
Pak Donnie begitu geram terhadap seseorang yang telah membuat istrinya menjadi depresi.
Seseorang yang telah memeras istrinya selama ini. Tak ingin membuang kesempatan ini. Mumpung ia masih menjabat sebagai seorang jendral polisi bintang empat.
Berbekal bukti pengakuan istrinya yang ia rekam langsung dan beberapa bukti yang mendukung. Pak Donnie memerintahkan anak buahnya yang berada di Bengkulu untuk meringkus seseorang yang telah memeras dan mengancam istrinya hampir 25 tahun lebih.
Gerak cepat yang dilakukan oleh Pak Donnie dilakukannya tak lain sebagai tanggung jawabnya sebagai seorang suami yang tak ingin istrinya menderita gara - gara hal ini. Takut istrinya akan mengulangi lagi perbuatan nekatnya. Percobaan bunuh diri sang istri yang memutuskannya Pak Donnie mengajukan surat pengunduran diri untuk pensiun dini sebelum masa jabatannya berakhir.
Spekulasi yang beredar di masyarakat beragam. Lebih banyak lagi berita hoax yang mengatakan sang jendral terlalu keras terhadap sang istri. Ada lagi yang mengatakan kalau sang istri tak bisa memberikan keturunan lagi dan bla bla bla ....
Terlalu banyak opini di masyarakat yang membuat Pak Donnie uring - uringan sendiri. Setelah dipikir - pikir lebih baik ia mengundurkan diri dan menjaga keutuhan keluarganya bersama anak dan istrinya kembali.
""'''''''""
Senin siang hari, pukul setengah satu. Di kediaman rumah seseorang yang tampak sepi. Rumah yang cukup luas dengan pekarangan yang luas juga.
Pintu rumah itu diketuk oleh dua orang anggota polisi berseragam lengkap. Mereka tidak hanya berdua. Ada satu orang sebagai supir berada didalam mobil dan satu lagi berjaga - jaga di depan pagar rumahnya. Jadi ada empat orang polisi menjaga rumah itu.
Tampak si tuan rumah sedang berada di rumah. Terlihat mobilnya yang ia taruh masih di luar pagar. Mungkin ia berencana ingin pergi lagi.
Hanya dua menit kemudian pintu rumah itu dibuka. Keluarlah sang tuan rumah. Ia begitu kaget karena ada tiga polisi yang ada di depannya.
"Selamat siang ... , anda yang bernama Pak Bambang Syaifullah, " sapa polisi muda sambil tangan kanannya diangkat sejajar bahu membentuk sudut empat puluh lima derajat sampai ujung jari - jari menyentuh pelipisnya.
Pak Bambang berusaha setenang mungkin menghadapi polisi yang ada dihadapannya.
Lalu ia pun berkata, " Iya saya sendiri Pak Bambang. Ada apa ya ? "
"Anda kami tangkap karena upaya pemerasan yang ada lakukan dan mengancam seseorang. Ini surat perintah penangkapan anda dan alasan anda di tangkap. Anda berhak bertanya, silahkan bertanya di kantor polisi."
Pak Bambang lalu membaca apa yang di sodorkan pak polisi padanya. Namanya yang tertulis dalam surat perintah penangkapan dan alasan penangkapan tertera dalam selembar kertas yang ia baca.
"Sebentar, siapa yang melaporkan saya, " tanya Pak Bambang.
" Nanti anda bisa tanyakan langsung ke kantor polisi, " jawab Pak Polisi sambil mengeluarkan borgol yang ada di saku celananya.
Sebelum polisi itu mau memborgol tiba - tiba ada suara yang berteriak dari dalam memanggil namanya. " Ayah ... yah ... kamu dimana? "
__ADS_1
" Iya, ayah ada di luar. Kemari sebentar bu, " balas teriak dari Pak Bambang.
Kemudian muncul istri Pak Bambang. Ia begitu kaget atas apa yang dilihatnya. Ada tiga orang polisi berseragam lengkap berada di depannya.
" Ada apa ini, " tanya istri Pak Bambang.
" Suami ibu kami tangkap atas upaya pemerasan dan pengancaman pada seseorang. Untuk selanjutnya bisa di tanyakan di kantor polisi, " jawab polisi yang sedang memegang borgol.
" Ini pasti fitnah. Tidak mungkin suami saya melakukan hal ini, " hardik istri Pak Bambang.
" Ibu berhak bertanya, nanti bisa ditanyakan di kantor polisi saja, " jawab polisi yang satunya lagi.
" Ah, tidak mungkin ... ini tidak mungkin. Jangan bawa suami saya, " jawab ibu menangis sambil memeluk suaminya.
Pak Bambang berusaha menenangkan istrinya dan berkata, " ibu jaga diri baik - baik. Setelah ini ibu panggil Angga. Suruh ia menemui ayah di kantor polisi, "
" Maaf ya bu, " jawab pak polisi berusaha melepaskan pelukannya dari tubuh Pak Bambang.
Pak polisi yang telah memegang borgol dari tadi langsung memborgol Pak Bambang. Dengan tanpa perlawanan akhirnya Pak Bambang di giring menuju kantor polisi.
