
"Bagaimana kabarmu, Ra?"
Menjelang siang usai menyelesaikan praktek paginya, Alya bersama Rendy mengunjungi Nara di ruangannya.
"Saya baik-baik saja, Dok. Semuanya karena bantuan Dokter juga."
Nara menyambut pelukan hangat dari Alya dan membiarkan saat dokter itu mengusapi perutnya dengan lembut.
"Terima kasih sudah menangani kandungan saya dengan baik sehinga calon bayi kami tetap sehat dan selamat. Terima kasih juga atas sumbangan darah dari Dokter yang
membuat saya bisa cepat pulih seperti sekarang."
Alya menggeleng pelan dengan senyuman indah di bibirnya, yang juga diperhatikan oleh Rendy. Lelaki itu berdiri di ujung pembaringan bersama Yoga di sampingnya.
"Lupakan semua itu, Ra. Aku hanya melakukan kewajibanku saja, apa yang memang seharusnya aku lakukan."
Dalam hati Nara semakin mengagumi kebaikan dan kerendahan hati Alya. Dokter berhijab anggun itu selalu bertindak cepat dan tepat waktu di mana pun dia berada.
Mereka berempat berbincang hangat untuk beberapa saat, sampai akhirnya Alya pamit karena harus segera berangkat ke klinik.
"Maaf aku harus pergi sekarang karena ada tugas di klinik yang sudah menungguku."
Alya berdiri di tepi pembaringan lalu sekilas menoleh ke arah Rendy yang kemudian mengangguk dan pamit kepada Yoga dan Nara.
"Nanti sore aku akan kemari lagi karena harus memeriksa kondisi kandunganmu. Ingat pesanku, jaga pola makanmu dan jangan sembarangan lagi."
Alya sudah tahu jika Nara tidak diberi tahu tentang penyebab keracunan yang dialaminya sehingga dia hanya berpesan secara umum agar tidak menimbulkan kecurigaan Nara.
Saat Yoga mengantarkan Alya dan Rendy menuju pintu, bersamaan pula pintu tersebut diketuk lalu dibuka oleh Yoga.
Dari luar muncullah sepasang suami-istri sebaya mereka yang tersenyum ramah kepada Yoga juga Nara yang melihatnya dengan terkejut dari atas pembaringan.
Deggg!!! Dari sisi yang belum terlihat dari arah luar, jantung Alya seketika berdegup kencang begitu melihat wajah yang sangat dikenalinya.
Yoga dengan tenang membuka pintu lebih lebar sehingga semuanya terlihat dan saling memandang dengan penuh keterkejutan satu sama lain.
"Dokter Alya!"
Tamu wanita yang tak lain adalah Bunga itu langsung menyapa wanita yang masih berdiri dengan penuh debaran dan tetap berusaha menjaga sikapnya agar tidak terlihat salah tingkah.
__ADS_1
Di samping Bunga, Ardi sang suami merasakan hal yang sama seperti yang baru saja Alya rasakan di hatinya. Lelaki itu terkesiap tak percaya denga kejutan yang dilihat di hadapannya saat ini.
"Alya ...." disebutnya nama itu dalam hati seraya menatap wanita masa lalunya tersebut dengan perasaan yang semakin tak menentu. Ada debaran di hatinya yang serupa dengan debaran yang sering dirasakannya di masa lalu.
Bunga melangkah maju menghampiri Alya dan memberikan pelukan hangat yang mau tak mau disambut Alya dengan pelukan yang sama hangatnya disertai seulas senyuman indah di bibirnya.
Nara memperhatikan semuanya dari atas pembaringan sembari menatap wajah suaminya yang juga sudah menatap ke arahnya dengan pandangan yang sama, tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Meskipun belum mengenal mereka, Rendy dengan ramah mendahului menyapa Ardi dan mengulurkan tangannya yang segera disambut dokter kandungan itu dengan sedikit gugup namun tetap berusaha disembunyikannya.
Alya menangkupkan kedua tangannya di depan dada saat pandangannya beradu dengan pandangan mata Ardi yang sendu menatapnya tanpa berkedip.
Dengan segera Alya mengalihkan pandangannya dan buru-buru undur diri untuk meninggalkan suasana yang membuat hatinya mendadak dipenuhi getaran yang indah.
