CINTA NARA

CINTA NARA
81 DEMI SAHABAT


__ADS_3

"Ga ....! Kamu harus bangun. Kamu pasti bangun lagi! Ingat aku dan Raga. Kamu tidak bisa meninggalkan kami semudah ini ...!!"


Hiks ... hikss ... hiksss ...!!!


Tangisan pilu Nara memecah keheningan malam yang sudah berganti hari, di sebuah lorong yang sepi tanpa aktivitas manusia yang lainnya, selain Nara yang ditemani Bapak, Beno dan Pak Budi.


Beberapa pengawal Yoga terlihat berdiri siaga di ujung koridor, berjaga agar tidak ada orang lain yang mengganggu Nyonya Muda mereka yang tengah berduka.


Bapak memeluk erat putri kesayangannya, menahan tubuh lemahnya agar tidak terjatuh di lantai rumah sakit. Beliau membawa Nara duduk di kursi tunggu dan terus menguatkan Nara dengan kata-kata petuah agar wanita itu tidak putus harapan dan harus terus mendoakan suaminya.


"Raga ...! Aku di sini, Ga. Aku menemanimu di sini, aku menunggumu. Kamu harus bangun, kamu tidak boleh pergi ...!!"


Dari ujung koridor, Ardi berlari diikuti oleh papanya yang merupakan sahabat baik orangtua Yoga. Bunga sendiri memilih untuk menemani Ibu menjaga Raga di rumah orangtua Nara.


Beno terlambat menghubunginya, bukan karena lalai tapi lantaran tak ingin mengganggu acara lamaran sang dokter yang masih berlangsung saat Yoga dibawa menuju ke rumah sakit.


"Ra ...." Pikiran Ardi sudah kalut begitu melihat keadaan Nara yang sudah sangat kacau dan terus berteriak memanggil nama suaminya.


Mata sembab Nara menatap Ardi yang sudah bersimpuh di depannya. Pandangannya kosong dengan kepala rebah dalam pelukan Bapak.


"Maafkan aku, Ra. Aku ... aku ...." Ardi ingin mengatakan semua tentang Yoga namun Bapak memberi tanda supaya mereka membiarkan Nara dulu untuk sementara waktu sampai wanita itu merasa lebih tenang.


Ardi mengangguk dan mengurungkan niatnya. Dia berdiri dan menghampiri Beno sementara papanya duduk menemani Bapak dan Nara.


"Apakah sudah ada kabar dari dokter?" tanyanya pada Beno sambil melihat ke arah pintu ruangan di mana Yoga tengah diperiksa di dalam sana.


Beno menggeleng lemah. Sejak Yoga dibawa masuk kurang lebih dua jam yang lalu, belum ada satu pun dokter atau perawat yang keluar dan memberikan penjelasan tentang keadaan sang atasan.


Asisten Yoga tersebut sama takutnya dengan yang lain. Dia yang semula tidak tahu apa-apa tentang penyakit yang diderita atasannya, tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan seburuk ini di depan matanya.


"Maafkan saya, Dokter. Seharusnya saya bisa lebih cepat menyelamatkan Pak Yoga."


Tadi, ponselnya rusak karena terjatuh dari tangga di rumahnya sehingga harus diperbaiki lebih dulu untuk menyalakannya kembali.

__ADS_1


Saat ponselnya mati itulah, ternyata Dokter Danu menghubungi untuk memintanya menyusul Yoga di rumah orangtua Nara dan segera membawa ke rumah sakit, karena keadaan Yoga yang sangat darurat dan membutuhkan pertolongan secepatnya.


Karena Beno tidak bisa dihubungi, Dokter Danu akhirnya mengirimkan pesan dengan harapan asisten itu segera membacanya dan mendatangi Yoga. Sementara Dokter Danu langsung bersiap dari kotanya untuk berangkat menuju rumah sakit tempat Yoga dirawat sebelumnya.


"Mengapa Dokter Danu tidak menghubungiku sendiri??" Ardi merasa ada yang aneh karena biasanya dokter senior itu akan langsung menghubunginya bila berhubungan dengan penyakit Yoga.


"Pak Yoga melarangnya karena tidak ingin mengganggu acara lamaran Dokter yang tadi masih berlangsung." Beno menjelaskan apa yang dia ketahui dari penjelasan Dokter Danu dalam pesannya.


