CINTA NARA

CINTA NARA
Pertunangan Angga


__ADS_3

Sabtu pagi yang cerah. Acara akad nikah dan resepsi pernikahan Dini berlangsung meriah. Asa rasa iri dalam hati Angga. Di usianya yang mau menginjak 28 tahun. Ia belum ada bayangan akan menikah. Pernikahan yang dulu sempat ia mimpikan bersama Dina. Tapi kini sang kekasih nun jauh di sana. Berjuang dengan penyakitnya, antara hidup dan mati.


Di akhir acara, semua keluarga besar ikut mengabadikan momen pernikahan itu. Betapa bahagianya mang Cik Man melihat keluarga besarnya dan sanak saudara jauh - jauh menyempatkan diri datang dalam perhelatan pernikahan putri pertamanya. Semua terekam jelas dalam bidikan kamera sang fotografer. Kebersamaan yang indah lewat wajah - wajah penuh bahagia.


Pukul satu siang, selesai sudah acara pernikahan Dini. Semua keluarga besar ada yang langsung pulang. Ada juga yang masih menunggu beberapa hari lagi. Tapi tidak dengan keluarga Pak Bambang. Mereka beristirahat sebentar setelah melewati hari yang melelahkan.


Malam harinya keluarga Pak Bambang berkunjung ke rumah salah satu kerabatnya. Angga hanya mengikuti saja kemana ayahnya membawa mereka pergi.


Pukul tujuh malam di kediaman rumah Mang Cik Man. Keluarga Pak Bambang tampak berpakaian rapi untuk pergi. Dengan di temani mang cik Man yang mengemudikan mobil melaju menuju rumah yang ingin di kunjungi Pak Bambang sekeluarga. Mang cik Man dan istri tahu betul seluk beluk kota Palembang. Secara mereka berdua lahir dan besar di kota pempek ini.


Hanya butuh waktu limabelas menit mereka tiba di tempat tujuannya. Sebuah rumah mewah berdiri di pusat kota. Rumah bertingkat dua yang asri dengan halaman yang luas. Pekarangan depan nan asri. Dengan pohon - pohon rindang dan beberapa tanaman hias beraneka warna warni bunga. Menambah semarak rumah mewah itu.


Mobil grand livina putih itu berhenti tepat di depan pagar rumah yang tertutup rapat. Mang cik Man lalu turun dari mobil dan memencet bel yang ada di depan pagar.


Kemudian mang cik Man naik kembali kedalam mobil. Kurang lebih dua menit seorang security muda datang membuka pintu gerbang pagar sang pemilik rumah.


Angga dan Dion berdecak kagum melihat betapa luas pelataran depan rumah ini. Ia seperti melihat rumah - rumah orang kaya yang sering di lihatnya saat ibu mereka sedang menonton sinetron yang setiap malam tayang di salah satu stasiun TV nasional.


Mang cik Man dan istri sudah biasa datang ke rumah ini. Jadi mereka berdua tidak begitu takjub seperti keluarga Pak Bambang.


Mobil grand livina putih itu berhenti di salah satu tempat di dalam garasi mobil - mobil sang tuan rumah. Satu persatu sudah turun semua. Sang tuan rumah pun datang menghampiri di belakang tempat mobil yang mereka parkirin.


" Assalamualaikum ... , terima kasih sudah sampai di rumah kami, " sapa hangat sang tuan rumah.


" Waalaikum salam ... , " semua menyahuti ucapan sang tuan rumah.


Bukan main terkejutnya Angga dan Dion melihat wajah sang tuan rumah. Dia adalah Pak Agung. Seorang kerabat jauh yang akan di jodohkan ayah dengan dirinya.


Angga terkesima, Pak Agung benar - benar seorang pengusaha bis yang sukses. Terlihat dari kepemilikan rumah dan beberapa mobil yang ia miliki.


Angga jadi menaruh hormat pada Pak Agung. Walau ia memiliki harta berlimpah, ia tak pernah sombong seperti kebanyakan orang kaya pada umumnya.


Tak sungkan Pak Agung menyalami tamunya satu persatu. Semua di ajak masuk ke dalam rumahnya yang megah.


