
Tiga hari sudah Dina di Bengkulu. Berat hatinya untuk mengabari Angga akan keberadaannya di Bengkulu. Ia merasa telah merebut pacar sang adik. Padahal Nara sudah beberapa kali mengatakan tidak ada lagi rasa diantara mereka berdua. Namun tetap saja Dina enggan mengabari Angga saat ini.
Hampir tiga bulan semenjak Nara menyusul ibu ke Singapura dan baru hari ini Nara di telepon oleh pihak penerbit untuk membicarakan perjanjian kontrak mengenai novel terbarunya.
Nara merasa tidak enak hati karena sudah tiga hari ia berada di Bengkulu dan ia sama sekali belum mengabari Arif. Untuk itulah sore hari sebelum besok pagi berangkat ke Jakarta, Nara mendatangi rumah Arif.
Rumah bercat putih itu tampak lengang dari luar. Dag dig dug hati Nara ketika ia tiba di depan pagar rumah Arif. Tampak motor Arif berada di depan teras. Pagar rumah terkunci rapat oleh gembok.
"Assalamualaikum, " Nara setengah berteriak dari luar pagar.
Tak ada sahutan dari dalam rumah. Hampir lima menit Nara di luar pagar. Lalu Nara mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Kemudian ia memencet tuts nomor WA seseorang. Beberapa kali ia berusaha menelpon. Tapi telponnya tidak diangkat.
Saking kesalnya, Nara pun berteriak. "Assalamualaikum ... assalamualaikum, " teriak Nara kemudian dilanjutkan menelpon kembali.
Drett .. drett ... drett ...
Bunyi ponsel yang bergetar di atas meja kamar Arif. Entah apa yang membuat Arif terbangun. Mungkin ini namanya telepati. Arif terbangun gara - gara ia mimpi bertemu seseorang. Dalam mimpi ia bertemu Nara di pantai panjang. Tapi ia hanya melihatnya dari jauh, berusaha memanggilnya tapi Nara hanya mencari - cari arah sumber suara. Namun ia hanya berlalu pergi tak tahu siapa yang memanggilnya.
"Ha ... seperti nyata, " gumam Arif sambil menguap. Lalu ia bangun dari tempat tidur dan mengambil ponselnya yang ada di tepi meja kerjanya. Arif tersenyum kecil melihat ponselnya yang bergetar hampir jatuh di tepi meja. Sekali bergetar kembali ponsel itu sudah di pastikan akan terjun bebas mencium permukaan lantai.
Arif kemudian mengambil ponsel tersebut. Ada 7 kali panggilan tak terjawab di layar ponselnya. Lalu ia langsung menelpon kembali si penelpon.
"Assalamualaikum Nara, ada apa sayang ? " sapa Arif.
"Waalaikum salam. Cepetan dong buka pintu. Aku ada di depan pagar nih, " pinta Nara gak sabaran.
"Iya maaf , tadi ketiduran. Dering hand phonenya sengaja di kecilkan, " permohonan maaf Arif pada Nara.
Arif berlari kecil menuju teras rumahnya. Rumahnya tampak kosong. Kedua orang tua Arif sedang pergi keluar. Sedangkan kedua adik perempuannya tidak tahu pergi kemana.
Pelan - pelan Arif membuka gembok pagar rumahnya. Setelah di buka Nara masuk bersama motornya. Lalu Arif mengunci kembali pagar itu.
"Ayo masuk, " pinta Ari sambil membuka pintu.
Nara masuk masih celingak celinguk mencari penghuni rumah selain Arif. "Pada kemana, sepi amat, " obrolan pertama dari Nara.
"Mama papa lagi pergi. Sedangkan Rina dan Rini gak tahu ada di mana, " jawab Arif sekenanya.
Arif mengajak Nara masuk ke dalam ruang tamu. Mereka kemudian duduk berdampingan di kursi panjang sofa.
