
Sepanjang perjalanan pulang dari restoran Tante Arum, Nara lebih banyak diam di dalam mobil. Dia terus terngiang-ngiang pesan terakhir Tante Arum sebelum Yoga kembali bergabung bersama mereka setelah menerima telepon dari Beno.
"Pesan Tante, cintai dia dengan sepenuh hatimu. Jangan pernah tinggalkan dia, karena di balik sikap keras dan dinginnya itu, dia memiliki hati malaikat seperti kedua orangtuanya."
Mencintai Yoga? Bisakah dia? Nara merasa terbebani dengan pesan Tante Arum tersebut, karena jujur sampai saat ini dia sendiri belum bisa mengartikan perasaannya pada Yoga. Dia tidak yakin jika apa yang dirasakannya pada Yoga selama ini adalah cinta.
Dia masih terbiasa mencintai Alan. Semua hal indah yang dirasakannya bersama Alan, itulah yang diyakininya sebagai cinta.
Tapi, mengapa sekarang semua yang Yoga lakukan untuknya juga terasa begitu indah di hatinya? Bahkan hari-harinya bersama Yoga selama ini, juga dirasakannya jauh lebih indah dari kebersamaannya dengan Alan dulu.
(Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa memahami rasa hatiku kepadanya? Cintakah ini? Ataukah hanya sekedar rasa bahagia semata?)
"Ra, kamu kenapa?"
Yoga memperhatikan Nara yang terus terdiam dengan wajah yang terlihat tidak tenang. Disentuhnya tangan kanan Nara membuat istrinya itu sedikit tersentak kaget.
Nara terkejut melihat Yoga yang terus memandangnya dengan tatapan penuh kekhawatiran. Dan baru disadarinya pula, jika mobil sudah berhenti di tepi jalan.
"Apa yang membuat hatimu tidak tenang, Ra? Katakan padaku."
Yoga terus menggenggam erat tangan Nara. Tubuhnya berputar menghadap ke samping dengan wajah yang dimiringkannya untuk menatap wajah Nara lebih dekat.
Nara semakin salah tingkah dibuatnya. Dia membuang pandangannya ke luar jendela, mencoba menghindari tatapan mata Yoga yang terus mengkhawatirkan dirinya.
"Aku tidak apa-apa." Nara mencoba menutupi kegelisahannya.
"Jangan menyembunyikan keresahan hatimu dariku, Ra. Katakan padaku, apa yang mengganggu pikiranmu?"
Nara menggeleng pelan. Tidak mungkin dia berterus terang jika dia tengah memikirkan perasaannya pada lelaki itu.
"Aku hanya sedang membayangkan betapa kuatnya dirimu selama ini, hidup dalam kesendirian tanpa keluargamu, tanpa kedua orangtuamu."
"Jangan pernah membayangkannya, karena rasanya tidak akan pernah sama saat kamu benar-benar telah kehilangan mereka ...."
Yoga kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi kemudi. Dipejamkan matanya, menahan sesak yang tiba-tiba terasa di hatinya. Dia tak ingin terlihat lemah di hadapan Nara.
Nara merasa bersalah telah membuat Yoga kembali bersedih karena teringat dengan kedua orangtuanya.
"Maafkan aku, Ga. Sungguh aku tidak bermaksud untuk membuatmu seperti ini. Aku hanya ingin mengungkapkan kekagumanku padamu ...."
Meski kesusahan karena perut besarnya, Nara berusaha mendekati Yoga dan memegang erat tangan kiri Yoga yang masih mengepal menahan rasa sakit yang mulai menderanya.
"Ga ..., kamu ...?" Nara panik melihat wajah suaminya yang telah berubah pucat.
Menyadari tubuh Nara yang mendekat padanya dengan susah payah, Yoga segera membantu Nara kembali ke posisinya lalu memeluknya dan mendekapnya dengan erat.
__ADS_1
"Peluk saja aku, Ra. Itu akan membuatku merasa lebih baik."
Dengan membawa Nara ke dalam pelukannya, Yoga bisa menyembunyikan rasa sakitnya dari wanita itu, meskipun dia harus terus menahan kesakitannya.
(Aku mohon jangan sekarang, Ya Allah. Aku tidak mau membuatnya mengkhawatirkan aku ....)
Nara segera melingkarkan kedua tangannya di pinggang Yoga. Kepalanya dia rebahkan di bahu Yoga.
