CINTA NARA

CINTA NARA
2.25. AKAN SALING MERINDU


__ADS_3

"Ndra, jangan lupa cincinnya. Sudah kamu bawa?" Nara mengingatkan adiknya.


Mereka semua sudah siap sedari tadi, hanya tinggal menunggu Indra yang masih berjalan mondar-mandir lantaran gugup.


"Ini, Mbak. Tolong kamu saja yang membawanya." Indra menyerahkan kotak beludru kecil berwarna merah hati kepada kakaknya.


Nara segera menyimpannya di dalam tas kecil yang dibawanya. Setelah memastikan semuanya lengkap, mereka segera berangkat dengan mengendarai tiga mobil.


Dua mobil dikemudikan oleh Yoga dan Indra, serta satu mobil lagi yang diisi oleh keluarga terdekat mereka.


"Sayang, kamu tidak iri dengan acara lamaran Indra?" tanya Yoga sambil terus fokus melajukan mobilnya.


"Untuk apa aku iri, Mas?" Nara menoleh ke arah suaminya. Kedua tangannya mendekap Raga yang tertidur pulas di pangkuannya.


"Karena kita tidak pernah mengadakannya ...." Yoga menghela nafas panjang setelahnya. Bagaimana bisa diadakan, sedangkan hubungan mereka dulu saja berawal akibat keterpaksaan.


"Mas, kebahagiaan kita tidak diukur dari ritual acara maupun pesta yang diselenggarakan. Kebahagiaan kita lahir dari seberapa besar rasa syukur kita atas anugerah yang telah dilimpahkan Allah dalam kehidupan kita."


Kisah mereka memang tidak seperti kisah cinta yang terjalin pada umumnya. Kisah mereka diwarnai lika-liku yang penuh perjuangan dan air mata sebelum akhirnya bisa mereka satukan dalam ikatan suci yang sesungguhnya.


"Tidak ada kisah yang sama di dunia ini. Semuanya mempunyai jalan ceritanya masing-masing. Tidak perlu kita membandingkan kisah kita dengan kisah orang lain. Karena semuanya telah digariskan dalam suratan takdirnya sendiri-sendiri."


Yoga mulai tersenyum kembali setelah mendengarkan ucapan Nara yang menenangkan hati dan jiwanya.


Sejujurnya di dalam hati, lelaki itu masih sering menyesali sikap dan perbuatan buruk yang pernah dilakukannya pada Nara.


"Maafkan aku karena pernah membuatmu terluka begitu dalam, Sayang. Jujur saja, sampai sekarang aku masih sering menyesalinya dan tidak henti-hentinya memohon ampunan pada Allah ...."


"Jangan mengingatnya lagi, Mas. Semua sudah berlalu dan aku sudah memaafkanmu. Kita harus terus melihat ke depan, mempersiapkan masa depan yang lebih baik dan lebih benar jalannya."


"Yang lalu adalah pengalaman yang bisa kita jadikan pelajaran. Kita kenang yang baik, kita lupakan yang buruk. Dan kita syukuri apa yang kita miliki hari ini."


Iring-iringan mobil sudah sampai di restoran Tante Arum yang hari ini ditutup untuk umum dan telah dihias sangat indah untuk acara lamaran Indra dan Rizka.


Mobil telah terparkir rapi berjajar-jajar di halaman depan. Yoga mematikan mesin mobilnya dan sebelum turun, dia mendekati Nara untuk memberinya sebuah ciuman sayang.


"Mengapa kamu selalu saja bisa membuatku kagum dengan kata-kata bijakmu, Sayang. Kamu selalu bisa membuatku tenang di saat aku gelisah. Kamu selalu menguatkan aku di saat aku tengah merasa lemah."


"Karena aku adalah pelengkap hidupmu, sama halnya kamu yang merupakan penyempurna kebahagiaanku, Mas."


Nara membelai wajah rupawan itu dengan tangan kanannya, disertai senyuman terindah di bibirnya.

__ADS_1


"Kita adalah pasangan yang akan selalu saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Aku dan kamu adalah kita."


Wajah Yoga sudah bergerak maju, memupus jarak dengan wajah Nara sehingga tak ada lagi sekat untuk segera menyatukan ciuman mereka.


Plaakkk ...!


"Yayaah .... Nooo ...."


Raga terbangun dan tangan mungilnya langsung mendaratkan pukulan di pipi Yoga. Bocah itu ingin melindungi Ibunya dari serangan sang Ayah.


"Bubuu ... Gagaaa ...."


Pangeran kecil itu langsung berbalik dan memeluk erat Nara, seakan tak ingin berbagi sedikit pun dengan Ayahnya.


Nara dan Yoga saling berpandangan hingga akhirnya sama-sama tertawa karena ulah Raga yang telah menggagalkan apa yang ingin mereka lakukan tadi.


