CINTA NARA

CINTA NARA
2.43. MELEPASKAN DIRI


__ADS_3

Hari berikutnya, saat tengah duduk beristirahat di sofa sambil menunggui Yoga yang bekerja dari rumah, Nara merasakan perutnya mulas disertai dengan kram yang cukup terasa menyakitkan.


Segera dia beranjak pergi ke kamar mandi tanpa mengatakan apa pun pada suaminya. Tak lupa dia membawa pembalut wanita untuk menggantinya agar merasa lebih nyaman.


Namun alangkah terkejutnya Nara, saat tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu yang keluar begitu saja dari organ intinya, masih disertai dengan kram di perutnya yang tak juga mereda.


Saat dia memeriksanya, wajahnya berubah pucat dan panik seketika begitu melihat banyak gumpalan darah yang mengotori pembalut yang dipakainya.


"Maaas ...! Mas Yogaaa ...!!"


Teriakan sang istri yang sangat keras membuat Yoga sigap berdiri dan berlari cepat menyusul ke kamar mandi.


"Sayang? Apa yang terjadi??"


Langkah Yoga terhenti di ambang pintu saat melihat istrinya berdiri bersandar dengan lemas dan terus menangis dengan bagian bawah tubuhnya yang masih terbuka dan dipenuhi darah.


Tanpa rasa jijik dan takut sama sekali, lelaki itu dengan cekatan membantu Nara membersihkan tubuhnya lalu mengganti dan merapikan kembali seluruh pakaiannya.


Diangkatnya tubuh Nara dan dibopongnya ke atas tempat tidur. Wanita itu masih terlihat pucat dan ketakutan.


Setelah membaringkan tubuh istrinya, Yoga bergegas keluar dan meminta Bibi Asih membuatkan minuman hangat untuk istrinya.


Kembali ke kamarnya, Yoga segera menghubungi Ardi dan menyampaikan apa yang baru saja terjadi pada Nara.


Ardi yang sudah bisa menduga adanya kejadian tersebut meminta mereka untuk datang ke klinik, agar bisa diperiksa lebih lanjut semuanya untuk menentukan langkah apa yang perlu dilakukan untuk Nara.


Menunggu lebih dulu hingga kondisi Nara membaik dan lebih tenang, akhinya selepas makan siang mereka datang ke klinik Ardi.


Sebelum melakukan pemeriksaan, perawat mengambil darah Nara untuk diperiksa secara menyeluruh di bagian laboratorium.


Nara yang berada di atas pembaringan dengan tetap saling berpegangan pada tangan Yoga, mendengarkan baik-baik semua penjelasan yang disampaikan oleh Ardi.


"Dari peluruhan jaringan yang terjadi spontan dan alami di rumah tadi, rahim Nara sudah bersih dan tidak terdapat lagi sisa kotoran dan jaringan yang masih menempel di dinding rahim."


"Jadi selanjutnya bagaimana?" tanya Yoga yang membutuhkan kepastian jawaban dari sang dokter.


"Nara tidak perlu menjalani tindakan kuretase. Rahimnya sudah bersih dan dalam kondisi yang baik."


Raut kelegaan terlihat jelas di wajah Nara dan Yoga atas keputusan Ardi.

__ADS_1


"Aku akan memberikan beberapa obat untuk membersihkan sisa jaringan yang sebagian kecil masih tertinggal di dalam rahim Nara."


Ardi menuliskan resep untuk Nara yang segera dibawa dan disampaikan oleh perawatnya ke bagian apotik untuk disiapkan dengan cepat.


"Minggu depan kita lakukan pemeriksaan ulang lagi untuk mengetahui apakah ukuran rahimnya sudah kembali normal seperti sebelumnya."


Sambil menunggu hasil pemeriksaan darah Nara keluar, Ardi mempersilakan keduanya untuk duduk di sofa dan membuka obrolan ringan.


Kesempatan tersebut digunakan oleh Nara untuk menanyakan kondisi kesehatannya dan kemungkinan dirinya untuk bisa mengandung lagi.


"Apakah ada yang salah di dalam tubuh saya, Dok, sehingga saya bisa mengalami keguguran berturut-turut seperti ini? Berbahayakah hal tersebut?"


Yoga merapat dan merangkul bahu istrinya dengan penuh perhatian. Dia juga turut mendengarkan penjelasan dari sahabat kecilnya.