"Eh, tumben pulang gak ngabari. Mbok ya aku dikasih tahu. Biar aku jemput dari bandara, " tanya Arif dengan muka dibuat cemberut.
"Hehe ... ,. maaf kak Arif. Ini aku baru 3 hari berada di Bengkulu. Sekarang aku mau balik lagi ke Jakarta. Ada proyek novel baru, " balas Nara sambil cengengesan.
"Kapan berangkatnya ? " mudah - mudahan aku bisa antar, tapi jangan dadakan. "
"Hehe ... besok pagi berangkatnya kak Arif.
'Ya udalah, gak apa - apa. Apalah artinya diriku ini, " sindir Arif.
"Karena kak Arif sangat berarti. Makanya aku mendatangimu, " rayu Nara sambil menatap Arif.
Akhirnya Arif pun tersenyum dan tangannya menggenggam jemari tangan kanan Nara dan mulai sambil berkata, " Mana mungkinlah aku marah padamu sayang. "
"Kamu sehat - sehat saja kan sayang ! Bagaimana sekarang kabarnya ibu dan Dina, " tanya Arif.
"Seperti yang terlihat. Aku baik- baik saja. Namun tempat pengambilan sumsum tulang belakang terkadang sedikit ngilu. Ibu baik dan Dina alhamdulilah sehat. "
__ADS_1
"Alhamdulilah kalau begitu. Sekarang Dina ada dimana ? " tanya Arif penasaran.
" Sst ... jangan bilang - bilang pada Angga, kalau Dina sekarang ada di rumahku. Biar Dina sendiri yang bilang, kalau ia merasa sudah siap, " pinta Nara.
"Dari awal aku memang sudah menduga. Mengapa kamu dan Dina mempunyai rupa yang mirip. Ternyata terjawab sudah sekarang ini. Kalian adik kakak yang terpisah karena perpisahan kedua orang tua kalian, " ucap Arif.
"Makanya aku belum sempat mengabarimu kak Arif, " jelas Nara.
Arif mengangguk tanda ia paham situasi yang dihadapi Nara. Semua orang punya masa lalu yang rumit dan kita harus melupakan masa lalu yang kelam. Sambut semangat baru buka lembaran baru, " pinta Arif.
Penjelasan Arif yang terakhir membuat Nara tersentil. Seakan membuka mata hati Nara sendiri untuk melupakan Angga dan sambut cinta baru. Tak semudah mengatakan tapi hati yang berbicara. Seperti itulah kendala yang di hadapi Nara bersama Dina.
"Kok jadi bengong begitu, " tanya Arif.
"Emang bengong ya ! hehe ... , " disambut gelak tawa Nara.
" Ya udalah , aku ambil minum dulu, " Arif beranjak ke dalam ruang makan.
Tak disangka ternyata Nara pun mengikuti Arif. Mereka berdua masuk ke dalam ruang makan. Arif menuangkan air es dalam kulkaa san diberikannya pada Nara.
Ups ... saat Nara minum. Arif mengambil kesempatan untuk mencium pipi sang kekasih. Nara kaget apa yang di lakukan Arif. Mukanya jadi memerah dibuatnya.
"Gak marah kan, " ucap Arif sambil menggandeng tangan Nara kembali ke ruang tamu.
"Kamu curang, " ucap Nara bersungut - sungut.
"Gitu aja manyun, hehe."
Akhirnya Nara pulang dan pamit pada Arif. Sebelum pamit Arif menawarkan diri untuk mengantar Nara pulang.
"Gak usah di pikir, rumah kita kan dekat. Aku tinggal jalan kaki saja sebentar, " pinta Arif sambil mengambil kunci motor dari tangan Nara.
Arif kalau sudah ada maunya susah dibantah. Alhasil Nara sudah nangkring di jok belakang motornya. Arif membawa motornya sangat pelan. Hanya dua menit ia sudah berada tepat di depan rumah Nara.
