
Dina memutuskan untuk tinggal di Jakarta. Ia ingin menjaga mama agar mama tidak berbuat nekat seperti yang pernah ia lakukan. Sebenarnya ia juga marah pada mama, perbuatan yang di lakukannya di masa silam membuat keluarga kecil mereka terpecah belah.
Dilain pihak ia sangat menyayangi ibu, ibu kandung yang hidupnya amat menderita. Namun dengan berjalannya waktu ibu bisa menerimanya sebagai suatu suratan takdir sang Ilahi padanya. Ibu menjadi lebih religius dengan pengalaman hidup yang dialaminya.
Nara dan ibu memutuskan untuk pulang ke Bengkulu. Kasihan ayah tinggal sendiri di rumah, makanya mereka tidak bisa berlama - lama tinggal di Jakarta.
Padahal papa berencana akan mengajak kedua anaknya dan ibu untuk liburan ke suatu tempat. Kegiatan yang tidak pernah mereka lakukan. Namun gagal karena ibu ngotot ingin pulang, kasihan ayah yang tinggal sendiri di Bengkulu.
Nara dan ibu diantar langsung oleh supir pribadi papa, Pak Izal. Pak izal adalah anggota polisi tetap yang menjaga kemanapun sang jendral pergi. Ia memiliki ilmu beladiri yang munpuni. Jadi jangan main - main dengan Pak Izal. Hehe ....
Nara dan ibu diantar menuju bandara Sukarno Hatta. Mobil pajero hitam itu melesat melintasi jalan tol. Pak Izal mengantar anak sang jendral sampai tiba di terminal 2 C keberangkatannya.
Nara dan ibu pulang naik pesawat Lion Air jam penerbangan pagi.
Penumpang pesawat berjubel jubel hari ini. Sabtu pagi yang cerah, secerah hati Nara dan ibu untuk pulang. Padahal ibu baru satu hari saja berada di ibukota Jakarta. Namun kerinduannya pada kota Bengkulu begitu menggebu - gebu. Kota yang telah menempa hatinya menjadi kuat. Kuat laksana karang yang selalu saja diterjang ombak.
Saat Nara sedang mencocokan nomor kursi yang ada di boarding pass dengan nomor yang tertera sesuai dengan nomor urutan kursi yang ada di pesawat.
Nara dan ibu berdesak - desakan dengan awak penumpang yang lain. Mereka juga sama seperti Nara, mencari nomor kursi untuk bisa segera duduk dengan nyaman.
Nara telah menemukan nomor kursi yang ia dan ibu cari, nomor 12 A dan 12 B. Nara kemudian menyuruh ibu duduk terlebih dahulu di kursi 12 A. Kursi yang berada dekat dengan jendela pesawat. Sedangkan Nara masih sibuk menaruh beberapa goody bag yang berisi makanan di dalam bagasi.
Saat Nara akan menaruh goody bagnya. Seseorang juga menaruh sesuatu di tempat yang sama. Lalu mereka berdua saling pandang. Ternyata seseorang yang amat dikenal oleh Nara.
"Ardi .... "
"Nara ...."
" Hai !!! Apa kabar, " sapa Ardi sambil menjulurkan tangan kanannya.
__ADS_1
"Baik, " jawab Nara sambil membalas uluran tangan Ardi.
" Kamu duduk dimana Nara ? tanya Ardi sambil melepas tangan Nara.
" Aku duduk di sini, 12 B " jawab Nara sambil menunjuk kursi yang ternyata berada berdekatan dengan Ardi. Lalu Nara langsung duduk di kursinya.
" Oi, asyik nih. Aku bisa duduk di sebelahmu. Kursiku nomor 12 D, " jawab Ardi dan duduk disebelah Nara. Lalu Ardi berkata lagi, " Semoga kursi 12 C kosong, hehe ...."
Nara dan Ardi duduk memang berdekatan. Mereka terpisah diantara sekat buat penumpang yang akan berlalu lalang di atas pesawat. Sesuai dengan candaan Ardi dengan Nara. Berharap bangku kursi nomor 12 C kosong. Dan harapan itu terjadi.
Nara dan Ardi berteman di kala SMP, satu kelas saat mereka kelas 3 SMP. Mereka berdua saling suka, cuma waktu itu masih suka - suka anak SMP.
