CINTA NARA

CINTA NARA
3.25. RASA YANG TAK BIASA


__ADS_3

"Kamu masih suka soto babat, Al?" tanya Ardi sambil mengemudikan mobil milik Yoga keluar dari halaman rumah sakit.


Alya menoleh dan menatap lelaki di sampingnya. Sekali lagi Ardi menanyakan hal yang berhubungan dengan masa lalu. Tentang makanan kesukaannya saat mereka masih kuliah dulu.


"Masih," jawab Alya lirih lalu kembali menatap ke arah depan.


"Bagaimana dengan nasi goreng babat? Kamu masih menyukainya juga?" Ardi mengambil arah jalan menuju ke klinik tempat Alya bekerja.


"Iya." Alya kembali menjawab tanpa menoleh lagi ke sampingnya.


"Ternyata dia masih mengingatnya ...."


Alya menahan senyumannya agar tidak sampai diketahui oleh lelaki yang masih fokus mengemudikan mobil.


"Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan siang dengan salah satu menu tersebut. Tapi di sini, aku tidak tahu di mana rumah makan yang menyediakannya. Bisakah kamu memberitahuku di mana tempat yang terenak untuk kita menikmatinya, Al?"


Alya berpikir sejenak lalu mengangguk. Tangan kanannya mulai memberikan petunjuk sesuai dengan apa yang diucapkannya.


"Ikuti saja petunjuk dariku. Tak jauh dari sini ada warung soto yang cukup terkenal dan disukai oleh para pendatang dan tamu di kota ini."


Ardi mengangguk dan tersenyum. Usahanya berhasil, mengajak wanita anggun itu untuk makan siang bersama.


Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di tempat yang Alya maksud. Dengan sigap Ardi keluar lebih dulu, untuk membukakan pintu bagi Alya.


"Hati-hati, Al. Awas, kepalamu!"


Meskipun sudah dilindungi oleh tangan Ardi, namun karena kegugupannya Alya justru terantuk bagian pintu yang sudah terbuka karena berusaha untuk menjaga jarak.


Serta-merta Ardi menyentuh kepala Alya yang tertutup hijab dan mengusapinya tanpa sadar, membuat Alya berdiri mematung menatapnya tanpa berkedip. Hatinya berdesir halus, penuh rasa indah yang tiba-tiba membuncah tanpa permisi.


Sekian detik berikutnya, barulah Ardi tersentak dan menyadari kesalahannya. Langsung ditariknya tangan yang semula berada di atas kepala Alya kemudian mundur dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Maaf, Al. Maaf ... aku tidak sengaja," ucap Ardi penuh sesal.


"Kamu tidak apa-apa?" Ardi ingin memastikan lagi dan Alya menjawabnya dengan anggukan kepala pelan.

__ADS_1


Dia kembali menundukkan pandangannya yang sempat tertegun menatap lelaki itu. Dirapikan hijabnya untuk memastikan tidak ada anak rambut yang menyembul keluar dari balik hijab sederhana yang dikenakannya.


Keduanya sama-sama terdiam untuk beberapa saat, hingga terdengar bunyi peluit dari juru parkir yang tengah mengatur keluar masuknya mobil dan motor yang berada di halaman warung makan.


"Ayo, kita masuk," ajak Ardi setelah menutup dan mengunci pintu yang masih terbuka lantaran kejadian tak dinyana tadi. Alya berjalan lebih dulu dan diikuti Ardi di sampingnya kemudian.


Memilih meja kosong di sudut depan, mereka duduk berhadapan dengan debaran keras di dada masing-masing. Tanpa bertanya pada Ardi, Alya menulis nota pesanan dengan segera dan diberikannya pada seorang pramusaji yang telah menunggu.


"Kamu sering makan di sini, Al?" Memecah keheningan di antara mereka, Ardi membuka suara lebih dulu.


Alya menggeleng pelan. "Aku lebih sering memesannya melalui aplikasi daring," jelasnya dengan singkat.


Pesanan datang dengan cepat sehingga mereka bisa segera menikmatinya. Alya memesan menu yang berbeda untuk Ardi karena yang diingatnya, Ardi tidak suka babat sepertinya. Jadi tadi dia memesan isian daging biasa untuk lelaki yang dicintainya itu.


Pun dengan minuman, jika Alya memilih es jeruk sebagai pendamping makanan kesukaannya, Ardi lebih menyukai minuman manis lainnya seperti es teh atau es sirup.


