
Alya sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit, setelah tertidur hampir satu jam lamanya di klinik dan terbangun karena alarm yang dia nyalakan sebagai pengingat jadwal prakteknya.
Pertemuannya dengan Riko yang tiba-tiba dan tak terduga, sempat membuatnya syok dan memunculkan kembali ketakutan serta kesakitan yang dulu selalu dirasakannya dari lelaki itu.
Terlalu lama memikirkan hal itu dan menangis karenanya, membuat tubuh Alya lemas dan tak bertenaga hingga akhirnya tanpa sadar membuatnya terlelap di alam tidur.
Merapikan diri usai bersuci dan berganti pakaian, Alya kemudian mengambil tas dan ponselnya dari atas meja lalu melangkah keluar untuk melanjutkan pekerjaan berikutnya.
Setibanya di rumah sakit, Alya bergegas menuju lantai atas di mana ruangannya berada. Melewati antrian pengguna lift yang berjajar rapi, Alya selalu memilih untuk naik menggunakan tangga yang terletak di bagian tepi.
Tak banyak yang memilih untuk menggunakan tangga, karena cukup melelahkan dan menguras tenaga. Alya sudah melewati separuh anak tangga dan berbelok untuk menaiki separuh anak tangga berikutnya.
Saat kaki kanannya sudah menyentuh lantai ruangan atas dengan kaki kiri yang masih berada di anak tangga terakhir, mendadak tubuhnya limbung tanpa bisa menahannya untuk menyeimbangkan diri.
Dokter berhijab anggun itu terjatuh ke belakang dan membentur dinding pada belokan tangga, lalu terpental hingga jatuh terguling lagi sampai ke lantai bawah.
Beberapa orang yang berada di sekitarnya segera mendekat dan berkerumun tanpa berani memberikan pertolongan langsung karena kondisi Alya yang tak sadarkan diri.
Beberapa petugas medis dan dokter segera datang dan memberikan pertolongan pertama sebelum membawanya ke ruang penanganan gawat darurat.
.
.
.
"Bagaimana kondisinya sekarang, Dok?"
Yoga yang mendapat kabar dari salah satu orang kepercayaannya segera mengajak Nara ke rumah sakit dan menemui seorang dokter yang ikut menangani Alya.
"Tidak terlalu baik."
Dokter Hanan yang saat kejadian tadi kebetulan masih berada di rumah sakit, turut membantu penanganan awal Alya sebelum akhirnya diserahkan sepenuhnya kepada dokter spesialis tulang.
"Selain luka dalam di bagian kepala akibat benturan yang sangat keras, Dokter Alya juga mengalami patah tulang yang cukup serius di kedua kakinya."
Nara memeluk lengan suaminya dengan erat setelah mendengar penjelasan dokter paruh baya yang juga direktur rumah sakit tersebut.
"Saya rasa masa pemulihannya akan memakan waktu cukup lama," lanjut Dokter Hanan.
Yoga menoleh ke arah Nara yang masih memeluk erat lengannya dengan wajah cemas. Kedekatan istrinya dengan Alya mulai terjalin akrab sehingga Nara sangat mengkhawatirkannya.
.
Tangannya menepuk dan mengusapi tangan Nara yang masih berada di lengannya untuk menenangkan.
__ADS_1
"Dia pasti akan sembuh dan baik-baik saja, Sayang."
Dokter Hanan meninggalkan mereka untuk kembali ke ruangannya. Yoga mengajak Nara untuk duduk menunggu di ruang operasi, di mana Alya masih ditangani sejak tadi.
"Mas, apa kita harus memberi tahu keluarganya?" tanya Nara dengan tidak yakin. Dia ingat jika papanya Alya baru saja sembuh dari sakitnya beberapa waktu yang lalu.
"Aku rasa jangan, Sayang. Kita tunggu saja Dokter Alya selesai ditangani, baru kita bisa membicarakannya dengan yang bersangkutan."
"Kasihan, Dokter Alya ...." Nara bergumam lirih sembari menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.
Yoga diam tidak menjawab. Hanya diciumnya puncak kepala Nara dan digenggam tangannya dengan erat.
Di dalam hati masing-masing keduanya berdoa, semoga operasi Alya berjalan dengan lancar dan segera selesai tanpa kendala apa pun.