Isak tangis dan teriakan ibu terdengar oleh para tetangganya. Mereka melihat langsung Pak Bambang di bawa ke dalam mobil polisi. Para tetangga tidak berani mendekat. Setelah mobil polisi itu hilang dari pandangan mereka. Barulah mereka mendekati istri Pak Bambang yang terduduk lemas di jalan depan pagar rumahnya. Isak tangisnya mengantar sang suami menuju rumah prodeo.
" Ayuk ... , ayuk baik - baik saja kan, " tanya Bu Asih tetangga sebelah rumah sambil berjongkok mengikuti istri Pak Bambang.
Lalu Bu Asih dan Bu Lia mereka berdua berusaha menuntun istri Pak Bambang menuju dalam rumah. Sampai di ruang tamu mereka menduduki istri Pak Bambang yang tampak shock atas di tangkapnya suaminya. Kemudian bu Lia mengambil air minum di dapur dan bu Asih masih tetap mendampinginya di ruang tamu.
Beberapa orang tetangga yang melihat kejadian Pak Bambang di tangkap polisi berduyun duyun mendatangi rumahnya.
Rumah Pak Bambang yang awalnya sepi. Dikarenakan Angga berada di kantor saat ini, sedangkan Dion adiknya lagi kuliah. Tinggal istri Pak Bambang seorang diri di rumah.
Tampak ibu - ibu lain menemani istri Pak Bambang yang masih saja terisak. Semua orang yang melihatnya langsung iba. Air mata ibunya Angga terus saja mengalir tanpa bisa ia kendalikan.
Tak lama kemudian, bu Lia datang dengan segelas air putih di tangannya.
"Bu Rita ... nih diminum airnya, " ucap bu Lia sambil menyodorkan segelas air putih yang berada di tangannya.
"Makasih, " jawab bu Rita sambil meminum seteguk air dan diletakannya di atas meja.
__ADS_1
" Bu Rita yang tabah ya ... ," ucap bu Asih sambil menepuk halus punggung bu Rita.
" Bu Rita ... mau saya bantu telepon Angga dulu gak ... , agar ia segera pulang, " tawar bu Asih.
Bu Rita hanya mengangguk saja tanda ia setuju. Lalu ia menunjuk ponselnya yang tergeletak di samping buffet TV yang berada di ruang tamu.
Ponsel bu Rita kini sudah ada di tangan bu Asih. Ia kemudian mencari nomor telepon Angga dan segera langsung menghubunginya.
" Assalamualaikum Angga, " sapa bu Asih.
"Waalaikum salam, ada apa ya bu ? " jawab Angga yang ia kira ibunya yang menelpon dirinya.
" Maaf ga' , ini bu Asih tetangga sebelah rumah. Mau ngabari supaya kamu segera pulang sekarang. Gak bisa nanti sekarang ya !! " jawab bu Asih terburu - buru lalu ia mematikan ponselnya.
" Hah ... , ada apa ya ? " pikir Angga sambil menaruh ponsel di dalam saku celana panjangnya. Ini pasti ada apa - apanya di rumah. Tidak mungkin bu Asih menelpon kalau tidak ada kejadian yang menimpa keluarganya di rumah.
Angga akhirnya minta izin dengan atasannya untuk pulang cepat. Takut terjadi sesuatu makanya Angga buru - buru pulang . Dengan motor kesayangannya Angga pulang menuju rumahnya. Piikirannya terbang kemana mana. Ada rasa khawatir terbesit di dadanya.
Hanya butuh waktu limabelas menit, Angga tiba di rumahnya. Sesampainya di depan rumah sudah banyak orang yang mendatangi rumahnya. Kebanyakan dari mereka adalah ibu rumah tangga biasa.
Angga lalu masuk ke dalam rumah. Motornya ia parkir di depan teras rumahnya.
" Permisi, " sapa Angga pada ibu - ibu yang ada di teras rumahnya. Lalu ia masuk ke dalam ruang tamu. Tampak ibunya duduk di sofa dikerumuni semua orang.
Angga lalu mendekati ibunya. Mencium punggung tangan kanan ibunya. Ada kesedihan yang Angga rasakan saat ibu menatap matanya. Mata ibu yang bengkak karena tak henti - hentinya menangis.
Angga lalu duduk di samping ibunya. Ibu - ibu yang lain akhirnya pamit pulang karena Angga sudah pulang. Angga berterimakasih pada ibu - ibu tetangga yang telah menemani ibunya.
" Ada apa bu ? " tanya Angga cemas dan takut.
"Ayahmu Ga ' , ia ditangkap polisi. "
"Mengapa ayah sampai ditangkap bu ? Apa salah ayah , " tanya Angga.
" Ayahmu di tangkap karena kasus pemerasan dan pengancaman atas diri seseorang. Sehinggah ia harus ditahan karena itu, " jawab ibu yang masih sesenggukan menangis.
" Baiklah, aku akan segera ke kantor polisi. Sekarang ibu jaga diri baik - baik. Nanti Dion aku suruh pulang cepat, " tutur Angga.
__ADS_1
Sebelum pergi Angga berpesan pada ibu untuk mengunci pintu. Jangan ada tetangga atau orang yang tak di kenal mendatangi rumahnya.
Angga berusaha tegar dan tenang dalam menghadapi kasus yang menimpa ayahnya. Ayah yang sangat baik di mata Angga dan tak terbesit di benaknya ayahnya bisa melakukan perbuatan melanggar hukum.