang terus menghindari tatapannya.
"Aku mohon, Sha. Jangan lakukan ini kepadaku. Aku tidak ingin kehilanganmu ...."
"Jika kamu tidak ingin kehilangan aku, berjuanglah demi diriku."
Sasha menengadahkan wajahnya, menahan agar tak lagi meneteskan air mata.
"Aku akan selalu menjaga hatiku hanya untukmu. Aku akan setia menunggumu datang dan membuktikan perasaanmu kepadaku."
Alan menyatukan tangan mereka dan menjatuhkan kepalanya di atas kedua lutut Sasha. Namun secepat mungkin Sasha menarik tangannya dan berdiri tegak menghindarinya.
"Datanglah kepadaku, di saat hatimu telah sepenuhnya mencintaiku dan hanya ada aku di dalamnya."
Sasha melangkah keluar, meninggalkan Alan yang terduduk lemas tak berdaya di lantai, dengan pandangan redup melepaskan kepergian wanita yang dicintainya dan ingin dimilikinya.
"Maafkan aku, Sha ...."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
💜Author💜
__ADS_1
.