
Malam harinya setelah menitipkan Aura yang sudah tidur pada Nara dan Yoga, Ardi segera menjemput Alya. Sebelum pulang usai akhir pekan nanti, ada hal yang terlebih dahulu ingin disampaikannya pada wanita anggun tersebut.
Dengan bantuan dari Yoga, Ardi telah menyiapkan makan malam istimewa untuk dirinya dan Alya. Bukan hidangannya yang luar biasa, hanya tempatnya yang lebih personal untuk mereka berbicara berdua dengan lebih leluasa.
"Kamu tahu tempat ini, Di?" tanya Alya yang mengenali tempat yang mereka tuju dan sudah mereka masuki bersama.
Ardi menggeleng dan tersenyum lebar. "Sejujurnya aku sama sekali tidak tahu." Alya menatapnya dengan bingung.
"Yoga yang membantuku untuk memesan tempat ini. Maafkan aku, Al." Lelaki itu masih melebarkan senyumannya yang serba salah, membuat Alya ikut tersenyum lalu mengalihkan pandangannya.
Dipandu oleh seorang karyawan, mereka menaiki tangga menuju lantai atas. Ardi dan Alya dipersilakan masuk ke sebuah ruangan khusus yang berada di balkon cafe tersebut.
Hanya ada mereka berdua di tempat itu. Duduk berhadapan sembari menikmati pemandangan malam tengah kota yang gemerlap. Gedung-gedung tinggi dan liukan jalan-jalan yang dihiasi ribuan lampu yang tampak berkerlap-kerlip, membuatnya terlihat sangat indah dari tempat keduanya berada.
Cafe bernuansa romantis itu adalah milik Alam, rekan usaha Yoga yang merupakan perngusaha furnitur di kota ini. Setelah bekerja sama dengan Yoga mendirikan apartemen mahasiswa yang sangat diminati masyarakat, dia juga membuka usaha kafe di beberapa tempat berlokasi strategis.
"Meskipun tempat ini bukan pilihanku, tapi tujuanku mengajakmu kemari tulus dan ingin berbicara serius denganmu, Al"
Alya yang semula memanjakan mata dengan menikmati suasana malam yang tidak pernah dijumpainya, menoleh ke arah Ardi yang tak berhenti menatapnya sejak awal mereka duduk di sana.
Pandangan mereka beradu dan terkunci satu sama lain. Alya kembali berdebar. Hatinya dipenuhi getaran hingga jantungnya pun turut terpacu cepat dengan dentuman yang sangat keras. Untuk sesaat dia menahan napas dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Ardi.
"Aku ingin mengajakmu menemui orangtuaku ... juga orangtua Bunga."
Alya semakin berdebar mendengar ucapan Ardi. Perasaannya bercampur aduk, namun ketakutan masih mendominasi di dalam hati. Kegugupan terlihat jelas dari perubahan di wajahnya yang semula masih tampak tersenyum.
"Alya, maaf jika aku terkesan terburu-buru. Bukan maksudku seperti itu. Aku tidak akan memaksamu. Aku akan tetap menunggu kesiapanmu."
Ardi mencoba menjelaskan maksud ajakannya tersebut, agar Alya tidak salah paham karenanya.
"Aku hanya ingin memperkenalkan dirimu kepada mereka, sama seperti aku ingin mengenal keluargamu. Dengan demikian, kita bisa lebih tenang menjalani hubungan ini dengan restu dari seluruh keluarga kita."
__ADS_1
Alya bukan tidak mengerti maksud baik lelaki itu. Dia hanya takut akan mengecewakan Ardi dan tidak diterima oleh keluarganya. Masa lalu masih memasung pikirannya untuk terus meragu dan tidak berani memutuskan begitu saja.
Wanita anggun itu menunduk dan menggelengkan kepala. Dia tidak ingin Ardi menjadi bersalah karena sikapnya yang terkesan ingin menolak.
"Kamu tidak salah, Di. Maafkan sikapku yang membuatmu salah sangka terhadapku. Aku ... aku hanya takut tidak bisa menjadi seperti harapanmu dan harapan keluargamu."
Alya mengatur napasnya sebaik mungkin dan membuang jauh segala keraguan yang bersarang di hatinya. Dia sudah memutuskan untuk menerima lelaki itu. Sudah seharusnya tidak ada lagi keraguan yang menyertai keputusannya saat ini.
