CINTA NARA

CINTA NARA
89 HASRAT CINTA


__ADS_3

Dua minggu berlalu, tibalah hari pernikahan Alan dan Sasha. Keduanya memutuskan untuk menggelar acara sakral dan resepsi sederhana di kampung halaman mereka yang terletak di sebuah kota kecil nan sejuk di wilayah perbukitan.


Yoga dan Nara telah sepakat untuk tidak menghadiri undangan yang mereka terima. Mengingat kondisi kesehatan Yoga yang tidak bisa diprediksi, keduanya memutuskan untuk lebih mengutamakan hal yang lebih penting tersebut.


Sementara itu, Ardi ditemani Bunga sudah datang satu hari sebelumnya dan menginap di rumah keluarga Alan, karena mereka akan bergabung dengan rombongan keluarga pengantin pria.


Mereka semua telah sampai di gedung di mana kedua acara akan segera dilangsungkan berturut-turut. Setelah upacara penyambutan keluarga besan dilakukan, saatnya dilaksanakan prosesi ijab qobul di tempat yang sudah disediakan.


"Semuanya sudah siap?" tanya penghulu seraya memeriksa ulang semua dokumen yang telah lengkap dan memastikan semua pihak yang berkepentingan telah hadir tanpa kecuali.


Dua orang saksi dari kedua belah pihak sudah menempati kursi masing-masing. Ayah Sasha sudah duduk di sebelah penghulu, siap untuk menikahkan putrinya dengan lelaki yang dicintainya. Sementara di hadapan mereka Alan duduk dengan tenang, siap untuk mengucapkan ijab qobul bersama calon mertuanya.


"Insyaallah, semuanya sudah siap, Pak." Ayah Sasha menjawab pertanyaan dari penghulu.


Setelah waktu yang ditunggu tiba dan semua pihak telah siap, Alan dan ayah Sasha berjabatan tangan dan mengucapkan ikrar ijab qobul bergantian dengan lancar dan lantang tanpa kendala apa pun.


Ucapan kata sah dari kedua saksi dan hamdallah dari seluruh hadirin, mengawali perjalanan pernikahan Alan dan Sasha yang mulai saat ini telah resmi menjadi sepasang suami-istri.


Tanpa menunggu lama, Sasha kemudian keluar dan bersanding dengan Alan yang sudah resmi menjadi suaminya.


"Terima kasih sudah memilihku sebagai pasangan hidupmu, Lan. Aku akan berusaha menjadi istri yang terbaik bagimu dan tidak akan pernah mengecewakanmu." Sasha mencium punggung tangan suaminya dengan hati berdebar bahagia.


"Terima kasih sudah setia menungguku, Sha. Mulai hari ini kamu adalah tanggung jawabku dan aku akan selalu menjagamu dengan segenap hati dan cintaku." Alan mencium lembut kening istrinya dengan hati membuncah bahagia.


Beberapa prosesi lain kemudian dilanjutkan termasuk prosesi adat yang harus mereka jalani berdua. Rangkaian acara akad nikah berjalan lancar hingga akhirnya mereka sudah memulai resepsi yang dilanjutkan setelahnya.


Di akhir acara, Ardi dan Bunga naik ke pelaminan. Selain untuk foto bersama, mereka hendak pamit karena akan kembali pulang lebih dulu.


"Maaf kami tidak bisa lebih lama di sini. Ada beberapa jadwal operasi yang harus aku tangani." Ardi memeluk Alan dam menyalami Sasha. Sementara Bunga memeluk Sasha dan menyalami Alan.


"Semoga kalian berdua bahagia selamanya dan segera memiliki keturunan," ucap Ardi dengan tulus.


"Doa untuk kalian juga, semoga segera menentukan tanggal pernikahan secepatnya," balas Alan yang membuat Ardi dan Bunga saling menatap dan tersenyum penuh arti.


"Oya, ini ada titipan dari Yoga dan Nara. Mereka minta maaf karena tidak bisa hadir di sini. Dokter masih melarang Yoga untuk melakukan perjalanan jauh, mengingat dia masih dalam masa pemulihan."

__ADS_1


Ardi menerima sebuah amplop putih berlabelkan sebuah biro perjalanan wisata ternama, yang dikeluarkan Bunga dari dalam tas yang dibawanya, lalu diserahkannya kepada Alan.


Alan menerimanya, lalu mengangguk dan tersenyum.


"Kami mengerti. Tolong sampaikan juga ucapan terima kasih dari kami untuk mereka."