"Jangan sakit, Ga. Jangan membuatku takut."
Tanpa sadar Nara mengucapkannya. Kekhawatiran menguasai hatinya, mengingat wajah pucat Yoga yang sempat dilihatnya tadi.
Mendengar ucapan sang istri, Yoga tersenyum di antara rasa sakit yang masih menyerang di bagian dadanya.
"Aku tidak apa-apa. Terima kasih atas perhatianmu."
Yoga semakin mempererat pelukannya. Diciumnya kepala Nara untuk menenangkan sang istri, juga dirinya sendiri.
(Aku baik-baik saja. Aku pasti baik-baik saja.)
.
.
.
Setelah beristirahat beberapa saat di tepi jalan tadi, akhirnya rasa sakit di tubuh Yoga mereda dan dia segera mengendalikan laju mobilnya untuk pulang.
"Aku ke dapur dulu. Akan aku buatkan minuman hangat untukmu."
Yoga mengangguk dan melepaskan tangan Nara yang masih digenggamnya.
Begitu pintu kamar ditutup dari luar oleh Nara, Yoga segera bangun dan mengambil obat yang disimpannya di dalam tas kerja.
Buru-buru dia menelannya dengan segelas air putih yang ada di atas meja kerjanya. Kemudian dia kembali berbaring seperti semula, sebelum Nara datang.
Sambil menunggu Nara, Yoga mengirim pesan pada Ardi tentang kondisinya dan meminta sahabat kecilnya itu untuk tetap menyembunyikan keadaan yang sebenarnya dari Nara.
Sementara itu di ruang kerjanya, Ardi menghela nafas panjang setelah bertukar pesan dengan Yoga. Dia merasa tidak berguna karena tidak bisa berbuat apa pun di saat sahabat kecilnya tengah berjuang melawan sakitnya.
Dia tidak bisa diam lagi sekarang. Dia harus melakukan sesuatu untuk sahabatnya. Setidaknya masih ada harapan untuk Yoga jika mereka bisa menemukan apa yang mereka cari sebelum terlambat.
(Maafkan aku, Ga. Aku tidak bisa menepati janjiku. Aku harus ikut berjuang sama sepertimu. Dan aku akan melakukannya dengan caraku sendiri.)
Kembali di kamar Yoga, Nara masuk tepat setelah Yoga selesai mengirim beberapa pesan pada Ardi. Dia membawa secangkir teh hangat untuk suaminya.
__ADS_1
Dia duduk di tepi tempat tidur diikuti Yoga yang sudah duduk lebih dulu saat istrinya datang.
"Ini, diminum, Ga." Cangkir berpindah dari tangan Nara ke tangan Yoga dan diminumnya perlahan sampai habis.
"Terima kasih." Yoga memperhatikan Nara yang meletakkan cangkir kosongnya di atas meja dan kembali duduk di sebelahnya.
"Apakah masih ada yang terasa sakit?" tanya Nara sambil terus memperhatikan wajah suaminya.
Yoga menggeleng. Diraihnya tangan Nara dan disimpan di antar kedua tangannya.
"Aku baik-baik saja, Ra."
"Ya. Kamu harus selalu baik-baik saja. Jangan membuat kami berdua khawatir."
Nara membawa tangan Yoga ke perutnya. Lelaki itu mengangguk dan mengusapi perut Nara dengan lembut.
"Aku akan selalu ada untuk kalian berdua."
(Aku akan selalu ada bersama kamu dan anak kita, meskipun nanti aku tak bisa terlihat lagi oleh kalian ....)
Malam semakin larut. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, mereka bersiap untuk beristirahat.
"Boleh aku peluk kamu malam ini, Ra?" tanya Yoga setelah mereka berdua berbaring bersama.
Nara mengangguk dan mengambil posisi miring berhadapan dengan Yoga. Dia merapat ke sisi suaminya dan menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Yoga.
"Selamat malam, Ra. Aku mencintaimu." Yoga mencium kening Nara lalu memeluknya dengan penuh kehangatan.
"Selamat tidur, Ga." Nara menyamankan posisinya dalam pelukan suaminya lalu memeluk erat tubuh Yoga.
(Mungkin aku belum mencintaimu. Tapi aku menyayangimu, Ga.)
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
__ADS_1
.