CINTA NARA

CINTA NARA
2.37. MENIKMATI MALAM


__ADS_3

"Kak, ini handuk dan baju gantimu."


Rizka mulai belajar melaksanakan kewajibannya sebagai istri, dari hal-hal kecil dan sederhana lebih dulu.


Indra pun tidak ingin membebani istrinya dengan aturan baru setelah mereka menikah. Dia membebaskan Rizka untuk beradaptasi dengan status baru mereka secara perlahan-lahan.


"Terima kasih, Dik."


Indra tersenyum menerimanya dan mengusapi kepala istrinya dengan sayang, lalu melangkah masuk ke kamar mandi.


Rizka tersipu malu mengingat perlakuan suaminya yang sangat lembut dan sabar kepadanya. Dia berjanji untuk menjadi istri yang baik dan patuh pada imam hidupnya sekarang.


Sambil menunggu Indra yang sedang mandi, wanita muda itu merapikan tumpukan pakaian milik suaminya yang terlihat berantakan.


Sebelumnya, dia telah memasukkan semua pakaiannya ke lemari pakaian yang baru beberapa hari yang lalu dibelikan Indra untuknya, karena lemari milik Indra sudah terlalu penuh.


Indra memboyong Rizka untuk tinggal di rumah orangtuanya. Ibu dan Bapak meminta keduanya tinggal bersama mereka.


Sepuluh menit kemudian Indra keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang segar dan mengenakan pakaian rumahan.


Tanpa sadar wajah Rizka mulai merona ketika melihat suaminya hanya memakai celana pendek dan kaos oblong. Rambutnya yang masih basah dan teracak membuat Rizka semakin terpesona lebih dari biasanya.


Sangat berbeda dengan yang dilihatnya selama ini, yang setiap kali mereka bertemu, Indra selalu berpakaian rapi dan lengkap.


"Kamu kenapa? Kok malu seperti itu?"


Indra menghampiri istrinya yang mulai salah tingkah dengan wajah yang kian memerah. Rizka menunduk dan menggelengkan kepalanya.


"Apa karena pakaianku ini?"


Diam-diam Rizka mencuri pandang ke arah tubuh suaminya yang berpenampilan terbuka dan apa-adanya.


Tak jauh berbeda dengan Indra, Rizka pun mengenakan pakaian rumahan yang sederhana namun tetap terlihat memukau di mata suaminya itu.


"Kamu akan melihatku seperti ini setiap hari. Jadi biasakanlah mulai dari sekarang."


Rizka mengangguk tanpa berani mengangkat wajahnya yang masih bersemburat merah.


Melihat sikap istrinya yang begitu menggemaskan, Indra tidak tahan untuk tidak menggodanya lebih dulu.


"Dik, boleh tidak kalau aku panggil kamu dengan sebutan yang lain?"


Umpannya berhasil membuat Rizka mengangkat wajahnya dan menatap lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.


"Memangnya kenapa, Kak?" tanya Rizka dengan polosnya.


"Kita sudah menjadi suami-istri. Aku ingin panggilan yang lebih mesra," jawab Indra dengan tenang.


Lagi-lagi istrinya merona mendengar ucapannya dan kembali bertanya.

__ADS_1


"Apa ...?"


"Sayang. Aku ingin memanggilmu dengan sebutan Sayang. Boleh?"


Malu-malu Rizka kembali mengangguk dan tersenyum. Kali ini dia memberanikan diri menatap suaminya yang juga tengah menatapnya dengan penuh kasih.


Indra sudah menggenggam kedua tangan istrinya dan mengunci tatapan mata mereka.


"Aku mencintaimu, Sayang."


Lalu diciumnya kening Rizka dengan lembut, membuat wanita muda itu memejamkan matanya begitu saja, meresapi ciuman dari Indra yang mampu menggetarkan hatinya begitu hebat.


Saat menyudahi ciumannya, kedua tangan lelaki itu sudah berpindah memeluk pinggang Rizka yang tampak terkejut dan menahan nafasnya seketika.


"Kak ...."


Lirih suara istrinya membuat Indra semakin merapatkan pelukan dengan kedua tangan Rizka yang telah menyentuh dadanya untuk memberi jarak antara kedua tubuh bagian atas mereka.


Rizka menelan ludah dengan gugup dan tubuhnya pun mulai menghangat dan menegang.