"Ayo ... masuk. Jangan sungkan. Anggap saja rumah sendiri, " ucap Pak Agung sambil berjalan merangkul pundak Pak Bambang dari samping.


Pak Bambang sebenarnya tidak terlalu dekat dengan Pak Agung. Mereka hanya kerabat jauh. Pertemanan mereka di karenakan Pak Bambang membuka cabang bis milik Pak Agung di Bengkulu.


Awalnya keluarga Pak Bambang tidak menyetujui hubungan kerja sama dengan Pak Agung. Dikarenakan ada masalah sengketa tanah dari kedua kakek nenek leluhur kedua belah pihak yang belum terselesaikan.

__ADS_1


Hubungan yang tidak harmonis itu sudah bertahun - tahun tidak ada kejelasannya. Tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya disepakati oleh kedua kakek dan nenek mereka terdahulu. Tanah sengketa yang terletak di pusat kota akan di hibahkan untuk pembuatan masjid. Kesepakatan ini bisa di batalkan apabila ada anak cucunya yang mau di jodohkan.


Cerita tentang perjodohan ini baru di ketahui oleh Pak Agung sekitar tiga bulan yang lalu lewat sebuah surat wasiat kakeknya. Sebelum meninggal ia memberikan surat beserta sertifikat tanah atas namanya yang dimiliki juga oleh orang lain yang masih berkerabat jauh dengannya.


Kerabat jauhnya itu adalah neneknya Pak Bambang. Pak Bambang tidak mengetahui perihal ini. Sampai pada suatu hari Pak Bambang di telpon oleh Pak Agung.


"Assalamualaikum Bang, apo kabar, " sapa Pak Agung tiga bulan yang lalu.


"Baik, ado apo telpon aku, " jawab ramah Pak Bambang di kala itu dengan bahasa Palembang yang dibuat mengikuti bahasa Pak Agung.


"Aku ndak betanyo bae dengan kamu. Tahu dak cerito tanah nenek kau yang di Palembang, " tanya Pak Agung secara halus.


"Oh tanah itu. Ngapo ? tanah sengketa itu yo, " timbal Pak Bambang mengiyakan.


"Iyo tanah itu. Neknang almarhum dio ngasih pesan sebelum meninggal. Supayo tanah itu dak jadi di hibahkan anak kito di jodohkan bae, " tanya Pak Agung dengan bahasa Palembang yang fasih.


"Aku pada dasarnyo setuju bae. Tergantung anak - anak kito, " jawab Pak Bambang.


Itulah percakapan singkat Pak Agung dan Pak Bambang mengenai perjodohan di kala itu.


Dan sekarang keluarga Pak Bambang datang menyambangi rumah keluarga Pak Agung.


Keluarga Pak Bambang terkagum - kagum dengan kursi ruang tamu dan funiture ruangan yang berlapiskan emas. Sungguh takjub melihat isi dalam rumah Pak Agung.


Mereka semua duduk di ruang tamu. Begitu pula dengan tuan rumah. Tak lama kemudian datang istri Pak Agung dan di ikuti Tiara di belakangnya.


Tiara tampak malu - malu saat ia duduk berbaur dengan tamu yang datang. Ruang tamu yang luas dengan kursi tamu yang sengaja di taruh buat menampung kurang lebih 10 orang. Kursi sofa panjang ada 2 buah ditambah 4 kursi tamu dengan warna emas yang senada warnanya. Di mejanya telah tersedia aqua gelas yang memang sengaja di taruh di atasnya.


Tak lama kemudian dua orang perempuan muda ( pembantu) rumah Pak Agung membawa dua piring besar yang tertata kue bolu dan kue khas daerah Palembang di atasnya. Lalu mereka bolak balik mengambil beberapa toples kue kering dan ditaruh kembali di meja ruang tamu.


Pak Agung kemudian memulai percakapannya.


" Assalamualaikum semuanya. Senang sekali kalian sudah datang ke rumah kami. Silahkan di minum dan makan kue ala kadarnya dari kami, " sapa ramah Pak Agung pada tamu - tamunya.


" Waalaikum salam, " ucap semua yang hadir.


