
Tiga bulan kemudian
Tiga bulan berlalu setelah meninggalnya Dina. Rasa kehilangan di hati Nara dan ibu masih mereka rasakan. Pertemuan singkat pada sosok Dina yang baik selalu membekas di hati ibu dan anak itu.
Ada hal yang berbeda yang di rasakan Nara. Papa dan mamanya yang selalu menelpon Nara. Mungkin mereka berdua ingin melihat Dina di wajah Nara. Iya , kakak dan adik itu memiliki paras yang persis sama.
Kehidupan Nara sebagai seorang penulis berjalan mulus tanpa hambatan. Ia selalu produktif membuat novel. Novel bagi Nara bukan sekedar cerita yang ia bagikan. Namun ada pesan moral yang ia sampaikan lewat novel - novel yang ia buat. Makanya sebagai seorang novelis pemula yang lagi naik daun ia amat memperhatikan kualitas moral karya - karya novelnya.
Masyarakat kota Bengkulu telah mengenal sosok sang penulis ini, Ara Dilla. Ia kerap kali di undang oleh komunitas menulis di kotanya sebagai salah satu pengisi acara dalam setiap seminar penulisan yang diadakan oleh mereka.
Sebuah pencapaian dalam hidup Nara. Menjadi seorang penulis seperti Andrea Hirata yang menjadi idolanya sampai saat ini juga.
Kehidupan karir sebagai penulis tidak semulus urusan percintaan Nara. Nara yang menjalankan hubungan percintaan dengan dua orang sekaligus, Arif dan Ardi.
Ardi tahu Nara telah memiliki Arif di sisinya. Namun tak masalah baginya. Toh , masih pacaran ini pikirnya dalam hati.
"Maaf Ardi ... , aku saat ini menjalani hubungan dengan seseorang, " sesal Nara pada Ardi ketika Ardi mengajaknya makan di sebuah mall dua bulan yang lalu.
"Mending kamu putuskan saja Arif, " pinta Ardi.
"Tidak semudah itu Di ... , Ibuku sangat menyayangi Arif. Ibuku pasti marah besar padaku jika aku memutuskan sepihak.
"Ya udah, terserah kamu aja. Tapi hubungan kita tetap berjalan ya, " tawar Ardi sambil cengengesan.
Begitulah awal mula Nara jadian sama Ardi. Kalau diperhatikan sekilas wajah Ardi mirip Angga. Apa ini yang membuat Nara begitu menyukai Ardi.
Ah .... entahlah, Nara juga bingung. Mengapa ia begitu bergairah bila bersama Ardi. Pesona Ardi yang memikat membuat hidupnya jauh lebih berwarna.
Berbeda dengan Arif. Arif sebenarnya memiliki selera humor yang baik. Ibu - ibu komplek rumahnya yang banyak mengidolakan Arif yang periang. Namun bagi Nara guyonan atau cerita dari Arif biasa saja. Ketertarikan Nara pada Arif saat ia mempunyai misi balas dendam pada Angga di kala itu.
"''''''''''''''"
Suatu pagi di hari sabtu, pukul 6.30 Wib. Udara pagi yang sejuk di kediaman rumah Nara. Matahari pagi tampak membulat berwarna orange kemerah - merahan di lengkung langit yang putih berselimut awan yang tampaknya masih enggan bergerak. Membuat suasana pagi begitu terasa sejuk.
__ADS_1
Nara dan ibu tampak sedang duduk diteras rumahnya. Mereka berdua menikmati indahnya suasana pagi hari di kota Bengkulu sambil bercakap- cakap biasa. Lalu terjadi obrolan serius diantara mereka berdua. Nara begitu kaget saat ibunya menanyakan sesuatu yang serius kepadanya.
"Nara ... , bagaimana hubunganmu dengan Arif. Ibu mau hubungan kalian disegerakan saja. Arif orang baik, orang yang sangat mencintaimu, " tanya ibu sambil minum teh dan makan singkong goreng buatannya sendiri.
Nara yang duduk disebelah ibu yang tepisahkan oleh sebuah meja kecil di tengahnya tampak kaget saat ibu mengajukan pertanyaan seperti itu.
"A-ku... aku ... be-lum siap bu, " jawab Nara terbata - bata sambil berpikir mencari jawaban yang tepat
"Belum siap apa nak? Pokoknya ntar malam kalau Arif bilang mau melamar kamu, kamu harus sudah siap menjawabnya. Bukan ibu memaksamu nak, jangan sampai cinta lain membutakanmu. Dan cinta yang sesungguhnya sudah ada di depanmu kamu abaikan begitu saja. Jangan seperti ibu dan papamu. Ibu tak mau kisah ibu terulang padamu, " ujar ibu dengan banyak nasehatnya.
Tampaknya ibu tahu hubungan Nara dan Ardi. Hal ini dikarenakan sebulan ini Ardi kerap menyambangi rumah Nara dan mengajaknya keluar. Ibu sengaja melontarkan kata - kata itu pada Nara. Cinta lain yang begitu menggoda.