Di teras rumah tampak Angga datang sedang bersitegang dengan ibunya Nara. Entah apa yang di bicarakannya. Sang ibu tampak marah dengan kedatangan Angga yang tiba - tiba.
Nara dan Arif tidak langsung masuk ke dalam rumah. Mereka menyingkir agak ke samping dan berusaha tidak terlihat oleh Angga dan ibunya Nara.
"Cukup Angga, dulu sudah pernah ibu peringatkan. Putuskan hubunganmu dengan Nara. Sekarang apa maumu kemari ?" hardik ibu Nara.
" Saya kesini mau ketemu Dina bu " balas Angga pelan.
" Apa - apaan ini. Kenapa harus Dina ? Mau sama siapa saja ibu tetap tidak setuju, " pinta ibu setengah berteriak.
"Tapi bu ... , " sebelum Angga memberi alasannya. Tiba - tiba Dina keluar dari dalam dan mencoba melerai pertikaian yang terjadi diantara Angga dan ibunya.
"Ibu sudah. Tidak usah lagi di pertentangkan lagi. Apa yang membuat ibu bisa berubah pikiran, " tantang Dina.
"Baiklah Dina. Kalau itu maumu, ibu mau mamamu meminta maaf pada ibu, " pinta ibu pelan.
Ibu kemudian masuk, meninggalkan Dina dan Angga berdua. Angga yang tadi berdiri duduk di kursi yang ada di teras. Diikuti oleh Dina yang juga duduk disana.
"Aku begitu kaget, saat kamu bilang ada di Bengkulu. Lebih kaget lagi ternyata kamu tinggal di rumah ini, " ungkap hati Angga.
"Iya, aku akan meminta mama untuk melakukannya. Demi aku semoga mama mau tergerak hatinya, " timpal Nara.
"Ya udah, kamu yang tenang. Semoga mamamu mau melakukannya. Sangat jarang seseorang mau meminta maaf. Apalagi ini sudah sangat lama. Rahasia mama, 25 tahun kisah itu berlalu, " jelas Angga tidak yakin.
__ADS_1
"Iya sih, semoga permintaanku mau dikabulkan mama, " harapan Dina.
Lalu Angga kemudian mengalihkan pembicaraan yang lain. Dipandanginya wajah Dina dengan seksama. Wajah itu mulai bercahaya kembali. Namun rambutnya masih begitu pendek. Hal ini terjadi karena berulang kali Dina melakukan kemoterapi. A-ku senang bisa melihatmu berangsur pulih, " ucap Angga kemudian.
Sementara itu Nara dan Arif masih berdiri di samping pagar. Takut ada kejadian yang lain. Arif akhirnya pulang kerumahnya. Sudah mau melangkah pulang. Tiba - tiba Nara memutar balik motornya.
"Ayo naik, biar aku yang antar pulang, " ajak Nara.
"Apa- apaan ini, antar - antaran kalau begitu, " ledek Arif yang masih tetap berdiri tak beranjak.
"Gak apalah, sekali - kali begini, " pinta Nara
Arif akhirnya nangkring di belakang Nara. Terasa janggal dilihat, secara tubuh Arif sangat besar. Dan ... kasihan motornya, tampak berat di bagian belakang. Hehe ....
Nara dan Arif melaju ke rumah Arif yang jaraknya tidak jauh. Sepanjang perjalanan mereka berdua tertawa melihat kelakuan konyol mereka. Hanya dua menit Nara tiba di rumah Arif. Tepat di depan pagar rumahnya Arif di turunkan dari motor Nara. Mereka berdua kemudian saling melambaikan tangan.
Tinggallah Nara sendiri pulang ke rumahnya. Mengendarai motor sambil senyum - senyum sendiri. Ada rindu dibalik kebersamaannya bersama Arif. Hal - hal kecil yang membuatnya kadang kala rindu hari - hari bersama Arif.