" Kami senang bisa sampai di rumah Pak Agung. Untung ado Mang Cik Man galak ngantar kami, " jawab Pak Bambang sambil melirik Mang Cik Man.


Pak Bambang menghela nafas pelan, kemudian ia mulai berbicara lagi.

__ADS_1


"Kami kesini ada maksud yang ingin kami sampaikan. Kami bermaksud meminang ananda Tiara untuk ananda kami , Angga, " ucapnya Pak Bambang pelan.


Bukan main kaget Angga mendengar namanya di sebut oleh ayahnya. Ayah pernah meminta persetujuannya di kala itu. Tapi tidak secepat ini. Angga gamang apa yang harus di lakukannya. Mana mungkin ia menolak permintaan ayah mengatas namakan ibunya yang sering sakit - sakitan waktu itu.


Dalam kebimbangan tiba - tiba nama Angga di sebut lagi oleh ayahnya.


"Bagaimana Angga ? kamu setuju bukan ! , " tanya Pak Bambang langsung pada anak sulungnya.


"I-ya aku setuju saja. Terserah mana baiknya. Terserah Tiara saja mau atau enggak, " tanya Angga langsung pada Tiara.


Angga berharap Tiara akan menolak pertunangan ini. Semoga kesepakatan ini gagal. Ia masih berharap Dina akan mendampingi hidupnya suatu hari kelak.


"Aku terserah papa saja, yang baik menurut papa aku ikutin saja, " jawab lugas Tiara sambil menunduk menatap lantai.


Angga begitu tercengang mendapat jawaban dari Tiara. Sang dokter muda yang biasa berkata lantang sesuai kata hatinya. Apakah ia mendapat tekanan dari papanya sampai berkata seperti itu.


Hari ini di sepakati hari pertunangan Tiara dan Angga. Tak di sangka - sangka Ibunya Angga mengeluarkan dua buah cincin emas. Angga gak pernah tahu kapan ibunya membeli cincin itu.


"Baiklah, untuk mengikat tali pertunangan di antara anak kita. Ayo ke sini Angga, " ucap Pak Bambang sambil berdiri meminta Angga berdiri pula di dekatnya.


Kemudian ibu Angga memberikan cincin pada suaminya. Lalu Pak Agung juga berdiri dan meminta anaknya berdiri di dekatnya.


Pak Bambang dan Pak Agung saling berhadapan. Begitu pula dengan Angga dan Tiara mereka saling berhadapan dan saling memandang.


Angga juga berdebar hatinya saat memandang Tiara. Tiara terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna pink panjang yang menyentuh lantai dan bandana pink yang bertahta di rambut hitamnya yang panjang sebahu.


Pak Bambang kemudian menyerahkan cincin pada Angga. "Ayo... Angga, ini pasang cincin di jari manisnya Tiara, " pinta Pak Bambang.


Angga menerima cincin dari Ayahnya. Semua yang hadir lalu menyorakin Angga. "Ayo Angga, cepat pasang cincinnya, " desak ibunya Angga diikuti sama yang lainnya.


Bergetar hati Angga, saat ia memasang cincin di jari manisnya Tiara. Ia jadi ingat pernah memasang cincin pada seseorang. Seseorang yang ia tinggalkan pada saat itu.


Angga seperti ingin menangis. Ia tak tega perbuatannya kali ini akan melukai hati seseorang juga. Tapi ia tak bisa berbuat apa - apa. Tak ingin membuat kedua orang tuanya malu.


Tiara kemudian mendekat. Ia terlihat amat bahagia, terpancar di raut wajahnya. Seseorang kini telah memasang cincin di jari manisnya. Seseorang yang wajahnya persis


dengan mantan kekasihnya.


Tiara lalu memasang cincin yang diberikan Angga untuk di pasang pada jari manis Angga. Angga lalu meneteskan air mata saat cincin itu melekat di jari manisnya.

__ADS_1


Pertunangan Angga yang tiba - tiba. Menimbulkan luka di hati Dina kekasihnya. Angga berharap ini hanya pertunangan saja dan tak kan pernah berlabuh pada sebuah pernikahan.


__ADS_2