CINTA NARA

CINTA NARA
85 MAAFKAN AKU


__ADS_3

"Aku mencintaimu, Sayang ...."


Nara membuka matanya seketika. Tak percaya dengan apa yang baru saja dirasakan dan didengarnya. Kepalanya terangkat seiring tubuhnya yang kembali tegak di samping pembaringan.


"Ga ...." Matanya membulat sempurna saat melihat Yoga juga telah membuka matanya dengan pandangan sayu nan teduh.


Bibir lelaki itu menampakkan sebuah senyuman untuk istri tercintanya. Senyuman yang mungkin tidak akan bisa dia berikan lagi untuk Nara di lain hari.


"A-Aku akan memanggil Dokter Danu kemari ...."


Tangan Nara terulur ke atas, hendak menekan tombol hijau di atas pembaringan Yoga, tapi lelaki itu menahan dengan sentuhan tangannya yang masih lemah.


"Jangan ..., aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin berdua denganmu di sini." Suara Yoga terdengar sangat lemah namun dia bersikeras tidak ingin dipanggilkan dokter.


"Tapi kamu harus diperiksa, Ga. Kondisimu masih lemah ...."


Nara masih mencoba mengulurkan tangannya lagi tapi Yoga pun lagi-lagi menahannya. Dia justru menggenggam tangan Nara dan mendekapnya di atas dada, di tempat Nara baru saja merebahkan kepala di sana tadi.


"Aku tidak apa-apa, Sayang ...."


Selemah apa pun suara Yoga saat mengucapkannya, terdengar merdu di telinga Nara hingga menggetarkan hatinya kembali, karena panggilan sayang itu membuatnya bahagia. Bahagia bercampur rasa takut, sebab bisa jadi itu adalah panggilan mesra terakhir dari Yoga untuk dirinya.


Nara terngiang-ngiang ucapan Dokter Danu yang disampaikan oleh Ardi kepadanya, jika waktu Yoga tidak panjang lagi dan bisa jadi detak jantungnya yang berdegup saat ini akan menjadi detakan terakhirnya.


"Aku sudah tahu semuanya, Ga."


Ucapan Nara membuat Yoga terdiam seketika. Senyumannya mulai memudar dan berganti raut kesedihan, sama halnya yang terlihat di wajah Nara.


Yoga tampak tidak tenang setelahnya. Dia terkejut dan tidak tahu harus menjelaskan apa pada Nara.


"Sayang, maafkan aku ...." Hanya itu yang bisa Yoga katakan kali ini. Nara sudah mengetahui semua hal yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat.


Mata bening Nara menatap Yoga lekat-lekat. Dengan berkaca-kaca menahan tangis, dia terus memandangi wajah pucat suaminya yang sedikit pun tak mengurangi pesona rupawannya.


"Mengapa? Mengapa kamu melakukannya, Ga?"


Yoga menggeleng pelan. Lemah tubuhnya kini tak selemah hatinya yang terasa sakit melihat kesedihan di wajah Nara. Itulah alasannya mengapa dia menutupinya dari Nara.

__ADS_1


"Aku tidak ingin kamu bersedih karena mengetahuinya. Apalagi kamu sedang mengandung anak kita."


Nara menggelengkan kepalanya dengan hati remuk.


"Kamu jahat! Kamu membohongiku sekian lama dan berjuang sendiri tanpa aku. Hiks ... kamu jahat, Ga. Hikss ... hiksss ....!!"


Nara menghambur ke pelukan Yoga. Penyesalan membuatnya semakin merasa bersalah pada sang suami. Dia menyesal terlambat mengetahuinya dan tidak bisa mendampingi Yoga dalam upaya kesembuhannya selama ini.


Yoga membiarkan Nara terus menumpahkan tangisan di atas dadanya. Dia pun sama, mulai meneteskan air mata begitu mendengar isakan Nara yang semakin keras terdengar, membuat hatinya perih dan semakin terluka.


"Aku minta maaf atas semua kesalahanku. Terutama atas dosa besar yang kulakukan dengan menodaimu, merenggut paksa kesucianmu dengan cara pengecutku."


Yoga mengingat perbuatannya dulu. Saat dengan tangan gemetar dia mencampurkan obat bius ke dalam minuman Nara dan Alan.


Dia juga mengingat dengan jelas saat membopong tubuh Nara yang sudah lunglai tak sadarkan diri ke dalam kamarnya dan bersiap menjalankan rencana buruknya.


