CINTA NARA

CINTA NARA
2.24. CINTA TANPA ALASAN


__ADS_3

Rencana liburan keluarga Mahendra yang semula direncanakan hanya satu minggu, akhirnya diperpanjang lagi oleh Yoga karena mereka harus menyiapkan acara lamaran antar keluarga yang merupakan tindak lanjut dari pembicaraan Nara dan Indra beberapa hari sebelumnya.


"Mas, bagaimana dengan perusahaan di sana? Apa tidak akan ada masalah jika kamu terllau lama meninggalkan kantor?"


Nara membantu memakaikan kemeja suaminya yang akan pergi ke kantor untuk memimpin rapat perusahaan hari ini.


"Beno akan menggantikanku di sana untuk sementara waktu," jawab Yoga sambil menatap lembut istrinya.


Seperti biasa, sebelum mengaitkan kancing-kancingnya, terlebih dahulu wanita itu melakukan rutinitasnya, menciumi bekas luka operasi di dada suaminya.


Dengan lembut dan penuh perasaan, Nara menempelkan bibirnya di permukaan kulit tubuh Yoga, lalu menciuminya dengan segenap perasaan, dari atas sampai ke bawah, sepanjang bekas luka bersejarah yang selamanya tidak akan pernah bisa hilang tersebut.


Yoga tersenyum sembari meresapi satu per satu ciuman yang diberikan istrinya. Diusapinya kepala Nara lalu diciumnya dengan penuh cinta, usai wanita itu menyelesaikan ritualnya.


"Aku mencintaimu, Mas. Apa pun yang terjadi, hanya kamu yang aku inginkan tetap ada bersamaku."


Sambil memeluk erat tubuh suaminya, Nara menatap wajah Yoga di atasnya yang juga tengah menunduk menatapnya dengan pandangan teduh.


"Aku lebih mencintaimu, Sayang. Selamanya kita akan selalu bersama, saling menyayangi dan mencintai tanpa henti."


Satu ciuman hangat berlabuh di kening Nara, membuatnya memejamkan mata untuk sesaat dengan hati berbunga penuh cinta.


"Kalau kemejaku tidak segera kamu kancingkan, maka aku yang akan membuka kancing bajumu, Sayang." Yoga menggoda dengan berbisik nakal di telinga istrinya.


Sontak Nara melepaskan pelukannya lalu menjauhkan tubuhnya dengan wajah memerah. Dengan cepat dia merampungkan tugas yang tertunda.


Dikaitkannya kancing kemeja Yoga satu per satu lalu dirapikan dengan memasukkan ujungnya ke dalam celana panjang dan terakhir dikencangkannya ikat pinggang yang melilit di pinggang sang suami.


"Selesai!" Wajah Nara tak semerah sebelumnya. Wanita itu tersenyum disertai sentuhan jemarinya yang menata ulang krah kemeja Yoga hingga penampilannya rapi paripurna.


"Terima kasih, Sayang."


Satu kecupan dihadiahkan Yoga di bibir merah muda istrinya yang masih polos alami tanpa riasan apa pun.


"Aku akan pulang saat makan siang nanti. Pastikan kamu memasak makanan kesukaanku."


Setelah mengenakan sepatunya, lelaki itu merangkul bahu sang istri dan berjalan bersama keluar dari kamar menuju ke ruang makan.


"Bubuu ... Yayaah ....!!"


Raga yang duduk bersama kakek dan neneknya tampak riang melihat kedua orangtuanya datang bergabung bersama mereka.


Selama berlibur dan tinggal di rumah orangtua Nara, Raga menjadi semakin dekat dengan kakek dan neneknya. Bocah menggemaskan itu menjadi mandiri dan jarang merengek mencari Yoga maupun Nara karena sudah merasa nyaman bersama mereka.


"Indra mana, Bu?" Nara tak melihat keberadaan adiknya yang beberapa hari lagi akan melamar Rizka, kekasihnya.


"Om Daa ... obiiing ...." Raga menjawab dengan memperagakan tangannya seperti orang yang sedang menyetir mobil.

__ADS_1


"Dia berangkat lebih awal karena akan mengantarkan Rizka ke kampusnya dulu." Ibu menjawab sambil menyuapi cucu pertama kesayangannya.


"Bagaimana dengan persiapan untuk acara lamaran lusa?" tanya Bapak.


Indra memang meminta orangtuanya untuk tidak ikut memikirkan tentang persiapan acara lamaran dan pernikahannya.