Seketika Ardi merosot dan terduduk di lantai, menengadahkan kepalanya seraya menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Ya Allah, Ga. Mengapa kamu lakukan itu? Kamu mengorbankan rasa sakitmu demi tidak mengganggu kebahagiaanku ...."


Sekarang, entah apa yang terjadi pada sahabat kecilnya itu. Entah masih bisa tertolong atau telanjur kehilangan harapannya.


"Ga ... jangan pergi. Jangan tinggalkan aku dan Raga ...."


Nara sudah kehabisan tenaganya untuk berteriak. Suaranya kini terdengar lirih diiringi isakannya yang masih berlagu pilu.


Dokter Danu datang dan bergegas hendak masuk ke dalam ruangan. Langkahnya terhenti sesaat begitu melihat keberadaan Nara dengan kondisi yang tak berdaya dan diselimuti kesedihan.


Dokter Danu hanya bisa mengangguk dengan hati remuk, bukan hanya karena beratnya permintaan Nara tersebut, namun juga karena beliau sendiri tidak yakin bisa menyelamatkan Yoga kali ini.


Tanpa membuang waktu lagi, beliau segera masuk didampingi seorang perawat yang bersamanya sedari awal kedatangannya tadi.


Ardi yang sempat bersitatap dengan Dokter Danu pun tidak berucap apa pun. Dia kembali menunduk dan tetap terduduk lunglai di lantai, membayangkan kesakitan Yoga yang ditahannya seorang diri demi kelancaran acara lamaran sang sahabat.


.


.


.


"Waktunya sudah tidak panjang lagi. Langkah terakhir dan satu-satunya yang harusnya masih bisa kita lakukan, kenyataannya tidak bisa kita lakukan karena kita belum mendapatkan pendonor sampai detik ini."

__ADS_1


Dokter Danu dan Ardi berbicara berdua di ruangan dokter. Ardi masih terlihat kacau setelah mengetahui semuanya dari Dokter Danu.


Tentang sakit yang sudah dikeluhkan Yoga sejak beberapa hari yang lalu. Juga tentang bagaimana sahabat kecilnya itu menahan kesakitannya saat masih berada di acara lamarannya, hingga harus bersembunyi di dalam toilet guna meredakan rasa sakit yang menyerangnya dan menghubungi Dokter Danu diam-diam.


Yang terakhir, tentang bagaimana Yoga masih berusaha menyembunyikan rasa sakitnya dari Nara, sepanjang perjalanan pulang mereka. Bahkan lelaki itu masih sempat menyampaikan pesan terakhirnya pada sang istri sebelum akhirnya dia sudah berserah diri saat menghubungi Dokter Danu pada detik-detik di mana dia mulai menutup mata.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi, kecuali adanya keajaiban dari Allah." Dokter Danu menutup ceritanya dengan kepasrahan yang sama seperti halnya sang pasien.


"Saya akan mengatakan semuanya pada Nara. Setidaknya, dia sudah mengetahuinya, saat Yoga masih ada meskipun tanpa harapan lagi ...." Kali ini Ardi membulatkan tekadnya untuk menceritakan semuanya pada Nara. Sebelum terlambat dan sebelum dia juga Nara menyesalinya nanti.


"Secepatnya! Karena kita tidak tahu kapan jantungnya akan berdetak untuk yang terakhir kalinya ...." Dokter Danu mendukung keputusan Ardi dan memintanya untuk segera mengajak Nara berbicara.


Dan Ardi benar-benar melaksanakan niatnya tanpa menunda lagi. Sementara Dokter Danu kembali ke ruangan Yoga, Nara sudah menggantikan beliau duduk bersama Ardi di ruang kerja dokter, didampingi oleh Bapak.


"Ada banyak hal yang harus kamu ketahui tentang Yoga, Ra. Tapi sebelum itu, ada satu yang paling penting yang harus aku sampaikan terlebih dahulu kepadamu."


Melihat kondisi Nara yang begitu sedih dan sangat terpukul, Ardi sudah bisa menebak bagaimana perasaan Nara pada Yoga sekarang.


(Cintamu tak lagi bertepuk sebelah tangan, Ga. Oleh sebab itu bangunlah, dan aku pastikan kamu akan mendengar jawaban yang selama ini kamu harapkan darinya!)


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜

__ADS_1


.


__ADS_2