
"Ga, bisa kita bicara dulu sebelum kamu berangkat ke kantor?"
Ardi kembali tepat di saat Yoga turun dari kamarnya dengan pakaian kerja yang sudah rapi.
Nara yang berada di samping suaminya menatap Yoga dan mengangguk pelan, memberi tanda agar Yoga mengikuti kemauan sahabat kecilnya.
"Baiklah. Ayo!" Yoga mencium kepala Nara dan melepaskan genggaman tangannya, kemudian mengikuti Ardi menuju ruang tamu.
Melihat dari wajah Ardi yang mendung dan tanpa senyuman, Nara bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tengah membuat dokter kandungan itu dilanda kegundahan yang teramat sangat.
"Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Dokter Alya?"
Nara memilih kembali ke kamar untuk menemani Gana yang masih tidur. Sementara Raga ikut Mbak Indah menjaga Aura yang juga masih pulas di kamar tamu.
Di ruang tamu, Ardi menatap tajam ke arah Yoga, sementara yang ditatap tetap duduk tenang di hadapannya.
"Sejak kapan kamu mengetahui semuanya?" tanya Ardi memulai pertanyaan yang sepertinya akan terus berlanjut pada banyak pertanyaan lainnya.
"Apa?" Yoga memastikan arah pertanyaan dari sang sahabat.
"Tentang Alya. Sejak kapan kamu tahu bahwa dia sudah berpisah dari suaminya?"
Yoga tersenyum lega sebab sang sahabat telah mengetahui sendiri kebenaran tentang Alya. Entah dari mana dia mendapatkan informasi, yang pasti usahanya cukup cepat dan tepat.
"Sejak pertama kali dia menjadi dokter kandungan Nara di sini dan kamu mengatakan bahwa dia adalah teman kuliahmu dulu."
Ardi mengusap kasar wajahnya, merasa telah dibohongi sekian lama, hampir dua tahun yang lalu.
Dia ingat, pertama kali bertemu lagi dengan Alya kala itu, saat dia mengunjungi Nara yang mengalami keguguran pertama kali. Saat itu dia meninggalkan Bunga di rumah karena tengah mengandung Aura di usia kehamilan lima bulan.
Ardi juga ingat, saat itu sebelum dirinya kembali pulang, mereka sempat berbicara sebentar di ruang pemeriksaan Alya. Ada getar-getar rindu yang dirasakannya saat itu. Getar kerinduan akan kenangan masa lalu mereka yang terindah.
Penampilan baru Alya yang telah mengenakan hijab, semakin menambah pesona keanggunannya dan membuat Ardi semakin mengaguminya diam-diam. Hanya kagum, tidak lebih, karena dia masih berstatus sebagai suami Bunga saat itu.
Wanita itu pun selalu menjaga pandangannya dan selalu menghindari tatapan dari Ardi yang jujur saja, saat itu merasa bahagia atas pertemuan tak sengaja di antara mereka.
__ADS_1
"Apa kamu mencari ìnformasi tentangnya saat itu?" tanya Ardi masih dengan wajah kusutnya.
"Ya. Apa kamu ingin tahu hal yang lainnya lagi selain yang kamu ketahui ini?" tantang Yoga tetap dengan ketenangan di wajahnya.
"Apa benar yang aku dengar, jika dia mengalami kekerasan dalam rumah tangga?" tanya Ardi ragu-ragu sekaligus tidak tega membayangkan seandainya kabar itu benar adanya.
"Boleh aku tahu, dari mana kamu mendengar kabar itu dan apa saja yang kamu ketahui sekarang?" tanya Yoga penuh selidik.
Setahunya, tidak banyak orang yang mengetahui kehidupan pribadi Alya termasuk masalah rumah tangganya dulu. Tapi mungkin saja tetap ada omongan-omongan di luar sana yang pasti membicarakannya sepintas lalu.
"Ada salah satu teman kuliah Bunga yang bekerja di rumah sakit tempat Alya bekerja. Saat beberapa kali kami mengunjungi kalian yang sedang dirawat, Bunga bertemu dengan temannya tersebut dan mulai mengetahui kebenaran tentang Alya."
"Karena itulah dia mengajukan permintaan yang tidak masuk akal bagiku, karena aku tidak mengetahui apa-apa tentang Alya. Bunga juga bersikukuh dengan pesan terakhir yang disampaikannya berulang-ulang agar aku bersedia memenuhinya suatu saat nanti."
Bersandar pada punggung kursi, Ardi kemudian memejamkan mata dan menengadahkan kepalanya ke atas. Bayangan Bunga melintas dalam pikirannya bersama pesan terakhir yang terus menggema di liang pendengarannya.