Setelah mencium lembut kepala sang putra dan mencuri satu ciuman cepat di pipi istrinya, Yoga segera keluar dan berputar ke sisi kiri untuk membukakan pintu.


Diambilnya Raga dari pangkuan Nara lalu digendongnya, kemudian dia membantu bidadari kesayangannya turun dari mobil dengan tas keçil di tangan kanannya.


Mereka segera bergabung dengan keluarga yang lain yang sudah berkumpul untuk bersama-sama memasuki tempat acara.


Selama dua jam lamanya acara demi acara berlangsung dengan lancar tanpa halangan. Indra telah resmi melamar Rizka dan mengikatnya dengan sebuah cincin permata yang dia sematkan di jari manis tangan kiri calon istrinya.


Lelaki muda itu pun telah menetapkan hari pernikahan mereka yang akan dilaksanakan dua bulan lagi, bertepatan dengan masa libur perkuliahan Rizka.


Acara lamaran akhirnya mereka tutup dengan makan siang bersama dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan.


Hujan kembali turun di sore harinya, menciptakan hawa dingin yang tetap menelusup masuk ke dalam kamar Nara yang telah tertutup rapat.


"Ini cokelat hangatmu, Mas."


Nara masuk dan menghampiri suaminya yang berdiri di samping jendela, menatap rintik hujan yang terus mengalir membasahi bumi.


Diberikan cangkir kecil yang dibawanya pada Yoga yang langsung meminum setengahnya, lalu meminta sang istri untuk menghabiskan setengahnya lagi.


Nara meletakkan cangkir yang telah kosong di atas meja. Setelah itu dia kembali mendekati sang suami dan memeluknya dari belakang.


Tanpa kata dirapatkannya tubuh mereka tanpa jarak sedikit pun. Kepalanya bersandar nyaman di punggung Yoga yang hanya tersenyum merasakan pelukan Nara yang hangat dan sangat erat.


"Ada apa, humm ...?" Kepalanya menoleh ke samping dengan tangan yang terulur ke belakang dan mengusapi ujung kepala Nara yang teraih olehnya.

__ADS_1


"Besok kamu sudah kembali, sementara aku dan Raga harus tinggal sementara di sini untuk mempersiapkan acara pernikahan Indra dan Rizka."


Terdengar nada kesedihan dalam ucapan Nara, membuat Yoga juga merasa berat untuk meninggalkannya.


"Kamu ingin aku tetap di sini saja?" tanya lelaki itu.


Ingin rasanya Nara mengangguk cepat dan mengiyakannya. Tapi dia ingat pada tanggung jawab besar suaminya di sana. Di perusahaan yang baru saja mereka rintis untuk masa depan Raga kelak.


Yoga membalikkan tubuhnya sehingga sekarang mereka berdiri berhadapan. Tatapan mata keduanya beradu dan saling mengunci.


"Aku akan sering pulang kemari. Kamu tahu, aku pun tak bisa jauh dari kamu, Sayang."


Nara melingkarkan kedua tangannya di pinggang Yoga, sementara lelaki itu menangkup wajah sendu istrinya dan membelai pipinya dengan kedua ibu jari.


"Aku akan sangat merindukanmu, Mas."


"Begitu pun aku, Sayang."


Sepasang netra bening nan indah milik Nara mulai basah dan memerah. Tak jauh beda dengan kedua netra teduh Yoga yang mulai berkaca-kaca mengingat esok pagi dirinya harus pergi meninggalkan istri dan anak kesayangannya.


"Aku titip Raga anak kita. Maaf harus merepotkanmu untuk mengasuhnya sendiri selama aku tidak ada bersama kalian."


Yoga melabuhkan ciuman sayang di kening Nara yang membuat wanita itu memejamkan mata dan mulai meneteskan air mata.


Melihat tangisan bidadarinya, Yoga kembali mencium Nara, menyesapi air mata yang melelehi kedua pipi itu dengan pelan dan penuh kelembutan.


"Air matamu adalah kelemahanku, sekaligus menjadi semangatku untuk bekerja dengan baik di sana agar aku bisa segera kembali lagi secepatnya."


Nara begitu terharu dengan perlakuan penuh cinta yang diberikan oleh suaminya, hingga tanpa sadar air matanya mengalir semakin deras dan membasahi bibirnya yang mulai bergetar menahan isakan.


Yoga kembali mendekat, mencium bibir Nara dengan mata yang saling terpejam rapat, meresapi setiap rasa yang menggetarkan hati.


Dengan gerakan pelan dan lembut, lelaki itu membersihkan jejak air mata Nara di sana dan menggantinya dengan kehangatan lain yang tercipta dari penyatuan dua bibir manis, yang akan saling merindu untuk beberapa waktu ke depan.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜

__ADS_1


__ADS_2