.
.
.
"Aku tidak bisa terlalu lama meninggalkan klinik, Sayang. Ada jadwal operasi yang harus aku tangani satu jam lagi."
Ardi menikmati makan siangnya yang telah terlambat dengan lahap ditemani Bunga di sampingnya yang masih menyusui Aura.
"Ya, Mas. Jaga kesehatanmu. Lain kali kalau waktumu sempit, aku bisa meminta sopir untuk mengantarkan makan siangmu ke klinik."
"Mas, hati-hati, jangan sampai tersedak! Kamu makan terlalu cepat."
Benar saja, tak lama kemudian Ardi terbatuk-batuk karena tersedak makanannya sendiri pada suapan yang terakhir.
Dengan satu tangan yang masih memangku bayi mungilnya, tangan kanan Bunga bergerak cepat memberikan segelas air putih yang langsung dihabiskan oleh suaminya dalam sekali minum.
"Mas, tenangkan dulu dirimu, baru kamu bisa berangkat." Bunga mengingatkan Ardi dan mencoba untuk membuatnya tenang.
Ardi memejamkan matanya sejenak. Dia juga tidak tahu mengapa tiba-tiba dirinya merasa terburu keadaan, padahal masih cukup waktu untuk kembali ke klinik tanpa terlambat
"Maafkan aku, Sayang. Sebaiknya aku berangkat sekarang agar tidak semakin panik seperti ini."
Ardi mencium kening istrinya lalu turun ke kening putri kesayangannya yang sudah tertidur pulas.
"Mungkin aku akan pulang terlambat karena ada beberapa jadwal operasi juga sore nanti. Aku titip Aura ya, Sayang."
Bunga mengangguk sambil mengancingkan kembali pakaiannya. Dia pamit sebentar untuk menidurkan Aura di kamar, sementara Ardi menunggunya di teras depan.
Saat tengah menunggu Bunga keluar, tiba-tiba jantung Ardi terpacu cepat hingga menimbulkan debaran-debaran keras yang menyentaki dadanya.
__ADS_1
"Ada apa denganku? Mengapa perasaanku sangat tidak nyaman seperti ini?"
Ardi memegangi dadanya dan merasakan detak jantungnya berdegup kencang sedari tadi.
Berkali-kali lelaki itu mencoba untuk mengatur nafasnya sendiri dan menghalau kecemasan di hatinya.
"Mas." Ardi menoleh dan mendapati sang istri yang sudah berdiri di sampingnya.
"Hati-hati." Bunga mencium punggung tangan suaminya yang dibalas oleh Ardi dengan memeluknya erat-erat.
Disingkirkannya seluruh ketidaknyamanan yang mengganggunya hingga lambat-laun dia sudah bisa menguasai dirinya sendiri.
"Aku pergi dulu."
Ardi mengulangi ciuman di kening Bunga lalu melepaskan pelukannya dan masuk ke dalam mobil. Setelah Ardi mengijinkan, sopir pun segera melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah.
Sepanjang perjalanan, Ardi memejamkan mata dan duduk bersandar hingga kepalanya terangkat menengadah ke atas.
Dia terus memegangi dadanya yang masih berdebar meskipun tidak lagi sekencang sebelumnya.
Sesampainya di klinik, Ardi segera bersiap-siap dan mulai memusatkan pikiran dan perhatiannya pada tugas penting di ruang operasi. Dibuangnya segala pikiran buruk dan tidak nyaman yang menganggunya.
Satu jam kemudian, dia keluar dari ruang operasi dan menuju ke ruangannya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Sela waktu yang ada digunakannya untuk beristirahat karena sejak pagi tadi dia belum sempat melepas penat yang mendera tubuhnya.
Namun belum lama dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, tiba-tiba Ardi terbangun dan duduk dengan gerakan cepat sambil memegangi kepala bagian belakangnya yang terasa sangat sakit.
Tidak hanya itu, mendadak tubuhnya terasa sangat kaku dan teramat sakit. Kedua kakinya menjadi mati rasa dan tidak bisa bergerak sama sekali.
"Apa yang terjadi denganku? Mengapa seluruh tubuhku terasa begitu luluh-lantak seolah penuh luka dan sangat sulit untuk bergerak seperti ini ...??"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.