"Hanya Dokter Alya yang aku ijinkan untuk menjadi istrimu dan ibu untuk Aura."
"Dokter Alya adalah wanita yang paling tepat untukmu, Mas. Bukan hanya untukmu, tetapi juga untuk Aura putri kecil kita. Percayalah padaku, kalian berdua akan selalu bahagia selama bersama Dokter Alya. Ingatlah ucapanku ini baik-baik."
"Lihatlah sendiri. Semua yang ingin kamu ketahui, lengkap ada di situ."
Ardi menerima dan memangku laptop tersebut. Dokter duda itu mulai membaca dan memeriksa foto-foto yang disertakan di dalam laporan yang cukup panjang tersebut.
Yoga memperhatikan raut muka sang sahabat yang tampak terkejut kemudian berubah memerah dan penuh kemarahan. Dulu, dia pun juga bereaksi demikian saat pertama kali mengetahui kebenaran tentang Alya.
Tanpa sadar, kedua netra teduh itu mulai berair dan memburamkan pandangannya yang masih terpusat pada laporan yang terus dibacanya dan membuatnya semakin meradang dan memuncakkan emosi.
"Tahan emosimu." Yoga mengingatkan meskipun dulu dia pun bersikap sama seperti Ardi, saat pertama kali mengetahui kenyataan buruk tentang dokter kandungan berhijab anggun tersebut.
Ardi berhenti sejenak, memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya yang mendadak terasa berat. Tak kuasa dia membayangkan apa yang dialami wanita masa lalu yang dulu sangat dicintainya tersebut.
Yoga berdiri dan melangkah ke dapur untuk mengambil minuman. Dibawanya dua botol kemasan air putih ke ruang tamu dan diletakkannya di atas meja.
Ardi membuka mata dan menyeka beberapa butir air mata yang luruh dan juga yang masih menggenangi kedua pelupuknya. Melihat sudah ada minuman di hadapannya, dia segera mengambil dam membukanya, lalu meneguknya dengan cepat.
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim ...!!" ucap Ardi lirih dan sekali lagi mengusap seluruh wajahnya.
Kemudian lelaki satu putri itu mulai melanjutkan apa yang belum selesai dibaca dan dilihatnya di dalam laporan yang dulu disusun rapi oleh Beno sesuai permintaan sang atasan.
Dia mulai mengerti sekarang, bahwa di antara Alya dan dirinya selama ini selalu terikat rasa yang kuat tanpa mereka berdua sadari.
Kesakitan Ardi bertahun-tahun yang lalu adalah bukti bahwa dia selalu merasakan apa yang tengah Alya rasakan jauh di tempat yang berbeda, yakni di sini, di kota tempat tinggalnya sekarang.
Kota yang menjadi saksi setiap perlakuan buruk yang diterima Alya dari Riko mantan suaminya yang ringan tangan dan selalu menyiksanya tanpa sebab pasti yang dia ketahui.
"Ternyata kita selalu memiliki ikatan rasa yang sangat kuat, Al. Sama seperti yang aku rasakan saat kita masih bersama dulu. Dan setelah kita berpisah pun, ikatan rasa itu masih ada dan aku rasakan tiada henti."
"Tanpa aku menyadarinya sama sekali, ternyata semua rasa sakit yang sering mendera tubuhku dan muncul tiba-tiba tanpa sebab itu ada hubungannya dengan kekerasan dan penyiksaan yang kamu alami di sini ...."
Yang terakhir, Ardi mengingat rasa sakit yang mendadak dirasakannya di sekujur tubuh hingga menyulitkan pergerakan kakinya selama beberapa waktu.
Di waktu yang bersamaan, di sini Alya tengah terjatuh dan terguling di tangga rumah sakit, akibat dorongan dari Riko yang tiba-tiba muncul dan bertindak nekat seperti itu.
Saat itu, Ardi memang sempat berpikir bahwa mereka masih memiliki ikatan rasa yang kuat, namun dia sama sekali tidak berpikir bahwa sakit pada kaki yang dialami Alya hingga membuatnya harus menggunakan kursi roda selama beberapa bulan itu adalah puncak dari kekerasan yang dilakukan oleh mantan suaminya.
"Ternyata benar apa yang dulu sempat aku pikirkan, Al. Bahwa kesakitan yang aku rasakan tepat bersamaan dengan waktu kamu terjatuh di sini, adalah salah satu dari ikatan rasa yang tidak pernah kita sadari namun selalu menautkan hati bahkan raga kita dari dua tempat yang saling berjauhan."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
💜Author💜
__ADS_1
.