Meskipun sudah membulatkan niat, Yoga tetap tidak tega memulainya dengan sadar dan pikiran waras. Namun teringat akan maut yang mulai mengintai hidupnya, akhirnya lelaki itu mulai melakukannya meski dengan rasa tidak nyaman dan terus memejamkan mata.


"Maafkan aku, Sayang. Aku bersalah, aku berdosa, aku ... aku adalah lelaki yang tak beradab. Maafkan aku ...."


Mereka berdua larut dalam kesedihan yang sama. Untuk beberapa waktu lamanya mereka saling berpelukan dalam tangisan yang tiada henti, hingga akhirnya keduanya mulai tenang dan bisa menguasai diri.


"Terima kasih." Yoga kembali tersenyum dengan perhatian yang diberikan istrinya.


"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanyanya kemudian.


"Ini adalah pagi ketiga kamu dirawat di sini, setelah dibawa pada malam itu." Nara menjawab dengan tatapan lembut ke arah Yoga, membuat hati lelaki itu bergetar penuh cinta.


"Aku sangat takut waktu itu .... Baru saja kamu memintaku masuk ke dalam rumah lebih dulu, tak lama kemudian salah seorang pengawal mengetuk pintu dan mengatakan bahwa kamu sudah ...."


Nara tak melanjutkan ucapannya. Matanya sudah kembali redup dan tergenangi butiran-butiran bening. Yoga segera membawa tangannya membelai wajah sang istri dan menggelengkan kepala.


"Aku tidak akan pergi semudah itu, Sayang. Masih ada beberapa hal yang belum aku selesaikan, termasuk juga tentang kamu dan anak kita."


Nara tak bisa lagi membendung air matanya.


"Bagaimana kabar Raga?"

__ADS_1


Nara menghela nafas sedalam-dalamnya dan mengeluarkannya dengan perlahan, sebelum bersuara dengan lirih sembari menahan tangisannya.


"Dia baik-baik. Hanya saja, dia menjadi sedikit rewel sejak kamu tidak pulang. Sepertinya dia mencari keberadaanmu, yang biasanya selalu ada dan menimangnya."


Yoga tersenyum mengingat bayi montok dengan rambut yang sudah mulai tumbuh lebat dan hitam pekat meski pun belum rata di beberapa bagian.


"Setiap kali Raga rewel dan menangis tanpa alasan, aku selalu membawanya ke meja kerjamu. Aku pangku dia dan kuputarkan rekaman video saat kamu sedang bersamanya."


"Penglihatannya memang belum jelas, tapi dia sudah sangat mengenali suaramu. Dia akan langsung terdiam dan menghentikan tangisannya begitu mendengarkan suaramu dan lantunan lagu yang sering kau dendangkan saat menimangnya."


Nara mengeluarkan ponselnya lalu membuka panggilan video ke nomor Bapak. Setelah diterima, Nara meminta Bapak mengajak Ibu yang sedang bermain dengan Raga ke kamar dan membawanya ke meja kerja Yoga.


Bapak mengikuti permintaan putrinya tanpa bertanya apa pun. Beliau tahu, Nara yang sedang bersama Yoga pasti ingin menunjukkan tingkah lucu Raga pada suaminya.


Atas seijin Nara Bapak menyalakan laptop dan membuka galeri untuk mencari video rekaman Yoga dan Raga. Bapak yang sudah mengerti maksud Nara segera memposisikan layar ponsel beliau agar bisa menunjukkan Raga yang dipangku Ibu dan sedang diperlihatkan ke layar di hadapannya.


Dan seperti yang Nara ceritakan, bayi montok itu langsung terdiam saat layar di depannya memperlihatkan video Yoga yang sedang menimang Raga dan berdendang untuk buah hatinya tersebut.


Bapak memperbesar volume agar suara Yoga lebih terdengar jelas oleh si bayi dan benar saja, Raga semakin terdiam saat mendengar suara Yoga melantunkan doa-doa untuk anaknya dan juga pesan-pesan nasehat pada sang buah hati.


Pun saat Yoga menyanyikan lagu yang biasa didendangkannya saat bersama bayi montok itu, Raga semakin tampak tenang dan mulai terhanyut dalam buaian suara ayahnya, seolah dia sedang di-nina bobo-kan secara langsung.


Tak lama kemudian bayi tampan yang menuruni pesona ayahnya itu mulai bersandar ke tubuh neneknya dan pelan-pelan memejamkan mata beningnya yang seindah mata sang ibu.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis...πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2