
Sudah hampir seminggu Nara berada di Jakarta. Banyak hal yang membuat pemikiran tentang Jakarta berubah. Seenak - enaknya hidup di Jakarta masih enak tinggal di Bengkulu.
Kehidupan Jakarta yang keras. Ke mana - mana jalanan macet dan jauh. Tidak demikian dengan kota kelahiran Nara. Semua terasa dekat. Mau ketempat wisata pun juga dekat.
Mengunjungi pantai panjang, pantai jakat, pantai tapak paderi, benteng marlborough dan rumah Sukarno ( presiden RI pertama) bisa dikunjungi dalam satu hari. Mengingat tempat wisata tersebut hanya makan waktu 10 - 15 menit dari pusat kota.
Beruntunglah Nara memiliki kota Bengkulu nan indah. Kota kecil yang tidak terlalu menarik wisatawan dari luar. Tapi tidak bagi Nara. Kota Bengkulu adalah segalanya bagi Nara. Sekarang malah lebih enak lagi. Semua fasilitas umum sudah memadai. Tampak pusat perbelanjaan(Mall) juga sudah ada di kota Bengkulu.
Kehidupan damai dan tenang ada di kota Bengkulu. Suasana alam yang masih asri. Tak tampak gedung - gedung menjulang tinggi seperti di Jakarta. Lalu lalang kendaraan mobil dan motor dengan leluasa melaju tanpa hambatan.
"Ah ... , sudahlah. Tak usah membandingkan antara Bengkulu dan Jakarta. Toh ... , aku sendiri yang memutuskan hijrah ke Jakarta ," gumam Nara sambil berbaring malas di atas kasur empuknya.
Pagi ini Nara amat malas untuk bangun. Tapi memang tidak ada juga yang harus dikerjakan. " Mau ngapain ya, "ucap Nara sambil mengernyitkan alisnya.
"Ah ... , mendingan aku ke kampus Arif. Siapa tahu aku bisa bertemu Angga. Tapi Arif melarang keras Nara ke kampus. Hadeh ... harus bagaimana ya ? Sudah sampai sedekat ini juga Nara belum bertemu Angga.
"Ah, yang penting aku bangun, mandi dan makan, " gumam Nara sambil melangkah masuk kedalam kamar mandi.
Setelah rapi Nara keluar dari kos - kosan. Mudah- mudahan ada yang enak disantap di pagi hari. Berhubung Nara sekarang pengangguran. Maka terkadang Nara lupa hari. Semua bagaikan tanggal merah semua. Hehe ....
Jam di pergelangan tangan nara menunjuk pukul 7.00 Tampak beberapa mahasiswa berpakaian putih - putih. "Mereka pasti mahasiswa yang lagi praktek di RSCM yang sedang ngekos di jalan kenari, " batin Nara sambil terus berjalan.
Berjalan di pagi hari. Menikmati suasana di Jalan kenari. Tampak beberapa rumah yang menjajakan nasi uduk. Setiap hari semenjak tinggal di Jakarta selalu makan nasi uduk. Kali ini Nara ingin sesuatu yang berbeda.
"Hem, enak kali ya. Makan lontong sayur, " batin Nara.
Sambil terus melangkah. Nara akhIrnya menemukan tempat orang yang menjual lontong sayur. Ternyata dekat dengan gedung tempat Arif kuliah. Tempatnya berada di atas trotoar. Di samping gerobak lontong sayur disediakan meja panjang dari kayu dan bangku panjang dari kayu yang saling berhadapan dengan meja
Duduk di pinggir jalan sambil menikmati lontong sayur bersama para pembeli yang lain. Lontong sayur yang berbeda yang dirasakan Nara. Lontong sayur Jakarta.
__ADS_1
"Hem ... , lumayan enak. Pantas saja lontong sayurnya ramai pengungjungnya.
Tak lama kemudian datang seorang laki - laki muda yang juga mau makan lontong sayur.
Setelah memesan dengan bapak penjual lontong sayur. Laki - laki itu duduk persis di depan Nara.
Dan ... saking kagetnya Nara yang sedang asyik makan, tiba - tiba makanan yang ada di mulutnya tersembur keluar. Persis mengenai baju laki - laki tersebut. Dan mulut Nara spontan pelan menyebut nama laki- laki itu, " kak Angga."
Bukan main marahnya laki - laki tersebut. Dikebaskannya bekas semburan Nara. Ditatapnya sosok yang menyemburkan bekas makanannya. Saat dilihatnya dengan seksama raut wajahnya yang marah berubah menjadi kaget "Ah ... kau ... ternyata Nara ? " suara yang tadinya ingin marah tiba - tiba terdiam.
