CINTA NARA

CINTA NARA
Rahasia besar


__ADS_3

Tok ... tok ... tok ...


Ibu mengetuk pintu kamar 3 F. Krek ... pintu di buka oleh seseorang. Ibu Nara masuk lebih duluan. Di susul Nara yang berdiri di belakangnya.


Bukan main kaget Nara melihat siapa yang ada di hadapannya. Seorang pria baya yang di kenalnya dengan baik.


"Om Don-nie ... , papa Dina ! , " sapa Nara penuh keterkejutannya.


"Na- ra ! " timpal papa Dina lebih terkejut lagi.


Ibu Nara pun tampak heran. Mengapa Nara bisa mengenal papa Dina.


"Mengapa kalian sudah saling kenal, " tanya ibu Nara penasaran.


" Iya ibu. Aku mengenalnya bu. Karena ...


Dina satu tempat kuliah dengan kak Arif, " jawab Nara pelan.


"Oh ... , pantas saja kalian saling mengenal, " ucap ibu sambil menganggukan kepala.


Percakapan Nara dan Papa Dina membangunkan Dina yang tertidur.


"Papa ... siapa di sana, " ucap Dina dengan mata yang masih terpejam.


"Ibumu sudah datang nak , " jawab Papa pelan.


"A-pa? " Nara kaget mendengar apa yang baru di dengarnya. Ia pun terduduk di sofa yang ada di dekatnya. Ia begitu shock dan bingung. Apa hubungan ibu dengan Dina dan papanya. Sebuah rahasia yang ia tak pernah tahu.


Ibu mendekati Dina dan berkata, " Ada apa nak. "


Sementara itu papa Dina diam tak bergeming. Dia juga bingung. Mantan istrinya ijin ke bandara untuk menjemput anaknya. Dan ... anaknya adalah Nara. Otaknya mulai berpikir sendiri. Mungkinkah Nara adalah anak mantan istrinya bersama suaminya yang baru. Atau anaknya, tapi itu tidak mungkin. Mereka berpisah dan Ayana tidak dalam keadaan hamil.


Dina terbangun dan mencoba duduk. Ia kemudian mengatur remote tempat tidurnya agar bisa bersandar. Ia pun kaget melihat Nara ada di dalam kamar dimana ia dirawat.

__ADS_1


"Ibu ... mengapa Nara ada di sini, " ucapnya pelan


Ibu kemudian menghela nafas pelan. Kemudian ia menarik nafas untuk mulai berbicara.


"Baiklah ... , ibu akan mengatakan semuanya di sini, " ucap ibu sambil duduk di sisi tempat tidur Dina.


"Nara ... , maafkan ibu baru bisa mengatakan sekarang. Papa Dina adalah ... ayah kandungmu , " ucap ibu sambil menghembuskan nafas lega.


"A- pa ? kenapa tidak kau beritahu padaku, " ucap papa Dina menyesal.


"Aku tak bisa mengatakannya padamu saat itu. Kau tak mengijinkan aku bertemu dengan mu dan Dina. Aku pun baru mengetahui kehamilanku menginjak usia kehamilanku 4 bulan. Saat ketok palu perceraian kita. Sebenarnya aku sudah hamil satu bulan. Aku tak menyadari hal itu. Terlalu banyak hal yang membuatku terluka di kala itu, '' ungkap ibu pada semuanya.


"Maafkan aku Ayana. Aku tak tahu tentang kehamilanmu. Rasa marahku menutupi semua akses buatmu untuk bertemu Dina, ' sesal papa Dina.


Dina dan Nara hanya diam saja mendengar percakapan orang tuanya. Mereka hanya saling pandang saja.


"Untung ada lelaki baik yang mendampingi hidupku di kala itu dan sekarang. Dialah seseorang yang menyayangi Nara sedari bayi sampai sebesar ini. Pengorbanannya pada ku yang tak bisa ku balas saat aku terpuruk. Dan kau harus tahu suatu hal. Aku dan lelaki itu tak pernah menghianatimu. Kami di jebak oleh seseorang. Dan ... kau tak mau tahu di kala itu. Kemarahanmu padaku dan supir pribadiku membuat anak kita, Nara. Dia tak pernah tahu ayah kandungnya. Yang ia tahu hanya ayahnya sekarang. Seorang supir bis antar kota. Dan ... Nara amat menyayanginya, " kenang ibu dengan air mata keluar dari kedua sudut matanya.


Ibu kemudian mengusap air mata yang jatuh terus menetes dengan menyapu tangan kanan di wajahnya. Menarik nafas kembali dan memulai berbicara kembali.


Pak Donnie tertegun. Dia hanya diam mendengar penuturan wanita yang pernah di cintainya itu. Sebenarnya di dalam hati kecilnya ia masih mencintainya. Namun penghianatan yang di lakukan Ayana dan supir pribadinya telah merenggut kebahagiannya.