Setelah berpamitan pada seluruh keluarga pengantin, Ardi dan Bunga segera meninggalkan gedung dan menuju bandara menggunakan taksi online yang sebelumnya sudah dipesan oleh Bunga.


.


.


.


Malam harinya, di kota lain yang jauh jaraknya, sepasang suami-istri juga tengah menikmati kebersamaan mereka di kamar yang telah terkunci dari dalam.


Raga yang sudah terlelap di atas tempat tidurnya sendiri, membuat Yoga dan Nara leluasa beristirahat berdua di atas tempat tidur mereka.


"Tidurlah jika kamu sudah mengantuk, Sayang."


Nara menggeleng lalu merapatkan tubuhnya ke dalam pelukan Yoga dan bersandar nyaman di atas dada bidang sang suami.


Nara tak lagi menghindar jika Yoga bermanja dan berlaku mesra padanya. Hatinya pun merasakan kebahagiaan yang sama seperti apa yang dirasakan oleh lelaki itu.


Tiba-tiba Yoga merubah posisi mereka. Perlahan dia mendorong tubuh Nara hingga berbaring telentang, diikuti olehnya yang langsung bermanja di pelukan istrinya.


Sama seperti posisi Nara sebelumnya, kini lelaki itu yang rebah di atas dada istrinya dan memejamkan mata meresapi kedamaian yang menyeruak di hatinya.


Nara merasakan dadanya berdebar keras. Ini pertama kalinya Yoga berada dalam posisi tubuh seperti yang biasanya dia lakukan.


"Aku sangat mencintaimu, Sayang." Yoga berucap lirih dalam pelukan sang istri.


Yoga semakin bermanja, memeluk erat tubuh Nara yang dibalas dengan hal yang sama oleh Nara.


Tangan Nara mulai mengusapi punggung Yoga yang meringkuk dalam pelukannya. Yoga merasakan sentuhan itu, bahkan meresap hingga ke dasar sanubarinya.

__ADS_1


Yoga bangkit, mengangkat kepalanya lalu menatap sendu ke arah mata bening Nara yang membalas tatapannya dengan pijar yang sama.


Dalam hitungan detik, wajahnya telah berhadapan di atas wajah Nara yang masih berbaring di bawah tubuhnya yang dia tahan dengan kedua tangan kekarnya.


Kilatan dalam mata keduanya menunjukkan hasrat yang sama. Ingin saling menyentuh dan menghangatkan satu sama lain.


Sikap dan gerak tubuh Nara yang tidak menunjukkan penolakan, membuat Yoga memberanikan diri untuk melakukan lebih dari yang biasanya sudah sering mereka lakukan.


Wajahnya mulai turun dan melepaskan satu ciuman pembuka di kening Nara yang menyambutnya dengan mata terpejam, dan Yoga pun mencium kedua kelopak mata tersebut bergantian.


Ada haru yang mereka rasakan di dalam hati. Tak terungkapkan namun selalu terasa indah dan saling memikat. Tak terucapkan akan tetapi selalu bisa dimengerti dan dipahami dalam diam.


Ciuman Yoga berpindah pada kedua pipi ranum istrinya yang selalu bersemburat merah setiap kali berdekatan dengan dirinya. Dia menciumnya bergantian dan diakhiri dengan kecupan singkat di ujung hidung wanita tercintanya.


Nara semakin hanyut dalam buaian bibir suaminya yang berkelana di seluruh wajah cantiknya. Hanya seperti itu, hatinya sudah bergetar begitu hebat dan mulai dipenuhi gejolak.


Yoga menunggu Nara membuka mata dan keduanya pun saling mengunci pandangan mereka yang semakin sayu dan sendu, menahan hasrat yang telah mulai memuncak.


Berdua saling menurunkan pandangan pada tempat yang sama, Yoga dan Nara mulai memejamkan mata bersamaan dengan sentuhan hangat yang saling menyapa di permukaan bibir mereka.


Tangan Nara yang semula diam di samping tubuh, bergerak pelan menyentuh kedua bahu lebar Yoga lalu perlahan berpindah melingkari leher kokoh milik suaminya hingga tanpa sengaja gerakannya semakin memperdalam ciuman mereka.


Tubuh mereka yang semula menghangat, mulai memanas terpercik api gairah yang meninggikan hasrat yang telah melenakan jiwa, yang semakin larut dalam suasana hati yang dipenuhi indahnya warna cinta.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2