Angga begitu kikuk di depan Nara. Rasanya ingin kabur saja dari tempat ini. Angga langsung berdiri beranjak dari kursi yang di tempatinya. Sebelum niatnya kabur, tangan Nara mencegat keinginan Angga dengan mencekal erat tangan kiri Angga.
"Tunggu ... kak Angga. Jangan coba coba lari dariku. Aku ingin kau katakan satu hal. Jangan jadi pengecut begini, " ucap Nara pelan sambil berdiri mencekal pergelangan tangan kiri Angga.
Semua mata tertuju pada Nara dan Angga. Tapi Nara tak menghiraukan itu semua. Ia tetap menahan Angga untuk tidak pergi begitu saja.
"Apa salahku kak Angga, " ucap Nara minta penjelasan.
"Apa ? " ucap Nara terbengong - bengong sendiri.
"Kenapa dengan ibuku. Selama ini ibu merestui hubunganku dengan Angga. Dasar kak Angga memutar balikkan fakta, " umpat Nara dalam hati.
Nara lalu duduk kembali. Menyeruput air putih kemasan di atas meja yang disediakan bapak penjual lontong sayur. Gara - gara bertemu Angga nafsu makan Nara sudah hilang. Dibiarkannya lontong sayur yang baru dua suap disantapnya.
Dikejauhan Nara masih sempat melihat Angga bertemu seorang perempuan memasuki gerbang kampus gedung tempat ia kuliah. " Mungkin salah seorang teman kuliahnya dikampus, " gumam Nara dalam hati.
Nara mulai memikirkan jalan apa yang harus ditempuh untuk misi balas dendamnya. " Untuk menghadapi Angga aku harus melalui jalan halus, tidak boleh kelihatan norak. Cari kelemahan Angga. Biar Angga tidak mempermainkan perasaan perempuan semaunya saja. Harus dikasih pelajaran !! buat dia tahu dia berhadapan dengan siapa, " batin Nara.
"Lebih baik aku menunggu sampai Angga keluar. Mudah - mudahan berbarengan dengan Arif keluar, " batin Nara.
__ADS_1
Nara kemudian bertanya pada bapak penjual lontong sayur. Menanyakan kapan kira - kira anak kampus pulang. Tapi bapak penjual
lontong sayur tidak bisa memberi jawaban pasti.
Setelah membayar lontong sayur. Nara kemudian berjalan mencoba masuk ke pekarangan dalam kampus tempat Angga dan Arif kuliah.
Di depan pintu gedung kampus. Nara tak sengaja bertemu seorang perempuan muda yang ternyata satu kampus dan satu jurusan dengan Angga dan Arif. Dia tampak tergesa gesa saat Nara bertanya.
"Misi mbak ... mau nanya ? kalau anak magister akutansi UI selesai kuliah jam berapa ya ! tanya Nara.
"Iya, ada apa ya? " jawab perempuan muda itu mengulang pertanyaan Nara.
"Begini mbak, saya mau tanya anak magister akutansi kelas reguler selesai kuliah jam berapa ya? ucap Nara mengulang pertanyaan lagi.
"Saya anak magister mbak, nanti selesai kuliah jam tiga sore. Emang mau mencari siapa? " tanya perempuan muda itu menyelidik.
"Saya baru beberapa hari di Jakarta mbak. Mumpung berada di sini mau memberi kejutan pada teman saya dari Bengkulu yang sedang kuliah di magister akutansi kelas reguler. Tapi minta tolong jangan diberitahu kedatangan saya ya, " ucap Nara memohon.
"Oh, pantas saja muka mbak mirip Dina ya. Orang Bengkulu juga. Mau bertemu Dina ya," tanya perempuan muda itu.
"Bukan ... saya tidak mengenalnya. Saya mau bertemu teman saya, Arif dan Angga.
" Oh ... Dina pacarnya Angga. Masa mbak gak kenal ! ya udah ya mbak. Aku mau masuk kelas dulu," ucapnya lalu undur diri dihadapan Nara.
Sebelum perempuan muda itu hilang dari pandangan Nara. Tak lupa Nara mengucapkan banyak terimakasih.
.
Setelah mendapat informasi akurat tentang Angga. Dan ... ternyata selama ini Angga sudah memiliki pacar. "Hem ... , cepat sekali Angga mencari pengganti diriku, " gumam Nara sambil mengernyitkan alisnya yang tebal.
__ADS_1
Sambil berjalan menuju kos- kosan. Nara mulai memikirkan untuk melakukan strategi jitu untuk menghadapi Angga. "Maafkan aku kak Arif, kau harus terlibat dalam masalah ini.
Tunggu jam 3 sore !! ini baru awal, " gumam Nara sambil terus melangkah pulang ke kosan.