Ibu hanya tersenyum saja saat Ardi menatapnya dan menangkupkan kedua tangan di depan dadanya sembari menundukan kepala sedikit tanda hormatnya pada ibu temannya. Lalu ibu pura - pura tidur, membiarkan Nara dan Ardi berbicara sebagai seorang teman yang lama tidak bersua.
"Kamu ngapain di Jakarta Di, " tanya Nara penasaran.
"Kalau kamu ngapain juga di Jakarta Nara ? "
"Aku menemani ibu ke Jakarta, " jawab Nara berbohong.
Saat Nara dan Ardi saling menatap. Mengapa Nara merasakan ada desiran halus yang bersarang di dalam dadanya. Begitu pula dengan Ardi, jantungnya seperti tersengat aliran listrik. Membuatnya harus mengatur nafasnya. Dulu gadis yang ada di hadapannya ini pernah membuat hari - harinya dilanda kerinduan.
"Nomor ponselmu mana Nara ? Nanti kirimin ya ? " pinta Ardi dengan tatapan mata penuh cinta.
"Ntar ya ... , kalau sudah tiba di bandara, " balas Nara.
"Ngomong - ngomong rumahmu masih ditempat lama kan !! Di Gunung bungkuk kan !!! " ulang Ardi kembali.
"Iya, emang mau pindah kemana lagi. Rumah ibuku tetap di sana, " terang Nara.
__ADS_1
Ardi begitu bahagia bisa bertemu kembali pada Nara. Nara tampak cantik seperti sejak pertama kali ia bertemu. Menimbulkan hasrat dihatinya untuk menjajaki kembali cinta yang belum bersambut.
"Janji ya Nara ... , kamu harus kasih tahu nomor ponselnya ya !! " pintanya berharap.
Entah apa yang dirasakan Nara saat ini. Ia menyukai Ardi saat mereka satu kelas di kelas 3A. Sekarang Ardi tampak dewasa, senyumnya masih sama. Masih memikat seperti di kala itu.
Setelah diamati dengan seksama. Nara merasa mengapa sekilas ia menatap wajah seseorang yang amat di kenalnya. Wajah Ardi mengingatkannya pada orang yang pernah singgah di hatinya. Memberikan cinta dan mencampakannya begitu saja, Angga.
Bahagia itu sederhana, seperti yang di rasakan Nara dan Ardi saat ini. Mungkin ini namanya jatuh cinta. Panah asmara itu melanda Ardi dan Nara.
Nara sepertinya melupakan sesaat sosok yang sangat mencintainya, Arif.
Ia lupa kalau ia memiliki seseorang yang amat setia padanya. Arif tak pernah bisa mencintai orang lain. Cintanya hanya pada Nara.
Nara tertawa bahagia bersama Ardi saat ini. Bunga - bunga asmara itu mulai menyelusup di dadanya. Begitu juga dengan Ardi. Pesona Ardi membuat hati Nara terpikat. Ia tak pernah merasakan jatuh cinta lagi seperti saat ini.
Penerbangan dari Jakarta dan Bengkulu memakan waktu kurang lebih satu jam. Dan perjalanan ini terasa begitu cepat bagi Nara dan Ardi.
Ibu yang awalnya pura - pura tidur, akhirnya tidur benaran. Ia amat terlelap, sepertinya ia amat lelah. Lelah hati dan pikirannya, tapi ia sudah cukup bahagia. Di hari tuanya ia menemukan anaknya kembali.
Suara pramugari terdengar nyaring melalui pengeras suara. Ia memberi tahu seluruh awak penumpang bahwa sebentar lagi pesawat akan segera mendarat. Ibu pun terbangun kaget. Di sampingnya ada Nara yang terlihat sedang senyum - senyum sendiri. Hal ini yang menggelitik ibu untuk bertanya pada Nara.
"Nara ... , Nara !!! " pekik ibu pelan.
"Ii-ya ibu ... , ada apa ? " sontak kaget Nara dan mengalihkan pandangan ke arah ibu.
" Kamu ngapain bengong - bengong sambil senyum kayak gitu. Nih , bentar lagi kita turun, " celoteh ibu.
Ardi sedari tadi mendengar obrolan Nara dan ibu. Ia tersenyum mendengar celotehan ibu. Ia berharap kali ini ia dan Nara akan memulai hubungan baru. Hubungan yang bukan sekedar teman ....
__ADS_1