Pak Donnie pun menitikkan air mata. Sedih bercampur bahagia. Bahagia kalau sebenarnya ia masih mempunyai seorang anak perempuan lagi. Seorang anak yang bisa membantu Dina untuk mengatasi penyakit leukimia yang di deritanya.


Ia tak ingin tahu lagi penghianatan yang di lakukan Ayana. Ia tak mengiyakan pembelaan mantan istrinya tentang penjebakan yang dilakukan seseorang yang menyebabkan pernikahan yang tidak pernah mendapat restu dari orang tua Ayana itu hancur.


"Sudahlah Ayana, aku tak ingin melihat ke belakang. Biarlah semua terkubur dalam ingatanku saja. Aku tak ingin mendengar kilas balik cerita menyakitkan itu, " timpal Pak Donnie.


"Tapi kau harus tahu. Aku dan sang supir itu dijebak oleh seseorang. Makanya seseorang itu tak berani muncul di hadapanku semenjak hampir 2 minggu aku berada di sini, " sindir Ayana.


Pak Donnie diam tak menjawab ia mencoba menelaah apa yang baru saja di dengarnya. "Mungkinkah istrinya tega melakukan hal itu. Ah, tidak mungkin. Istriku memang banyak kerjaan di Jakarta, " batinnya bergejolak.


"Aw, ibu. Aku mimisan lagi nih, " lirih suara Dina di sela - sela obrolan kedua orang tuanya.

__ADS_1


ibu kemudian mengambil tisue dan menghapus darah yang menempel di bawah hidung Dina. Lalu ia mengambil selembar kasa steril yang ujungnya digulung kecil terlebih dahulu. Setelah di rasa cukup dimasukinnya kelubang hidung yan masih mengeluarkan darah.


"Nara ... , kemari sebentar nak, " panggil ibu.


Nara kemudian mendekati ibu dan Dina. Berdiri persis di depan Dina.


"Dina ... , dia adik kandungmu. Dia yang akan menyumbangkan sumsum tulangnya padamu. Bertahanlah nak, semoga sumsum tulang Nara cocok buatmu, " ucap ibu tanpa meminta persetujuan Nara.


Dina menatap Nara nanar. Ia amat sangat lemah, ia hanya mencoba tersenyum walau tampak terpaksa. "Kau kah adikku. Terimakasih Nara, a-dikku, " ucapnya terbata sambil menjangkau jemari tangan Nara.


"Iya mbak, " sahut Nara pelan.


Nara sebenarnya tak perlu di minta ia pasti akan menjadi donor bagi saudara perempuan yang baru di ketahuinya baru saja.


Dari awal pertemanan, Nara dan Dina amat cocok. Semua orang yang melihat mereka berdua pasti mengatakan mereka adalah sepasang adik dan kakak. Dan ... begitulah sebenarnya. Ternyata mereka bersaudara.


Dalam hati kecilnya. Nara sebenarnya bahagia bercampur sedih. Sekarang baru di mengerti oleh Nara ucapan ibu tadi saat makan bersama di lobi rumah sakit.


Ayah yang ia sayangi ternyata bukan ayah kandungnya. Dan ... sekarang yang ada di hadapannya adalah ayah kandungnya. Ia tak tahu harus bahagia atau tidak.


Tak tanggung - tanggung. Selain rahasia ayah kandungnya, ternyata ia mempunyai saudara perempuan. Dan ... saudara perempuan itu adalah Dina. Pacar dari mantan pacarnya.


Nara kemudian memeluk erat Dina yang masih bersandar di tempat tidur.


"Mbak Dina, tetaplah hidup. Aku akan berjuang untukmu. Aku menyayangimu, " ucap Nara pelan.


Masih saling memeluk. Dina membalas ucapan Nara. "Terimakasih adikku, akupun menyayangimu. "


Pak Donnie sangat terharu melihat apa yang baru saja ia lihat. Ia begitu terbawa perasaan. Pak Donnie pun menghampiri Nara dan Dina yang masih berpelukan.


Pertemuan yang tak pernah ia duga. Sebelum mengatakan sesuatu pada anak yang baru saja di ketahuinya. Firasatnya sejak pertama kali melihat Nara. Terucap dalam canda kejadian waktu itu. Mungkin Nara adalah anaknya. Dan ... ini benar - benar nyata. Nara adalah anak kandungnya. "Tak perlu tes DNA, Ayana tak mungkin berbohong, " batinnya.


"Nara ... , kemarilah nak, " ucap nya sambil memeluk anak yang tak pernah ia rawat.

__ADS_1


"Maafkan papa tidak pernah ada di hidupmu, " kata pertama yang terucap di mulut Pak Donnie.


Air mata mengalir deras diantara mereka berempat yang ada di dalam kar 3 F ini. Sebuah rahasia yang baru saja terbongkar. Rahasia keluarga Donnie Prambudya ....


__ADS_2