" Iya, bu, " ucap Nara asal menjawab saja.
Dalam hati Nara begitu galau. Kegalauan yang melanda dirinya. Ia jadi ragu pada Ardi saat ibu bertanya seperti itu.
Bersama Ardi Nara jadi begitu bersemangat. Bisa jadi karena dulu mereka sempat saling suka waktu SMP. Namanya teman lama yang baru bertemu. Masih hangat - hangatnya. Beda lagi sama Arif yang memang lebih dewasa dibanding Ardi.
Kata - kata ibu masih dipikirkan oleh Nara. Sepanjang hari ia jadi banyak melamun karena ucapan ibunya. Apa iya ntar malam Arif mau melamarnya. " Ah, ini pasti tidak mungkin, ibu pasti mengada - ngada, " batin Nara.
Arif tampak tampan dengan stelan celana jeans dan kemeja putih berlengan pendek. Senyum selalu tersungging di wajahnya. Mungkin ia baru dapat lotre pikir Nara.
Nara mempersilahkan Arif duduk di ruang tamu. Baru kemudian ia ke belakang mengambil dua gelas besar es sirup rasa melon dan satu toples popcorn rasa keju. Lalu dibawanya semua dengan menggunakan nampan stainlis ke ruang tamu. Langsung ditaruh di meja ruang tamu.
Tak lama kemudian Ayah dan Ibu datang menghampiri. Tak seperti biasa, jika malam minggu tiba Ibu dan Ayah duduk bersama Nara dan Arif.
Ibu duduk disebelah Nara di sofa panjang. Di depannya ada sebuah meja tamu, sedangkan Ayah duduk di sisi kanan meja dekat ibu. Dan Arif duduk di seberang ayah, di sisi kiri meja dekat Nara duduk.
"Nak Arif , terlihat sumringah hari ini nak, " ucap Ibu memulai pembicaraannya.
"Ah, ibu bisa aja, " jawab Arif sambil tersenyum dan meneguk es sirup buatan Nara.
"Gak seperti biasanya Rif, " timbal Ayah pada Arif.
__ADS_1
Nara hanya diam saja, ia senyum - senyum saja melihat Ibu dan Ayahnya saling meledek Arif.
"Begini Ibu dan Ayah ... maksud kedatangan saya kali ini memang ingin bertemu Ibu dan Ayah langsung, " jawab Arif.
"Bukannya kita sudah sering bertemu Rif, yo
... ada apa?" tanya ibu kembali.
"Begini Ibu ... Ayah, malam ini saya sudah bulat tekadnya untuk ... melamar secara pribadi dulu. Ingin meminta persetujuan Ibu dan Ayah, baru kemudian kedua orang tua saya datang melamar, " pinta Arif.
Nara terperangah mendengar apa yang telah disampaikan Arif. Mulutnya tak sengaja berucap, " Apa ?" Dan hampir saja ia menumpakan es sirup yang sedang diminumnya.
Nara sebenarnya belum siap untuk bertunangan dengan Arif. Apa lagi ada Ardi sudah satu bulan ini mengisi hari - harinya.
Tanpa minta persetujuan dari Nara. Ibu langsung menjawab permintaan Arif.
"lbu dan Ayah sangat menyetujui hubungan kalian. Lamaran kami terima, Iya kan Nara !!! " tutur ibu dengan matanya melirik ke arah Nara.
Lirikan mata ibu seakan kode buat Nara untuk menyetujui apa yang ibu baru saja sampaikan.
"Ayo ... Nara. Jawab dong, " pinta ibu mendesak Nara.
Merasa terdesak Nara akhirnya menjawab juga. " I-ya bu. Aku setuju."
Ibu paling tidak suka dibantah. Makanya Nara mengiyakan apa yang ibunya mau. Terkesan klise, namun begitulah Nara. Ia amat mematuhi apa yang diminta oleh ibunya.
Ayah tampak tak menyetujui keinginan ibu. Terlalu memaksakan kehendak pada anaknya.
Namun ia tak bisa berbuat apa - apa. Hanya menghela nafas tanda ia tak setuju apa yang diinginkan istrinya.
Arif tampak sangat bahagia mendengar apa yang terucap dari mulut Nara. Dalam hati ia bersorak bahagia. Tidak sia - sia usahanya satu hari sebelumnya. Bertemu dengan Ibunya Nara. Waktu itu Ia langsung mengutarakan niat baik untuk melamar Nara secara langsung, sebelum kedua orang tua Arif secara resmi datang ke rumah.
Nara hanya mengiyakan saja. Iya tidak tahu lagi bagaimana jadinya nanti. Andai Ardi tahu berita pertunangannya. "Aduh ... harus bagaimana ? Membuat Nara menjadi galau, kegalauan yang melanda dirinya ....
__ADS_1
Bersambung ....