"Semuanya baik-baik saja dan sama sekali tidak ada masalah dengan semua organ reproduksi Nara. Bahkan untuk kista yang ada pun, sesuai hasil pemeriksaan tadi, ukurannya sudah mengecil dan lambat-laun akan hilang dengan sendirinya."


Setelah menunggu beberapa waktu, hasil pemeriksaan darah Nara pun telah diterima oleh Ardi dan segera diperiksanya dengan cermat.


"Bagaimana, Di?" Yoga menatap wajah Ardi dengan tak sabar. Nara di sampingnya pun sama, menunggu dengan harap-harap cemas.


"Bagus! Semuanya normal dan negatif. Tidak ada yang perlu kita khawatirkan lagi. Akan tetapi untuk hamil kembali, aku sarankan kalian menundanya lebih dulu, setidaknya selama enam bulan ke depan."


"Selain untuk mengistirahatkan dan memulihkan kondisi rahim seperti semula, Nara juga perlu untuk menguatkan fisik dan mentalnya kembali, sehingga saat nanti kalian berencana memulainya lagi, kalian berdua terutama Nara sudah siap sepenuhnya lahir dan batin."


Sebelum mereka mengakhiri pemeriksaan yang cukup menyita waktu tersebut, Nara memberanikan diri untuk bertanya tentang satu hal yang masih menghantui pikirannya.


"Dok, apakah masih ada kemungkinan saya mengalami keguguran lagi di kehamilan berikutnya?"


"Sayang ..., jangan berpikiran yang tidak-tidak seperti itu!" Yoga merasa takut dengan pertanyaan yang diajukan oleh istri tercintanya.


Sebagai seorang dokter yang sudah terbiasa menghadapi beragam karakter pasien dengan segala macam keluhan dan masalahnya, Ardi memaklumi ketakutan keduanya.


"Di dalam setiap kehamilan, resiko terjadinya keguguran itu selalu ada, terlebih di trimester pertama kehamilan. Kalian tidak perlu mengkhawatirkannya secara berlebihan karena semua itu tidak bisa kita prediksi sebelumnya."


"Kita hanya bisa menjaga dan menjalani sebaik-baiknya, selebihnya kita serahkan semua pada Yang Maha Kuasa."


.


.

__ADS_1


.


Alya mendapatkan kabar buruk dari kampung halamannya. Papanya mengalami serangan jantung dan dirawat di rumah sakit setempat.


Kabar yang diterimanya dari salah satu saudara sepupunya di sana, papanya mengalami serangan jantung dan jatuh pingsan setelah menerima kiriman beberapa buah foto yang menunjukkan kekerasan fisik yang dialami olehnya selama ini.


Tanpa berpikir panjang lagi, Alya segera berkemas dan bersiap untuk pulang menemui kedua orangtua yang sangat dicintai dan dihormatinya.


Dia tidak memikirkan lagi tentang hal yang lainnya. Baginya kesehatan dan kebahagiaan kedua orangtuanya adalah hal yang paling utama dalam hidupnya, terutama untuk saat ini.


Bersamaan saat taksi daring yang dipesannya sudah sampai di depan rumah kontrakannya, seseorang datang menghampiri Alya yang sudah berada halaman dan berusaha mencegah kepergiannya.


"Lepaskan aku! Jangan halangi aku untuk menemui orangtuaku sendiri. Kamu sudah tidak berhak melarangku lagi!!"


Alya berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan lelaki bertubuh tinggi besar yang bersikap penuh amarah kepadanya.


"Awas saja kamu, jika mereka semua sampai mengetahui masalah kita yang sebenarnya! Aku tidak akan segan-segan melakukan hal yang lebih buruk lagi padamu lebih dari sebelumnya!!!"


Beruntung sopir taksi yang menjemputnya turun dan membantu Alya melepaskan diri dari tindakan kasar lelaki tersebut.


Dengan memberikan ancaman akan berteriak memanggil warga sekitar dan menghubungi pihak kepolisian, sopir taksi itu berhasil membawa Alya masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukannya meninggalkan lelaki yang masih dipenuhi amarah dan umpatan kasar di depan rumah Alya.


"Kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku, Alya! Kamu harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi padaku hari ini. Kamu sudah membuat hidupku hancur!!!"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2