Lelaki muda itu tidak ingin merepotkan kedua orangtuanya. Bahkan dengan Nara dan Yoga pun, jika tidak dipaksa oleh Yoga dia tidak akan mau menerima bantuan yang ditawarkan oleh kakak iparnya tersebut.


"Semuanya sudah siap, Pak. Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir lagi."


Yoga sudah meminta bantuan anak buahnya untuk mengatur semua persiapan, termasuk di tempat acara akan diadakan yaitu di restoran Tante Arum.


Hanya cincin lamaran saja yang dipersiapkan sendiri secara pribadi oleh Indra tanpa campur tangan dari siapa pun.


.


.


.


"Dik, terima kasih karena kamu percaya padaku dan bersedia menerima niatanku untuk melamarmu dan segera menikahimu."


Di halaman parkir kampus yang masih lengang, Indra dan Rizka masih berbicara di dalam mobil sembari menunggu jam pertama perkuliahan Rizka dimulai.


"Aku hanya mengikuti kata hatiku, Kak. Dan aku percaya kepadamu. Tolong jaga kepercayaan aku ini ya, Kak."


Rizka adalah gadis yang ceria dan berpikiran dewasa. Indra merasa sangat cocok dengannya karena kekasihnya itu bisa mengimbangi sifatnya yang lebih pendiam dan tertutup.


Indra membelai pipi ranum Rizka yang mulai bersemu merah.


"Aku akan selalu menjaga dirimu dan kepercayaanmu."


Tangan kanan Rizka telah berada di dalam genggaman kedua tangan Indra.


"Aku mencintaimu tanpa alasan, Dik. Tetapi sekarang kamulah yang menjadi alasanku untuk bahagia. Kamulah alasanku untuk tersenyum dan menikmati kebahagiaan ini."


Rizka tersenyum sangat manis, membuat Indra tak bisa menahan diri.


Pelan-pelan dia mendekatkan wajahnya ke hadapan wajah Rizka lalu tanpa permisi dia mencium bibir yang masih mengulas senyuman manis itu.


Cuppp ...!!! Ciuman pertama keduanya berlangsung singkat dan tanpa rencana, terjadi begitu saja di pagi yang masih menyisakan hawa dingin selepas hujan semalaman.


Rizka menutup matanya seketika saat merasakan kehangatan dan kelembutan ciuman pertamanya. Ciuman pertama yang telah dicuri oleh cinta pertamanya.


Desiran halus semakin terasa mengaliri seluruh rongga dadanya, membuat kulit tubuhnya meremang dan menghangat tak terkecuali.


"Maafkan aku, Dik. Aku terbawa suasana hingga berani menciummu."

__ADS_1


Keduanya saling menjauhkan wajah yang sama-sama memerah, mengingat apa yang baru saja terjadi di antara mereka.


Sebelumnya, Indra tidak pernah mencium Rizka sama sekali. Hanya belaian dan genggaman tangan yang berani dilakukannya. Lelaki muda itu sangat menjaga dan melindungi kehormatan kekasihnya.


"Inilah yang aku takutkan jika kita tidak segera meresmikan hubungan kita, Dik. Aku takut kita akan bertindak melewati batas, lebih dari saat ini."


"Karena setan selalu punya cara untuk meluruhkan iman manusia."


Rizka mengangguk lalu menunduk. Dia membenarkan ucapan kekasihnya.


Mungkin selama ini mereka masih bisa menahan diri dan menjaga hasrat. Namun tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya nanti. Sama seperti ciuman pertama yang tak bisa mereka hindari lagi kali ini.


"Saat acara lamaran lusa, aku akan segera menentukan tanggal pernikahan kita. Kamu tidak keberatan kan, jika kita segera menikah setelah aku melamarmu nanti?"


Rizka kembali mengangkat wajahnya dan menatap wajah Indra yang masih dekat di hadapannya. Gadis itu mengangguk dengan hati yang telah mantap sepenuhnya.


"Aku percaya apa pun keputusanmu, Kak."


"Terima kasih, Dik."


Indra mengusap sayang kepala Rizka sebelum gadis itu keluar dari mobil, karena waktu hampir mendekati dimulainya kelas pertama perkuliahannya.


Indra turut keluar dan menghampiri kekasihnya di sisi kiri mobil.


"Masuklah ke kelasmu. Aku akan menjemputmu nanti siang."


Rizka patuh dan segera melangkah meninggalkan kekasihnya yang masih berdiri mengawasinya dengan senyuman lebar di wajah bahagianya.


"Aku mencintaimu, calon istriku!"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2