""""''''''""
Sekembalinya Angga dari rumah Nara. Motornya berpapasan dengan motor Angga. Mereka hanya saling berpandangan saja. Tetap saja saat beradu pandang Nara masih merasakan debaran halus yang bermain di dadanya. Sungguh menyiksa perasaan yang bersemayam di dadanya.
Angga juga terlihat kagok ketemu Nara. Sepertinya ia belum siap menerima kenyataan kalau Nara adalah adik kandung Dina.
Saat Nara tiba di rumah terdengar suara adzan mengalun indah. Nara kemudian mandi dilanjutkan. dengan sholat magrib. Sayup terdengar pembicaraan Dina dengan mamanya. Selesai sholat Nara masih mendengar kakaknya itu masih sibuk menelpon walau terdengar setengah berbisik.
Nara sengaja berlama - lama duduk di atas sajadahnya dengan tangan kanan memegang tasbih. Ada persoalan pelik antara Dina dan mamanya.
" Ma, pokoknya aku gak mau tahu. Secepatnya mama datang ke Bengkulu. Tanpa mama aku tidak diperbolehkan ibu berhubungan dengan Angga. Hanya ada satu syarat mutlak. Mama harus minta maaf dan menjelaskan semua pada ibuku, " pinta Dina pada mamanya melalui sambungan ponselnya.
"A-pa ? mama belum siap Dina, " jawab mama pelan.
"Sampai kapan mama siap? bukannya mama bersahabat dengan ibu waktu di Bengkulu! apa arti persahabatan bagi mama. Mengambil milik sahabatnya sendiri, " hardik Dina.
"Maafkan mama Dina. Mama khilaf waktu masih muda. Mama memang jahat pada ibumu. "
"Lantas apa yang ingin mama tebus dari semua apa yang telah mama lakukan. "
"Baiklah mama akan minta maaf pada ibumu. Tapi beri mama sedikit waktu, " pinta mama.
"Baiklah, aku tunggu mama di Bengkulu. Assalamualaikum ... , " Dina mengakhiri telponnya.
Nara yang sedari tadi berzikir, akhirnya selesai juga ketika Dina mengakhiri telponnya. Nara pura - pura tidak mendengar obrolan Dina dengan mamanya. Sampai Dina sendiri yang mengutarakan hasil percakapan dengan mamanya.
"Kamu dengar gak ? apa percakapan aku dengan mama, " tanya Dina sembari tidur di atas kasur.
"Gak, " Nara menggelengkan kepalanya sambil melipat mukenanya dan di taruh di atas meja riasnya.
Lalu Nara mengikuti jejak kakaknya itu, berbaring di atas tempat tidur.
"Ini tentang sebuah rahasia mama. Rahasia mama yang telah merebut papa dari ibu. Mama dalam waktu dekat akan ke Bengkulu. Sebuah pengakuan dan permintaan maaf. "
"Mbak yakin mama akan melakukan itu semua, " tanya Nara seakan tak percaya.
"Mama janji untuk melakukannya. Ia hanya butuh waktu sedikit untuk siap meminta maaf pada ibu. Mama sekarang sudah insyaf. Dulu ia pernah bercerita. Sebuah kesalahan yang pernah ia perbuat pada seorang, seorang sahabat yang tersakiti gara - gara dia. Tak tahu harus bagaimana cara meminta maaf. Kadang mama menangis di atas sajadahnya. Kalau kutanya ia tampak lebih menangis lagi. Selalu meminta maaf padaku. Mungkin inilah jawaban dari segala resah yang ia rasakan selama ini, " ucap Dina panjang lebar tentang mamanya.
Nara hanya mendengarkan saja penjelasan kakaknya ini. Ia tak tahu harus bicara apa lagi. Lalu mereka berdua terdiam semua. Nara menerawang ke dalam pikirannya sendiri dan Dina pun demikian. Tenggelam dalam pikiran masing - masing ....
__ADS_1