"Alya ... tolong lihat aku sekali lagi dan dengarkan kata-kataku ini," pinta Ardi dengan suara yang direndahkan hingga membuat Alya terus berdebar.
Alya memberanikan diri untuk menegakkan kepala lagi. Ditatapnya Ardi yang sudah menunggu untuk mengatakan sesuatu. Lelaki itu menatapnya lekat-lekat hingga tanpa sadar tak sekali pun Alya mengedipkan sepasang mata indahnya.
"Apakah kamu ingin tahu apa harapanku? Aku akan mengatakannya sekarang."
Ardi menyatukan kedua tangannya di atas meja sehingga posisi tubuhnya turut tertarik condong ke depan. Alya yang duduk dengan posisi yang sama, perlahan memundurkan wajahnya. Dia berusaha untuk tetap menjaga jarak yang sewajarnya dengan lelaki di hadapannya.
"Harapanku adalah melihatmu bahagia. Aku ingin membahagiakan kamu, Alya. Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar bisa membuatmu bahagia?"
"Harapanku sangat sederhana, Al. Tetapi akan sangat sulit untuk aku wujudkan jika kamu tidak berkenan menerimanya dan memberiku kesempatan untuk menjadikannya nyata."
Buru-buru Alya mengusap wajahnya dan menyeka bersih air mata yang hampir saja lolos mengalir membasahi pipi. Dia tidak mau merusak malam istimewa yang sudah disiapkan Ardi untuk mereka berdua.
"Bukankah aku tidak menolakmu? Jadi lakukan saja apa yang menjadi keinginanmu. Aku akan menerimanya dengan bahagia, asalkan kamu dan Aura juga turut bahagia bersamaku."
Ardi mengembangkan senyuman di bibirnya. Tak menyangka Alya akan memberikan jawaban sebaik dan secepat itu. Sikapnya malam ini jauh lebih terbuka dibandingkan waktu-waktu sebelumnya.
"Tetapi aku masih sakit, Di. Aku belum sembuh. Aku masih butuh waktu untuk menyiapkan diriku sepenuhnya. Aku harap kamu bersedia dan bersabar untuk menemani aku memulihkan semuanya."
Ardi mengangguk pasti. Tak ada sedikit pun keraguan untuk tetap mendampingi wanita yang saat ini tengah ditatapnya dalam-dalam. Meski tak mudah, keyakinannya tidak akan goyah.
"Aku akan selalu ada untukmu, Al. Kita akan bersama-sama menyembuhkan segala luka dan membuang jauh ketakutan yang masih menguasai dirimu."
__ADS_1
Hidangan makan malam datang. Dua orang karyawan menyajikan menu secara lengkap dan tersusun rapi di atas meja yang memisahkan tempat duduk mereka. Ardi memesan menu sederhana yang masih dia ingat sebagai kesukaan wanita terkasihnya.
Ardi dan Alya segera menikmati makan malam berdua. Tanpa kata, hanya hening yang mengiringi denting sendok dan garpu beradu di atas piring sebagai tempat bertemunya.
Setelah menghabiskan menu penutup, Ardi mulai menyiapkan diri. Ada satu hal lagi yang ingin disampaikan kepada Alya, sebagai bukti keseriusan niat baik nan tulus di hatinya.
"Alya ...." Ardi memanggil lirih untuk memastikan bahwa Alya sudah siap mendengarkannya.
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepadamu malam ini. Aku harap kamu tidak menolaknya, sama seperti kamu menerima aku dan Aura sebagai bagian dari kebahagiaanmu."
Degup jantung Alya mulai terpacu lagi. Entah apa yang akan dikatakan lelaki itu, namun hatinya sudah mulai berdebar sejak sekarang.
"Semuanya terjadi begitu cepat namun mengalir apa-adanya, tanpa kita meminta atau mengharapkan sebelumnya. Seakan semua ini memang sudah seharusnya demikian jalannya dan harus kita lalui seperti ini likunya."
Ardi berhenti untuk menenangkan hatinya yang turut bergejolak dan penuh debaran yang tak terkendali. Ingin segera melepaskan dan menuntaskan tujuannya malam ini tanpa menundanya lagi.
"Alya, ini ...."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.