"Silakan dinikmati. Semoga kamu menyukai rasa masakan di sini." Alya menunggu Ardi lebih dulu mencicipi dan menunggu tanggapannya.


Ardi tersenyum dan terlebih dahulu berterima kasih sebelum mulai memasukkan sendokan pertama ke dalam mulutnya. Dia bahagia karena Alya tidak melupakan kebiasaan mereka dulu, termasuk jenis makanan dan minuman mereka yang tidak satu selera.


Tentang kegemaran dan kebiasaan sehari-hari, mereka memang mempunyai banyak perbedaan. Tapi tidak pernah ada masalah karenanya, sebab satu sama lain telah saling mengetahui dan saling mengingatnya.


Alya tersenyum lega kemudian turut menikmati menu kesukaannya bersama seseorang yang istimewa di hadapannya.


"Terima kasih juga karena kamu masih mengingat apa yang aku sukai dan tidak aku sukai. Aku sangat senang, Al," jujur Ardi membuat Alya berhenti sejenak untuk mengatur degup jantungnya yang tiba-tiba bertalu tak menentu.


Ardi yang menangkap semburat merah yang menghiasi wajah menawan Alya, semakin bahagia melihatnya. Wanita ramah dan penuh senyuman itu selalu membuatnya merasa gemas setiap kali menampakkan wajah meronanya yang membuat Ardi semakin terpikat.


Mereka pun melanjutkan makan siang istimewa itu dalam hening satu sama lain. Mencoba bersikap biasa saja meskipun di dalam hati tengah menyimpan rasa yang tak biasa.


"Aku akan terus membuatmu mengingat semua kenangan masa lalu kita, Al. Satu per satu, akan aku buat dirimu menyadari bahwa rasa di antara kita masih ada dan selalu tersimpan di dalam hati."


Mereka menyelesaikan makan siang tanpa membuang banyak waktu, mengingat Alya harus segera sampai ke klinik untuk bertugas.


Setelah Ardi mendahului berdiri dan menyelesaikan pembayaran di kasir, lelaki itu kembali menghampiri Alya dan mengajaknya keluar menuju ke halaman parkir.

__ADS_1


"Al, besok pagi Aura akan melakukan pemeriksaan ulang. Bisakah aku meminta waktumu sebentar untuk menemaninya?"


Di dalam mobil yang sudah melaju, Ardi menyampaikan permintaannya. Dia tahu Alya akan sulit untuk menolaknya jika hal itu beehubungan dengan putri kecil kesayangannya, yang sekarang juga sudah menjadi kesayangan wanita yang duduk di sampingnya.


"Maafkan Ayah, Nak. Ayah memanfaatkan keadaan atas namamu agar dia bersedia untuk menemanimu besok pagi, agar kita bertiga bisa bersama lagi."


Alya belum menjawab pertanyaan Ardi. Dia mengambil ponselnya dan memeriksa jadwal tugasnya untuk besok pagi.


"Bagaimana, Al?"


Alya menyimpan ponselnya lalu menganggukkan kepala dengan pandangan tetap menatap ke arah depan.


"Aku akan menemani Aura besok pagi. Semoga hasil pemeriksaannya semakin membaik sehingga kita tidak perlu melakukan terapi obat untuk mendukung kesembuhannya."


Ardi tersenyum lega dan bahagia mendengar permintaannya dipenuhi oleh Alya, meskipun harus menggunakan alasan atas nama putri kecil kesayangannya.


"Terima kasih, Al. Aura pasti senang sekali karena besok pagi ada kamu yang akan mendampinginya lagi."


Ardi ingin memanfaatkan waktu sebaik-baiknya agar bisa terus bersama dengan wanita yang sangat menyayangi putrinya tersebut, sebelum mereka harus berpisah lagi karena dirinya dan Aura harus kembali pulang.


Lelaki itu tidak ingin berharap banyak untuk saat ini. Setidaknya dia sudah tahu bahwa Alya masih menyimpan semua kenangan indah masa lalu mereka. Dan itu akan memudahkan dirinya untuk membuka hati Alya agar bisa menerimanya seperti dulu.


"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, Al. Tapi aku berharap jika sebelum aku pulang nanti, aku sudah bisa mendapatkan jawaban yang lebih pasti tentang perasaan di antara kita."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2