"Maaf, aku harus segera pergi karena ada tugas yang sudah menungguku. Selamat siang."
Sekali lagi Alya tersenyum dan menggengam erat tangan Bunga, lalu berjalan diikuti Rendy melewati Ardi yang masih berdiri tertegun dan mencuri tatapan diam-diam saat Alya melewatinya tanpa menoleh ke arahnya lagi.
Setelah Alya dan Rendy keluar, Yoga menutup pintu dan mempersilakan kedua tamunya menghampiri Nara yang sudah tersenyum bahagia karena melihat kedatangan Bunga dan Ardi.
Mereka saling menyapa dan berbincang dengan penuh kehangatan seperti biasanya.
Hati perawat yang lemah lembut itu telanjur percaya sepenuhnya kepada sang suami sehingga tidak pernah menyimpan kekhawatiran apa pun di dalam hatinya.
Nara diam sejenak dan tidak langsung menjawabnya. Dia mengalihkan pandangan ke arah suaminya, berharap lelaki itu bersedia menjawab pertanyaan dari Bunga yang juga menjadi pertanyaan di hati Ardi.
"Bukan." Yoga akhirnya menjawabnya dengan tegas membuat Nara bernapas lega.
"Dia adalah salah satu dokter di rumah sakit ini. Dan kebetulan kami sudah saling mengenal cukup baik," lanjut Yoga dengan wajah datarnya.
Bunga mengangguk dan tersenyum.
"Aku salah kira, Mbak. Tadinya aku pikir dia adalah suami Dokter Alya karena mereka terlihat sangat serasi."
Ardi semakin terdiam, menutup rapat mulutnya agar tidak sampai bereaksi apa pun atas ucapan istrinya, meskipun di dalam hati dia merasa tidak nyaman dengan pujian Bunga kepada Alya dan Rendy.
"Mengapa aku harus merasa tidak nyaman dengan semua ini? Bukankah mereka hanya rekan seprofesi di sini? Dan bukankah Alya juga sudah memiliki suami? Ada apa dengan hatiku ini ...??"
Diam-diam Yoga memperhatikan gelagat aneh Ardi dengan sikap bungkamnya. Sementara Bunga melanjutkan pembicaraan mereka, lelaki itu mengajak sahabat kecilnya berbicara di luar ruangan.
__ADS_1
"Ada apa denganmu?" tanya Yoga tanpa menunggu lagi. Mereka duduk berhadapan di teras kamar yang menghadap ke arah taman rumah sakit.
"Aku? Memangnya aku kenapa?"
Ardi berusaha menyembunyikan perasaan yang dirasakannya sendiri sebagai sesuatu yang tidak sewajarnya.
"Apa kamu cemburu dengan mereka berdua?" Yoga terus mencecar sahabatnya dengan tatapan tajam.
"Mereka? Aku cemburu? Tidak ada!"
Dokter kandungan itu terus menghindar meskipun hatinya membenarkan. Dia sendiri masih tidak bisa memahami perasaan anehnya saat ini.
"Kamu boleh mengelak, tapi matamu tidak bisa berbohong, juga hatimu!" tegas Yoga sedikit keras.
Posisi pembaringan Nara berada di tengah ruangan sehingga cukup jauh dari dinding pembatas yang memiliki jendela kaca, sehingga dari dalam ruangan Nara dan Bunga bisa melihat kedua sahabat yang tengah terlibat pembicaraan serius tersebut.
"Apa yang biasanya mereka bicarakan setiap kali bertemu seperti sekarang ini?" Bunga memperhatikan suaminya dari tepi pembaringan Nara.
"Apakah mereka membicarakan masalah perempuan?" lanjut Bunga masih dengan rasa penasarannya.
"Apa pun yang mereka bicarakan, yang pasti mereka tidak akan pernah melupakan istri dan anak mereka, karena mereka berdua adalah para lelaki baik yang setia pada pasangan untuk selamanya," jawab Nara dengan senyuman di wajahnya yang masih sedikit pucat.
Bunga tersenyum masih dengan memandangi Ardi dari kejauhan. Suami yang sangat dicintainya dan selalu dibanggakannya.
"Kamu benar, Mbak. Aku juga percaya bahwa mas Ardi sangat mencintaiku dan akan selalu menjaga kesetiaannya hingga maut memisahkan kami."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.