Pandangan mereka kembali beradu diiringi debaran-debaran di dada mereka yang berdentum semakin keras.


"Sayang ...."


Di detik berikutnya setelah mengucapkan panggilan mesra itu, Indra mulai menyatukan bibir mereka dengan gerakan lambat dan penuh perasaan.


Setelah ciuman pertama mereka terjadi begitu saja di dalam mobil pada pagi yang dingin itu, sekarang mereka melakukannya lagi dengan perasaan yang telah sama-sama lepas dan tanpa beban.


.


.


.


"Raga di mana, Sayang?"


Yoga baru saja masuk ke kamar, setelah menemui Beno di ruang tengah. Dia meminta sang asisten untuk melaporkan persiapan jamuan makan siang di kantor mereka besok, yang akan dihadiri oleh beberapa rekan bisnis dan kolega barunya di Raga Properland.


"Raga tidur bersama Mbak Indah dan Bibi Asih, Mas. Sepertinya dia sangat merindukan mereka."


Nara meletakkan sisir yang baru saja dipakainya untuk merapikan rambut. Dia berbalik lalu hendak berdiri dari kursi riasnya.


Baru akan berdiri, Yoga sudah lebih dulu berlutut di hadapannya, dengan kedua tangan memeluk erat pinggangnya dan kepala yang direbahkan di atas pangkuan sang istri.


"Aku juga sangat merindukanmu."


Sepasang mata tajam lelaki itu telah berubah menjadi teduh dan sendu, lalu terpejam di pangkuan hangat kedua kaki Nara yang saling merapat.


Nara tersenyum seraya membelai mesra kepala suaminya dengan tatapan sayang.

__ADS_1


"Baru juga dua jam kamu di luar, Mas. Masak sudah rindu?"


Yoga membuka matanya tapi tetap dalam posisinya dan semakin mempererat pelukannya.


"Beberapa hari ini kita disibukkan dengan persiapan pernikahan Indra dan Rizka. Tidak ada waktu untuk beristirahat dan berduaan seperti ini. Karenanya aku rindu, Sayang."


"Sekarang kita sudah berdua, Mas."


Ucapan Nara membuat Yoga bereaksi cepat. Ditarik tubuhnya tegak kembali lalu berdiri tepat di depan Nara yang mendongak menatapnya.


"Berdirilah."


Nara patuh dan berdiri berhadapan dengan suaminya. Segera Yoga mendekap tubuh sang istri, tak ingin melepaskannya lagi.


"Mari kita sudahi rasa rindu ini, Sayang."


Wajah Nara mulai bersemu merah dihiasi dengan senyuman manisnya yang semakin mengundang sang suami untuk segera mengakhiri kerinduan yang telah mereka pendam beberapa hari ini.


Saat Yoga melabuhkan ciuman pembuka di keningnya, Nara melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya hingga tubuh mereka semakin merapat tanpa sekat.


"Aku ingin memilikimu malam ini. Aku tak bisa menahannya lagi."


Suara parau Yoga menandakan hasratnya yang telah merangkak naik. Pancaran sinar di kedua netranya pun mulai meredup dan berganti kilatan gairah yang tak kuasa diredamnya.


"Aku juga merindukanmu, Mas. Sangat rindu."


Ucapan Nara yang mendayu dengan tatapan sayu, mengundang Yoga untuk melakukan sesuatu yang akan melayangkan kerinduan mereka dan menggantinya dengan kebahagiaan yang akan mereka dekap berdua malam ini.


Kedua bibir yang saling merindu itu telah bertemu dan beradu dengan penuh kelembutan. Gerakannya teratur dan saling melengkapi, hingga lambat-laun tak tertahan lagi, semakin cepat dan kian menuntut lebih.


Sepasang tangan Nara merayap naik dengan sentuhan halus di sepanjang tubuh depan Yoga, dan berakhir dengan mengalungkannya di leher kokoh sang suami.


Yoga mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya di atas tempat tidur, tanpa sedikit pun melepaskan ciuman mereka yang semakin dalam dan basah.


Pijar asmara di hati keduanya telah terpercik api gairah yang semakin membara dan berkobar, mendidihkan hasrat untuk segera mencapai puncaknya dengan melakukan penyatuan cinta yang terindah.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2